
Teng... Teng... Teng... Teng.......
Bel istirahat pun berbunyi dan semua murid mulai bersiap-siap untuk pergi ke tempat biasa mereka menghabiskan bekal makanananya. Entah itu ada yang pergi ke kantin, ke lapangan, atau berada di lorong kelas. Di sekolah kami memiliki peraturan untuk tidak makan di dalam kelas, karena kelas kami memiliki pendingin udara dan kelas dengan minimnya sirkulasi udara, hal itu membuat jika ada seseorang yang makan di kelas, maka satu kelas akan menjadi bau.
Aku pun bersiap-siap untuk turun menuju ke tempat biasa aku menghabiskan bekalku.
“Aku duluan ya Mar.”
“Yo.”
Riki pun pergi duluan mendahuluiku, sepertinya dia tidak membawa bekalnya lagi hingga dia harus membeli makanan terlebih dahulu di kantin. Sebenarnya aku ingin sekali-kali membeli makanan di kantin, tapi karena cerita Riki yang mengatakan kalau banyak sekali orang memesan makanan di sana dan antriannya yang sangat panjang membuatku mengurungkan niat untuk melakukan hal itu.
Tepat sebelum aku turun, aku melihat Natasha yang sedang mengerjakan tugasnya di meja.
“Kau tidak makan?”
Aku pun menegurnya, dia pun terlihat terkejut ketika aku menegurnya. Memang aku jarang sekali berbicara dengan Natasha ketika di dalam kelas, apalagi menegurnya seperti ini. Mungkin itu juga yang membuatnya terkejut ketika aku berbicara dengannya.
“Aku belum lapar, lagi pula ada tugas yang harus aku kerjakan.”
Seperti yang dikatakan Kichida, dia selalu berada di kelas untuk mengerjakan tugas ketika istirahat.
“Bukankah tugas itu bisa dilakukan nanti-nanti.”
“Aku tidak suka menunda-nunda tugasku.”
“Kenapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya saja? Aku tau kalau kau tidak pernah membawa bekal atau makan ketika istirahat. Apa terjadi sesuatu?”
Mendengar itu membuat Natasha terdiam untuk sesaat.
“Aku tidak apa-apa, lagi pula tidak biasanya kamu perhatian seperti ini?”
Natasha pun mengerjakan tugasnya kembali.
“Kichida mengkhawatirkanmu, lebih baik kau mengatakan sesuatu kepada Kichida tentang masalahnya.
Aku pun meninggalkan Natasha di dalam kelas dan mulai pergi ke tempat biasa. Ketika berada di luar kelas, aku melihat Maul yang sudah menungguku.
“Yo.”
Maul mengangkat tangan kanannya untuk memberikan salam kepadaku.
“Kenapa kau berada di sini? Bukankah seharusnya kita berkumpul di tempat biasa.”
“Aku tidak sabar untuk mendengarkan apa pekerjaan yang ingin kau berikan kepadaku.”
Hmmm... Seharusnya aku sudah menduga hal itu.
“Biar aku jelaskan sambil berjalan.”
Kami pun mulai berjalan menuju ke tempat biasa.
“Sebelumnya ada yang ingin aku katakan kepadamu.”
“Apa itu?”
“Kau mungkin tidak akan mendapatkan bayaran dalam waktu yang dekat.”
Ya... Karena ini adalah hal yang akan menentukan apakah Maul mau atau tidaknya menerima pekerjaan ini.
“Kenapa?”
“Aku dan Pak Febri sedang membantu temannya Pak Febri yang ingin membangun kembali perusahaannya yang bangkrut.”
“Apa perusahaan yang dia miliki?”
“Perusahaan yang berada di bidang komik.”
“Apa yang kau maksud itu adalah Semesta Komik?”
Hebat sekali dia dapat mengetahuinya. Apa memang majalah Semesta Komik memang terkenal?
“Kau pernah membaca majalahnya juga?”
“Aku pernah membaca dan berlangganan majalan itu ketika SD. Jadi?”
“Jadi temannya Pak Febri adalah orang yang punya Semesta Komik dan dia ingin membangunnya kembali dengan format digital kali ini.”
“Hmmm... Sepertinya aku sudah mengerti, kau ingin membuat aplikasi komik seperti yang ada di Korea dan Jepang.”
Cepat sekali dia mengertinya, ini mempersingkat waktuku.
“Benar sekali.”
“Aku rasa itu bukan ide yang buruk mengingat dua aplikasi itu belum masuk ke Indonesia, jadinya aplikasi baru seperti yang ingin kita buat bisa bersaing di pasar Indonesia.”
“Apa tidak masalah bagimu jika tidak dibayar terlebih dahulu?”
“Aku rasa tidak masalah, walaupun tidak dibayar aku akan tetap melakukannya.”
Hah!? Apakah ini Maul yang aku kenal? Aku tidak menyangka kalau dia akan setuju. Aku harus memastikannya lagi.
“Apa kau yakin?”
“Seratus persen aku yakin.”
Ini aneh! Maul yang aku kenal tidak seperti ini.
“Apa kau sakit? Kau tidak seperti dirimu yang biasanya.”
“Kau bodoh ya?”
“Apa!?”
__ADS_1
“Kalau temannya Pak Febri baru merintis aplikasi ini dan kita ikut terlibat di dalamnya, jika aplikasi ini menjadi terkenal di Indonesia dan banyak sekali orang yang mengunduhnya bahkan sampai seluruh dunia tau aplikasi ini. Perusahaan temannya Pak Febri akan menjadi terkenal dan kita yang membantunya pasti akan mendapatkan posisi yang bagus di perusahaan itu karena membantunya merintis.”
Maul pun tersenyum memikirkan sesuatu yang belum terjadi.
Ini baru Maul yang aku kenal. Pantas saja dia langsung menyetujui hal itu tanpa pikir panjang terlebih dahulu, ternyata dia sudah ada niatan lagi. Sepertinya hal itu tidak masalah selama dia mau membantu membuat aplikasi ini.
“Kalau seluruh dunia sepertinya kau terlalu berlebihan, terlalu banyak saingannya.”
“Tenang saja, itu bisa diatur.”
“Aku serahkan hal itu kepadamu.”
Lebih baik aku sekarang mengirimkan pesan kepada Pak Hari untuk memberitahukan tentang hal ini, aku pasti dia akan senang mendengarnya.
“Apakah temannya Pak Febri itu sudah memiliki koneksi dengan beberapa komikus?”
Tanya Maul kepadaku.
“Kalau untuk itu tenang saja, dia masih memiliki banyak kenalan komikus yang dulu pernah mengisi di majalah Semesta Komik.”
“Kalau begitu pekerjaanku akan lebih mudah.”
“Sepertinya kau sudah tau apa yang harus kau kerjakan, itu mempersingkat waktu dan tenagaku untuk menjelaskannya kepadamu.”
“Tenang saja, aku sudah tau apa yang harus aku kerjakan. Ngomong-ngomong kapan aku bisa bertemu dengan temannya Pak Febri?”
“Sore ini, Pak Hari mengajak kita untuk bertemu dengannya sepulang sekolah.”
Kami pun mulai menuruni tangga dan berjalan ke luar gedung.
“Itu sangat bagus! Semakin cepat kita mengerjakannya maka semakin cepat juga aplikasi itu jadi dan terkenal.”
Hari ini, Maul terlihat sangat bersemangat sekali.
“Kenapa kau sangat percaya diri sekali kalau aplikasi ini akan terkenal?”
Sebenarnya aku bertanya tentang hal itu bukan karena aku pesimis, tapi aku hanya ingin melihat apa akan Maul lakukan. Karena seperti yang aku katakan sebelumnya, Maul selalu berbicara sesuai dengan data. Pasti dia sudah memikirkan terlebih dahulu sampai-sampai dia sangat yakin kalau aplikasi ini akan terkenal.
“Nanti kau bisa lihat ketika aplikasinya sudah dipublikasi. Oh iya, dimana kita akan bertemu nanti?”
“Rencananya hari ini Pak Hari ingin mengadakan rapat dengan kita untuk membahas tentang aplikasi ini di kantornya.”
“Walaupun perusahaannya belum berjalan tapi dia sudah memiliki kantor?”
“Kantor itu dulunya adalah kantor yang sama dengan semesta komik dan ketika bangkrut kantor itu tidak dia jual.”
“Hebat sekali Pak Hari bisa mempersiapkan hal itu dengan cepat. Dan dimana kantornya berada?”
“Letaknya di SCBD.”
“WOAH!! Itu tempat yang sangat strategis sekali. Aku merasa kalau aku sudah seperti orang kantoran saja jika pergi ke tempat itu.”
Entah kenapa melihat Maul yang bersemangat lebih menyebalkan dibandingkan sifat biasanya Riki.
“Bagaimana aku tidak bersemangat ketika mendengar kalau ada kesempatan untukku untuk menjadi bos di sebuah perusahaan. Kau yang aneh Mar, harusnya kau juga bersemangat sama sepertiku.”
“Bersemangat seperti itu rasanya bukan sepertiku saja. Aku lupa kapan aku bersemangat seperti itu.”
“Baiklah, aku akan membuatmu bersemangat dari hal ini?”
Heee... Kita lihat apa yang akan Maul lakukan.
“Pikirkan saja ketika kau menjadi salah satu atasan di perusahaan itu, dan kau sudah memiliki anak buah. Uangmu juga banyak karena jabatanmu yang sebagai atasan di sana, selain itu kau bisa pergi kemana saja yang kau mau dan datang ke kantor jika ada rapat atau urusan yang mendesak saja.”
Woah!!! Memikirkan hal itu membuatku sedikit bersemangat. Sepertinya cita-citaku untuk tidak terlalu terpaku dengan pekerjaan setelah lulus sekolah akan menjadi kenyataan.
“Yea, sepertinya aku sedikit bersemangat.”
“Kau harus meluapkan masa mudamu untuk hal ini Mar. Walaupun di awal kita melakukan banyak sekali pekerjaan dan itu rasanya berat. Tapi percayalah, kalau di akhir nanti kitalah yang akan bersenang-senang dengan perjuangan yang telah kita lakukan.”
Maul, kau keren sekali ketika mengatakan hal itu.
“Apa-apaan itu? Sepertinya dibandingkan menjadi seorang programmer, kau lebih cocok jika menjadi motivator.”
“Saran yang bagus, mungkin aku akan melakukannya jika gagal menjadi programmer.”
Itu tidak mungkin kan... Orang yang mampu membuat aplikasi peretas otomatis di ponsel gagal dalam menjadi programmer. Lalu yang berhasil mereka harus menciptakan apa? Mesin yang dapat mengontrol seluruh dunia? Itu kan tidak mungkin.
Ketika kami sampai di DPR, semua orang sudah berkumpul di sana dan menyantap bekal mereka masing-masing. Aku juga melihat Takeshi di sana dan posisi duduknya masih berada di samping Miyuki. Saat itu aku melihat ke
arah Kichida untuk melihat ekspresinya.
“Ada apa Mar?”
Kichida menyadari kalau aku memperhatikannya.
“Tidak ada.”
Aku dan Maul pun duduk di tempat kosong yang berada di sana.
“Kalian lama sekali.”
Rian langsung bertanya kepadaku.
“Ada sesuatu yang sedang aku bicarakan dengan Maul tadi.”
“Apa kalian masih membicarakan tentang kasus itu lagi?”
Riki langsung berpindah posisi duduknya di dekatku dan juga Maul.
“Tidak, kami hanya membicarakan tentang pekerjaan saja.”
“Ohh..”
__ADS_1
“Mamangnya kamu sekarang bekerja di mana Mar?”
Yoshida juga bergabung dengan pembicaraan kami.
“Aku hanya pekerja lepas yang menerima pekerjaan dari guruku.”
“Berarti kamu memiliki banyak sekali uang dong Mar? Ayo teman-teman, kita minta traktir kepada Amar.”
Uang yang aku punya juga tidak bisa mengalahkan uang yang kau miliki Tuan putri.
“Mana bisa seperti itu, aku tidak punya uang sebanyak itu. Kalau berbicara masalah traktir, seharusnya kau yang mentraktir kami.”
“Apa sekolahmu tidak terganggu dengan pekerjaan yang kamu ambil Ar?”
Rina merasa khawatir kepadaku.
“Tenang saja, semuanya terkendali.”
“Tetap saja kalau nilainya masih rata-rata mana ada yang bisa dibanggakan.”
Celetuk Takeshi kepadaku.
“Memang aku sengaja membuat nilaiku rata-rata dan aku tidak terlalu mengejar nilai tinggi karena aku ingin fokus untuk mengasah kemampuanku dan mendapatkan uang. Aku lebih bangga ketika menggunakan uang hasil jerih payahku sendiri dibandingkan menggunakan uang pemberian orang tua.”
“Apa kau meledekku Mar!?”
Jadi itu benar? Padahal aku tidak ada niatan meledek sama sekali kepadanya.
“Sudahlah kalian berdua.”
Rina dan Kichida pun langsung memisahkan kami berdua.
“Oh iya Ar, kemarin aku mendengar dari teman sekelasku kalau sekolah kita akan memulangkan muridnya lebih cepat dari biasanya karena kasus penculikan yang sedang marak akhir-akhir ini.”
Hmmm... Jadi berita itu sudah menyebar dengan cepat ke semua murid. Aku penasaran siapa orang yang selalu menyebarkan berita-berita itu ke murid-murid.
“Bagaimana pendapatmu tentang hal ini Mar?”
Tanya Miyuki kepadaku.
“Aku rasa kita harus lebih berhati-hati ketika melewati jalan yang kecil dan sepi, selain itu jangan mudah berintraksi dengan orang yang tidak dikenal.”
“Kamu pasti sudah menyelidiki tentang hal ini kan Mar?”
Miyuki dengan semua rasa ingin tahunya melihat ke arahku dengan tatapan yang sangat aku benci.
“Ayolah! Tidak semua kasus yang ada di Indonesia ini aku tau semua, aku juga seorang siswa biasa sama seperti kalian.”
“Setelah apa yang kami lewati bersamamu dan kami masih menganggapmu biasa? Sepertinya tidak.”
Aku hanya bisa menghela nafas ketika Kichida juga ikut-ikutan berkata seperti itu. Apa semua yang aku lakukan ini tidak terlihat seperti siswa biasa?
“Kemarin mamaku juga memperingatiku untuk tidak mampir kemanapun setelah pulang sekolah selama kondisi seperti ini.”
Keluh Miyuki kepada kami.
“Aku pun sama, mamaku selalu menelponku ketika aku sedang pergi bermain bersama temanku jika sudah masuk waktu malam.”
“Aku juga sekarang memiliki jam pulang malam yang mambuatku tidak bisa pulang sebebasnya lagi.”
Yoshida dan Kichida juga mengeluh tentang hal itu.
“Aku rasa orang tua kalian tidaklah salah menyuruh kalian seperti itu. Apalagi kalian perempuan yang menjadi target dari penculikkan tersebut.”
Ucap Maul kepada mereka.
“Tapi kan kita bisa menjaga diri kita sendiri. Lagipula kita sudah besar dan menjaga diri kita sendiri. Kita juga bisa merasakan mana orang-orang yang mencurigakan dan berpotensi untuk menjadi penculik.”
Yoshida pun mengeluarkan pendapatnya tentang hal itu.
“Aku setuju dengan Yoshida, kita sudah besar dan kita bisa menjaga diri kita sendiri.”
Kichida juga memiliki pemikiran yang sama dengan Yoshida.
“Kalau kalian masih berpikir seperti itu, aku rasa kalian adalah target yang cocok untuk diculik.”
“Kenapa bisa begitu Mar?”
Yoshida merasa tidak terima pendapatnya aku sangkal.
“Kalian terlalu meremehkan para pencuri itu, dan meremehkan pencuri itu sudah satu kesalahan kalian. Apa kalian pikir semudah itu menghindari para pencuri? Jangan bercanda! Kalau seandainya itu memang mudah, kasus itu tidak mungkin akan marak seperti ini.”
Ucapanku pun membuat Kichida dan Yoshida menjadi terdiam. Yoshida yang sebelumnya mengutarakan pendapatnya langsung diam dan terlihat kesal sekali pendapatnya aku sangkal. Sepertinya aku terlalu kejam menyangkal pendapatnya itu.
“Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang Mar?”
Tanya Kichida kepadaku.
“Bukankah aku sudah berkata hal ini tadi, selama kalian selalu berhati-hati dan tidak pulang terlalu malam, aku yakin kalian akan baik-baik saja. Untuk sekarang kalian jangan terlalu egois terlebih dahulu dengan kemauan kalian. Kalian juga harus memikirkan orang-orang yang mengkhawatirkan kalian jika kalian terjadi sesuatu.”
“HIDUP AMAR!”
Teriak Riki secara tiba-tiba setelah aku menyelesaikan perkataanku.
“Maafkan aku Mar, sepertinya aku terlalu egois tadi.”
Yoshida pun meminta maaf kepadaku. Padahal aku tidak membutuhkan permintaan maaf itu, karena aku merasa tidak melakukan apa-apa yang mengharuskan dia untuk meminta maaf.
“Tidak apa-apa, aku senang kau mengatakan itu saat ini, karena dengan begitu kau tau kalau apa yang baru saja kau katakan itu salah.”
“Terima kasih Mar, aku akan selalu mengingat kata-katamu.”
Sepertinya hal itu terlalu berlebihan Yoshida, aku bukanlah seorang motivator yang kata-katanya dapat kau pegang untuk menjadi penyemangat hidupmu. Motivator ya?... Sepertinya tidak buruk juga. Aku ingin menjadi motivator!
__ADS_1
-End Chapter 64-