Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 107 : Mari Kita Lihat, Serumit Apa Masalah Yang Dia Miliki.


__ADS_3

Cling...


“Selamat datang.”


Seorang pelayan kafe yang sedang membersihkan meja di dekat pintu masuk menyambut kami.


Aku melihat ke sekeliling kafe masih sedikit sekali pengunjung yang datang ke kafe itu. Aku melihat jam dan sekarang masih jam sepuluh lebih, kafenya aku rasa baru saja buka.


Kami langsung menghampiri meja barista untuk memesan dan juga di sana aku melihat Akbar yang sedang membersikan gelas-gelas dengan lap.


“Pesan milk shakenya satu... Sama roti bakar coklatnya satu.”


“Aku espresonya satu.”


Aku dan Riki memesan pesanan kami.


“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?”


Akbar sedikit terkejut karena melihatku dan juga Riki datang ke tempatnya bekerja.


“Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan dengan kau.”


Akbar pun melihat mataku dengan serius, sepertinya dia sudah tau apa yang ingin aku bicarakan.


“Kalian harus menungguku selesai terlebih dahulu.”


“Apa kedatangan kami mengganggumu?”


Riki merasa tidak enak akan hal itu.


“Tidak, kalian tidak menggangguku. Aku akan meminta kepada temanku untuk menggantikanku sebentar.”


“Syukurlah kalau begitu.”


Akbar pergi ke belakang untuk berbicara dengan temannya.


Kami pun berpindah duduk di tempat lain agar dapat berbicara dengan nyaman. Karena kalau kami membicarakan hal itu di dekat meja barista, bisa-bisa ada orang lain yang mendengar pembicaraan kami.


“Kenapa kau tidak melakukan basa-basi terlebih dahulu Mar?”


Riki terlihat sedikit kesal dengan apa yang aku lakukan barusan.


“Aku tidak biasa melakukan hal itu, lagi pula lebih cepat kalau aku langsung berbicara ke inti pembicaraan.”


“Hampir saja suasana di sana menjadi tegang karena perbuatanmu Mar.”


“Maafkan aku.”


Aku sedikit merasa menyesal karena hal itu.


Aku memang tidak begitu biasa melakukan basa-basi karena hal itu merepotkan. Aku lebih suka berbicara langsung ke inti pembicaraan. Tapi aku tidak selamanya berbicara langsung ke inti, kadang aku melakukan basa-basi juga, tergantung dengan siapa aku berbicara.


“Lain kali biar aku saja yang memulai pembicaraannya terlebih dahulu.”


Memang itu yang aku mau.


Setelah menunggu tidak terlalu lama, Akbar pun datang ke arah kami dengan membawa minuman dan makanan pesanan dari kami berdua.


“Ini pesanan kalian.”


Akbar menaruh pesanan itu di hadapan kami.


“Jadi apa yang ingin kalian bicarakan denganku?”


“Aku baru saja datang ke rumahmu.”


Setidaknya itu sudah dapat membuatnya mengerti maksudku datang ke sini.


“Dari mana kau mendapatkan alamat rumahku?”


Akbar terkejut ketika mendengar hal itu.


“Aku mendapatkannya dari Pak Febri, dia yang menyuruh kami untuk datang ke rumahmu.”


“Kami juga bertemu dengan bibi dan adikmu saat berada di sana.”


Riki menambahkan perkataanku.


“Apa kau memberitahu pekerjaanku ini kepada mereka?”


Akbar terlihat panik sekali.


Dia sangat khawatir sekali jika aku memberitahukan hal itu kepada bibinya.


“Aku tidak memberitahukannya.”


“Kenapa?”


Akbar tidak begitu percaya melihat itu.


“Aku tidak ada urusan untuk mengatakan hal itu kepada bibimu.”


Mendengar itu membuat Akbar menjadi sedikit tenang.


“Jadi apa yang ingin kalian tanyakan kepadaku?”


“Ceritakan kepada kami masalahmu, jangan ada yang kau sembunyikan dari kami.”


Aku mulai menatapnya secara serius dan mendalam.


“Apa urusan kalian mencampuri urusanku? Biar aku menyelesaikan ini sendiri.”


“Aku tau semua berkas yang kau serahkan ke sekolah ditanda tangani oleh walimu. Aku juga tau kalau kau tidak tinggal dengan orang tuamu saat ini, jadi apa yang sebenarnya terjadi?”

__ADS_1


“Amar sebenarnya hanya ingin membantumu Bar, tapi bahasanya dia saja yang sulit dimengerti.”


Riki berusaha mengartikan apa yang aku katakan kepada Akbar.


“Apa kalian berdua bisa berjanji untuk tidak membicarakan hal ini kepada orang lain, terutama Pak Febri.”


“K-”


“Tidak masalah.”


Riki ingin mengatakan sesuatu tapi sudah aku sela.


Aku tau dia pasti ingin bertanya kenapa Pak Febri tidak boleh mengetahui hal ini.


“Jadi dua tahun lalu, tepatnya saat aku berada di bangku SMP. Keluargaku memang bukan keluarga yang harmonis.”


Aku dan Riki mulai mendengarkan cerita Akbar dengan seksama.


Riki mulai menyeruput kopinya untuk berkonsentrasi dengan cerita yang akan dibicarakan oleh Akbar.


“Kedua orang tuaku selalu bertengkar karena sifat bapakku yang senang bermain judi, mabuk-mabukan, dan bermain wanita.”


Wow... Ini sangat dalam sekali.


“Ibuku selalu memarahi bapakku dan ketika ibuku memarahinya mereka berdua selalu bertengkar, bahkan tidak jarang juga bapakku memukul ibuku karena emosinya yang meluap-luap. Karena tidak kuat dengan sifat bapakku, ibuku secara diam-diam pergi dari rumah saat kami semua sedang tertidur.”


“Apa bapakmu bekerja di suatu tempat?”


Tanyaku kepadanya.


“Dulu bapakku bekerja menjadi buruh, tapi semua uang gajinya selalu dia gunakan untuk kesenangannya itu dan memberikan sedikit bagian untuk keluarga. Ibuku selalu menutup kekurangan ekonomi keluarga kami dengan bekerja sebagai tukang cuci keliling.”


“Lalu kapan kau mulai pindah ke tempat pamanmu?”


“Setelah ibuku pergi dari rumah, awalnya aku masih tinggal dengan bapakku. Tapi karena bapakku juga kadang-kadang suka menggunakan kekerasan kepadaku dan juga adikku, apalagi ketika dia sedang terkena masalah di kerjaannya, emosinya seperti tidak bisa terkendali. Aku pun akhirnya tidak tahan juga dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah pamanku bersama adikku, karena hanya mereka saja saudara yang berada di Jakarta dan dapat aku percaya.”


Oke, sampai sini aku sudah mendapatkan gambaran besar tentang masalahnya Akbar.


“Dan apa yang membuatmu memutuskan untuk bekerja?”


“Aku tau kalau penghasilan dari pamanku yang pas-pasan, ditambah dengan kedatangan kami berdua, pasti itu akan sedikit memberatkannya walau dia tidak mengatakan hal itu kepada kami. Karena itu aku memutuskan bekerja untuk membantu keuangan dari pamanku.”


“Sejak kapan kau bekerja di sini?”


“Dari kelas tiga SMP, aku sudah bekerja di sini.”


Tiga SMP ya? Berarti baru satu tahun yang lalu. Tapi hebat juga dia dapat menemukan tempat kerja yang menerima murid SMP sepertinya.


“Apa saat di SMP dulu kau juga melewatkan ekskul-ekskulmu seperti sekarang?


“Ketika SMP aku dapat mengimbangi antara sekolah dan bekerja. Namun semenjak aku mendengar kalau bapakku dipecat dari kantornya karena ketahuan melakukan sesuatu dengan karyawan wanita yang ada di sana. Dia pun sering datang ke rumah pamanku untuk meminta uang kepadanya.”


Aku pun melirik ke arah Riki dan dia masih mendengarkan cerita Akbar dengan serius sekali. Bahkan dia sempat tidak sadar kalau kopi yang ada di gelasnya sudah habis.


“Masalahmu ternyata lebih rumit dibandingkan dengan apa yang aku kira.”


Akhirnya Riki berbicara juga.


Setidaknya aku sudah mengetahui apa permasalahannya Akbar.


“Kenapa kau mau menceritakan hal ini kepada kami berdua?”


“Kalian berdua yang memintaku untuk menceritakannya Mar! Apa kau lupa? Kau baru mengatakan itu beberapa menit sebelumnya.”


“Kalau seandainya masalahnya serumit ini, tidak masalah bagiku jika kau tidak menceritakannya.”


“Mau bagaimana lagi, kau mengancamku tadi... Lagi pula aku juga ingin mendapatkan sebuah saran darimu.”


Aku bisa saja membantu Akbar dalam masalah ekonomi keluarganya tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah keluarganya. Apa aku terlalu ikut campur jika aku masuk ke ranah itu? Hmmm... Tapi aku rasa tidak ada salahnya memberikan masukan kepada Akbar tentang hal ini.


“Apa yang kau harapkan dariku.”


“Kau pasti memiliki cara untuk keluar dalam hal ini.”


Sebenarnya aku sudah memiliki cara untuk lepas dari masalah ini, yaitu dengan menyingkirkan bapaknya secepat mungkin.


“Dimana bapakmu tinggal sekarang?”


Riki bertanya kepada Akbar.


“Aku tidak tau bapakku tinggal dimana, aku hanya tau ketika bapakku menjual rumah kami kepada seseorang untuk bermain judi. Ketika semua uang dari penjualan rumah itu sudah habis, dia pun akhirnya datang ke rumah pamanku untuk meminta uang.”


“Sebaiknya kau tidak memanjakan bapakmu seperti itu, kalau seperti itu terus bapakmu akan keenakan.”


“Aku setuju dengan Amar.”


Lagi pula aku baru mendengar ada seorang bapak yang separah itu.


“Pamanku juga berencana untuk melakukan hal itu juga. Keuangan pamanku juga tidak banyak yang bisa memberikan uang dengan begitu mudahnya kepada bapakku.”


Kalau pamannya sudah berpikiran hal seperti itu, seharusnya itu hal mudah. Akbar tinggal membantu pamannya dengan begitu bapaknya juga tidak akan datang lagi ke rumah pamannya untuk meminta uang.


“Tapi bagaimana jika bapakku melakukan sesuatu kepada paman dan bibiku. Aku tidak mau paman dan bibiku terluka akibat perlakukan bapakku yang keras itu.”


Ini merepotkan sekali.


“Jika memang dia sudah melakukan tindakan kekerasan seperti itu, kau bisa melaporkan hal itu kepada pihak yang berwajib.”


“Kalau memang sudah seperti itu, aku rasa tidak ada cara lain lagi.”


“Aku ingin masalah seperti ini diselesaikan dengan cara kekeluargaan.”


Ternyata Akbar anak yang baik juga. Dia bisa berkata seperti itu padahal dia sendiri sudah tau bagaimana perlakuan bapaknya. Aku salut kepadanya, mungkin aku harus belajar beberapa hal darinya.

__ADS_1


“Kau adalah anak yang baik Bar.”


Riki memuji Akbar.


“Mau bagaimanapun aku adalah anak dari bapakku. Tanpa dia, aku tidak mungkin bisa terlahir di dunia ini.”


“Apa kau tau bagaimana kabar ibumu sekarang?”


“Ibuku kembali ke kampungnya dan tinggal bersama saudara-saudaranya.”


“Kau masih sering berkomunikasi dengannya?”


“Aku hanya sesekali berbicara dengannya melalui telepon, biasanya dia hanya menanyakan keadaan Putri saja.”


Bapaknya seperti itu dan ibunya yang pergi dari rumah. Untuk anak seumuran Akbar, dia sudah terbilang sebagai anak yang tangguh juga.


Mungkin aku akan memberikan pilihan kepada Akbar.


“Apa kau ingin seperti ini terus Bar?”


“Sebenarnya aku ingin mencari pekerjaan yang tidak mengganggu sekolahku, tapi sampai saat ini aku masih belum menemukannya. Tidak ada satupun pekerjaan untuk anak yang masih bersekolah.”


Kau belum saja mencarinya di kantor Comic Universe.


“Di kantor tempatku bekerja saat ini, ada lowongan yang dibuka untuk anak magang. Dan di sana dijamin tidak akan mengganggu sekolahmu karena sudah banyak anak-anak di kelas yang bekerja di sana.”


“Siapa saja yang bekerja di sana?”


Tanya Akbar balik kepadaku.


“Aku, Riki, Natasha, dan Maul.”


Mungkin Maul tidak perlu aku sebutkan karena dia tidak termasuk ke dalam kelasku, tapi ya sudahlah.


“Bagaimana dengan bayarannya?”


“Bayarannya tergantung pekerjaan yang kau kerjakan.”


“Syukurlah, akhirnya aku mendapatkan jalan terang juga. Kapan aku bisa pergi ke sana Mar?”


Akbar terlihat sangat senang sekali mendengar hal itu.


“Mungkin saat baru masuk semester dua, aku akan menghubungimu lagi nanti.”


“Baiklah, aku akan menunggunya... Terima kasih Mar.”


Baru kali ini aku melihat orang yang sangat bahagia seperti ini.


Rasa senang yang Akbar rasakan saat ini berbeda ketika aku menawarkan pekerjaan kepada Riki dan Maul. Rasa yang Akbar tunjukan kali ini terasa berbeda sekali, entah kenapa melihat Akbar senang membuatku menjadi senang juga.


“Aku senang jika bisa membantumu.”


“Jadi sekarang lebih baik kau menyelesaikan masalahmu dengan bapakmu secepatnya Bar. Karena kalau kau tidak menyelesaikan itu, mau kau pindah kerja pun itu percuma.”


“Aku akan membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada paman dan bibiku. Karena mereka berdua juga akan terlibat jika aku cekcok dengan bapakku.”


“Itu keputusan yang bagus.”


Baiklah, kalau seandainya masalah ini lancar dan tidak ada masalah sedikitpun. Urusanku dengan Akbar pun selesai dan aku dapat melaporkan hal ini kepada Pak Febri tanpa perlu memberitahu masalah yang dialami oleh Akbar.


Tapi entah kenapa masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikiranku. Baru kali ini aku merasa tidak percaya diri setelah memberikan saran kepada seseorang. Aku takut kalau saran yang aku berikan itu salah dan akan menyebabkan sesuatu yang buruk. Semoga itu hanya firasatku saja.


“Ngomong-ngomong kenapa kau bisa menawarkan pekerjaan ini kepadaku Mar? Memang apa jabatanmu di kantor itu?”


Akbar menjadi penasaran denganku.


“Aku hanya magang saja sama seperti Riki dan yang lainnya.”


Aku pun melihat Riki yang melirik ke arahku sambil tersenyum kecil. Aku hanya menyikutnya sedikit agar dia berhenti melakukan hal itu, karena Akbar bisa saja mencurigai perkataan Amar barusan karena tingkah laku Riki.


“Aku sangat senang sekali menceritakan hal ini kepadamu, aku tau kalau tidak ada salahnya menceritakan ini kepadamu.”


Kau mungkin bisa berkata seperti itu Mar, tapi apa yang akan kau lakukan kedepannya dan apa yang akan terjadi ada andilku di dalamnya. Setiap hal yang akan terjadi ke depannya aku mungkin harus bertanggung jawab karena aku telah menyarankan hal itu kepada Akbar.


“Oh iya, bagaimana kalau kau ikut kami bakar-bakar di rumah Miyuki saat tahun baru Bar?”


Riki mengajak Akbar ke acara bakar-bakar itu.


“Aku tidak bisa berjanji saat hari itu, karena saat itu biasanya kafe sedang ramai-ramainya, mungkin kalau aku bisa datang itu rada telat.”


“Tidak masalah jika telat yang penting kau bisa datang ke acara itu.”


“Kalau begitu aku akan menghubungimu bagaimana nantinya.”


“Oi Mar!”


Akbar melambaikan tangannya di depan wajahku.


“Ada apa?”


“Apa kau memikirkan sesuatu?”


“Tidak ada.”


“Hmm... Begitu.”


Saat ini aku hanya memikirkan apa yang aku katakan kepada Akbar itu benar atau tidak. Karena baru kali ini aku mencampuri urusan orang hingga sedalam ini apalagi urusannya rumit seperti ini.


Dulu aku biasanya tidak peduli dengan hal ini karena itu tidak ada kaitannya dengan diriku. Jadi aku tidak begitu peduli apa yang terjadi dengan diriku selama aku tidak terlibat dalam masalah yang dia miliki.


Tapi sekarang aku malah bersedia untuk terseret ke dalam masalah orang lain dan mau menyelesaikan hal itu walaupun hal itu merepotkan. Sepertinya sudah banyak yang berubah dari diriku akhir-akhir ini.


-End Chapter 107-

__ADS_1


__ADS_2