
Akhirnya selesai juga.
“Hari ini kau pergi ke kantor Mar?”
Riki yang sudah merapihkan mejanya bersama dengan Akbar langsung menyapaku yang sedang duduk di depan.
Hari ini adalah hari terakhir UTS, dan seperti biasa jika UTS sekolah hanya berlangsung setengah hari saja. Rencananya sebelum pulang ke rumah, aku bersama dengan yang lainnya ingin pergi ke kantor terlebih dahulu.
Karena hari ini UTS, jadinya setiap murid duduk berdasarkan nomor absen mereka. Karena aku memiliki nama yang berawalan dengan huruf A, jadinya aku terpaksa untuk duduk di bangku barisan depan.
“Iya, hari ini aku akan pergi ke kantor.”
“Apa hari ini ada rapat lagi Mar?”
Tanya Akbar kepadaku.
“Tidak, aku hanya ingin main di sana saja untuk mengganti suasana.”
“Aku ikut denganmu, aku juga ada urusan di sana.”
Ucap Riki.
“Katanya kau ada pekerjaan yang harus dikerjakan?”
“Aku bisa mengerjakannya ketika di rumah, lagi pula tenggang waktunya masih dua hari lagi.”
Ketika kami sedang asik berbicara, mataku pun teralihkan kepada Kichida yang sedang berjalan keluar kelas.
“Kichida!”
Aku pun memanggil Kichida yang sedang berjalan itu dan membuatnya berhenti.
“Ada apa?”
Kichida pun menoleh ke arahku.
“Apa kau mau langsung pulang?”
“Iya.”
“Oh begitu, kalau begitu hati-hati.”
“Kau juga.”
Kichida pun akhirnya pergi meninggalkan kelas.
“Tumben sekali kau menyapa Kichida Mar, apa ada sesuatu dengan kalian berdua?”
Riki menjadi curiga dengan sikap yang aku berikan kepada Kichida.
“Tidak ada, lebih baik kita segera pergi ke kantor. Aku yakin Maul sudah menunggu di depan pintu gerbang.”
Kami pun langsung bergegas pergi ke pintu gerbang untuk berkumpul bersama dengan Maul di sana. Dan ternyata benar apa yang aku katakan, Maul sudah berada di sana sedang menunggu kami.
“Apa kalian mau pergi ke kantor?”
Maul menanyakan hal yang sama dengan apa yang Riki tanyakan.
“Iya.”
“Kalau begitu aku juga pergi ke sana, aku tidak mau langsung pulang ke rumah karena sekarang masih siang.”
“Ayo kita pergi bersama-sama.”
Riki mengatakan hal itu dengan penuh semangat sekali.”
Kami pun akhirnya pergi menaiki bis dengan tujuan Blok M. Selama di bis, aku selalu saja memikirkan Kichida yang keluar dari kelas tadi. Karena aku merasa kalau hari ini, aura yang dipancarkan oleh Kichida berbeda dari biasanya.
Rasa sedih yang dia rasakan lebih terlihat hari ini dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ketika sedang makan istirahat, dia juga lebih diam dibandingkan biasanya. Apa masalahnya belum selesai dan semakin parah sekarang?
Aku sama sekali belum menanyakan apapun kepadanya setelah itu. Karena aku melihat Kichida sepertinya baik-baik saja, jadi aku menganggap kalau tidak ada masalah yang sedang menimpanya.
Apa jangan-jangan dia sedang bertengkar dengan orang tuanya?
“Mar?”
Aku pun tersadar dan melihat Riki yang sedang melambaikan tangan ke arahku.
“Kenapa kau dari tadi diam saja? Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”
“Aku merasa ada yang aneh dengan Kichida.”
“Apanya yang aneh?”
Ternyata Riki tidak menyadari hal itu sama sekali.
Tentu saja dia tidak akan menyadarinya. Aku saja jika tidak diceritakan masalah yang dia alami dari Kichida sendiri atau dari Miyuki, aku tidak pernah tau kalau Kichida memiliki masalah.
“Aku merasa kalau tas yang dibawanya lebih berat dari biasanya.”
“Oh masalah itu, aku sempat bertanya kepadanya ketika di kelas. Katanya dia mau pergi menginap di rumahnya Miyuki hari ini.”
“Hmmm...”
Aku yakin dia pasti sedang mengalami masalah yang serius hingga harus menginap di rumahnya Miyuki.
Ini hanya tahap pertamanya saja, jika Miyuki tidak dapat memberikan bantuan seperti yang Kichida inginkan. Mungkin Kichida akan melakukan sesuatu yang lebih merepotkan dibandingkan sekarang ini.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu Mar?”
Tanya Riki kepadaku.
“Tidak ada.”
Aku tidak bisa mengatakan hal ini kepada Riki maupun yang lainnya. Karena semua ini hanya spekulasiku saja. Siapa tau memang Kichida hanya ingin pergi menginap di rumahnya Miyuki, dan kesedihan yang dia tunjukan saat istirahat tadi karena ada masalah lain yang sedang menimpanya.
“Teman-teman, aku sudah mendapatkan sedikit petunjuk dari surat yang waktu itu diberikan oleh ibunya Akbar.”
Maul mengatakan sesuatu yang menarik perhatian kami semua.
“Apa itu?”
“Aku sudah dapat mengakses halaman web yang berada di surat itu. Ternyata web itu dulunya berisi tentang informasi pelelangan dan dimana kita bisa menemukan tempat pelelangan itu. Bahkan kita bisa membeli tiketnya dengan harga yang sangat mahal untuk dapat bergabung dalam acara pelelangan itu.”
Mendengar hal itu membuat pikiranku pun akhirnya teralihkan dengan Kichida.
Aku mendapatkan sesuatu yang lebih penting dibandingkan hal itu.
“Dari mana kau bisa melakukan hal itu Mul? Bukannya waktu kau mengeluh karena tidak bisa membukanya.”
Tanya Riki kepada Maul.
“Jangan remehkan kemampuanku Rik, serahkan saja semuanya kepadaku.”
Maul mengatakan hal itu dengan sangat percaya diri sekali.
Karena saat ini keadaan bis sangat sepi sekali, jadi kami tidak masalah membicarakan hal ini secara leluasa.
Aku hanya melihat beberapa orang yang berada di area khusus wanita.
“Apa saja yang kau dapatkan setelah bisa membuka halaman web itu?”
__ADS_1
“Dari web itu, aku mengetahui kalau tempat pelelangnya memang berubah-ubah setiap waktunya dan hal itu diberitahukan di tiket masuk yang kita beli. Selain itu, di tempat pelelangan itu banyak sekali penjagaannya.”
Itu sudah pasti, tidak munking tempat seperti itu tidak ada penjagaannya sama sekali.
“Kau sudah memberitahukan hal ini kepada bapakmu?”
“Tentu saja, aku langsung memberitahukan kepadanya.”
Kalau begitu sebentar lagi seharusnya mereka akan bergerak untuk menyelesaikan hal ini.
Aku hanya tinggal melihat perkembangannya di berita, sejauh mana mereka akan bertindak.
Akhirnya aku dapat keluar malam dengan leluasa lagi.
Ya, walaupun sebenarnya aku juga tidak begitu dibatasi saat keluar malam. Tapi tetap saja aku masih sering was-was jika harus melewati tempat yang sepi.
“Lalu bagaimana tanggapan bapakmu Mul?”
Tanya Riki kepada Maul.
“Dia mau membentuk tim untuk menuju ke tempat bekas mereka guankan terlebih dahulu untuk mengamatinya. Lalu setelah mengumpulkan informasi yang berada di sana baru mereka menentukan langkah selanjutnya.”
“Bapakmu harus lebih berhati-hati dalam hal ini.”
Maksudku berhati-hati di sini bukanlah masalah keselamatan, melainkan kerahasiaan operasi yang mereka lakukan.
Karena ini adalah kesempatan emas untuk mereka menuntaskan kasus ini, mereka tidak boleh melepaskannya dengan begitu mudah.
“Kalau itu tenang saja Mar, bapakku sudah lebih mengerti dibandingkan dengan kita semua.”
Ya dia benar, karena bapaknya Maul sudah ahli dalam hal ini.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal setelah mengetahui hal ini.
“Aku selalu tidak bisa berbicara apa-apa ketika melihat kalian bertiga sedang berbicara seperti ini.”
Ucap Akbar kepada kami.
“Kau juga akan terbiasa jika sering berkumpul dengan kami.”
“Oh iya, apa kau tidak ada niat untuk berpacaran dengan Miyuki Mar?”
Aku pun menatap Akbar dengan mata sinis.
“Kenapa arah pembicaraannya menjadi ke sana?”
“Aku baru saja menyadari banyak sekali orang yang mengincar Miyuki di ekskulku.”
“Kau masuk ke ekskul mana Bar?”
Tanya Maul kepadanya.
“Aku masuk ke ekskul esport yang baru dibuat oleh Pak Febri.”
“Memangnya itu sudah berjalan?”
“Sudah, kami setiap hari rabu selalu latihan di lab. Sebentar lagi juga kami akan mengikuti kejuaraan yang diadakan di salah satu mal.”
Semenjak semester dua, ekskul yang didirikan oleh Pak Febri sudah berjalan dan mereka masih bermain di satu cabang gim saja, yaitu Dito2. Aku sering diminta Pak Febri datang ke sana untuk mengajari mereka tentang strategi, cara bermain, dan taktik yang bisa mereka gunakan.
Karena tidak semua orang yang bergabung di sana bisa bermain gim tersebut. Hanya beberapa orang saja yang sudah ahli dan bahkan lebih jago dariku.
Bahkan Akbar saja lebih hebat dibandingkan denganku. Aku kira dia orangnya tidak pernah bermain gim itu, ternyata dia sering memainkannya sepulang kerja di pekerjaan lamanya.
“Berjuanglah Bar.”
Aku menyemangati Akbar.
“Tenang saja Mar, aku sudah menantikan hal ini.. Tidak! Kenapa aku bisa teralihkan seperti ini.”
Akbar menyadari kalau aku mencoba untuk merubah topik pembicaraan.
“Jadi bagaimana Mar?”
Akbar masih menagih jawaban dariku.
“Miyuki juga menjadi incaran di ekskulku.”
Tambah Riki.
“Sepertinya kau harus menjadikan Miyuki pacarmu Mar!”
Maul pun senang jika sedang membicarakan tentang hal ini.
Tidak, sebenarnya dia hanya senang ketika aku merasa kesusahan.
“Tunggu! Bukannya tadi kita sedang membicarakan tentang surat itu.”
“Ayolah Mar, kau juga sudah ditandai oleh teman-temannya Miyuki. Jadikanlah saja dia pacarmu! Tidak ada ruginya kok.”
Sebenarnya apa yang dikatakan Riki memang tidak ada salahnya.
Sebelumnya aku memang menganggap Miyuki itu membawa masalah saja dan juga menyebalkan. Tapi ketika aku mengingat-ingat ketika aku berada di SMP, ternyata Miyuki tidak jauh dengan Rina, bahkan kalau dibilang mereka berdua terbilang mirip. Hanya saja Rina jauh lebih tenang dibandingkan dengannya.
“Daripada membahas ini lebih baik kita membahas hal lain.”
Aku masih berusaha untuk merubah topik pembicaraannya.
“Seperti?”
“Hal yang kita bahas sebelumnya, itu adalah kesempatan emas kita untuk memecahkannya.”
Terpaksa aku harus berpura-pura semangat ketika membahas hal ini.
“Memang apa yang ingin kau lakukan?”
Maul bertanya kepadaku.
AH Sial! Aku memang ingin mengubah pembicaraan ini tapi aku bingung mau mengatakan apa kepada mereka. Kalau aku mengatakan sesuatu yang aku pikirkan dengan terburu-buru pasti mereka akan menyadari kalau aku mencoba merubah topiknya kembali.
Karena tidak tau apa yang ingin aku bicarakan, akhirnya aku hanya diam saja.
“Menyerahlah Mar, kau sudah tidak bisa kabur lagi.”
Riki sedikit tertawa kecil melihatku yang diam tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Kenapa kau tidak ingin berpacaran dengannya Mar? Aku yakin jika kau melakukannya, Miyuki pasti akan menerimamu.”
Mudah sekali berbicara seperti itu Bar, tapi masih ada hal berat yang menahanku untuk melakukan itu.
Ya, ego yang aku miliki yang menahannya.
“Kenapa kau seyakin itu?”
“Aku memiliki berfirasat seperti itu saat meliaht sifatnya Miyuki kepadamu.”
Sepertinya sifat dia kepada yang lain juga sama saja.
“Dia tidak memperlakukanku secara istimewa Bar, memang seperti itu sikapnya.”
“Apa kau buta Mar?”
__ADS_1
Celetuk Maul.
“Tentu saja sifatnya Miyuki berbeda ketika sedang berbicara denganmu.”
“Ayolah, bukankah kalian semua sudah tau kalau aku tidak mau berurusan dengan yang namanya pacaran. Kenapa kalian masih sibuk membahas hal ini.”
“Tapi aku rasa, ini juga berguna untuk menjagamu Mar.”
Ucap Akbar.
“Menjaga yang seperti apa?”
“Karena dari yang aku lihat, kau adalah laki-laki yang berpotensi membuat seorang perempuan menyukaimu jika mereka mengetahui bagaimana kau yang sebenarnya.”
Apa aku termasuk ke dalam orang yang memiliki percaya diri tinggi jika mengakui hal itu.
Aku juga sering berpikir seperti itu.
Jika semua orang mengetahui apa yang sebenarnya aku lakukan dan prestasi apa saja yang aku miliki. Apakah sikap mereka semua akan sama kepadaku atau tidak.
Pastinya sikap mereka akan berbeda.
“Siapa orang itu, aku merasa kalau diriku tidak seperti itu.”
Aku berpura-pura mengatakan itu agar mereka bertiga tidak menganggapku terlalu percaya diri.
“Itulah yang terjadi Mar, jadi untuk mencegah adanya perempuan lain menyukaimu lagi. Kau harus memiliki seorang pacar agar perempuan yang mau menyukaimu tidak telalu berharap seperti Yoshida.”
Hehe.. Aku jadi tau arah pembicaraan ini Bar.
Dengan kata lain kau ingin mengatakan kepadaku kalau kau ingin membuat Yoshida jatuh hati kepadamu.
Tidak buruk juga rencanamu, tapi tidak dengan membuatku berpacaran dengan seorang perempuan.
“Apa yang Akbar katakan itu benar, kau harus memilih antara Rina atau Miyuki. Mana yang ingin kau jadikan pacar.”
Riki mengatakan itu dengan sangat tegas sekali.
“Loh! Memangnya Rina juga menyukai Amar?”
Akbar terkejut karena dia sama sekali tidak mengetahui hal itu.
“Dia sudah menyukai Amar sejak lama.”
“Aku tidak tau ada berapa orang yang suka denganmu Mar.”
“Kau terlalu berlebihan Bar, tidak banyak yang suka denganku.”
Begitu menurutku.
“Siapa yang tidak suka.. Memiliki banyak uang, bagus dalam olahraga basket, dan wajahnya juga tidak terlalu buruk.”
Maul memperhatikan wajahku dengan seksama.
“Apa Kichida dan Natasha juga menyukai Amar?”
Akbar makin penasaran dengan hal itu.
“Kalau Kichida menyukai Takeshi, untuk Natasha aku tidak tau.”
Riki menggelengkan kepalanya kepada Akbar.
“Hee Jadi begitu, aku baru mengetahui hubungan percintaan di kelompok kalian.”
Akbar berusaha memahami yang sebenarnya menurutku sesuatu itu tidak perlu dia pahami.
“Kenapa kita harus membicarakan hal ini?”
Aku mengeluh kepada mereka bertiga.
“Untuk anak-anak seusia kita, membicarakan hal ini adalah sesuatu yang wajar dibandingkan kasus itu.”
Apa yang dikatakan Riki tidak salah, aku saja yang aneh tidak nyaman dengan pembicaraan seperti ini.
“Lalu bagaimana dengan Takeshi? Kalau aku lihat, sepertinya dia menyukai Miyuki.”
“Hebat sekali kau bisa tau itu Bar.”
Aku rasa itu bukanlah sesuatu yang hebat Rik, siapapun juga mengetahui hal itu jika mereka melihatnya.
“Aku menyadarinya saat ulang tahun Miyuki. Saat itu Takeshi selalu berusaha untuk mendekati Miyuki.”
“Kalau kita mengurutkan jejak percintaan yang berada di kelompok kita, itu akan sangat rumit sekali.”
Riki membuat pembicaraan ini seperti sedang menyelesaikan kasus penculikan itu.
“Kenapa rumit?”
Akbar tidak paham dengan apa yang dikatakan Riki.
“Jadi seperti ini, Rian menyukai Rina sedangkan Rina menyukai Amar. Kemudian Kichida menyukai Takeshi dan Takeshi menyukai Miyuki, selanjutnya Miyuki masih belum tau apakah dia menyukai Amar atau tidak. Lalu ditambah kau yang menyukai Yoshida membuat ini semakin rumit karena di satu sisi Yoshida juga menyukai Amar.”
Riki memang sangat ahli jika sedang membahas hal ini.
“Kenapa kau bisa mengetahuinya Rik!?”
Akbar terkejut sekaligus malu mendengar Riki yang mengetahui hal itu.
“Aku bisa tau dari sikapmu yang selalu mencuri-curi pandang kepada Yoshida ketika istirahat.”
Ternyata Riki hebat juga dalam mengamati hal ini. Aku saja tidak sadar jika Akbar melakukan hal itu ketika istirahat.
Andai saja jika kehebatannya itu dapat digunakan untuk hal lain.
Akbar yang ketahuan langsung malu.
“Jadi kuncinya di sini hanya ada di Amar dan Miyuki saja, dan semua permasalahan yang rumit ini pun selesai.”
Riki benar-benar terlihat sepertiku ketika sedang membahas sebuah kasus.
“Kenapa kuncinya berada di aku dan juga Miyuki?”
“Tentu saja, kalau seandainya kalian berdua pacaran, pasti semuanya akan selesai. Rina dan Yoshida yang hatinya terluka karena tidak dipilih olehmu sudah ada yang siap untuk menggantikannya yaitu Akbar dan Rian, sedangkan Takeshi ada Kichida yang akan menghiburnya. Jadi semuanya OK!”
Riki memberikan tanda jempol kepadaku.
“Kau sangat pintar sekali jika sedang memikirkan hal-hal seperti ini.”
“Karena aku sudah terbiasa melihat hubungan yang rumit seperti ini dari film drama yang aku tonton.”
Riki mengatakan itu dengan sangat bangga sekali.
Dan saat itu aku baru tau kalau Riki menyukai film drama percintaan.
Seorang yang ahli dalam pencak silat ternyata menyukai hal itu juga.
“Untuk saat ini aku tidak mau berpacaran terlebih dahulu dan tidak ada perdebatan dalam hal itu.”
Aku menegaskannya kepada mereka.
“Kau tidak asik Mar!”
__ADS_1
“Biarkan saja.”
-End Chapter 130-