
Hari demi hari pun telah berlalu, sudah dua hari lamanya sejak kami pergi ke Gunung Prau. Waktu liburanku pun sudah tinggal sebentar lagi. Saat ini aku sedang berada di dapur dan menyiapkan sarapan untukku.
Memang banyak yang terjadi ketika di Gunung Prau, tapi setidaknya aku dapat bersantai ketika berada di sana. Rina dan Kirana juga terlihat terkejut saat melihat aku sedang berduaan saja dengan Miyuki saat mereka baru bangun dari tidurnya. Mereka pun hampir salah paham dengan hubungan kami, untung saja aku dapat meluruskan kesalahpahaman itu.
“Sepertinya sudah cukup.”
Aku pun mengangkat telur dan sosis yang baru saja aku masak untuk sarapan.
Aku langsung pergi ke ruang tamu sambil membawa sarapanku dan makan di sana. Sesekali aku melihat ponselku untuk memeriksa kabar terbaru di akun sosial mediaku.
Sfx : Treeeet... Treeeet... Treeeet...
Ponselku pun berbunyi dan terdapat panggilan masuk di dalamnya. awalnya aku mengira kalau yang menelponku adalah Riki. Namun pas aku lihat lagi namanya, ternyata itu adalah Rina. Aku sangat terkejut ketika melihat Rina menelponku pagi-pagi seperti ini.
Aku pun menerima panggilan itu.
“Halo Assalamualaikum Ar? Kamu sekarang ada waktu luang tidak?”
“Waalaikumussalam, memangnya ada apa?”
Sepertinya aku mau diajak pergi ke suatu tempat olehnya.
“Aku mau mengajakmu ke sekolahannya Miyuki. Katanya di sekolahnya dia sedang diadakan festival musim panas.”
“Festifal musim panas ya?”
Sepertinya menarik, aku juga ingin pergi ke sana. Tapi aku malas sekali jika harus pergi berdua saja dengan Rina.
“Apa hanya kita berdua saja?”
“Tadi aku sudah mengajak Riki dan Maul.”
“Apa jawaban mereka?”
“Mereka akan ikut.”
Aku sudah menduga hal itu.
“Baiklah, aku akan ikut kalian.”
“Kalau begitu kita janjian di halte busway jam sembilan nanti ya.”
“OK.”
Rina pun menutup panggilannya dan aku langsung melihat ke arah jam dinding yang berada di ruang tamu.
Hmmm... Masih ada waktu dua jam lagi sebelum jam sembilan. Sepertinya bermalas-malasan terlebih dahulu tidak masalah.
Setelah menghabiskan sarapan Aku pun berbaring sebentar di sofa yang berada di ruang tamu sambil memainkan ponselku.
Dua jam pun telah berlalu, aku pun sudah dalam perjalanan menuju ke halte TransJakarta. Aku sudah mendapatkan pesan dari Rina kalau dia beserta Riki dan Maul sudah tiba di sana.
Ketika sampai di sana, aku melihat Rina beserta yang lainnya sedang duduk menungguku.
“Hei Mar, kau lama sekali.”
Maul sepertinya sudah tidak sabar untuk pergi ke sekolahnya Miyuki.
“Maaf.. Maaf... Aku harus membersihkan rumah terlebih dahulu sebelum pergi.”
Aku tidak mengada-ada tentang hal ini, memang itu yang aku lakukan.
“Benar juga, aku melupakan hal itu.”
“Apa kau tau sekolahnya Miyuki di mana?”
Aku bertanya kepada Rina yang dari tadi melihat ke arah ponselnya.
“...Oh kalau masalah itu Miyuki sudah mengirimkan lokasinya kepadaku?”
Rina menunjukan layar ponselnya kepada kami.
“Festifal musim panas ya? Aku tidak sabar seperti apa itu.”
Riki sangat bersemangat sekali untuk pergi ke sana.
“Aku pernah mengikuti acara seperti itu sekali saat diselenggarakan di Blok M. Acaranya sangat meriah, banyak sekali pertunjukan, makanan, dan barang yang dijual di sana.”
Maul menjelaskannya kepada kami.
“Woah!”
Aku dan Riki makin bersemangat akan hal itu.
Makanan!! Aku tidak sabar mau mencicipi makanan di sana. Tunggu... Apakah aku harus memanfaatkan Miyuki untuk mentraktirku makan di sana?
“Aku hanya tidak sabar melihat seperti apa sekolah khusus bagi orang Jepang.”
Aku melihat Maul yang sedang memikirkan sesuatu. Sepertinya dia masih belum menyerah untuk mendapatkan seorang pacar.
“Oi Rik, kau tidak mengajak Kirana?”
“Aku sudah mengajaknya tadi, dia tidak bisa ikut. Sebenarnya dia ingin sekali ikut, tapi ada tugas OSIS yang harus dia selesaikan. Kan sebentar lagi sudah mau masuk tahun ajaran baru.”
Itulah yang aku malas jika harus bergabung dengan OSIS. Liburanmu tidak terasa seperti liburan.
Akhirnya bis yang kami tunggu pun tiba, kami pun langsung menaiki bis tersebut.
***
“Ini benar sekolahnya?”
Kami sudah berada di depan sekolahnya Miyuki. Sekolah itu memiliki bentuk arsitektur yang berbeda dengan kebanyakan sekolah yang ada di Jakarta. Bentuk bangunannya mirip dengan sekolah Korea yang berada di dekat rumahku.
“Iya benar kok, aku mengikuti alamat yang dikirimkan oleh Miyuki. Sebentar, biar aku hubungi Miyuki dulu.”
Rina pun mencoba untuk mengirimkan Miyuki sebuah panggilan.
“Aku baru pertama kali masuk ke sekolah seperti ini. Aku sangat penasaran sekali.”
Aku melihat Riki yang antusiasnya tiba-tiba naik.
Dari depan sekolahnya, terlihat ramai sekali orang yang memasuki sekolah tersebut. Di gerbangnya terdapat sebuah gapura yang sangat besar dengan tulisan Jepang yang berada di atasnya.
“Apa kau bisa membaca tulisan itu Mul?”
“Aku tidak paham soal yang begituan.”
Aku kira Maul tau tulisan apa itu, karena setauku Maul sedikit menyukai kartun yang berasal dari Jepang.
“Hei Mar, aku yakin di dalam sana banyak sekali murid perempuan yang sangat cantik. Aku yakin itu, Miyuki saja secantik itu, pasti masih banyak yang lainnya.”
Maul mendekat dan berbisik kepadaku. Aku melihat wajahnya Maul sangat senang sekali. Aku rasa hal itu yang dia pikirkan ketika berada di halte busway.
“Aku kasihan sekali kepada Riki karena harus setia kepada Kirana di sana.”
Maul mencoba meledek Riki yang tidak bisa bebas untuk mendekati perempuan mana pun.
“Cih... Dibandingkan jomblo sepertimu, aku sudah memiliki orang yang spesial.”
Riki mencoba meledek Maul balik.
Aku hanya melihat ke dalam sekolah itu dan berharap kalau tidak ada sesuatu yang terjadi. Kalian tau sendiri, sekolah ini adalah sekolahan Takeshi. Kalau Miyuki berada di sini, dia pasti berada di sini juga.
Tidak lama kemudian muncullah Miyuki dari dalam sekolah menuju ke arah kami. Tepat di sampingnya terdapat dua temannya.
“Hei Rin, apa kamu sudah lama menunggu?”
“Tidak kok, kami baru saja tiba di sini.”
Maul pun menghampiri dan merangkulku.
__ADS_1
“Lihat itu Mar, teman-teman Miyuki lumayan juga. Aku akan mencoba untuk mendekati salah satu dari mereka.”
“Menyerah sajalah Mul, kau hanya akan membuka luka lama saja.”
“Kau ini apaan sih Mar, di saat seperti ini seharusnya kau mendukungku.”
“Terserah kau saja.”
Aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi nantinya. Aku sudah tidak mau berurusan dengan hal itu lagi.
Aku pun melihat Riki yang dari tadi memalingkan pandangannya dan terus-terusan mengucapkan sesuatu. Aku rasa dia memiliki masalah sendiri akan hal ini. Merepotkan!
“Kalian semua, perkenalkanlah ini kedua temanku. Kalian mungkin sudah tidak asing lagi, karena mereka waktu itu juga ikut ke Kepulauan Seribu.”
Miyuki memperkenalkan mereka berdua kepada kami.
“Namaku Kichida Fuyumi, kalian bisa memanggilku Kichida, salam kenal.”
Kichida terlihat sebagai gadis yang pendiam, sikapnya dia juga terlihat dingin sekali.
“Namaku Yoshida Akane, kalian bisa memanggilku Yoshida, salam kenal semuanya.”
Teman yang satunya lagi terlihat lebih ceria dibandingkan Kichida.
Suara ini... Sepertinya aku pernah mendengar suara ini sebelumnya, tapi dimana ya.
Aku pun memperhatikan Yoshida dengan seksama. Aku merasa kalau mengingatnya dan pernah sekali berbicara dengannya. Yoshida merasa malu karena dilihat olehku, dia pun bersembunyi dibalik tubuh Miyuki.
“Ayo semuanya, akan aku ajak kalian berkeliling sekolahku sambil menikmati festival ini.”
Kami pun akhirnya masuk ke sekolah tersebut dan menikmati festivalnya. Ketika memasuki sekolahnya, aku merasakan hawa yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Aku seperti merasakan seperti berada di negara yang berbeda.
Saat kami mengeliling festival, aku melihat banyak sekali stan-stan makanan dan minuman yang berada di sana, dan semua stan itu menyajikan makanan Jepang yang sama sekali tidak pernah aku makan. Jangankan memakannya, mendengar namanya saja aku tidak pernah. Mungkin hanya takoyaki saja nama yang pernah aku dengar karena pernah ada pedagang yang menjualnya di SDku.
Sekolah itu juga memiliki lapangan yang cukup besar, dan tepat di tengah lapangan itu terdapat panggung yang menyajikan musik yang berasal dari Jepang. Ketika mendengar lagu yang sedang dimainkan, aku mencoba untuk memahami dan menangkap beberapa kata dari lagu tersebut, tapi tidak ada satu kata yang aku mengerti.
Kalau kata dalam bahasa Jepang yang aku mengerti hanyalah ikkeh ikkeh kimochi, tapi aku sama sekali tidak mengetahui maksud dari kata itu. Hanya saja teman-temanku sering mengatakan hal itu jika kita sedang membicarakan tentang Jepang. Sebenarnya waktu berdua bersama dengan Miyuki aku pernah ingin bertanya tentang arti dari kata itu, tapi sepertinya itu bukan sesuatu yang bagus.
“Lihat itu Mar, ada cosplay juga.”
Maul menyuruhku untuk melihat seseorang yang sedang menggunakan kostum layaknya karakter kartun.
“Apa mereka tidak malu menggunakan baju seperti itu.”
Kalau aku sendiri pasti akan malu jika harus menggunakan hal seperti itu di depan orang banyak.
“Tidak mungkin, orang seperti mereka pasti urat malunya sudah putus.”
Kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk berkeliling festival tersebut. Riki dari tadi sama sekali tidak berkata apa pun, dia terlihat lebih diam dan lebih tenang, sepertinya dia sedang berusaha untuk menahan kesetiaannya kepada Kirana.
“Nanti malam kita juga ada hanabi, kalian harus melihat itu.”
Miyuki memberitahunya kepada kami semua.
“Hanabi?”
Kami semua bingung mendengar kata itu. Karena tidak ada satu pun dari kami yang mengerti apa makna dari kata hanabi.
“Itu loh, kembang api!”
Yoshida menjelaskannya kepada kami.
“Ohh...”
Sekarang aku mendapatkan kosa kata baru.
Kemudian perhatian kami aku, Maul dan Riki teralihkan oleh jajaran stan makanan yang mengeluarkan aroma yang sangat menggoda.
“Mari semuanya, akan aku tunjukan stan makanan yang enak.”
Miyuki pun mengajak kami menuju ke salah satu stan makanan yang berada di sana. Bahkan Miyuki pun membelikan masing-masing dari kami makanan itu.
“Apa ini?”
“Ini okonomiyaki.”
Makanan apa lagi itu!
“Berapa harganya Miyuki?”
Rina mengambil dompetnya dan berencana untuk membayar makanan itu.
“Tidak usah Rin, biar aku yang mentraktir kalian.”
“Benarkah!?”
Kami semua terkejut mendengar perkataan itu dari Miyuki.
Hebat sekali tuan putri, kalau begini aku tidak perlu menggunakan rencanaku untuk memanfaatkannya.
“Aku tidak enak kalau harus ditraktirmu Miyuki.”
Rina masih berusaha untuk membayar makanannya.
“Sudahlah Rin, anggap saja ini ungkapan terima kasihku karena kalian telah mengajakku untuk mendaki ke Gunung Prau.”
“Kamu pernah mendaki gunung Myucchi?”
Yoshida bertanya kepada Miyuki dengan sangat penasaran sekali.
Myucchi? Panggilannya aneh sekali.
“Iya, waktu itu Amar dan yang lainnya mengajakku untuk pergi mendaki. Pemandangan matahari terbitnya sangat indah sekali, dan bintang-bintangnya juga banyak. Lain kali aku akan mengajak kalian jika pergi ke sana lagi.”
Miyuki terlihat sangat senang sekali ketika menjelaskan hal itu.
Kami pun menyantap okonomiyaki yang baru saja dibelikan oleh Miyuki.
Ketika aku mulai memakan okonomiyaki itu, aku merasakan sebuah makanan yang baru pertama kali aku coba. Tepung, telur, dan beberapa sayuran menyatu dengan sangat pas. Selain itu ada beberapa gurita yang sudah dipotong menjadi kecil-kecil membuat rasanya makin kaya, tapi yang membuat okonomiyaki ini enak adalah saus yang berwarna coklat, mayones, dan serutan ikan ini yang membuat okonomiyaki ini semakin enak.
*Saus coklat yang Amar maksud adalah saus khusus yang biasa digunakan di takoyaki atau okonomiyaki. Sedangkan serutan ikan itu adalah katsuobushi yang berasal dari serutan ikan cakalang.
“Enak sekali!”
Rina terlihat menyukai makanan itu.
“Iya, ini enak.”
“Ya... Lumayan lah.”
Begitu juga Riki dan Maul.
Sepertinya saat pulang nanti aku akan mencoba membuatnya di rumah.
Setelah menghabiskan makanan kami, kami pun melanjutkan berkeliling festival tersebut. Ketika itu aku berpisah dengan Miyuki dan yang lainnya, aku hanya ditemani oleh Yoshida saja, padahal waktu berpisah tadi aku menyuruhnya untuk berkeliling dengan yang lainnya, tapi entah kenapa dia memaksa untuk ikut denganku.
Sebenarnya niatku berpisah dengan mereka karena ingin mencicipi makanan tanpa diganggu oleh mereka, tapi karena Yoshida ada di sini rencanaku menjadi gagal, namun kehadiran Yoshida tidak berpengaruh sama sekali kepadaku, karena dari tadi dia hanya diam saja dan mengikutiku terus. Aku tidak tau untuk apa dia mau pergi bersamaku, sepertinya lebih mengasikan jika ikut Miyuki dan yang lainnya.
Aku juga sedikit penasaran dengan sikapnya Miyuki tadi. Tumben sekali dia tidak memaksa untuk ikut denganku juga, malahan dia berusaha untuk memisahkan Rina dariku. Ini aneh...
Aku pun mencicipi hampir semua makanan yang ada di sana. Untung saja orang tuaku tidak memotong uang jajanku walau aku sedang libur, jadi aku memiliki banyak uang untuk dihabiskan sekarang. Mengingat sebentar lagi aku dapat jatah bulanan, setidaknya aku harus menikmati uang yang selama ini telah aku kumpulkan.
Tapi aku bersyukur ada Yoshida di sini, karena ada beberapa stan yang penjualnya itu orang Jepang dan kurang lancar berbahasa Indonesia. Jadi aku menyuruh Yoshida untuk memesankan makanannya untukku. Walaupun tidak semuanya, sesekali Yoshida juga memesan makanan bersamaku.
Aku baru menyadarinya tadi, ketika Miyuki berkenalan denganku dia tidak menyuruhku untuk memanggilnya Kotobuki, padahal nama depannya itu Kotobuki. Sedangkan Kichida dan Yoshida menyuruhku untuk memanggil
mereka dengan nama depannya. Apa hal itu juga termasuk ke dalam budaya mereka dalam bersapa juga?
Tidak aku sadari ternyata sore hari pun telah tiba. Setelah shalat ashar, Aku pun berencana untuk berkumpul dengan Miyuki dan yang lainnya, tapi lagi-lagi Yoshida mengajakku untuk pergi ke suatu tempat. Aku pun
mengikutinya untuk membalas kebaikannya saat menemaniku tadi.
__ADS_1
Ternyata dia mengajakku untuk pergi ke belakang gedung. Di sana tidak ada orang sama sekali, hanya kami berdua saja. Aku mulai merasakan sesuatu yang tidak enak terjadi di sini.
“Mau apa kita di sini Yoshida?”
Aku bertanya kepadanya yang sedang membelakangiku.
Yoshida pun langsung berbalik arah dan langsung memberikan sebuah surat kepadaku.
"Tolong terimalah suratku ini!"
Aku sedikit kebingungan dengan hal itu. Sebenarnya aku ingin menolak surat itu, tapi semenjak Rina menyatakan perasaannya kepadaku, aku jadi tau betapa sulitnya bagi seorang perempuan mengumpulkan keberaniannya untuk melakukan hal ini. Setidaknya aku harus menghargai keberaniannya itu.
Aku pun menerima surat itu dan membacanya. Seperti yang sudah aku kira, surat itu adalah surat cinta. Aku sangat bingung harus berkata apa. Sekarang yang sedang aku pikirkan adalah cara menolak dengan halus, kalau aku menggunakan cara menolakku pasti dia akan tersakiti karenanya.
Ini menyulitkan, aku memang tidak ahli dalam hal seperti ini.
...
Ah! Aku sudah menemukannya, sepertinya aku akan menjawab itu saja.
Ketika aku hendak menjawab pernyataannya, tiba-tiba Yoshida langsung pergi meninggalkanku yang membuatku sangat bingung sekali saat itu.
Aku tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dia lakukan. Mengapa dia memberikan surat cinta kepadaku tanpa menunggu jawabannya dariku. Apa dia sudah tau kalau aku akan menolaknya dengan begitu dia langsung pergi begitu saja.
“Ternyata kamu memang sudah terkenal ya Mar.”
Tiba-tiba Miyuki pun menghampiriku yang datang entah dari mana.
“Apa kau melihat semuanya?”
“Begitulah.”
Kalau begitu, Miyuki pasti tau sesuatu.
“Apa kau tau maksudnya ini? Mengapa dia langsung pergi saat aku belum membalas pernyataannya? Apa dia sudah tau kalau akan ditolak?”
“Sepertinya begitu, Akane sudah menyukaimu sejak kita berada di Pulau Tidung. Apa kamu tidak ingat perempuan yang bertanya kepadamu...”
Aku pun sedikit terkejut ketika mengingat itu. Pantas saja aku merasa tidak asing dengannya, karena saat itu keadaan lumayan gelap dan penerangan kami hanya api unggun saja, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“...Saat aku mengatakan akan mengajakmu ke sini, dia sangat senang dan mengatakan kepadaku kalau dia mau menyatakan perasaannya kepadamu. Aku sudah mengingatkannya tentang pemikiranmu itu, tapi dia tetap bersikukuh untuk menyatakannya juga.”
“Oh begitu.”
Aku pun menyimpan suratnya itu di saku celanaku. Akan sangat tidak sopan jika aku membuangnya di sini. Setidaknya biarkan aku menyimpannya di rumah dan biarkan surat itu hilang dengan sendirinya.
“Sepertinya orang yang ingin meruntuhkan pemikiranmu makin bertambah.”
Miyuki mencoba untuk meledekku.
“Begitulah, padahal aku sudah menyiapkannya tadi.”
“Menyiapkannya?”
“Iya, aku sudah menyiapkan jawaban terbaik yang kemungkinan besar tidak menyakiti hatinya.”
“Hahahahaha... Apaan itu, tidak seperti dirimu saja.”
Miyuki terlihat senang sekali melihat sikapku yang tidak seperti biasanya.
“Biarlah... Semenjak menolak Rina entah kenapa aku merasa kasihan kepada orang yang ditolak perasaannya. Aku hanya membayangkan bagaimana jika aku yang mengalami hal itu. Pasti akan sangat menyakitkan bukan.”
Miyuki pun terdiam lagi dan hanya memperhatikanku.
“Ada apa?”
“...Tidak.”
Miyuki pun membuang mukanya dariku.
“Sudahlah, lebih baik kita bergabung dengan yang lainnya. Pasti mereka sudah menunggu kita.”
“Iya.”
Dan kami pun kembali berkumpul bersama Rina dan yang lainnya.
Sambil menunggu acara hanabi, kami menikmati pertunjukan musik yang disajikan di sana. Banyak band yang tampil dan menyanyikan lagu Jepang di sana. Tentu saja, karena ini festival Jepang.
Semakin malam semakin banyak orang yang berkumpul di panggung utama untuk menyaksikan acara hanabi tersebut. Tepat sebelum acara hanabi tampil seorang DJ yang membuat seluruh penonton bersorak ramai dan bersemangat.
Saat itu aku hanya diam di tengah kerumunan orang yang sedang melompat-lompat dengan penuh kegirangan. Kerumunan itu membuat kepalaku sedikit pusing. Aku memang tidak terbiasa melihat orang seramai ini. Dadaku sedikit bergetar karena tekanan dari suara bass yang sangat keras.
Aku melihat Riki dan Maul yang sangat menikmati acara itu.
Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu pun tiba, pembawa acara tersebut mulai naik ke atas panggung untuk mengambil alih acaranya.
“Baiklah Mina-san, sekarang waktunya acara yang ditunggu-tunggu.”
Mina-san?
“WOOOOAAAAHHHHH...”
Sorak ramai penonton yang berada di sana. Bahkan Maul dan Riki juga ikut bersorak dengan semangat.
“Sekarang mari kita berhitung mundur... Sepuluh.”
Pembawa acara melakukan hitungan mundur yang diikuti oleh semua penonton.
“Sembilan...”
Aku melihat ke sekitar sana, semua orang sudah pada berkumpul. Bahkan pedagang yang sebelumnya ada di stan mereka juga ikut berkumpul di lapangan.
“Delapan...”
Rina telihat sangat senang sekali.
“Tujuh...”
Begitu juga dengan Miyuki.
“Enam...”
Maul dan Riki berteriak dengan sangat kencang sekali.
“Lima...”
Apa aku harus melakukan hal yang sama dengan mereka juga?
“Empat...”
Sepertinya tidak, aku tidak cocok dengan hal-hal seperti itu.
“Tiga...”
Seluruh lampu mulai dimatikan, entah itu yang ada di sekolah maupun yang ada di atas panggung.
“Dua...”
Seluruh penonton makin bersemangat seiring berkurangnya hitungan.
“Satu...”
Sfx : Ciiiiiiitttt.... Duar....
“WOOOAAAHHHH...”
Kembang api pun menyala dengan terang di atas langit. Selama lebih dari lima menit, kami menyaksikan pemandangan langit yang dipenuhi kembang api dengan warna yang bervariasi, bahkan bentuk dan cara meledaknya juga berbeda-beda. Selain itu, DJ yang tadi mengisi acara sebelumnya, mulai memainkan lagunya kembali hingga membuat seluruh penonton semakin bersemangat.
Aku pun sedikit tersenyum ketika melihat posisiku sekarang ini.
Aku tidak menyangka akan berada di kondisi seperti ini. Apakah ini yang orang sebut dengan masa muda? Sungguh merepotkan, tapi sepertinya tidak ada salahnya mencobanya.
__ADS_1
-End Chapter 27-