
“Ah nikmat sekali!”
Dengan secangkir teh lemon dingin yang menikmati soreku kali ini, aku melihat pemandangan sore dari atap kantor. Aku melihat ke jalan yang berada di depan kantorku, di sana sudah ramai sekali kendaraan melintas. Karena sekarang sudah jam orang pulang kerja, jadi wajar saja jalanan sudah ramai oleh para pekerja yang ingin pulang ke rumahnya masing-masing.
Suasana damai dan tentram saat menikmati pemandangan sore ini adalah hal yang paling aku suka. Aku tidak perlu pergi ke suatu temapt yang bagus untuk menikmati hal ini. Aku hanya perlu sebuah minuman untuk menemani, hiburan, dan juga seseorang yang tidak akan menggangguku sama sekali.
Ketika aku sedang menikmati kedamaianku itu, tiba-tiba Kak Friska datang menghampiriku dengan membawa secangkir kopi di tangannya.
“Boleh aku bergabung denganmu Mar?”
“Silahkan saja.”
Kak Friska pun duduk di sebuah kursi yang berhadapan denganku.
Keadaan pun menjadi hening dan sunyi, diantara kami berdua tidak ada yang memulai pembicaraan terlebih dulu.
Kalau aku sendiri tidak mungkin memulai pembicaraannya, karena kalian tau sendiri aku bukanlah orang yang cocok melakukan hal itu. Dengan seorang laki-laki saja aku masih sulit mencari topik apa yang bagus untuk memulai pembicaraan, apalagi dengan seorang wanita.
Kemudian aku pun melihat pakaian Kak Friska yang sudah menggunakan jaket, sepertinya dia sudah ingin pulang.
Ah lebih baik aku gunakan itu saja untuk memulai pembicaraannya.
“Kak Friska sudah mau pulang?”
“Iya, tapi aku ingin beristirahat terlebih dahulu sebelum pulang.”
“Oh begitu.”
Dan suasana kembali hening karena aku tidak tau bagaimana membuat pembicaraan menjadi panjang dan lama.
“Anak magang baru yang tadi datang ke kantor, apa itu temanmu Mar?”
“Iya Kak.”
“Kau yang menyuruhnya untuk masuk ke sini?”
“Iya, karena dipekerjaan sebelumnya aktifitas sekolah yang dia jalani sedikit terganggu jadinya aku menyuruhnya untuk masuk ke sini karena aku tau kalau bekerja di sini tidak begitu mengganggu sekolah, khusunya bagi anak magang.”
Bahkan aku sendiri saja baru tau kalau ada kebijakan untuk memberikan laptop untuk anak magang yang tidak memilikinya agar bisa mengerjakan pekerjaannya di rumah. Aku masih menganggap itu membuang-buang anggaran, tapi kalau Pak Hari sudah menerapkan hal itu. Seharusnya dia sudah memikirkan matang-matang tentang hal ini.
“Ternyata kau orang yang baik juga ya Mar!”
Kak Friska tersenyum tepat di hadapanku yang membuatku menjadi tersipu malu dibuat olehnya.
Tarik nafas dalam-dalam, dan keluarkan.
Aku berusaha untuk membuat wajahku seperti biasa agar dia tidak tau kalau aku sedang malu saat ini.
“Memangnya selama ini Kak Friska memanggapku bukan orang baik?”
“Tidak, bukan begitu Mar! Hanya saja kesan yang kau berikan itu seperti orang yang pendiam dan tidak peduli dengan sekitarnya.”
“Temanku juga sering mengatakan hal seperti itu.”
Apa memang benar kesanku seperti itu?
Aku tidak tau apa yang membuat kesanku menjadi seperti itu, padahal aku tidak pernah menutup diriku kepada orang-orang ketika mereka sedang berbicara denganku. Aku juga sering menyapa mereka terlebih dahulu agar aku terlihat sebagai orang yang akrab.
“Oh iya Mar, bolehkah aku menanyakan sesuatu kepadamu?”
Apa yang ingin Kak Friska tanyakan kepadaku?
Semoga saja bukan masalah pacar dan hal yang berhubungan tentang itu.
“Boleh, tanyakan saja.”
“Kenapa kau tidak ingin dianggap atasan oleh karyawan-karyawan yang ada di sini?”
Oh, dia hanya menanyakan masalah itu.
“Sebenarnya aku hanya tidak suka ketika ada orang yang lebih tua memanggilku dengan sebutan ‘Pak’. Itu membuatku terlihat sudah tua, lagi pula rasanya tidak enak saja mendengar hal itu keluar dari orang yang lebih tua dariku.”
“Hmm... Aku juga setuju denganmu. Waktu pertama kali masuk ke sini dan mendengar kalau ada atasan yang lebih muda dariku, aku merasa kalau akan canggung ketika berbicara dengannya. Tapi pas bertemu dengan kalian berdua, ternyata kalian berdua orangnya enak untuk diajak bicara.”
Siapa juga yang tidak mau berbicara dengan perempuan secantik Kak Friska. Kalau mereka ada kesempatan itu, pasti mereka akan menggunakannya sebaik mungkin.
Saat kami sedang berbincang-bincang, Akbar dan Riki pun datang setelah selesai mengerjakan pekerjaan mereka.
“Kenapa kau bisa bersama dengan Kak Friska Mar!?”
Riki terkejut melihatku yang sedang duduk bersama dengan Kak Friska.
“Kami hanya tidak sengaja bertemu di atap... Akbar, mari aku perkenalkan kepadamu. Ini adalah Kak Friska, dia adalah sekertarisnya Pak Hari.”
Aku memperkenalkan Kak Friska kepada Akbar.
“S-sa-saya Ak-Akbar Kak.”
Akbar menjulurkan tangannya dengan gugup.
“Saya Friska.”
Kak Frika pun menerima tangannya Akbar dan mereka berjabat tangan.
“Kalau seandainya kau ada keperluan dengan Pak Hari, kau bisa bertanya terlebih dahulu kepada Kak Friska.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Apa pekerjaannya sudah selesai?”
Aku bertanya kepada Riki yang baru saja duduk di bersama kami.
“Sudah.”
Aku pun menghabiskan tehku dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
“Apa kau sudah mau pulang Mar?”
Kak Friska bertanya kepadaku.
“Iya Kak, karena rumahku jauh dari sini, jadi aku harus pulang awal agar sampai di rumah tidak terlalu malam.”
Karena kalau aku pulang sekarang, aku masih belum terkena macet dari orang yang pulang kerja, karena puncak macetnya biasanya saat menjelang magrib.
“Hati-hati di jalan ya!”
“Begitu juga untuk Kakak.”
Aku pun bangun dari tempat dudukku dan mengajak Riki dan Akbar untuk pergi.
“Baru juga aku duduk di sini Mar!”
“Macet Rik, macet!”
Mendengar itu membuat Kak Friska sedikit tertawa kecil melihat tingkah Riki.
__ADS_1
***
“Kak Friska cantik sekali.”
Ucap Akbar yang membayangkan wajah Kak Friska.
Saat ini kami sedang menyusuri trotoar jalan untuk menuju ke halte bis.
“Bukan hanya kau saja yang berkata seperti itu Bar, semua orang yang ada di kantor kita akan mengatakan hal yang sama jika kau bertanya tentang Kak Friska.”
Apa yang dikatakan Riki barusan tidaklah berlebihan, memang seperti itu kenyataannya.
“Kalau kau berpikiran untuk mendekati Kak Friska, kau harus siap dengan persaingan yang sangat ketat dari karyawan-karyawan yang ada dikantor Bar, termasuk Maul.”
Aku memperingatkan hal itu kepada Akbar.
“Benarkah itu? Maul juga suka dengan Kak Friska?”
“Iya, kalau kau bertemu dengan Maul saat di kantor nanti, kau juga akan tau dengan sendirinya.”
Ucap Riki kepada Akbar.
“Lalu, pekerjaan apa yang sudah kau dapatkan Bar?”
Aku bertanya kepada Akbar.
“Aku hanya baru saja mendapatkan tugas untuk membuat desain untuk Outstagram.”
“Dengan apa kau mengerjakannya? Bukannya kau belum memiliki laptop.”
“Mungkin selama aku belum mendapatkan laptop dari kantor, aku akan mengerjakannya di lab sekolah nanti.”
Lab sekolah ya? Aku rasa itu tidak buruk, lagi pula masih banyak komputer yang tidak terpakai saat itu.
“Itu ide yang bagus, jangan lupa untuk memberitahu hal itu kepada Pak Febri agar kau mendapatkan akses ke sana.”
“Baiklah.”
Kami pun akhirnya sampai di halte bus dan terlihat banyak sekali orang yang berada di sana.
Sepertinya aku tidak akan mendapatkan tempat duduk sampai di halte Cibubur nanti.
“Aku tidak menyangka kalau akan mendapatkan laptop dari kantor.”
Ucap Akbar.
“Jangankan kau yang baru masuk Bar, aku saja yang sudah lama bekerja di sana baru mengetahuinya tadi.”
Sepertinya kapan-kapan aku akan bertanya kepada Pak Hari tentang kebijakan-kebijakan baru yang sudah dia buat agar aku dapat mengetahuinya.
“Dulu kantor memang dibuka sampai malam untuk para karyawan yang ingin bekerja lembur, aku juga sering datang ke kantor dang mengerjakan pekerjaan di kantor dengan menggunakan komputer kantor. tapi sekarang kantor hanya dibuka sampai jam tujuh malam saja, itulah kenapa kantor memberikan laptip untuk anak magang yang tidak memiliki laptop di rumah.”
Mungkin seperti itu kenapa Pak Hari membuat kebijakannya.
“Apa karyawan tidak mendapatkan laptop juga?”
Riki bertanya kepadaku.
“Aku sendiri juga tidak tau, kan aku bilang kalau aku saja baru mengetahui tentang kebijakan itu tadi.”
“Oh iya Mar, bagian apa yang kau masuki?”
“Aku? Aku berada di bagian editor Bar, memangnya kenapa?”
“Apa saja yang dilakukan di sana?”
Walaupun sebenarnya kau tidak melakukan itu semua, karena aku hanya memeriksa laporan-laporan dari ketua divisi editor sebelum diberikan kepada Pak Hari.
“Apa pekerjaan itu berat?”
“Kalau sekarang pekerjaan itu tidak berat karena di dalam editor masih dibagi lagi menjadi beberapa bagian untuk mengerjakan masing-masing tugasnya.”
Kalau dulu saat perusahaannya belum memiliki banyak karyawan. Aku yang harus mengerjakan hal itu sendirian. Apalagi jika ada komikus yang tidak mengerti bagaimana menjadikan komiknya menjadi digital. Mau tidak mau aku harus bekerja dua kali saat itu.
“Mungkin aku akan sering bertanya kepada Riki jika mengalami kesulitan nanti.”
“Tanyakan saja kepadaku apapun yang ingin kau tanyakan. Aku pasti akan membantumu.”
Riki terlihat sangat bisa diandalkan sekali.
“Bagaimana kau dengan ekskulmu Bar?”
Riki bertanya kepada Akbar.
“Aku berniat untuk mengikutinya di semester dua ini, tapi aku sudah tidak mengikuti ekskulku sebelumnya.”
“Kenapa seperti itu?”
“Karena sudah satu semester tidak masuk, aku menjadi canggung sekali ketika bergabung dengan yang lainnya saat latihan. Jadi aku berniat untuk bergabung dengan ekskul yang ingin didirikan Pak Febri.”
Ah! Aku baru mengingatnya... Aku kira Pak Febri hanya bercanda ketika ingin mendirikan ekskul esport di sekolah.
“Memangnya ekskul apa yang ingin dibuat oleh Pak Febri?”
Riki sama sekali tidak mengetahui hal itu.
“Katanya dia mau membuat ekskul esport dan dia mau membuat cabang untuk Dito2 terlebih dahulu karena saat ini gim itu sedang ramai-ramainya. Kebetulan aku juga bermain gim itu di warnet, jadi aku tertarik untuk mengikutinya.”
Sepertinya aku juga sedikit tertarik dengan ekskul itu, tapi aku sudah mengikuti ekskul rohis. Aku tidak mau menambah ekskul lagi, karena itu sangat merepotkan.
***
“Oi Rik, apa kau ada waktu?”
“Kenapa memangnya Mar?”
“Aku ingin pergi ke mal terlebih dahulu sebelum pulang.”
Karena buku bacaan di rumahku sudah habis, setidaknya aku ingin membeli yang baru terlebih dahulu.
Walaupun aku terlihat seperti orang yang malas dan aku selalu mengatakan kalau melakukan sesuatu adalah hal yang merepotkan, tapi aku sangat senang membaca buku.
Ketika aku sedang pulang cepat dan sampai di rumah saat sore hari, aku selalu menghabiskan waktu soreku dengan membaca buku di halaman belakang rumahku sambil menikmati pemandangan matahari terbenam dan ditemani dengan segelas susu hangat.
“Memangnya barang apa yang ingin kau beli Mar?”
“Aku ingin membeli buku.”
“Baiklah, aku akan menemanimu.”
Kami pun akhirnya memutuskan pergi ke mal untuk membeli buku yang aku inginkan. Saat kami berdua baru saja memasuki pintu masuk mal, kami tidak sengaja bertemu dengan Miyuki dan juga Misaki yang sama-sama baru memasuki mal itu.
Misaki langsung menghampiriku dan bertanya kepadaku.
“Apa yang kau lakukan di sini Bang Amar?”
__ADS_1
“Aku ingin pergi ke toko buku.”
“Kalau aku mau makan bersama dengan Kakak. Bagaimana kalau kalian berdua juga ikut bersama kami?”
Misaki mengajak kami berdua.
“Baiklah, aku juga berniat untuk mencari makan malam setelah membeli buku. Bagaimana denganmu Rik?”
“Aku juga mau makan dulu, perutku sudah lapar sekali.”
Kami pun pergi ke tempat makan yang tidak jauh berada di sana.
“Apa kalian berdua baru saja pulang dari kantor?”
Miyuki bertanya kepada kami.
“Iya.”
“Kantor? memangnya Bang Amar dan Bang Riki sudah bekerja?”
Misaki terlihat penasaran sekali akan hal itu.
Apa tidak masalah memberitahunya kepada Misaki? Bagaimana jika dia memberitahukan hal ini kepada ibunya?
Hmm... Aku rasa tidak masalah, aku bisa menggunakan alasan lain jika ditanya oleh ibunya Misaki soal itu.
“Iya Misaki.”
Ucapku kepadanya.
“Kenapa kau sudah bekerja Bang? Bukannya seharusnya kalian berdua masih sekolah.”
“Kami melakukan itu untuk menambah uang jajan kami.”
“Apa uang jajannya Bang Amar tidak banyak?”
“Sebenarnya uang jajanku cukup-cukup saja, hanya saja aku lebih suka menggunakan uang jajan hasil jerih payahku sendiri.”
“Dengarkan itu Misaki, kau harus lebih menghemat uang-uangmu dan tidak menghamburkannya.”
Miyuki memperingati Misaki akan hal itu.
“Aku berjanji tidak akan menghamburkan uang lagi, dan saat besar nanti aku pasti akan mencari pekerjaan sama seperti Bang Amar.”
“Hahahahaha... Untuk sekarang yang perlu kau pikirkan adalah belajar Misaki.”
Jangan sampai pemikiranku bisa meracuni Misaki, aku akan sangat kebingungan untuk menjelaskan hal itu kepada orang tuanya nanti.
“Aku akan mengingatnya Bang Amar.”
“Ehem! Sepertinya aku mengganggu di sini.”
Riki tiba-tiba berkata seperti itu.
“Kenapa memangnya Rik?”
Aku bertanya kepadanya untuk menanyakan apa maksudnya dia tadi.
“Aku seperti baru saja melihat kedua orang tua yang sedang mengingatkan anaknya, jadi aku merasa kalau kehadiranku di sini hanyalah pengganggu saja. Tapi kalian tidak usah khawatir, anggap saja aku sebagai angin di sini.”
Karena aku sudah lelah menegur Riki, jadinya aku hanya mendiamkannya saja dan hanya menghela nafas mendengarkan ucapan darinya.
Aku melihat ke arah Miyuki dan dia tidak bereaksi sama sekali dengan ucapan dari Riki. Kalau seandainya Rina yang berada di dalam posisinya Miyuki, pasti saat ini dia sedang tersipu malu karenanya.
“Oh iya Mar, apa Nadira sudah kembali ke pesantrennya?”
Miyuki bertanya kepadaku.
“Nadira sudah kembali dua hari sebelum kita masuk sekolah.”
“Apa benar dia mau masuk ke jurusan farmasi di SMK Sawah Besar?”
“Dari mana kau bisa mengetahui hal itu?”
Karena tidak mungkin kan kalau Nadira sendiri yang mengatakan hal itu kepada Miyuki.
“Aku tidak sengaja mendengarnya dari Nadira sendiri saat dia sedang berbicara dengan Rina.”
“Sepertinya kau sangat tidak disukai olehnya.”
Itu wajar saja, karena Miyuki baru saja bertemu dengan Nadira enam bulan yang lalu sedangkan Rina sudah bertemu dengan Nadira sejak dia kecil.
“Aku juga heran kenapa Nadira tidak menyukaiku padahal aku tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk kepadanya.”
Miyuki menjadi bingung akan hal itu.
“Nadira terlalu sayang dengan kakaknya dan dia menganggap kalau kau telah mengambil kakaknya darinya.”
Riki menjelaskan hal itu kepada Miyuki.
“Aku tidaklah seperti itu.”
Miyuki sedikit malu dan sesekali melirik ke arahku.
Untuk apa dia malu?
“Kalau kau memang ingin berbicara dengan Nadira, sering-sering berbicara saja dengannya. nanti juga kalian akan akrab dengan sendirinya.”
Aku memberikan saran kepada Miyuki.
“Baiklah, aku akan mencoba hal itu.”
Berusahalah!
“Oi Mar! Apa setelah ini kau ada acara Mar?”
“Tidak, kenapa Rik?”
“Aku mau mengajakmu untuk pergi ke angkringan baru yang waktu itu aku bicarakan.”
Angkringan ya? Aku juga sudah lama tidak meminum wedang susu.
“Aku akan ikut denganmu, tapi aku harus pulang terlebih dahulu untuk mengganti baju.”
“Kalau begitu aku akan menjemputmu.”
“Aku juga mau ikut, tapi Mama pasti melarangku karena tidak boleh keluar malam untuk saat ini.”
Miyuki iri sekaligus kecewa karena tidak bisa ikut dengan kami.
“Untuk saat ini kau harus mengikuti arahan dari ibumu dulu Miyuki.”
Aku bersyukur karena dia tidak keras kepala untuk ikut ke angkringan. Padahal kalau saja dia berkata kalau pergi ke angkringan bersama denganku, pasti ibunya akan mengizinkannya.
Kenapa aku bisa seyakin itu? Karena firasatku berkata demikian.
__ADS_1
-End Chapter 119-