Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 54 : Buka Bersama.


__ADS_3

Azan magrib telah berkumandang. Kami semua pun berbuka bersama dengan makanan yang sudah disediakan oleh mama Miyuki. Walaupun di sana disediakan berbagai macam makanan, tapi aku hanya menyantap gorengan dan teh manis saja. Karena aku tidak mau terlalu kekenyangan sebelum salat tarawih nanti.


“Oi ya Ar, aku baru mengingatnya. Tadi kakakku berpesan kepadaku untuk memberitahukan kepadamu kalau kamu disuruh ke masjid besok malam.”


Rina membersihkan tangannya dengan tisu yang ada di atas meja.


“Untuk apa?”


“Kalau tidak salah, kamu disuruh untuk menjadi panitia zakat fitrah.”


“Baiklah.”


Panitia zakat fitrah ya? Sepertinya saat malam takbiran nanti, aku akan disuruh untuk membantu persiapan salat idulfitri juga.


“Aku tidak menyangka orang sepertimu melakukan kegiatan sosial seperti itu.”


Takeshi yang baru saja menyelesaikan makannya langsung menanggapi hal itu. Dia terlihat heran sekali melihatku yang melakukan kegiatan seperti itu. Memangnya ada yang salah dengan menjadi panitia zakat fitrah.


“Memangnya ada yang salah?”


Ucapku ketus kepadanya.


“Tidak... Hanya saja di Jepang, orang sepertimu itu biasanya orang yang anti sosial. Mereka jarang sekali melakukan kegiatan sosial dan banyak menghabiskan waktu di dalam rumah tanpa berintraksi dengan masyarakat.”


Takeshi menjabarkannya secara luas kepadaku.


Aku penasaran bagaimana image-ku dimata Takeshi saat ini. Walaupun aku terlihat seperti orang yang malas dan tidak banyak bergerak, tapi kalau untuk melakukan kegiatan sosial tentu saja akan aku lakukan.


Aku sudah pernah mengatakan ini sebelumnya, kalau aku bukanlah orang yang anti sosial. Aku masih beranggapan berintraksi dengan sesama itu sangat penting untuk menjalani kehidupan supaya menjadi mudah. Hanya saja aku masih melihat apakah berinteraksi dengan orang itu dapat memberikan manfaatnya kepadaku atau tidak. Intinya, aku masih memilih-milih dalam berinteraksi.


“Hari ini adikmu pulang ke rumah ya Mar?”


Berkat perkataan Riki, aku baru ingat kalau hari ini adikku pulang ke rumah. Aku rasa sebentar lagi waktu bebasku di rumah akan terganggu dengan kehadirannya.


“Adik Amar?! Jadi Amar memiliki adik?”


Miyuki dan Yoshida langsung tertarik dengan adikku. Aku curiga dengan apa yang sedang mereka pikirkan. Aku memiliki firasat buruk tentang hal itu.


“Yup, Amar memiliki seorang adik perempuan yang cantik dan imut loh... Sekarang dia bersekolah di sebuah pesantren yang berada di Jawa Tengah dan dia hanya pulang ketika liburan dan juga hari raya seperti ini.”


Aku berterima kasih kepadamu Rik telah menjelaskan tentang adikku kepada mereka. Jadi aku tidak perlu melakukan pekerjaan yang melelahkan itu.


“Apakah adiknya Amar memiliki sifat seperti Amar!?”


Wo-wo-wo... Tahan tuan putri, kau terlalu bersemangat tentang hal ini.


“Tidak, adiknya jauh lebih ramah dibandingkan dengannya.”


Riki kembali menjawab pertanyaan dari Miyuki.


“Maaf saja kalau aku adalah seorang yang tidak ramah.”


“Kenapa kau sangat mengenal adik Amar Rik?”


Bahkan Kichida pun tertarik dengan topik ini.


Kemudian mataku pun tertuju kepada Kirana yang sedang menatap Riki dengan tatapan cemburunya.


Woah! Sepertinya kau harus menjelaskan sesuatu kepadanya sebelum hal itu berdampak dengan hubunganmu Rik.


“Sebelum adiknya Amar bersekolah di pesantren, aku sering sekali bertemu dengannya saat main ke rumah Amar.”


“Kalau kau Mul?”


“Aku hanya sesekali bertemu dengannya ketika dia sedang berada di Jakarta.”


“Hmmm... Aku jadi penasaran dengan adiknya Amar.”


Hentikan itu Miyuki... Rasa penasaranmu hanya akan menjadi sesuatu yang merepotkan bagiku.


Kami pun melanjutkan makan kami. Setelah salat magrib, Maul memanggilku untuk berbicara empat mata. Kami pun pergi ke teras depan rumahnya Miyuki dan duduk di bangku yang berada di sana.


“Apa yang ingin kau bicarakan denganku Mul?”


Aku rasa Maul ingin membicarakan hal yang penting denganku. Jarang sekali Maul mau berbicara empat mata denganku, biasanya dia juga mengajak Riki untuk membicarakan hal ini bersama-sama.


“Aku baru saja diberikan beberapa pekerjaan dari kepolisian untuk menyelidiki sesuatu. Sebenarnya yang menawarkan pekerjaan ini adalah bapakku, karena dia sedang mengurusi kasus ini.”


Sedikit informasi untuk kalian, bapaknya Maul adalah seorang yang bekerja di kepolisian dan pangkat yang dia miliki sepertinya sudah tinggi. Karena ketika aku main ke rumahnya Maul, aku pernah mendengar kalau bapaknya Maul memiliki anak buah.


“Lalu?”


“Aku butuh bantuanmu untuk melakukan hal ini Mar, kau tau sendiri kalau aku tidak bisa melakukan hal ini tanpa bantuanmu.”


Jadi itu alasannya dia memanggilku.


“Kau tidak mengajak Riki? Aku rasa dia akan berguna juga.”


“Aku akan mengajaknya jika kau setuju untuk membantuku. Karena kalau kau tidak mau membantuku dalam hal ini, aku rasa Riki juga tidak akan mau membantuku juga.”


“Memangnya apa tugas yang kau terima?”


“Akhir-akhir ini sedang marak kasus penculikan anak dibawah umur, perdagangan manusia, dan transaksi narkoba yang ada di Jakarta.”


Perdagangan manusia!... Kalau penculikan anak dan narkoba mungkin bisa aku maklumi, tapi untuk penculikan manusia.. Aku baru tau kalau di Indonesia ada transaksi seperti itu.


“Aku tau kau pasti terkejut. Aku juga terkejut ketika pertama kali mendengar hal itu.”


“Bukankah ini hal rahasia yang seharusnya tidak boleh dibicarakan oleh sembarang orang? Kenapa kau membicarakannya kepadaku Mul?”


“Itulah mengapa aku ingin membicarakan hal ini secara empat mata denganmu.”


Ini gawat sekali, sebenarnya aku tidak mau terlibat dengan hal seperti ini terlalu dalam. Kalian tau, ini adalah hal yang seharusnya tidak boleh disentuh oleh anak SMK seperti kami. Hal itu semua berada di dunia yang berbeda dengan dunia kami. Tapi sejujurnya, aku juga khawatir kalau hal ini terus berlangsung. Aku takut salah satu dari kerabatku atau orang yang aku kenal akan terkena dalam kasus ini.


“Jadi apa yang ingin kau lakukan?”


“Aku akan menggunakan kemampuan meretasku untuk mengungkap semua ini.”


Maul mengatakan itu dengan sangat percaya diri sekali.


“Walaupun kemampuan meretasmu sudah sehebat itu tapi kau masih membutuhkan bantuanku? Bukankah kau sendiri saja bisa mengungkapkan kasus ini dengan mudah.”


“Meretas itu tidak semudah yang ada di video gim Mar.”


Hmmm...


“Sepertinya aku tau garis besarnya... Kau mau aku menjadi orang yang turun ke lapangan untuk menangani hal ini semua bersama Riki kan? Kalau itu yang kau mau maaf saja, aku tidak bisa melakukannya. Ini terlalu berbahaya untuk remaja seusia kita.”


“Aku sudah menduga kalau kau akan mengatakan hal seperti itu.”


Maul pun tersenyum dan dia melihat ke langit-langit teras.

__ADS_1


“Aku sarankan kepadamu untuk jangan bertindak gegabah Mul. Lebih baik kau menyerahkan hal ini kepada orang yang bekerja di bidangnya. Menurutku ini terlalu berbahaya untuk orang seperti kita.”


“Aku tau itu Mar, tenang saja. Aku belum menerima pekerjaan ini kok.”


Aku baru mengingatnya, sepertinya ini saat yang tepat untuk mengajaknya ke acara pesantren kilat Ustadz Adi.


“Mul, apakah kau mau ikut acara pesantren kilat milik pembinaku di ekskul rohis?”


“Hari ke berapa?”


“Hari ke dua puluh delapan sampai dua puluh sembilan ramadan.”


“Oke aku ikut, lagi pula aku tidak ada kegiatan lagi setelah ini... Oh iya Mar, kapan-kapan kau main ke rumahku. Ada hal yang ingin aku tunjukan kepadamu.”


Maul pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukannya kepadaku.


“Memangnya ada apa?”


“Aku baru saja membuat aplikasi baru yang dapat mempermudahku untuk meretas sesuatu tapi aplikasi itu belum selesai untuk saat ini. Aku mau kau untuk mencobanya.”


Woah!! Aplikasi apa itu kira-kira? Apa dia berusaha membuat ponsel yang bisa meretas sesuatu sama seperti yang ada di dalam video gim? Aku tidak sabar untuk melihatnya.


“Baiklah, kalau ada waktu aku akan pergi ke rumahmu.”


Ketika kami sedang berbincang-bincang, Miyuki pun datang menghampiri kami.


“Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”


“Sepertinya aku sudah terlalu lama berada di sini, aku mau masuk dulu.”


Maul pun masuk ke dalam rumah meninggalkanku berdua bersama dengan Miyuki.


“Sepertinya aku juga mau masuk ke rumah.”


“Sebentar Mar, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu.”


Ya Allah, mengapa hal seperti ini harus terjadi. Padahal aku ingin menghindari kondisi dimana aku harus berdua bersama dengan Miyuki, apalagi saat ini di dalam sana ada Takeshi. Kalau dia sampai melihat hal ini, aku rasa hal merepotkan lainnya akan datang.


“Baiklah jika hanya sebentar.”


Aku pun kembali duduk di bangkuku, dan Miyuki duduk di bangku yang sebelumnya digunakan oleh Maul.


“Sebelumnya, aku ingin berterima kasih lagi kepadamu.”


Miyuki menghadap kepadaku dan sedikit membungkuk kepadaku.


“Untuk apa?”


“Berkatmu, kehidupanku mulai kembali seperti semula lagi.”


“Aku tidak merasa telah melakukan sesuatu dengan kedupanmu, apa yang terjadi saat ini adalah hasil dari jerih payahmu sendiri. Jadi tidak perlu berterima kasih kepadaku.”


“Memang sifatmu itu tidak pernah berubah ya.”


Miyuki sedikit tertawa kecil dengan menutup mulutnya dengan tangan kananya.


“Jadi hanya itu yang ingin kau katakan kepadaku? Kalau tidak ada lagi, aku ingin kembali ke dalam.”


“Moo! Mengapa kamu seperti selalu terburu-buru jika sedang bersamaku?”


Miyuki pun sedikit cemberut kepadaku.


“Huh.. Baiklah, sepertinya aku akan berada di sini sebentar lagi untuk mencari sedikit udara segar.”


Kumohon hal ini cepatlah berakhir.


“Terima kasih... Sepertinya Misaki menyukaimu, dia terlihat sangat senang ketika tau kalau kamu yang memiliki akun Amrih.”


“Aku turut senang mendengarnya.”


He-he..


“Aku juga pernah mendengan mamaku bercerita tentang seorang anak yang pergi ke tukang sayur untuk membeli bahan makanannya sendiri. Tapi saat itu aku tidak tau kalau kamu orang yang dimaksud mamaku.”


“Aku juga terkejut ketika tau kalau ibu-ibu yang suka menyapaku di tukang sayur adalah ibumu.”


Walaupun aku sempat merasa kalau sifatnya sedikit mirip dengan Miyuki, apalagi ketika dia sedang bertanya tentang sesuatu, rasanya seperti tidak ada habisnya.


“Lalu... Bagaimana pendapatmu tentang Takeshi?”


Suara Miyuki pun tiba-tiba mengecil dan kepalanya pun menunduk memperhatikan tangannya yang sedang memainkan antara jari satu dengan yang lainnya.


“Sebenarnya aku sangat lega jika dia memang benar-benar sudah tidak membenciku, jadi sumber masalahku di sekolah sudah menghilang dan aku dapat menjalani kehidupan sekolah dengan damai.”


School life!!! Yeay!!


“Aku juga bersyukur kalau dia sudah tidak marah lagi kepadamu, tapi aku bingung untuk bersikap di depannya. Kira-kira menurutmu sikap apa yang harus aku berikan kepada Takeshi?”


“Bersikap saja seperti biasanya, apa susahnya.”


“Itu susah sekali Mar, dan sepertinya dia mencoba untuk mendekatiku lagi.”


Oh jadi itu yang dia khawatirkan. Memang susah menjadi tuan putri cantik yang diperebutkan oleh orang-orang.


“Apa pantas untukku memberikan masukan itu kepadamu? Aku rasa hal seperti ini seharusnya dipikirkan olehmu sendiri. Bagaimana keputusan nantinya itu ada di tanganmu.”


“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu menjadi diriku?”


“Bersikap biasa, hanya itu.”


“Aku merasa tidak tega jika membiarkannya berharap terus menerus. Aku juga tidak tau kapan ingin berpacaran dengan seseorang. Daripada dia menghabiskan seluruh waktu dan perhatian untuk orang yang belum pasti sepertiku, lebih baik dia mendekati orang lain yang pasti menerimanya. Aku yakin banyak sekali perempuan yang mau dengan Takeshi.”


“Inilah mengapa aku benci dengan orang yang bodoh karena cinta.”


“Apa maksudmu?”


Miyuki langsung tertarik dengan apa yang baru saja aku sebutkan.


“Kalau menurut pendapatku biarlah kalau dia berharap terus menerus, begitulah jika kau berurusan dengan yang namanya cinta. Cinta itu pertaruhan, seharusnya orang yang terlibat dengan cinta harus sudah siap dengan hal itu. mereka dapat atau tidak itulah hasil dari hati yang sudah mereka pertaruhkan untuk hal itu.”


Sepertinya pengalamanku bertanya tentang pengalaman cinta kepada teman-teman di SMPku tidak buruk juga.


“Aku tidak pernah bertemu dengan orang yang memiliki pemikiran sepertimu Mar.”


“Kau terlalu berlebihan, mungkin ada beberapa orang di luar sana yang memiliki pemikiran yang sama sepertiku, hanya saja kau belum menemukannya.”


“Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak mau melanjutkan karirmu di basket? Menurutku kamu bisa sukses di sana.”


Dia mulai mengalihkan ke topik yang lain. Aku rasa dia sudah terpuaskan dengan jawabanku sebelumnya.


“Aku bermain basket karena teman yang pernah aku ceritakan kepadamu saat di Gunung Prau dan ketika dia meninggal, aku sempat berhenti bermain basket untuk waktu yang lama. Tapi karena teringat kata-kata darinya, aku jadi bermain basket kembali. Namun karena aku sudah tidak memiliki motivasi untuk melakukannya, jadi aku tidak mau berlebihan.”

__ADS_1


“Mengapa kau tidak mencoba mencari orang lain untuk memotivasinya kembali?”


“Itu tidak mungkin.”


“Apa kamu akan seperti ini terus?”


“Mungkin aku akan berhenti jika menemukan seorang yang pantas, tapi mungkin tidak untuk pacaran. Menurutku pacaran terlalu membuang-buang waktu dan uang.”


“Oh begitu.”


Miyuki pun beranjak dari bangkunya dan sedikit meregangkan tangannya.


“Sepertinya kita harus kembali ke dalam.”


Aku dan Miyuki pun kembali ke ruang tamu untuk bergabung dengan yang lainnya. Saat sampai di sana, aku melihat Riki melihatku dengan tatapan yang sangat menyebalkan.


“Jangan berpikir yang macam-macam dan mulai menyebarkan rumor yang menyebalkan.”


Aku memberikan peringatan kepada Riki dan Riki hanya tertawa setelah mendengar itu.


“Bang Amar, ayo kita bermain bersama?”


Misaki pun mendekatiku dan duduk tepat di sampingku.


“Ok.”


Aku pun mengeluarkan ponselku untuk bermain gim bersama dengannya.


“Sebelum itu, bolehkah aku meminta nomor ponselmu? Jadinya aku bisa menghubungimu jika ingin bermain bersama.”


“Baiklah.”


Aku pun memberikan nomor ponselku kepada Misaki dan mulai bermain gim bersama dengannya.


“Sial kau Amar... Lagi-lagi aku kalah darimu.”


Aku pun sedikit melirik ke Takeshi yang melihatku dengan sangat kesal sekali.


Biarkan saja dia, anggap saja angin.


Sebelum azan Isya, Aku bersama Riki dan Maul beserta Rina dan Kirana pun pulang ke rumah karena kami ingin melaksanakan salat tarawih. Riki dan Kirana pun pulang duluan dengan menggunakan Motor, sedangkan Aku, Maul, dan Rina pulang dengan berjalan kaki.


“Apa yang tadi kau bicarakan dengan Miyuki tadi?”


Maul penasaran dengan hal itu.


“Dia hanya bertanya tentang pendapatku tentang Takeshi.”


“Kenapa seperti itu Ar?”


“Takeshi mungkin mencoba untuk mendekati Miyuki kembali, makanya dia membuang egonya untuk berteman dengan Amar.”


Seperti yang aku harapkan dari Maul, aku jadi tidak perlu menjelaskannya kepada dia dan juga Rina.


“Awalnya aku juga terkejut melihat orang yang memiliki ego yang tinggi seperti Takeshi dapat bersikap baik kepadaku. Kekuatan dari cinta terlalu menakutkan hingga membuat orang seperti Takeshi dapat berubah seperti itu.”


Aku sedikit merinding ketika memikirkan tentang itu. Aku takut jika di masa depan nanti aku akan dikendalikan dengan cinta hingga seperti itu.


“Cinta memang dapat mengubah orang dengan mudah. Sudah banyak yang terjadi karena itu.”


“Apa kau juga begitu?”


Aku mencoba untuk meledek Maul.


“Takeshi terlihat sangat romantis sekali, dia mau membuang egonya untuk memperjuangkan cintanya.”


Sepertinya hanya Rina saja yang terkesan dengan hal yang dilakukan oleh Takeshi.


“Apakah hal seperti itu dapat dikatakan romantis?”


“Aku tidak tau bagaimana pemikiran lelaki, tapi menurut perempuan itu adalah hal yang romantis.”


“Tapi aku rasa jalan yang dilalui Takeshi tidaklah mudah, apalagi kita membicarakan Miyuki di sini. Aku lebih memilih kondisi yang sekarang ini.”


“Aku setuju denganmu Mul.”


Aku dan Maul memiliki pemikiran yang sama. Karena saat acara buka bersama tadi aku baru saja menyadari sesuatu.


“Kenapa pemikiran kalian bisa kompak seperti itu?”


Rina penasaran dan melihat ke arah kami berdua.


“Kichida sepertinya menyukai Takeshi dan hubungannya dengan Miyuki membaik mungkin karena Takeshi sudah ditolak dan tidak mungkin berpacaran dengan Miyuki.”


“Aku juga berpikiran sama, aku kagum karena pemikiran kita bisa sama seperti ini.”


Aku senang sekali mendengar itu.


“Aku tidak bisa menyangkalnya. Aku juga baru mengetahui hal itu dari sikapnya Kichida terhadap Takeshi tadi.”


“Dan lagi yang sebenarnya membuat hubungan Kichida semakin membaik dengan Miyuki karena adanya Amar.”


“Alasannya?”


“Saat ini Miyuki terlihat lebih tertarik kepada Amar dibandingkan yang lainnya. Yang aku maksud di sini bukan hanya cinta ya!”


“Kenapa kau perlu menegaskan seperti itu, aku juga tau hal itu.”


“Aku tidak mau seseorang yang berada di sini menjadi salah paham.”


Maul pun hanya melirik ke arah Rina yang sedang serius mendengarkan pembicaraan kami. Rina pun tersipu malu dan terdiam setelah tau kalau Maul sedang meledekanya.


“Adikmu memang hari ini pulang ke rumah?”


“Iya, orang tuaku sudah menjemputnya setelah pulang kerja tadi, seharusnya dia sudah berada di rumah saat ini.”


“Ini tahun terakhir dia di pesantren ya?”


“Begitulah.”


“Apa kau tau kemana tujuan dia selanjutnya?”


Maul terlihat sangat antusias sekali ketika menanyai hal itu.


“Aku juga tidak tau, apakah dia akan melanjutkan ke pesantren lagi atau ke sekolah biasa.”


“Aku harap dia masuk ke SMK Sawah Besar.”


“Aku harap hal itu jangan sampai terjadi, karena akan sangat merepotkan nantinya.”


-End Chapter 54-

__ADS_1


__ADS_2