Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 136 : Misi Merepotkan Bagian Pertama.


__ADS_3

Saat ini, aku bersama dengan Riki dan Maul sedang berjalan menuju ke rumahnya Miyuki untuk membahas tentang masalah Kichida. Sebelumnya, aku sudah menceritakan masalah ini kepada Riki dan juga alasan kenapa kita pergi ke rumahnya Miyuki.


Seperti yang aku katakan sebelumnya, kami pulang terlebih dahulu ke rumah untuk mengganti pakaian kami. Tidak mungkin kan jika kita ingin menyelinap ke tempat seperti itu masih menggunakan pakaian sekolah.


“Apa tidak masalah melakukan hal ini di rumahnya Miyuki Mar? Bukannya di sana ada orang tuanya.”


Riki masih keberatan akan hal itu.


Jangankan Riki, sebenarnya aku juga keberatan untuk membicarakan hal ini di rumah Miyuki. Karena ini pasti akan menjadi pembicaraan yang sangat lama sekali.


“Kalau katanya Miyuki, saat ini bapaknya masih bekerja dan ibunya sedang pergi dengan Misaki. Jadi kita tidak perlu masalah jika mereka tau tentang hal itu.”


“Sebenarnya aku tidak merekomendasikan kepada kalian merencanakan hal ini dihadapan Miyuki dan yang lainnya.”


Apa Maul juga merasa keberatan akan hal itu?


“Memangnya kenapa?”


“Nanti aku kelihatan keren.”


Aku dan Riki pun terhenti dalam jalan kami. Kami terkejut kalau Maul akan mengatakan hal seperti itu. Kalau yang mengatakan itu Riki mungkin aku akan biasa saja.


“Kenapa kalian berhenti?”


Maul kebingungan dengan reaksi yang kami keluarkan.


“Di saat seperti ini kau masih saja bisa bercanda ya.”


Aku pun kembali melangkahkan kakiku.


“Itu lebih baik dari pada terlalu tegang.”


“Kau benar juga.”


***


“Kenapa kalian juga berada di sini?”


Ketika kami tiba di rumahnya Miyuki, ternyata yang berada di sana bukan hanya Miyuki saja. Tapi di sana ada Rina, Yoshida, dan juga Takeshi.


Aku tidak berpikir kalau Miyuki akan mengatakan hal ini kepada mereka juga. Ini pasti akan lebih merepotkan lagi dibandingkan hanya Miyuki saja yang berada di sini.


“Miyuki sudah menceritakan semuanya kepada kami.”


Tentu saja dia sudah menceritakan... Tapi ya sudahlah, waktu kita tidak banyak untuk mengurusi masalah ini.


Saat itu aku hanya melihat ke arah Miyuki dengan tatapan malas.


“Memikirkan bersama-sama jauh lebih baik dari pada hanya berempat Mar.”


“Ya-ya-ya...”


Kami langsung berkumpul di ruang tamu untuk membahas tentang masalah ini. Maul langsung mengeluarkan laptopnya dan mulai melakukan tugasnya. Riki melakukan peregangan, aku juga tidak tau kenapa dia melakukan itu.


Sedangkan aku hanya memikirkan cara paling mudah dan aman melakukan hal ini.


Karena saat ini kita akan masuk ke markas musuh dan itu sangat berbahaya sekali jika kita tidak pikirkan ini secara matang-matang.


Aku juga sudah diberitahu oleh Maul lokasi pelelangannya, dan itu berada di sebuah hotel yang terdapat di kawasan pusat hiburan malam di Jakarta Barat.


Pusat hiburan malam ya?


Dari namanya saja, sepertinya tempat itu sangat menyeramkan untuk anak-anak seusia diriku.


“Apa rencanamu Mar untuk menyelamatkan Kichida? Jujur aku juga sedikit khawatir dengan keadaannya setelah mendengar dari Miyuki.”


Benarkah kau khawatir karena itu, apa agar terlihat kau peduli dengan teman baiknya Miyuki?


Aku rasa kau hanya ingin terlihat baik di depan Miyuki saja.


“Garis besarnya, aku sudah mengetahui apa yang ingin aku lakukan.”


“Benarkah itu Mar?”


Tanya Kichida kepadaku.


“Iya... Sekarang dimana posisi Kichida berada?”


Tanyaku kepada Maul yang sedang sibuk dengan laptopnya itu.


“Dia sudah berada di hotel tempat acara pelelangan akan berlangsung.”


Cepat sekali kerja mereka untuk menjual Kichida.


“Bagaimana dengan dua penculik yang menculik Kichida?”


“Aku sudah memberitahu kepada bapakku tentang hal itu, dan dia sudah mengirimkan orang-orangnya untuk menangkapnya.”


Urusan penculik itu sudah beres, sekarang bagaimana kita mencapai tempat hiburan malam itu.


Aku pun melihat jamku dan ternyata waktu sudah menunjukkan waktu setengah tujuh.


“Apa kau benar-benar sudah memastikannya kalau Kichida berada di hotel itu Mul?”


Tanya Riki kepada Maul.


“Iya, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau sinya ponselnya Kichida menghilang di hotel yang sama dengan acara pelelangan itu diadakan.”


Itu bisa aku anggap kalau Kichida memang berada di sana. Dan aku juga tidak pernah meragukan informasi dari Maul sama sekali. Karena dia tidak mungkin akan mengatakan sesuatu tanpa data yang kuat.


“Pelalangan!? Pelelangan apa itu?”


Takeshi yang sama sekali tidak pernah berbicara denganku masalah seperti ini langsung terkejut.


“Pelelangan manusia.”


Ucap Maul dengan santainya.


Maul! Sepertinya kau harus belajar bagaimana caranya membaca situasi di saat seperti ini Mul.


Takeshi pun terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar hal itu.


Sepertinya kekahawatiran Takeshi dengan Kichida adalah sebuah kebenaran. Dia melakukan itu bukan hanya ingin terlihat baik di hadapan Miyuki saja. Maafkan aku Takeshi, telah berperasangka buruk kepadamu.


“Seperti yang waktu itu pernah aku bicarakan kepada kalian. Kita akan menyusup ke acara pelelangan itu sebagai seorang pembeli. Kebetulan Maul mendapatkan tiket agar kita bisa mengikuti acara pelelangan itu.”


“Aku tidak setuju!”


Jawab Yoshida, Rina, dan Miyuki secara bersama-sama.


“Apa kami yakin ingin melakukan hal ini Ar? Itu terlalu berbahaya.”


Rina sudah sangat jelas menolak rencana dariku itu.


“Rina benar Mar, seharusnya kita menyerahkan ini saja kepada pihak kepolisian.”


Begitu juga dengan Yoshida.


“Aku sangat yakin tentang hal ini, selain itu anggota polisi juga akan bergerak ke sana untuk menumpas pelelangan manusia sampai keakar-akarnya, jadi kalian tidak perlu khawatir.”


Aku berusaha meyakinkan mereka.


“Tapi itu masih terlalu berbahaya Ar!”

__ADS_1


“Rina..”


Aku pun memegang kedua pundak Rina dan menatap matanya dengan penuh keyakinan.


“Kalau ini tidak dilakukan, maka kita tidak bisa menyelamatkan Kichida.”


“Baiklah kalau begitu.”


Rina pun menyerah dan membiarku melakukan hal itu.


“Bagaimana kau bisa mendapatkan tiket itu Mul?”


Riki bertanya itu kepada Maul dan dia masih melakukan peregangan.


“Tidak mudah mendapatkan tiket ini, aku harus sering-sering melihat halaman webnya agar ketika tiket itu tersedia, aku dapat langsung membelinya. Selain itu harganya sangat mahal sekali.”


Maul mengeluhkan hal itu kepada kami.


“Lalu dengan duit siapa kau membeli tiket yang katanya harganya mahal itu?”


Tanyaku kepadanya.


“Itu rahasia perusahaan, yang jelas aku tidak mengeluarkan uang sedikitpun untuk membeli tiket ini.”


Mendengar itu aku hanya menyipitkan mata kepadanya. Aku ingin sekali mendengar penjelasan itu tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat.


“Lalu siapa yang nantinya akan pergi ke sana Mar?”


Tanya Riki.


“Karena Maul hanya memiliki satu tiket saja, mungkin aku dan kau saja Rik yang pergi. Aku rasa tidak masalah mengajak satu orang ke acara itu.”


Aku bisa berkata kalau Riki itu kakakku atau saudaraku, atau juga pengawalku. Kalau memang hal itu tidak bisa juga, mungkin aku akan menyogok mereka dengan menggunakan uang yang aku miliki.


“Aku juga mau ikut Mar.”


Ucap Takeshi.


“Tidak bisa.”


“Kenapa?”


“Kalau terlalu banyak orang yang pergi, kita akan dicurigai oleh orang-orang yang ada di sana.”


Aku juga belum mengetahui bagaimana emosi Takeshi jika melihat Kichida diperlakukan tidak pantas nantinya. Mengurusi Riki saja sepertinya sudah membuatku kewalahan, bagaimana dengan Takeshi juga.


“Apa yang dikatakan Amar benar, lebih baik serahkan hal ini kepada mereka berdua. Karena diantara kita, hanya mereka berdua saja yang berpengalaman terjun ke lapangan.”


“Kalau kau sendiri Mul?”


Tanya Yoshida kepadanya.


“Jujur, aku tidak pernah terjun ke lapangan. Seperti yang kau lihat, tugasku hanya memberi dukungan kepada mereka dari jarak jauh saja.”


Walaupun hanya seperti itu yang kau lakukan, tapi dukunganmu itu sangat membantuku ketika sedang berada di lapangan Mul.


“Sial!”


Takeshi pun memukulkan tangannya ke pahanya, dia terlihat sangat kesal sekali.


“Aku kesal sekali karena tidak bisa berbuat apa-apa di saat seperti ini.”


“Dengan diammu di sini, itu sudah sedikit membantuku.”


Aku berusaha membuatnya tenang.


“Kapan kau ingin berangkat Mar?”


“Kapan acara pelelangan itu diadakan Mul?”


“Acara dimulai pada jam dua belas malam.”


“Malam sekali.”


Ucap Rina.


“Memang jam segitu adalah jam hal-hal yang tidak pernah kita tau beraksi. Itulah kenapa aku pernah berkata kalau kita akan memasuki dunia yang seharusnya tidak kita masuki.”


Maul menjelaskan hal itu kepada Rina.


Dua belas malam.


Perjalanan dari sini ke sana mungkin akan memakan waktu sekitar dua jam. Itu kalau tidak macet, tapi kalau macet aku tidak bisa memperkirakan berapa lama. Tapi sepertinya jalan ke sana akan menjadi perjalanan yang sangat lama sekali.


“Apa kalian berdua tidak akan masuk ke sekolah besok?”


Miyuki bertanya kepadaku yang sedang memikirkan perjalanan ke sana.


“Ah! Kalau memang setelah selesai masalah ini aku pulang pagi, mungkin aku akan izin besok.”


“Apa kamu sudah izin dengan orang tuamu Ar?”


“Aku sudah izin kepada mereka dengan berkata kalau aku ingin menginap di rumahnya Maul.”


Karena aku memang sering menginap di sana, jadi orang tuaku tidak pernah mempermasalahkannya.


Sekarang yang seharusnya aku pikirkan adalah orang tuanya Miyuki. Pasti Maul dan yang lainnya akan berada di sini sampai aku kembali ke sini lagi. Dan pasti orang tuanya Miyuki sudah sampai di rumah.


Masalahnya, bagaimana kita menjelaskan hal ini kepada mereka?


Lebih baik aku menyerahkannya kepada Maul dan yang lainnya saja. Aku cukup fokus dengan masalah yang ada di depanku.


“Bagaimana denganmu Rik?”


Tanya Yoshida kepadanya.


“Aku juga sudah izin dengan izin yang sama dengan Amar.”


“Kenapa menginap ke rumahnya Maul?”


Rina bingung akan hal itu.


“Karena rumahnya Maul adalah tempat dimana kami biasa bolos. Selain itu orang tua mereka juga sudah tau dengan apa yang kita lakukan ini, jadi kita lebih mudah untuk berkompromi dengan mereka.”


Ucapku kepadanya.


“Aku juga akan izin besok.”


Ucap Miyuki.


“Aku juga.”


Begitu juga dengan Rina, Yoshida, dan Takeshi.


“Kalian jangan terlalu memaksakan diri.”


Aku memberikan nasihat kepada mereka semua.


Tapi sebenarnya mereka tidak memaksakan diri juga sih, mereka cuman mengamati dari rumah. Tidak keluar rumah seperti aku dan Riki, kalau lapar mereka bisa makan, dan kalau haus mereka dapat minum dengan mudah.


Sial! Kenapa aku malah iri kepada mereka.


“Aku ingin melihat ini sampai akhir karena percuma juga jika aku tidur, aku tidak bisa tidur dengan tenang.”

__ADS_1


Ucap Miyuki.


“Setelah tau apa yang kamu lakukan Ar, aku rasa aku juga tidak bisa tidur malam ini karena memikirkanmu.”


Rina mengatakan itu dengan sedikit malu dan sembari menundukan kepalanya.


“Terserah kalian saja.”


“Kita mau pergi ke sana dnegan menggunakan apa Mar?”


Tanya Riki kepadaku.


“Aku berniat untuk menggunakan taksi.”


“Itu terlalu mahal Mar, aku sarankan kepadamu untuk naik motor saja.”


Memang benar menggunakan taksi terlalu mahal, tapi hanya kendaraan itulah yang dapat membuat kita sampai ke sana dengan cepat dibandingkan transportasi lainnya.


Sebenarnya motor tidak kalah cepat sih, tapi aku tidak mau.


Pasti setelah melakukan ini badanku akan sangat lelah sekali, dan aku harus menahannya dengan naik motor hingga sampai ke sini lagi.


Aku tidak mau itu.


“Lebih baik taksi saja, aku yang akan menanggung biayanya.”


“Baiklah kalau begitu.”


Aku berani mengatakan itu, karena jika memang kami bisa menyelesaikan kasus ini. Seharusnya aku mendapatkan bayaran yang lebih besar dibandingkan yang kemarin. Aku sangat berharap akan hal itu.


“Aku sudah mengirimkan tiket masuknya ke ponselmu Mar.”


“Apa yang harus aku lakukan dengan tiket ini?”


Tanyaku kepada Maul sambil menunjukkan barcode yang ada di tiket itu.


“Sepertinya kau hanya perlu menunjukkan barcod itu kepada penjaga yang ada di sana untuk dipindai. Biodata di dalam tiket itu juga sudah aku samarkan, jadi kau tidak perlu khawatir.”


Seperti yang aku harapkan dari Maul.


“Baiklah kalau begitu.”


“Kau juga bawa ini Mar.”


Maul juga memberikanku sebuah ponsel kepadaku. Dan ponsel yang dia berikan kepadaku adalah ponsel yang biasa dia gunakan untuk meretas sesuatu.


“Kenapa kau memberikan ponsel ini kepadaku Mul?”


“Kalau ponsel itu ada di tanganmu, aku bisa meretas seluruh hotel itu dari rumah Miyuki walaupun di hotelnya terdapat alat pengganggu sinyal agar dari luar tidak dapat mengakses sinyal yang berada di dalam gedung.”


“Ok.”


Aku pun memasukan ponsel itu ke dalam saku celanaku.


“Dan juga bawa ini Mar.”


Maul juga memberikan earphone kepadaku.


“Buat apa ini?”


“Sambungkan earphone itu dengan ponsel yang aku berikan tadi dan sembunyikan di dalam jaketmu Mar. Lakukan itu setelah kau melewati pos pemeriksaan, itu akan berguna untuk komunikasi antara kau dan juga aku.”


Woah! Ternyata dia juga sudah memikirkannya hingga sematang ini.


Aku yakin Maul sangat cocok sekali menjadi polisi jika sudah besar nanti.


“Seperti katamu, aku akan melakukannya saat sudah melewati pos pemeriksaan.”


Aku pun menyimpan earphone itu di dalam kantung jaketku.


“Aku baru kali ini melihat Amar seperti ini.”


“Aku juga.”


Ucap Takeshi dan Kichida melihat aku yang sedang bersiap-siap untuk pergi.


“Jangankan kalian berdua, aku saja yang sudah sekelas dengannya dari SMP baru pertama kali melihat dia melakukan hal yang tidak biasa.”


Begitu juga yang dikatakan oleh Rina.


“Apa kalian sudah sering melakukan hal-hal seperti ini?”


Tanya Takeshi kepada kami.


“Ini baru kedua kalinya aku melakukan hal ini.”


“Aku sudah tidak sabar untuk beraksi.”


Riki yang sudah selesai melakukan peregangannya terlihat siap sekali.


“Ingat! Jangan lakukan hal bodoh seperti apa yang kau lakukan saat kasus Akbar. Karena sekarang keadaannya berbeda, saat ini kita harus masuk ke wilayah musuh Rik.”


Aku menekankan itu kepada Riki.


“Aku tau itu, aku tidak akan gegabah lagi. Aku akan mendengarkan apa perintahmu nanti, tenang saja.”


Lihat saja nanti, kalau kau melakukan hal yang mengancam nyawaku. Aku akan menganggapmu sebagai teman setelah masalah ini selesai.


“Apa kau sudah mendapatkan info dari bapakmu Mul?”


“Saat ini dia sudah berkumpul dengan teman-temannya di kawasan sekitar hotel untuk menyergap.”


“Oh begitu.”


Aku sangat terbantu sekali jika mereka sudah berada di sana.


“Dan satu lagi Mar, bapakku sama sekali tidak mengetahui tentang rencanamu ini. Jadi kau berhati-hatilah.”


Maul memberikan sebuah peringatan kepadaku.


“Tenang saja, rencanaku selalu mengutamakan keselamatan.”


Aku pun mendengar azan isya berkumandang, aku dan yang lainnya langsung melaksanakan salat isya terlebih dahulu sebelum pergi. Karena aku juga perlu berdoa agar dimudahkan dalam menjalani rencana ini.


Setelah melaksanakan salat Isya, aku dan Riki pun langsung bersiap-siap untuk pergi. Mereka semua pun pergi mengantarkan kami sampai ke depan gerbang rumahnya Miyuki.


“Kalau begitu kami pergi dulu ya.”


Aku dan Riki berpamitan kepada mereka semua.


“Hati-hati kalian berdua.”


“Semoga berhasil.”


Ucap Takeshi kepada kami.


“Aku akan selalu mengawasi kalian, jadi kalian tidak perlu khawatir.”


Maul memberikan tanda jempol kepadaku.


Saatnya menuju ke markas musuh dan menyelesaikan masalah ini.


Waktunya menajamkan intusiku untuk saat ini dan bertindak situasional.

__ADS_1


-End Chapter 136-


__ADS_2