
Malam pun tiba. Malam ini adalah malam pertama sekaligus malam terakhir kami berada di Gunung Prau, karena besok siang kami sudah harus turun dan kembali ke rumah. Saat ini kami sedang berada di luar tenda sambil menikmati pemandangan malam yang penuh dengan banyak sekali bintang.
Seperti yang pernah aku katakan kepada kalian, akan lebih bagus jika kalian menyaksikan bintang di gunung dari pada di pantai. Tapi pastikan terlebih dahulu jika kalian ingin menyaksikan bintang di gunung, kalian jangan datang ke sini pada saat keadaan bulan purnama sempurna, karena cahaya dari bulan akan menutupi cahaya dari bintang. Aku sarankan kalian datang ke sini saat sedang bulan baru atau bulan sabit, pada saat itu kalian akan melihat banyak sekali bintang yang ada di langit.
Keadaan saat itu sangat gelap dan penerangan kami saat itu hanya satu lentera yang dibawa oleh Riki. Kami tidak membuat api unggun karena hal itu dilarang di Gunung Prau.
“Hangatnya.”
Rina terlihat menikmati segelas teh hangat di tangannya.
“Apa yang sedang kau minum itu Mar?”
“Ini kopi, apa kau mau mencicipinya?”
Aku menawarkan kopi yang sedang aku minum kepada Miyuki.
“Kopi? Aku belum pernah mencobanya. Seperti apa rasanya?”
“Kau coba saja sendiri.”
Aku memberikan kopiku kepada Miyuki.
“Baiklah kalau begitu akan aku coba.”
Miyuki pun mencoba kopi yang baru saja aku berikan kepadanya.
“Pahitnya!”
Miyuki tidak tahan dengan pahit dari kopi hitamku. Ekspresinya terlihat sangat lucu, matanya yang menyipit dengan lidahnya sedikit menjulur keluar.
“Hahahaha...”
Aku tertawa melihatnya yang tidak tahan dengan rasa pahit itu. Anggap saja ini sebagai pembalasanku atas apa yang kau lakukan sore tadi.
“Mengapa rasanya bisa sepahit ini?”
“Memang seperti itu rasa kopi.”
“Kamu tidak apa-apa Miyuki, ini ada air. Minumlah untuk menghilangkan rasa pahit itu.”
Rina memberikan Miyuki air mineral.
“Terima kasih Rin.”
Aku pun kembali meminum kopi itu dan menikmati pemandangan bintang. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan rasa cintaku terhadap bintang saat ini.
Aku baru sadar kalau Miyuki tercengang melihatku.
“Ada apa?”
“Tidak ada.”
Miyuki pun membuang mukanya sembali sesekali memegang bibirnya dengan tangannya.
“Pantas saja kamu sangat bersemangat untuk melihat bintang Ar. Ternyata memang hal itu sangat indah sekali.”
Rina masih terpana melihat gugusan bintang yang menghiasi langit.
“Tentu saja, walaupun aku sering melihat pemandangan ini ketika sedang mendaki gunung. Tapi entah kenapa, aku tidak pernah bosan dibuatnya.”
Aku memandang ke salah satu bintang yang bersinar paling terang saat itu. Walaupun aku sendiri tidak tau bintang apa yang saat itu aku lihat.
“Ngomong-ngomong aku sedikit penasaran dari dulu. Maul ini orang yang waktu itu membantumu dalam menangkap pencuri waktu itu kan Mar?”
Miyuki bertanya kepadaku yang sedang serius menatap bintang.
“Begitulah, dia memang hebat dalam hal peretasan. Orang-orang di sekolahku biasa memanggilnya Hacker.”
Berterima kasihlah kepadaku Mul, aku sudah menaikan derajatmu di hadapan Miyuki.
t
“Benarkah itu?!”
Dan sekarang Miyuki sangat tertarik untuk mendengar cerita dari Maul.
“Amar terlalu melebihkan, aku tidak begitu ahli dalam hal itu. Aku hanya tau sedikit saja.”
Sambil merendah, Maul terlihat malu-malu mengucapkah hal itu.
“Apa yang dikatakan Kak Amar itu benar... Sebutan Kak Maul di sekolah kami adalah Hacker. Bahkan anak laki di kelasku banyak yang mengagumi kemampuannya itu.”
“Iya, aku saja sering dibantu oleh Maul dalam pelajaran komputer.”
Kirana dan Rina memuji Maul yang membuatnya sangat senang sekali, api Maul yang sekarang sepertinya sudah berubah. Dulu, saat dia dipuji seperti ini, pasti dia akan langsung besar kepala dan membanggakan keahliannya itu, namun sekarang dia terlihat lebih diam dan tenang.
“Bagaimana dengan Riki? Aku mendengar dari Amar kalau dia pernah menjuarai kejuaraan nasional.”
Setelah Maul, sekarang Miyuki bertanya tentang keahlian Riki.
Ternyata mengajak orang seperti Miyuki tidak ada buruknya juga. Padahal sesaat sebelumnya keadaannya sangat hening dan sepi, semuanya terdiam memperhatikan bintang.
“Itu benar, ketika waktu kelas satu SMP, aku pernah meraih medali emas dalam pencak silat tingkat nasional.”
Riki mengatakan itu dengan bangganya.
“Ketika mendengar itu aku bersyukur Amar memisahkanmu dengan Takeshi. Kalau tidak dipisahkan aku tidak tau apa yang akan terjadi dengan Takeshi.”
“Begitulah, padahal saat itu aku sangat kesal sekali dengan orang itu.”
Emosi Riki naik sesaat dan dia mengepalkan tangannya saat mengingat kejadian waktu itu.
“Memangnya apa yang terjadi Miyuki?”
Rina penasaran dengan hal itu dan Miyuki pun menceritakannya kepada mereka semua.
“Seperti biasa emosimu masih tidak bisa terkendali ya.”
Maul sedikit mengejek Riki saat itu.
“Kalau kau jadi aku saat itu, aku yakin kau juga akan terpancing.”
“Itu tidak akan.”
Maul berusaha terlihat baik dihadapan para gadis.
“Kak Riki juga terkenal kuat di sekolah kami. Bahkan dia sangat ditakuti di sekolah kami.”
Kirana menceritakan itu dengan sangat bersemangat untuk menambahkan kehebatan Riki di mata Miyuki.
“Benarkah itu!?”
“Tidak, aku tidak sehebat itu kok.”
Sekarang Riki yang malu-malu karena dipuji oleh seseorang. Mengapa semua temanku bisa seperti itu.
“Hanya ada satu orang saja di sekolah kita yang bisa mengalahkan Kak Riki.”
“Siapa itu?”
__ADS_1
Rina dan Miyuki terlihat penasaran dan tidak sabar untuk mendengar jawabannya.
Kirana tidak menjawab apa pun, dia hanya menunjuk ke arahku yang sedang asik menikmati kopiku sambil melihat bintang.
“Kamu pasti bercanda kan Kirana?”
Miyuki tidak percaya kalau aku lebih kuat dibandingkan Riki.
“Aku juga tidak percaya itu. Memang aku tau kalau Ar itu memang kuat, tapi aku tidak membayangkan kalau dia bisa mengalahkan Riki.”
Rina juga tidak percaya akan hal itu.
“Apa yang baru saja dikatakan Kirana itu memang benar loh. Sejak di sekolah dasar, aku tidak pernah sekali pun mengalahkan Amar.”
Riki pun membantu Kirana agar Miyuki dan Rina mempercayai ucapannya.
“Kamu bisa menjelaskan hal itu Mar?”
“Iya, aku juga ingin dengar hal itu langsung darimu Ar.”
Sekarang Miyuki dan Rina sangat serius sekali memperhatikanku.
“Riki itu hanya melebihkannya saja, aku tidak mungkin sehebat itu. Kalian tau sendiri, orang yang tergolong malas sepertiku, mana mungkin dapat mengalahkan Riki.”
“Dari awal aku bertemu denganmu sebenarnya aku sudah curiga, kalau kamu pasti memiliki banyak sekali misteri yang belum pernah kamu ceritakan kepada kami kan?”
Miyuki pun menjadi detektif dadakan yang baru saja menemukan misteri baru.
“Kau benar Miyuki. Bahkan selama ini dia tidak pernah bercerita apa pun tentang dirinya kepadaku. Padahal aku sudah lama berteman dengannya.”
Maul membuat rasa penasaran Miyuki semakin menjadi-jadi.
“Hei Rik! Kau harus membantuku keluar dari kondisi seperti ini.”
Aku memohon bantuan kepada Riki, tapi dia hanya tersenyum jahat kepadaku.
“Apa kamu mengetahui sesuatu Rin? Kamu kan sudah bersama dengannya selama tiga tahun. Pasti ada sesuatu yang kamu tau.”
Miyuki bertanya kepada Rina untuk memuaskan rasa penasarannya itu.
“Sebenarnya aku sudah mengenal Ar sejak di sekolah dasar...”
“APA?!”
Semua orang di sana terkejut mendengar itu kecuali aku dan Riki.
“Bisa kamu ceritakan lebih jelas tentang hal itu Rin?”
“Iya Kak Rina, aku juga jadi penasaran.”
Sekarang Kirana pun juga dibuat penasaran.
“...Sejak dulu sifatnya Ar tidak jauh berbeda dengan yang sekarang ini. Hanya saja ketika masuk SMP, dia jauh lebih tertutup dan pendiam, dan dia selalu mengeluarkan aura yang menyeramkan ketika kita ingin mendekatinya.”
Menyeramkan? Boleh juga aura yang aku keluarkan.
“Aku setuju dengan perkataannya Kak Rina. Tatapannya yang tajam, sering membuat anak kelas dua ketakutan jika
diperhatikan olehnya.”
Hmmm... Aku baru tau kalau mataku semenakutkan itu.
“Waktu awal pertama masuk saja banyak teman-teman di kelas yang salah paham dengan tingkahnya Amar, tapi setelah berbicara dengannya, ternyata dia orang yang sangat baik.”
Rina pun mengatakan itu dengan sedikit senyuman terlukis di wajahnya.
Tolonglah seseorang, tolong hentikan Miyuki dengan segala rasa penasarannya itu.
“Aku setuju itu Miyuki!”
Maul pun mendukung Miyuki.
“Ayo Amar, lebih baik kamu katakan di sini sekarang?”
Sekarang yang menjadi target incaran Miyuki adalah aku.
“Apa yang harus aku katakan kepadamu? Aku tidak memiliki sesuatu yang harus diceritakan lagi.”
“Kamu pasti berbohong, aku yakin banyak sekali rahasiamu yang masih kamu sembunyikan.”
Miyuki tidak mau mendengar perkataanku dan masih terus bertanya kepadaku. Aku melihat Riki yang berusaha menahan ketawanya melihat aku yang dibuat repot oleh Miyuki.
Apa yang harus aku lakukan? Memang sudah tidak ada lagi yang harus aku ceritakan kepada mereka. Lagi pula apa pedulinya mereka dengan cerita tentangku. Cerita itu sangatlah membosankan menurutku.
“Ngomong-ngomong bagaimana sekolahmu Miyuki? Bukankah kau sekolah di sekolah khusus. Bagaimana bersekolah di sana?”
Semoga topik pembicaraanku ini dapat mengalihkan perhatiannya.
“Ah... Dia mau mencoba mengganti topik pembicaraan.”
Riki mecoba mencegahku dengan mengingatkan mereka.
“Aku cukup penasaran dengan sekolahmu, pasti sekolahmu memiliki sesuatu yang berbeda dibandingkan sekolah kami kan? Pasti itu menarik untuk dibicarakan.”
Miyuki melihat curiga kepadaku.
“Benar sekali, aku bersekolah...”
Dan Miyuki pun berhasil teralihkan dengan topik pembicaraan yang aku buat.
Aku pun menghela nafas lega dan merasa telah memenangkan pertandingan dengan Riki.
Dan kami pun terus bercerita hingga malam hari .
***
“Akhirnya aku bisa sendiri, sekarang waktunya menikmati bintang dengan damai dan tentram.”
Aku pun duduk di luar tenda sendirian sambil memasak air untuk menyeduh kopiku.
Saat ini sudah pukul tiga pagi dan mereka semua sedang tidur di dalam tenda. Karena sore tadi aku sudah tidur, jadi aku dapat terjaga hingga pagi nanti.
Aku melihat banyak sekali bintang yang berada di langit saat ini. Setiap kali melihat bintang, aku ingin sekali membeli kamera untuk mengabadikan kejadian ini, tapi karena harganya yang mahal, aku tidak bisa meminta sembarangan kepada orang tuaku.
Ketika aku sedang asik menikmati waktu damaiku, keluarlah Miyuki dari tendanya.
“Kau sudah bangun?”
Aku menegur Miyuki yang sepertinya masih berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya.
“Hmmm... Kamu sendiri belum tidur?”
“Akan sangat sayang sekali kalau aku tidur di saat seperti ini. Pemandangan seperti ini sangat jarang sekali ditemukan”
“Kamu ini memang menyukai bintang ya?”
Miyuki pun duduk tepat di sampingku.
Sfx : Ciiiiiiiitttttt...
__ADS_1
Teko pun berbunyi yang menandakan kalau air yang berada di dalamnya sudah mendidih. Aku langsung menyeduh kopiku dan membuat teh untuk Miyuki.
“Ini teh untukmu.”
Aku memberikan teh itu kepada Miyuki.
“Terima kasih.”
Kami pun melihat bintang bersama – sama.
“Ternyata kamu romantis juga ya?”
Perkataan Miyuki itu sempat membuatku terkejut. Karena aku tidak tau kalau memberikan teh bisa disebut romantis. Bukankah itu wajar saja jika kau sedang berada di gunung yang memiliki suhu dingin dan kamu memberikan sesuatu yang hangat kepada temanmu.
“...Masa?”
“Iya... Menyukai pantai dan gunung yang memiliki banyak sekali sesuatu yang indah. Itu sangat romantis menurutku.”
Ternyata itu yang dia maksud.
“Mau bagaimana lagi, hanya di kedua tempat itu saja aku dapat mengistirahatkan pikiranku. Ketika pergi ke tempat itu, aku merasa kalau semua rasa penat yang ada dipikiranku hilang semua. Sama seperti saat ini. Apa lagi menyaksikannya dengan seseorang yang sangat spesial bagimu, itu semakin bagus saja.”
Miyuki pun terdiam tidak berkata apa-apa setelah mendengar perkataanku barusan.
“Kenapa kau terdiam? Apa ada yang salah dengan ucapanku?”
“...Tidak, aku hanya bingung saja harus berkata apa sekarang. Kadang aku melihatmu sebagai orang yang sangat baik, namun di satu sisi juga aku melihatmu sebagai orang yang sangat jahat.”
Aku hanya tersenyum setelah mendengar itu. Aku kira usahaku selama ini menghindari Miyuki tidak berdampak kepadanya. Ternyata dia sadar kalau aku berusaha untuk menjauhkan diriku darinya.
“Itu mungkin hanya perasaanmu, aku bukanlah orang yang baik kau tau.”
“Tapi menurutku, jalan hidup sepertimu sangat cocok di zaman sekarang ini.”
“Tidak... Jalan hidup seperti ini sangatlah berisiko.”
“Lagi pula, mengapa kamu bisa memiliki pemikiran yang seperti itu? Apa lagi tentang cinta. Kamu belum pernah menceritakan hal itu kepadaku. Rasanya curang sekali jika aku saja yang menceritakan alasanku kepadamu.”
Miyuki merasa kesal sekali, dia pun membuang mukanya dariku.
“Kau sendiri yang menceritakannya kepadaku.”
“Tapi...”
Sepertinya tidak ada salahnya menceritakan hal itu kepadanya.
“Baiklah kalau kau ingin mendengarnya, sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal ini kepada siapa pun, tapi mau bagaimana lagi. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena kau telah menyelamatkanku dari pembicaraan semalam.”
"Kok kamu tau?"
Miyuki sedikit terkejut.
"Tentu saja, mana mungkin orang yang sedang penasaran dapat dengan mudah teralihkan oleh topik pembicaraan yang seperti itu."
"Hehehehe... Baiklah, aku akan mendengarkannya."
Miyuki pun terlihat sangat serius sekali dan dia pun memfokuskan pandangannya kepadaku saat ini.
Sekarang dari mana aku harus bercerita...
“...Dulu aku memiliki seorang teman, dia berteman denganku saat kami masih berada di taman kanak-kanan. Kami sering bermain bersama saat itu, bahkan saat itu kami masuk ke SD yang sama. Hingga akhirnya pada kelas empat, aku baru tau kalau dia memiliki penyakit di jantungnya dan tidak bisa melakukan aktivitas layaknya anak pada umumnya. Setahun kemudian, saat kami kelas lima. Penyakitnya makin parah dan membuatnya harus dirawat di rumahnya, sejak saat itu dia tidak pernah pergi ke sekolah...”
Ah sial, padahal aku tidak mau mengingat hal ini lagi.
“Lalu apa yang terjadi?”
Wajah Miyuki terlihat sedih, tapi di matanya masih tersisa sedikit rasa penasaran.
“...Waktu itu aku sering main ke rumahnya untuk bermain dan menceritakan apa yang terjadi selama di sekolah. Kadang aku pun menghiburnya agar dia semangat melawan penyakitnya itu. Saat itu dia pun teringat dengan sebuah buku cerita yang sering dia baca waktu masih berada di taman kanak-kanak. Buku itu berjudul Janji Musim Dingin.”
“Sepertinya aku pernah membaca buku itu, buku yang bercerita tentang seorang putri yang berpenyakit dari kecil hingga dia harus dirawat di dalam rumah hingga ia tidak tau apa yang terjadi dengan dunia luar. Namun suatu hari, muncul seorang lelaki yang sering berkunjung ke kamarnya untuk menceritakan kepada putri tersebut tentang dunia luar.”
Miyuki ternyata tau buku yang aku maksud.
“Kau benar, buku itu berakhir bahagia dengan sang putri yang sembuh dari penyakitnya dan akhirnya menikah dengan lelaki tersebut. Kemudian temanku ini mengatakan kalau aku mirip dengan lelaki yang berada di buku tersebut.”
“Apa temanmu ini perempuan?”
“Yup... Mendengar hal itu membuatku berjanji kepadanya untuk selalu menemaninya dan selalu menyemangatinya agar segera sembuh dari penyakitnya seperti lelaki yang berada di buku tersebut.”
Gawat... Rasanya air mataku ingin keluar saja.
“Lalu apa yang terjadi?”
Miyuki bertanya kepadaku dengan nada yang sangat pelan, sepertinya dia tau kalau suasana hatiku sedang tidak bagus.
“...Takdir tidak semanis apa yang ada di dalam buku. Setahun kemudian dia pun menjemput ajalnya karena jantungnya yang sudah tidak bisa berfungsi dengan normal. Saat itu aku sempat suka dengannya dan aku ingin sekali melindungi senyumannya itu. Setelah kematiannya membuatku sangat terpukul, bahkan aku sempat tidak berangkat ke sekolah selama tiga hari. Semenjak saat itu aku tidak mau lagi menggunakan perasaanku ketika melakukan apa pun dan lebih mengedepankan pemikiran yang logis. Walaupun hal itu dapat membuat pertikaian, tapi itulah yang terbaik... Dan seperti itu lah alasan kenapa aku bisa seperti ini.”
Ketika aku selesai menceritakan hal itu, aku melihat Miyuki yang mulai meneteskan air matanya. Dia tidak dapat berkata apa-apa dan hanya melihatku dengan tatapan ibanya.
Aku pun menarik nafasku dengan sangat panjang agar mengembalikan emosiku seperti semua dan membuat pikiranku tenang kembali.
“Maafkan aku... Seharusnya aku tidak bertanya hal itu kepadamu.”
“Tenanglah, memang aku berencana untuk menceritakan hal ini kepada seseorang.”
Aku pun memberikan tisu kepada Miyuki untuk mengusap air matanya.
“...Apakah ada orang yang mengetahui hal ini?”
“Tidak ada, hanya kau saja yang tau.”
“Kenapa kamu tidak menceritakannya kepada Rina?”
“Entahlah, aku merasa tidak nyaman saja jika melihat Rina menangis sepertimu.”
Miyuki pun terlihat kesal setelah aku mengatakan hal itu.
“Sudahlah tidak usah bersedih lagi... Kita jangan membuat suasana indah seperti ini menjadi tempat berduka.”
Aku pun menyuruh Miyuki untuk semangat lagi.
“Kamu hebat sekali Mar, setelah bercerita hal sedih seperti itu, kamu tidak terlihat sedih sema sekali.”
“Benarkah?”
Padahal aku sempat ingin menangis tadi. Sepertinya wajah tanpa ekspresi ini sudah melekat sekali denganku.
“Kalau sendainya aku jadi kamu mungkin aku sudah menangis dengan kejer di sini.”
“Hahahaha... Kau terlalu berlebihan.”
Entah kenapa setelah menceritakan hal itu kepada Miyuki, bebanku sedikit terangkat dan pikiranku menjadi ringan. Sepertinya apa yang dikatakan Riki waktu itu benar, seharusnya aku jangan memendam hal ini seorang diri.
Sudahlah, jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Lebih baik aku menikmati pemandangan yang indah ini.
Dan kami pun bercengkrama sambil menikmati pemandangan itu hingga pagi hari. Walaupun kami sudah terlihat lebih dekat dibandingkan sebelumnya, namun Miyuki masih aku anggap sebagai perempuan yang merepotkan.
-End Chapter 26-
__ADS_1