
Hari ini adalah hari sabtu, dan sekarang aku sedang terbaring di sofa yang berada di ruang tamu. Di sampingku ada bapakku yang sedang menonton berita yang sedang tersiar di televisi sambil menikmati sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh ibuku.
Saat itu aku sedang bermain gim bersama dengan Misaki juga.
Tiba-tiba ponselku pun mendapatkan panggilan masuk dari Miyuki.
“Halo.. Assalamualaikum?”
Aku mengangkat panggilan itu.
“Waalaikummussalam... Mar, kamu sekarang ada di rumah?”
“Iya, memangnya kenapa?”
Aku berfirasat kalau dia akan mengajakku pergi ke mal, tapi buat apa dia mengajakku pergi ke mal?
Apa sebentar lagi ada seseorang yang ingin ulang tahun?
“Bisakah kau menemaniku pergi ke mal sekarang?”
Bagaimana ya? Aku sudah dalam posisi yang enak sekarang dan malas sekali untuk berpindah dari posisiku saat ini.
“Untuk apa?”
“Aku mau mengucapkan terima kasih kepadamu atas apa yang telah kamu lakukan karena telah menolong Kichida.”
“Kalau kau ingin memberikanku terima kasih, sekarang saja ucapkan hal itu kepadaku.”
“Mana bisa seperti itu, setidaknya aku ingin memberikanmu sesuatu untuk itu.”
Perempuan yang satu ini merepotkan sekali.
Aku pun melihat jam yang ada di belakangku dan di sana sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
“Aku malas sekali untuk pergi sekarang, kapan-kapan saja ya.”
“Baiklah kalau begitu.”
Miyuki pun menutup panggilannya kepadaku.
Saat itu aku sempat terkejut sekaligus penasaran. Tumben sekali dia langsung menutup panggilannya dan menyerah seperti itu. Biasanya dia akan berusaha untuk memaksaku terlebih dahulu dan baru itu kalau memang dia tidak bisa melakukannya baru dia menyerah.
Apa dia marah kepadaku? Biarlah, aku bisa meminta maaf kepadanya di sekolah nanti.
Lagi pula buat apa aku harus meminta maaf kepadanya? Memang aku melakukan sesuatu yang salah?
Aku pun kembali melanjutkan bermain gimnya.
Baru saja aku memiringkan posisi ponselku dan meletakkan kepalaku di bantal yang berada di sofa. Tiba-tiba aku mendengar suara bel yang berbunyi.
“Iya!”
Ibuku pergi untuk menerima tamu yang datang itu.
Aku mencoba untuk mendengar siapa tamu yang datang itu.
“Oh... Amarnya ada di ruang tamu, tuh dia sedang bermain gim di sana.”
Dengan siapa ibuku berbicara? Aku tidak bisa mendengar suaranya.
“Mar, ada tamu tuh!”
Ucap ibuku sambil kembali ke dapur.
Aku pun mengangkat kepalaku dan melihat siapa orang yang datang itu.
Kalau Riki dan Maul, seharusnya dia menghubungiku terlebih dahulu sebelum masuk ke rumahku.
Ketika mataku tertuju ke arahnya, aku melihat Miyuki yang berdiri di sana sambil sedikit melambaikan tangannya kepadaku.
Aku pun memandang ke arahnya dengan tatapan malas karena dengan begitu, aku harus ikut dengannya pergi ke mal.
“Sedang apa kau ada di sini?”
“Tentu saja untuk menjemputmu Mar.”
“Selamat siang Miyuki!”
Bapakku yang berada di sana langsung menyapa Miyuki.
“Selamat siang Om!”
Kalau sudah seperti ini mau tidak mau aku harus ikut dengannya. Ya, siapa tau aku dapat menemukan sesuatu yang menarik saat berada di sana.
“Tunggu sebentar, aku mau mengganti pakaianku terlebih dahulu.”
Sebenarnya aku hanya mau mengambil jaket dan celana panjangku yang berada di kamar sih.
Setelah mengambil jaket dan mengganti celanaku, aku langsung menghampiri Miyuki kembali yang sedang bercakap dengan bapak dan ibuku.
“Ayo Miyuki!”
“Kamu sudah selesai?”
Miyuki pun bangun dari tempat duduknya dan menghampiriku.
Aku pun melihat wajah ibu dan bapakku yang senyum-senyum dibalakang Miyuki. Aku yakin mereka berdua berpikir yang tidak-tidak dari hal ini.
“Apa kamu sudah membawa uang Mar?”
“Sudah Bu, kalau begitu aku pergi dulu ya.”
Aku berpamitan kepada mereka.
“Saya juga pamit dulu tante.. Om...”
Dan kami pun pergi ke mal yang berada di dekat rumah kami.
Ketika kami sampai di sana, keadaan mal itu tidak begitu ramai dan masih ada beberapa toko yang belum buka.
“Kenapa kau harus datang ke rumahku juga?”
“Aku pikir kalau tidak seperti itu, kamu tidak akan mau pergi Mar.”
Dia hanya melihatku tanpa ada rasa bersalahnya sama sekali.
“Jadi apa yang ingin kau lakukan di sini?”
“Aku ingin membalas kebaikanmu waktu itu Mar, dan juga kan kamu telah mengeluarkan uang yang banyak untuk diberikan untuk seseorang. Ya setidaknya aku ingin menggantinya.”
Apa benar dia mau menggantinya? Aku mengeluarkan uang satu juta lima ratus rupiah loh waktu itu. Apa dia memiliki uang sebanyak itu?
“Kalau untuk itu aku tidak perlu, karena uang itu sudah kmebali kepadaku berkali-kali lipat dari hadiah yang diberikan oleh bapaknya Maul karena membantu menyelesaikan masalah pelelangan itu.”
Aku juga cukup terkejut ketika mengetahui kalau apa yang kami lakukan kemarin mendapatkan hadiah juga. Karena bapaknya Maul menyelesaikan masalah itu tanpa sepengetahuan kantor kepolisian, aku kira kami tidak akan mendapatkan hadiahnya.
__ADS_1
“Memangnya berapa hadiah yang kau terima?”
“Sangat banyak sekali.”
“Berapa nominalnya?”
Aku pun membisikkan nominal dari hadiah yang aku dapatkan kepada Miyuki dan membuat Miyuki terkejut mendengarnya.
“Itu banyak sekali Mar.”
“Waktu aku dikirimkan uang sebanyak itu oleh bapaknya Maul, aku juga tidak percaya. Tapi ketika aku mengecek kartu rekeningku, ternyata memang benar segitu.”
“Apa orang tuamu mengetahui tentang hal ini?”
“Ibuku tidak pernah mengecek rekeningku.”
Karena aku juga tidak pernah meminta uang lebih yang telah mereka tetapkan untuk uang jajan per bulanku, jadinya mereka tidak pernah curiga kalau aku memiliki uang yang banyak. Aku juga pernah memberitahu kepada ibuku kalau aku sesekali mendapatkan pekerjaan dari wali kelasku dan itulah yang membuat aku memiliki sedikit uang lebih sekarang.
“Pasti orang tuamu akan kaget jika tau anaknya memiliki uang sebanyak itu.”
“Bukan hanya kaget saja, mereka pasti akan menuduhku telah melakukan hal yang tidak-tidak.”
Miyuki hanya tertawa saja mendengar hal itu.
Bagaimana tidak menuduhku yang tidak-tidak. Bahkan mereka saja tidak tau kalau aku bekerja di sebuah perusahaan.
“Jadi sekarang kita mau kemana?”
“Sebenarnya aku mengajakmu karena aku ingin membelikan Yoshida kado karena sebentar lagi dia akan berulang tahun.”
Jadi Yoshida berulang tahun sebentar lagi, pantas saja dia sampai datang ke rumahku seperti ini. Sepertinya aku harus memberitahu Akbar tentang hal ini, dia tidak boleh kelewatan momen seperti ini.
“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi terlebih dahulu Mar?”
“Tidak ada, aku sama sekali tidak ada rencana ingin pergi ke mana pun.”
Karena Miyuki mengajakku sangat mendadak jadinya aku tidak tau harus pergi kemana.
“Apa kamu tau hadiah apa yang sebaiknya aku belikan kepada Yoshida?”
“Bagaimana dengan peralatan badminton? Karena dia mengikuti ekskul badminton di sekolah, aku yakin itu sangat berguna untuknya.”
“Aku juga berpikir seperti itu.”
“Kalau begitu lebih baik kita langsung pergi ke sana saja.”
Aku dan Miyuki pun langsung pergi ke toko olahraga untuk membeli kado untuk Yoshida. Untung saja tokonya sudah buka saat kami sampai di sana. Kalau belum, mungkin kami harus pergi ke game center terlebih dahulu sampai tokonya buka.
“Aku tidak begitu tau mana raket yang bagus untuk digunakan. Apa kamu bisa memberikanku rekomendasi Mar?”
Miyuki terlihat bingung melihat raket-raket yang dipajang di hadapannya.
“Karena toko olahraga ini ada di mal, jadi semua barang yang ada di sini bagus. Jadi kau bisa memilihnya tanpa perlu takut salah.”
“Dari mana penilaianmu itu muncul?”
Miyuki menyipitkan mataku dan menatapku dengan heran.
“Semua barang yang ada di mal itu bagus.”
“Apa tidak masalah jika memilihnya hanya berdasarkan warna?”
“Tidak masalah.”
Dan Miyuki pun mulai memilih-milih raket yang tergantung di hadapannya. Sesekali dia juga mengayunkan raket itu.
“Kichida baik-baik saja, mungkin besok senin dia sudah mulai bersekolah kembali.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Aku pun juga melihat-lihat alat-alat olahraga yang ada di sana.
Dulu ketika aku masih sering bermain basket, aku sering datang ke sini untuk membeli sepatu basket atau hanya untuk melihat-lihat saja.
“Sepertinya Kichida sudah mulai menyukaimu Mar!”
Ucap Miyuki yang membuatku sedikit melirik ke arahnya.
“Hah!?”
“Ketika kami berdua sedang membicarakan tentangmu, sikapnya Kichida hampir sama seperti Rina, jadi aku dapat mengambil kesimpulan kalau Kichida sudah mulai menyukaimu.”
Dari mana dia bisa mengambil kesimpulan seperti itu, dan juga apa yang mereka bicarakan tentangku?
“Itu hanya perasaanmu saja kali.”
“Hal itu mungkin saja Mar, apalagi kamu sudah menyelamatkannya dari bahaya. Mungkin saat itu di matanya Kichida, kamu seperti pangeran dengan kuda putih yang datang untuk menyelamatkannya.”
Miyuki mengayunkan raket yang dia pegang layaknya sedang mengayunkan sebuah pedang.
“Kau terlalu banyak membaca komik Miyuki”
“Hahaha... Sepertinya kamu benar Mar”
“Mungkin Kichida hanya malu saja setelah mengingat apa yang dia lakukan saat aku dan Riki berhasil menyelamatkannya.”
“Memangnya apa yang dilakukan oleh Kichida?”
Miyuki sangat penasaran akan hal itu, dan aku baru ingat kalau Miyuki dan yang lainnya tidak mengetahui kalau Kichida memelukku saat ikatannya baru saja dilepas karena Maul telah mematikan kamera pengawasnya.
“Tidak ada, aku hanya melantur saja.”
“Kamu pasti sedang menyembunyikan sesuatu Mar!”
Ini dia, sifatnya Miyuki yang ingin tau akan sesuatu.
“Apa kau sudah selesai memilihnya?”
Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraannya.
“Iya, aku rasa akan membeli yang ini saja.”
Miyuki menunjukkan raket yang sedang dia pegang. Raket itu berwarna biru dengan memiliki corak kuning dan hitam.
“Ayo kita pergi ke kasir.”
Kami berdua pun pergi ke kasir untuk membayar raket untuk kado Yoshida.
“Apa hanya ini saja Kak?”
Tanya pelayan toko tersebut.
“Iya.”
Ucapku kepadanya.
__ADS_1
“Apa mau sekalian dipasang senarnya?”
“Boleh, pakaian senar yang paling bagus ya.”
Pinta Miyuki kepada pelayan itu.
Kemudian pelayan itu pun memberikan raket kepada temannya yang berada di belakangnya, dan temannya itu mulai memasang raket itu dengan senarnya.
“Nanti bayarnya pakai ini ya Mas!”
Aku memberikan kartu debitku kepada kasir.
“Kenapa kamu yang membayarnya Mar?”
Miyuki sedikit keberatan dengan apa yang aku lakukan.
“Saat ini uangku sedang bayak dan bingung bagaimana untuk menghabiskannya. Membeli satu raket ini tidak akan menghabiskan uangku begitu saja.”
“Tapi tetap saja aku tidak enak denganmu Mar, seharusnya aku yang mentraktirmu sesuatu di sini.”
“Sudahlah, jarang-jarang aku melakukan hal seperti ini.”
“Tolong pinnya Kak.”
Ucap pelayan kasirnya kepadaku.
“Terima kasih.”
Miyuki mengucapkan terima kasih dengan suara kecil.
“Sama-sama.”
“Kalau kamu memang bingung menghabiskannya kemana, bagaimana kalau kamu ikut denganku ketika aku pergi ke Jepang Mar?”
Miyuki menawarkan hal itu kepadaku.
“Aku juga pernah merencanakan untuk pergi ke luar negeri juga.”
Tapi aku sangat malas untuk melakukannya, karena aku masih ingin mengitari Indonesia terlebih dahulu.
“Benarkah! Aku akan mengajakmu berkeliling Jepang sampai kamu puas Mar.”
Miyuki terlihat senang sekali mendengar itu.
“Apa yang bisa dilihat di Jepang?”
“Banyak hal yang dapat kamu lihat di sana tergantung kau ingin pergi kemana.”
“Jepang identik dengan bunga sakura... Sepertinya aku ingin sekali saja melihat bunga sakura di sana.”
“Aku akan mengajakmu ke Arashiyama Mar, kebetulan rumah nenekku berada di Kyoto.”
“Hmmm... Tapi aku rasa kalau melihat bunga sakura, aku bisa pergi ke Cibodas karena di sana juga ada.”
Kalau tidak salah aku pernah mengunjunginya bersama dengan keluargaku dan aku juga berfoto di sana juga.
“Lebih bagus jika melihat bunga sakura langsung dari negara asalnya Mar.”
“Kau benar, aku akan memikirkannya lagi.”
“Ini raketnya Kakak.”
Pelayan itu pun memberikan raket yang kami beli tadi dan sekarang sudah terpasang senar di dalamnya, dan kami juga mendapatkan tas raketnya sekalian.
“Setelah ini kita mau kemana?”
Kami berdua berjalan keluar dari toko itu.
“Memangnya kamu tidak mau langsung pulang Mar?”
Lagi-lagi Miyuki melihatku dengan sangat heran sekali.
“Aku sudah terlanjur keluar, jadi aku malas sekali jika langsung pulang.”
“Kamu ini aneh sekali, biasanya kamu akan memaksa untuk langsung pulang.”
Ya, mungkin dulu aku memang seperti itu. Tapi sekarang aku sedang ingin mencari hiburan dan juga kesenangan di mal ini. Mumpung aku berada di sana, jadi tidak mungkin aku pulang ke rumah tanpa mendapatkan apapun.
“Sudahlah, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”
“Bagaimana jika menonton bioskop? Kebetulan saat ini ada film yang sedang bagus.”
“Boleh juga, aku sudah lama tidak menonton bioskop.
Dan kami pun mulai menuju ke sana. Saat berada di perjalanan, aku melihat sebuah kios es krim yang ada di sana.
Aku ingin sekali es krim itu.
“Miyuki, bisa kau menunggu di sini sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku beli.”
Aku pun langsung pergi meninggalkannya dan menghampiri penjual es krim itu.
Setelah membeli es krim itu, aku memberikan salah satunya kepada Miyuki yang saat itu sedang menungguku.
“Tumben sekali kamu seperti ini Mar!”
Miyuki terlihat kebingungan diberikan es krim olehku.
“Kenapa? Memangnya ada yang aneh dariku?”
Aku sama sekali tidak merasa ada yang berbeda denganku.
“Biasanya kamu jauh lebih dingin dan seperti tidak nyaman ketika pergi bersamaku.”
Oh itu alasannya.
“Entahlah, mungkin karena sudah terbiasa jadinya aku tidak begitu memikirkannya. Sudahlah, cepat ambil es krim ini.”
Miyukipun mengambilkan es krim yang diberikan olehku
“Terima kasih.”
Dan kami menghabiskan es krim itu terlebih dahulu dan duduk di bangku yang berada di dekat sana.
“Hmmmm... Es krimnya enak sekali, bagaimana cara membuatnya ya?”
Aku bertanya hal itu kepada Miyuki, tapi Miyuki diam saja sambil menikmati es krimnya.
“Apa kau tidak suka dengan rasa es krim yang aku belikan Miyuki? Kalau memang tidak suka, kau bisa memberikan es krim itu kepadaku dan kau beli saja lagi.”
Aku bersiap untuk mengeluarkan dompetku.
“Tidak kok Mar, aku suka rasa ini. Kebetulan ini rasa yang aku suka, hebat sekali kamu bisa mengetahuinya.”
Benarkah seperti itu? Aku kira dia tidak suka dengan rasanya.
__ADS_1
Setelah menghabiskan es krim kami, kami pun lagsung menuju bioskop untuk menonton film di sana.
-End Chapter 146-