
Akhirnya hari-hari yang panjangdan membosankan pun berakhir. Hari ini adalah hari terakhir dari Class Meeting, dan aku berhasil membawa kelasku untuk memenangkan pertandingan basket tingkat kelas satu.
Setelah menerima penghargaan berupa piala dan uang tunai, aku bersama teman-teman sekelasku kembali ke kelas untuk merayakan kemenangan ini.”
“Terima kasih Mar.”
Semua teman-temanku yang sebelumnya memintaku untuk bermain basket saat ini berterima kasih kepadaku.
“Itu bukan masalah.”
Teman-temanku mulai merencanakan pesta makan-makan untuk merayakan kemenangan kelasnya.
“Mar, apa kau ada waktu?”
Riki datang menghampiriku dengan wajah yang sedikit serius.
Aku jarang sekali melihat Riki seserius ini kecuali dia ingin bertarung dengan orang lain.
“Iya, ada apa memangnya?”
“Bisa kau ikut aku sebentar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Aku dan Riki pergi ketempat sepi untuk membicarakan sesuatu. Aku yakin kalau Riki ingin membicarakan sesuatu yang penting dan hanya beberapa orang saja yang mungkin boleh mengetahui ini. Apa mungkin Riki ingin membicarakan masalah penculikan kemarin, tapi Riki bukan orang yang mau membicarakan hal-hal rumit seperti itu.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
“Tadi, aku baru saja melihat absen kita selama Class Meeting ini dan aku melihat kalau Akbar sudah tidak masuk ketika Class Meet setelah pertandingan futsal berakhir.”
Jadi hal ini yang ingin Riki bicarakan.
“Memangnya itu masalah? Bukannya kita tidak diwajibkan untuk masuk ketika Class Meeting jika kita sudah yakin kalau nilai kita tidak ada yang remedial.”
“Itu memang tidak masalah, aku juga tidak pernah melihat ada guru yang bertanya kepadaku dan mencari Akbar. Tapi setidaknya aku merasa ada yang ganjil dari hal ini, seharusnya orang seperti Akbar akan masuk setiap hari saat Class Meet. Apalagi kemampuannya dalam olahraga terbilang cukup bagus, dia bisa membantu kita ketika pertandingan basket.”
Seperti yang aku harapkan dari Riki, pengamatan dia tentang sesuatu sudah berubah. Padahal dulu ketika SMP dia hanya menanyakan hasil kesimpulan dari sebuah peristiwa saja kepadaku. Dia tidak pernah mau menganalisanya sendiri. Menurutnya analisaku jauh lebih baik dibandingkan jika dia menganalisanya sendiri.
Kalau begitu, lebih baik aku menceritakan masalah Akbar kepadanya saja.
“Apa kau sudah mengetahui masalahnya Akbar?”
“Memangnya Akbar memiliki masalah?”
Riki terlihat sedikit terkejut saat mendengar hal itu.
“Akbar itu saat ini sedang membantu ekonomi keluargannya yang sedang menurun, dan dia sekarang sedang bekerja di kafe. Kalau menurutku, saat ini mungkin dia sedang bekerja. Karena Akbar dibayar sesuai dengan jam dia bekerja di sana, mungkin dia akan mengambil kesempatan Class Meet ini untuk bekerja lebih lama dan mendapatkan uang tambahan.”
“Setelah kau ceritakan itu, aku baru tau kalau Akbar memiliki masalah seperti itu. Bahkan kemarin pas kami bermain futsal saja, itu sama sekali tidak terlihat di wajahnya kalau dia memiliki masalah.”
Akbar memang orang yang bisa menyembunyikan masalahnya dengan sempurna.
Tapi wajar saja jika Riki tidak mengetahui ini, Pak Febri baru membahas masalah ini kepadaku saat Riki sedang berada di Makassar dan masalah ini sudah selesai pada saat dia baru saja pulang dari Makassar.
“Dari mana kau tau masalah ini Mar?”
“Aku mengetahuinya dari Pak Febri.”
“Apa kau sudah mencoba pergi ke rumahnya untuk bertanya lebih lanjut?”
“Aku tidak tau dimana rumah Akbar dan juga untuk apa aku pergi ke rumahnya.”
Seharusnya Pak Febri yang pergi ke rumah Akbar untuk menanyakan hal ini lebih langsung kepada keluarganya.
“Sudah tidak ada yang perlu kau pikirkan Rik, masalah ini sudah selesai dan Pak Febri juga sudah mengetahui hal ini.”
“Oh begitu, aku kira masalah ini masih berjalan karena Akbar masih bekerja.”
“Tidak, masalah ini sudah selesai.”
“Lalu bagaimana dengan pembagian hadiahnya dari pertandingan basket Mar? Apa kau masih membutuhkan uang itu?”
Riki sedikit melirik ke arahku, aku yakin kalau aku berkata kalau aku menginginkan uang itu dia akan mengejekku. Karena sebelum mengikuti pertandingan ini aku berkata kalau saat ini aku tidak perlu uang dari hadiah itu.
“Aku tidak akan mengambil hadiah itu, Bagikan saja kepada anak-anak yang lain saja.”
“Benarkah itu Mar?! Kau yakin?!”
Riki terkejut mendengarnya.
Sepertinya dia tidak menyangka kalau aku akan mengatakan hal seperti itu. Memang kalau Riki masih berpacu kepada sifatku ketika masih SMP, aku tidak mungkin menyerahkan uang yang aku dapatkan begitu saja.
“Iya.”
“Jarang sekali aku melihatmu tidak peduli dengan uang seperti itu.”
“Aku sudah memiliki banyak uang dan bingung mau menggunakannya untuk apa, aku tidak mau menimbun uang terlalu banyak.”
“Kenapa kau tidak membuat usaha saja?”
Usaha ya? Aku rasa tidak buruk.
“Aku akan melakukannya setelah lulus mungkin, karena untuk saat ini aku belum bisa melakukannya karena masih bersekolah dan bekerja di tempatnya Pak Hari juga.”
“Benar juga, kalau kau menambahnya dengan usaha, itu akan sangat repot sekali.”
“Aku akan memikirkannya lebih matang ketika lulus nanti.”
Karena pembicaraan kami tentang Akbar sudah selesai, kami memutuskan untuk kembali ke kelas untuk bergabung dengan yang lain.
“Apa kau akan mengikuti acara pesta yang diadakan kelas nanti?”
“Tentu saja aku ikut.”
Kalau aku tidak ikut, bisa-bisa satu kelas mencapku sebagai orang yang anti sosial. Padahal selama satu semester ini aku sudah berjuang agar teman-temanku tidak mencapku seperti tu.
“Ngomong-ngomong makan apa kita nanti?”
“Aku tidak tau, aku menyerahkan hal itu kepada anak-anak kelas... Apa hari ini kau akan pergi ke kantor?”
“Tidak, hari ini aku mau langsung pulang ke rumah.”
Karena badanku pegal sekali setelah bertanding di final tadi. Mana pertandingan final melawan kelas satu RPL B ternyata semua yang bertanding adalah anak dari ekskul basket. Kalau aku lengah sedikit, mungkin aku tidak bisa memenangkan pertandingan itu.
“Hari ini aku ada jadwal pergi ke kantor.”
Hmmm... Apa aku langsung pulang atau ke kantor ya?
“Kalau begitu aku akan menemanimu.”
Aku rasa tidak ada salahnya menemani Riki di kantor, lagi pula aku juga bisa bersantai saat di kantor nanti.
__ADS_1
“Apa itu tidak merepotkanmu Mar?”
“Tidak masalah, aku juga tidak begitu suka pulang dan sampai ke rumah pada siang hari.”
“Syukurlah, kalau begitu aku tidak perlu canggung untuk pergi dengan Natasha berdua saja.”
Jadi itu kenapa dia bertanya hal itu kepadaku.
“Kenapa harus canggung? Tidak seperti kau saja.”
“Waktu itu, Kirana pernah salah paham dengan hubunganku dan Natasha karena kami sering mengirim pesan karena tugas pengurus kelas.”
Riki mengatakan hal itu dengan wajah lesu sekali.
Walaupun Riki terkenal hebat dalam berkelahi, ternyata dia tidak bisa mengatasi Kirana ketika sedang marah.
“Repot sekali jika seperti itu.”
“Aku juga berpikiran sama sepertimu, dan saat itu aku sempat berpikir ‘ternyata ini yang selama ini Amar katakan tentang cinta, sangat merepotkan’.”
“Itulah kenapa aku tidak mau memiliki pacar untuk saat ini.”
“Tapi itu tidak masalah, Kirana juga sering memberikan perhatian kepadaku dan itu jauh lebih banyak dibandingkan dia marah kepadaku.”
Aku kira tadi aku berhasil membuat pemikiran sahabatku yang satu ini menjadi sama denganku, ternyata tidak.
Ketika kami sampai di kelas, aku sudah melihat beberapa makanan yang ada di atas meja yang disusun menjadi satu dan diletakkan di tengah-tengah kelas. Aku melihat di sana ada berbagai macam gorengan, lontong, otak-otak, dan makanan-makanan yang sering aku temukan saat pergi ke kantin sekolah. Sepertinya mereka membeli semua ini di sana.
Kemudian aku melihat ke arah depan kelas.
Di sana terpajang dua piala yang telah didapatkan oleh kelas kami. Piala pertama adalah piala yang kami dapatkan saat pertandingan basket ketika MOS dan piala yang satunya lagi adalah piala yang kami dapatkan ketika Class Meet.
“Rik, ini uangnya mau diapakan?”
Salah satu dari temanku yang tadi ikut bermain basket dan menjadi kapten dalam tim basket kami bertanya hal itu kepada Riki.
Kalau kalian bertanya kenapa bukan aku yang menjadi kaptennya, itu alasannya simpel saja. Aku tidak mau menjadi mencolok dengan berdiri dihadapan orang banyak untuk menerima piala.
“Kalian bagi rata saja, tapi kalian tidak perlu menghitung Amar.”
“Kenapa?”
Temanku terlihat kebingungan dengan apa yang baru saja Riki katakan.
“Amar sudah kaya, jadi dia tidak membutuhkan uang itu.”
“Benarkah itu Mar?”
“Iya, tapi aku bukan orang kaya seperti apa yang baru saja Riki katakan.”
Temanku itu dan bersama teman-temanku yang lainnya senang mendengar itu karena bagian yang mereka dapatkan jauh lebih besar dibandingkan jika mereka membaginya denganku.
“Wih! Udah pada mulai pestanya nih.”
Pak Febri pun muncul dan bergabung dengan kami di dalam kelas.
“Ayo gabung Pak!”
Teman-temanku menyambut Pak Febri dengan sangat ramah dan wajah yang gembira.
“Hebat sekali kau Mar! Memang muridku yang satu ini luar biasa.”
“Aku tidak melakukan banyak hal, kita dapat memenangkan pertandingannya karena teman-teman yang ikut bertanding juga.”
“Aku sangat terharu sekali mendengar Amar memuji orang lain.”
Riki yang berdiri di sampingku berpura-pura menangis yang membuat seisi kelas tertawa melihatnya.
“Aku baru melihat kau bermain basket hari ini dan berar sekali kata Irfan, kalau kau memang jago ketika bermain basket.”
“Kak Irfan terlalu berlebihan mengatakan itu.”
Kemudian Pak Febri pun melihat seluruh murid yang ada di kelas.
“Dimana Akbar?”
Dia bertanya kepada Riki yang sedang menyantap sebuah lontong.
“Akbar tidak masuk.”
“Oh begitu.”
Pak Febri terlihat biasa saja mendengar itu, sepertinya dia sudah tau akan hal itu.
“Apa Pak Febri memiliki alamat rumahnya Akbar?”
“Kenapa?”
“Aku mungkin akan pergi ke rumahnya bersama dengan Amar.”
Sepertinya kita belum menyepakati hal itu? Waktu itu aku hanya berkata kalau itu ide yang bagus saja.
“Itu ide bagus, tapi sepertinya aku akan melakukannya sendiri.”
Baguslah kalau begitu, aku jadi tidak perlu repot-repot pergi saat liburan nanti. Aku ingin menghabiskan waktu untuk bermain gim dan menaikan rangkingku di dalam gim itu.
“Pak Febri, kapan kita mengambil rapot Pak?”
Tanya salah seorang murid kepada Pak Febri.
“Minggu depan kalian akan mengambil rapot, jangan lupa untuk memberitahukan hal ini kepada orang tua kalian ya. Nanti sebelum pulang akan bapak bagikan edarannya kepada kalian satu per satu.”
“Siapa kira-kira yang mendapatkan peringkat pertama?”
Kichida bertanya kepada Pak Febri.
“Itu rahasia.”
Kichida beserta beberapa murid yang penasaran akan hal itu menjadi kecewa.
“Aku tidak sabar untuk melihat hasilnya.”
Ucap Riki.
“Apa kau tidak penasaran Mar?”
“Aku biasa saja, selama nilainya cukup untuk membuatku naik kelas, aku tidak akan protes apapun.”
“Kau seharusnya lebih antusias lagi dalam pelajaran seperti kau antusias dalam bekerja Mar.”
__ADS_1
Ucap Pak Febri kepadaku.
“Memangnya siapa yang membuatku seperti ini.”
Aku hanya melirik ke arah Pak Febri.
“Hehehehe... Maaf.. Maaf.”
Pak Febri yang baru mengingatnya hanya tertawa kecil saja.
Kami pun mulai menyantap semua makanan yang sudah kami beli.
“Kalian semua, setelah ini jangan pergi kemana-mana. Langsung pulang ke rumah kalian masing-masing.”
Pak Febri memperingatkan itu kepada murid-muridnya.
Aku saja setelah ini akan pergi ke kantor dulu sebelum pergi ke rumah.
“Siap Pak!”
Ucap semua murid yang ada di kelas itu secara serentak.
“Saya masih suka melihat beberapa murid yang berkumpul di warung kopi sekitar sekolah. Awas saja jika saya melihat ada salah satu diantara kalian...”
Pak Febri mulai memberikan peringatan kepada semua anak didiknya, dan melihat kami semua dengan sangat serisu.
“Saya tidak akan melakukan apa-apa.”
Mendengar itu membuat semua murid yang awalnya sedikit tegang menjadi tertawa mendengar ucapan dari Pak Febri.
“Mungkin murid yang berkumpul di warung kopi itu murid-murid yang rumahnya di sekitar sini Pak.”
“Bisa jadi.”
Warung kopi ya?... Aku pernah sesekali diajak teman-teman sekelasku untuk pergi ke sana terlebih dahulu saat pulang sekolah, dan aku pernah ikut dengan mereka sewaktu aku belum kenal dengan Pak Hari.
Saat itu aku memesan mi instan rebus ditambah dengan telur dan kornet di sana dan rasanya sangat enak sekali. Ketika aku sampai di rumah, aku mencoba untuk membuat mi instan yang sama dengan yang aku makan di warung kopi itu, tapi rasanya jauh berbeda dengan yang aku makan di sana.
Aku tidak tau apa yang digunakan oleh abang-abang warung kopi itu hingga dia bisa menyajikan mi instan seenak itu.
Kemudian Kichida pun berjalan ke arah pintu kelas dan berbicara dengan seseorang di sana. Saat aku melihat ke sana, ternyata di sana ada Rina dan Miyuki yang sudah menunggu.
“Kalian berdua masuk saja.”
Kichida mengajak mereka berdua untuk masuk.
“Tidak usah, kami di sini saja. Kami tidak enak mengganggu pesta kelas kalian.”
Rina sesekali mengintip ke dalam kelas begitu juga dengan Miyuki.
“Tenang saja Rina, Miyuki.. Kami tidak masalah jika kalian bergabung, lagi pula makanan yang dipesan juga banyak.”
Ucap salah seorang anak laki-laki dari kelasku.
“Benar itu.”
Sahut anak laki-laki lainnya.
Aku melihat ke arah anak perempuan yang saat ini sedang memandang sinis ke arah anak laki-laki. Sepertinya mereka sudah mengetahui apa maksud dan tujuan dari mereka mengatakan hal itu.
Aku ada sedikit ide untuk meredakan masalah ini.
Aku menghampiri Natasha yang saat itu sedang bersama berkumpul bersama anak-anak perempuan.
“Natasha, apa kau bisa memesankan piza dari ponselmu?”
“Bisa memang kenapa Mar?”
Aku pun menghitung semua orang yang berada di kelas itu.
“Tolong beli sepuluh piza ukuran medium ya.”
“Sepuluh! Apa aku tidak salah dengar?”
Natasha terkejut mendengarnya, begitu juga dengan anak-anak perempuan yang mendengar hal itu.
“Iya, kau tidak salah dengar.”
“Siapa yang akan membayarnya?”
“Pak Febri yang akan membayarnya, nanti nomor pembayarannya bisa kau kirimkan kepadaku.”
“HIDUP PAK FEBRI!!!”
Ternyata ada seorang murid laki-laki yang mendengar hal itu juga.
Semua pun bersorak-sorai mendengar itu dan keadaan di kelas menjadi gaduh karenanya. Aku kembali ke tempatku semula untuk bergabung bersama Riki dan Pak Febri lagi.
“Aku tidak pernah menjanjikan hal itu loh Mar!”
Pak Febri sedikit panik karena uangnya akan berkurang.
“Tenang saja, aku yang akan membayarnya. Aku hanya menggunakan namamu agar tidak terjadi keributan yang lebih parah di sini.”
Aku mengatakan hal itu dengan nada kecil agar tidak ada yang mendengarnya.
“Natasha, apa kau sudah memesannya?”
Pak Febri bertanya kepada Natasha.
“Ini saya baru ingin memasukan pesanannya, belum saya konfirmasi.”
“Ganti pesanannya menjadi piza ukuran besar.”
“Apa bapak yakin itu!?”
Semua murid terkejut mendengarnya.
“Tenang saja, uang tahunanku sudah cair.”
“HIDUP PAK FEBRI!”
Semua murid di kelas pun mulai bersorak-sorai kembali.
“Aku tidak mau hanya kau saja yang bisa bersikap keren seperti itu.”
“Aku tidak peduli dengan hal itu.”
-End Chapter 103-
__ADS_1