Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 56 : Mencoba Sesuatu Yang Baru.


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke dua puluh delapan ramadan, dan kalau besok malam sudah terlihat hilal atau bulan baru di langit, berarti lusa depan kita sudah melaksanakan salat idulfitri.


Saat ini aku bersama Maul dan Riki sedang menuju ke masjid yang berada di dekat rumahnya Ustadz Adi untuk melaksanakan pesantren kilat. Sebelumnya aku sudah pernah mengikuti pesantren kilat yang diadakan oleh sekolahku. Biasanya kalau di sekolah, pesantren kilat hanya diadakan dari awal masuk sekolah sampai azan maghrib saja dan diakhiri dengan berbuka bersama. Tapi kalau pesantren kilat kali ini, kita akan menjalaninya seharian penuh.


Kami pun berangkat dari rumah jam sepuluh karena acaranya dimulai setelah salat zuhur. Beberapa jam sebelumnya, Aku dan Riki pergi ke rumah Maul untuk melihat sesuatu yang dibuat Maul. Kalau kalian ingat, Maul pernah berkata kalau ingin menunjukkan sesuatu kepadaku tentang aplikasi yang dia buat untuk mempermudahnya dalam meretas.


“Kalian semua lihatlah ini.”


Maul pun menunjukkan ponselnya dengan sebuah aplikasi yang terbuka di sana.


“Apa itu?”


Tanya Riki yang sebelumnya tidak diberitahu oleh Maul.


“Ini adalah aplikasi yang dapat memudahkanku dalam meretas sesuatu, aku memasukan beberapa fitur di dalamnya yang membuatku dapat meretas apapun dengan mudah.”


“Apapun?!”


Aku dan Riki terkejut ketika mendengar itu. Menurutku itu sangat hebat jika dia bisa meretas apapun denga aplikasi itu. Maul saja yang melakukan peretasan dengan cara manual saja sudah sangat hebat, bagaimana jika dia dipermudah dengan aplikasi yang dia buat itu. Sepertinya mulai dari saat ini aku tidak boleh membuat Maul marah


sedikitpun.


“Aplikasi ini dapat meretas jaringan, meretas ponsel orang, dapat mengetahui semua akun yang berada di sebuah ponsel, melacak lokasi dari ponselnya, menyadap pembicaraan melalui mic yang ada di ponselnya, menyadap kamera, dan masih banyak lagi.”


Maul menjelaskan kepada kami kelebihan aplikasi itu dengan bangga sekali.


“Hebat sekali kau Mul, berapa lama kau membuat aplikasi itu?”


Riki terlihat kagum sekali dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Maul.


“Aku membuat aplikasi ini sebenarnya sudah sejak kelas dua SMP, tapi baru selesai sekarang. Itu saja masih banyak bug didalamnya.”


“Apa aplikasi ini tidak ada kekuarangan?”


Tanyaku kepadanya. Karena aku berfikir kalau sehebat apapun aplikasi yang dibuatnya, pasti ada kekuarangan yang terdapat di dalamnya.


“Kekurangannya aplikasi ini hanya bisa digunakan jika kita barada di satu jaringan yang sama. Aplikasi ini tidak bisa meretas sesuatu yang berada di luar jaringannya. Seperti yang kalian tau, karena di dalam aplikasi ini tidak bisa dimasukan algoritma seperti itu. Asalkan dia mempunyai AI yang bisa mengoprasikan aplikasi ini secara otomatis, mungkin lain lagi ceritanya.”


Banyak sekali hal yang dikatakan oleh Maul yang aku tidak mengerti. Aku pun melihat ke arah Riki yang dia masih berusaha mencerna kata-kata dari Maul.


“AI? Apa itu?”


Tanya Riki bingung kepada Maul.


“AI atau Artificial Intelligence, biasa kita menyebutnya dengan kecerdasan buatan. Apa kalian pernah menonton film Manusia Besi?”


“Tentu saja, aku menonton semua seri film itu.”


Ucap Riki yang terlihat mulai mengerti dengan pembicaraan dari Maul.


“Kalau kalian pernah menonton film Manusia Besi, pasti kalian tau sistem komputer yang mengoprasikan baju besi milik Tomi Supra yang bernama Jefri. Itu adalah contoh dari kecerdasan buatan. Kira-kira penjelasan singkatnya seperti itu.”


“Sekarang aku paham... Kalau benar kau bisa membuat hal itu, itu akan sangat keren sekali. Bisa saja kau menciptakan baju besi seperti yang ada di film itu.”


Riki makin bersemangat ketika sudah mengerti apa yang dimaksud dengan Maul.


“Jadi kapan aplikasi itu ingin kau coba?”


Tanyaku kepada Maul.


“Mungkin aku akan mencobanya ketika ketika berada di TransJakarta, karena banyak penumpang di TransJakarta yang menggunakan internet gratis yang disediakan di sana. dia bisa sekalian mencoba fitur-fitur yang ada di aplikasi itu, apakah bekerja atau tidak.”


“Tapi ingat, jangan kau salah gunakan aplikasi itu jika memang berhasil.”


Aku memperingati Maul, karena bisa saja Maul menggunakan aplikasi itu untuk tindakan kejahatan. Yah walaupun di satu sisi aku tau kalau Maul tidak mungkin seberani itu melakukan tindakan kejahatan.


“Tentu saja, mana mungkin aku melakukan untuk hal itu. Kalau aku ingin melakukannya untuk hal semacam itu, aku tidak mungkin memberitahukan hal ini kepada kalian.”


Anak pintar.


***


“Bagaimana?”


“Sebentar, aplikasi ini sedang memproses ponsel siapa saja yang tersambung di koneksi ini.”


Saat ini kami sudah berada di TransJakarta yang menuju ke Jakarta Kota dan Maul sedang mencoba aplikasi yang dia buat. Kami tidak bisa mencobanya di bis yang kami naiki sebelumnya karena jumlah pengunjung yang sangat banyak di sana. Dan menurut Maul, hacker sejati adalah hacker yang melakukan semuanya tanpa diketahui oleh siapapun. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk mencoba aplikasi itu di bis sebelumnya.


“Aku sudah mencoba beberapa fitur yang ada di sini dan ada beberapa yang berfungsi, ada juga yang tidak berfungsi. Sepertinya aku perlu memperbaikinya ketika pulang nanti.”


Maul masih terfokus kepada ponselnya.


Aku pun melihat ke seluruh penjuru bis dan melihat hampir rata-rata orang yang berada di sana sedang bermain dengan ponselnya. Aku juga sesekali melihat keluar jendela dan melihat jalanan yang sepi dengan kendaraan. Karena sebentar lagi sudah ingin lebaran idulfitri, jadi sudah banyak orang yang pergi ke kampungnya masing-masing. Jakarta yang terkenal akan macetnya hanya dapat diatasi saat hari raya idulfitri saja.


“Oi Mar, acara apa saja yang akan ada di pesantren kilat nanti?”


Riki bertanya kepadaku yang sedang fokus memperhatikan jalan yang sepi.


“Acara dimulai setelah salat zuhur, dan saat itu kita akan mengikuti kajian sampai azan asar. Kemudian setelah melaksanakan salat asar kita akan tadarus sampai jam empat sore, lalu kita akan mendapatkan waktu bebas sampai jam satu malam.”


Aku pun membacakan susunan acara yang pernah dikirimkan Ustadz Adi kepadaku.


“Lama sekali istirahatnya.”


“Karena malam ini adalah malam ganjil, jadi acara saat tengah malam nantinya akan banyak, dan kita diberikan waktu tidur dari jam sepuluh malam hingga jam setengah satu saja.”


“Jarang sekali aku tidur saat jam sepuluh.”


“Aku juga sama Mul, karena saat-saat itu adalah saat terbaik untuk main gim. Karena banyak pemain hebat yang bermain saat itu.”


Akhirnya kami pun sampai di masjid itu. Masjid itu jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah, bahkan kami dapat melihat SMK Sawah Besar dengan jelas dari depan masjid ini. Masjid saat ini bernama Masjid Nurul Huda, masjidnya sangat besar dan memiliki dua lantai. Lapangan yang berada di depannya juga sangat luas, sepertinya saat sore hari banyak sekali anak-anak bermain di sini.


Kami pun bertemu dengan Rian yang sudah menunggu kami di depan pintu masjid.

__ADS_1


“Kalian semua, cepat kesini.”


Rian melambaikan tangannya kepada kami.


“Cepat sekali kau datang ke sini Yan.”


Ucapku kepadanya.


“Tentu saja, karena rumahku lebih dekat ke sini dibandingkan dengan kalian. Jadi kau mengajak Maul dan Riki juga Mar.”


“Begitulah.”


“Kalau begitu mari ku antarkan ke tempat untuk menaruh tas.”


Rian pun mengantarkan kami ke sebuah sisi masjid yang di sana sudah terdapat banyak sekali tas. Sepertinya tas-tas itu milik peserta yang mengikuti acara pesantren kilat ini.


“Ustadz Adi dimana Yan?”


“Ustadz Adi sedang memberikan arahan kepada peserta lainnya.”


“Jadi acaranya sudah mulai?”


Riki yang baru saja meletakkan tasnya langsung bergabung dengan pembicaraan kami.


“Tenang saja, Ustadz Adi hanya memberikan arahan saja. Acaranya dimulai setelah salat zuhur nanti.”


“Syukurlah kita tidak terlambat.”


Riki merasa lega mendengar hal itu.


“Kalau begitu, mari kita bergabung dengan yang lainnya.”


Kami pun langsung bergabung dengan peserta yang lainnya untuk mendengarkan arahan dari Ustadz Adi. Aku melihat kalau peserta yang menghadiri acara itu lumayan banyak, mungkin ada sekitar dua puluh orang. Setelah mendengarkan arahan dari Ustadz Adi, kami pun diberikan waktu bebas untuk bersiap-siap melaksanakan salat zuhur.


“Bagaimana perjalanannya tadi Mar?”


Ustadz Adi langsung menghampiriku yang sedang berada di tempat wudu.


“Lancar Ustadz, jalanan sepi.”


“Wajar saja hal itu, namanya juga sudah mau mendekati hari raya.”


“Oh iya Ustadz, ini teman-temanku yang saya ajak ke acara ini.”


Aku memperkenalkan Riki dan Maul yang baru saja selesai berwudu.


“Nama saya Maulana Ustadz, biasa dipanggil Maul.”


“Nama saya Riki.”


Riki dan Maul memperkenalkan dirinya kepada Ustadz Adi.


“Nama saya Adi, saya adalah mentor dari rohis di SMK Sawah Besar. kalian berdua dimana rumahnya?”


“Rumah kami berada dekat dengan rumah Amar Ustadz.”


“Hmm begitu.”


Ustadz Adi pun melihat jam tangan yang dia gunakan.


“Siapa di antara kalian yang ingin mengumandangkan azan?”


“Aku serahkan hal itu kepada Rian.”


Aku langsung menunjuk Rian yang baru saja selesai berwudu.


“Aku sih tidak keberatan jika kalian tidak keberatan juga.”


“Tenang saja, tidak ada satupun diantara kami yang keberatan akan hal itu.”


“Baiklah kalau begitu.”


Rian pun langsung menuju ke masjid untuk mengumandangkan adzan.


Tentu saja aku tidak mau menerima hal itu, karena aku kurang percaya diri dengan suara yang aku miliki. Begitu juga aku yakin Maul dan Riki juga memiliki masalah yang sama denganku. Dulu aku pernah mengumandangkan azan di masjid dekat rumahku, karena terlalu bersemangat, saat di tengah-tengah pelafalan nafasku habis dan saat itu aku langsung malu sekali karena ada beberapa temanku yang melihatku saat itu. Walaupun pada akhirnya Pak Ustadz tidak mempermasalahkan hal itu, tapi tetap saja aku ditertawakan oleh tamn-temanku.


“Oh iya Ustadz, siapa saja yang mengikuti acara pesantren kilat kali ini?”


“Pesantren kilat kali ini diikuti oleh rohis dari berbagai macam sekolah yang saya bina rohisnya dan juga ada beberapa dari remaja masjid sini.”


“Sekolah mana saja yang Ustadz bimbing memangnya?”


Riki pun ikut bertanya masalah itu.


“Untuk SMA sederajat, saya hanya membimbing SMK Sawah Besar saja, selebihnya saya kebanyakan membimbing tingkat SMP saja.”


“Berarti kita yang paling tua di sini ya.”


“Tidak.. Tidak... Ada beberapa remaja masjid sini yang berusia setara dengan kalian.”


“Hmmm jadi begitu.”


“Ustadz, bukankah acara ini dikhusukan untuk laki-laki saja?”


“Memangnya kenapa Mar?”


“Soalnya tadi saya melihat ada beberapa perempuan di masjid ini.”


“Oh begitu.”


Ustadz Adi pun langsung melihatku seperti saat Riki melihatku ketika aku habis pergi berdua bersama dengan seorang wanita.


“Mungkin perempuan yang barusan kamu lihat itu adalah remaja masjid sini, mereka memang sering datang ke sini untuk mengurus beberapa urusan di Masjid. Apalagi sekarang sudah mau hari raya, mereka sedang sibuk untuk mengurusi orang yang ingin membayar zakat fitrah.”

__ADS_1


Remaja masjid kah... Aku juga bergabung di remaja masjid rumahku. Karena dulu aku sering mengaji di sana saat kecil, jadinya secara otomatis aku sudah tergabung di sana. Dulu aku pernah berkata kalau remaja masjid adalah OSIS tapi versi barokahnya.


“Apakah ada perempuan yang menarik perhatianmu Mar?”


Kenapa Ustadz Adi juga harus bersifat seperti ini... Kenapa.


“Percuma Ustadz menanyakan hal itu kepada Amar.”


Ucap Riki sambil tersenyum kecil.


“Loh memangnya kenapa?”


Ustadz Adi yang sebelumnya tidak mengetahui bagaimana sikapku terlihat bingung sekali.


“Kalau saat ini banyak sekali perempuan yang suka dengan Amar, tapi Amar menolak mereka semua.”


“Kenapa kau mengatakan hal itu Rik?”


“Ternyata kamu terkenal juga ya Mar.”


Ustadz Adi pun tersenyum, tapi dari senyumannya aku tau kalau sebenarnya dia sedang meledekku.


“Pacaran itu dilarang dalam islam, jadi aku tidak mau pacaran.”


“Alah, kau bisa berkata seperti itu karena saat ini ada Ustadz Adi saja. Kalau tidak ada juga dia bilangnya kalau dia tidak mau menghabiskan uangnya dengan sesuatu seperti pacaran.”


Mereka semua pun tertawa kecil mendengar ucapan dari Maul.


Azan pun berkumandang dan kami pun mendengarkan azan dengan seksama. Setelah salat zuhur, kami langsung berkumpul di sebuah ruangan yang dibuat seperti kelas untuk mengikuti kajian bersama-sama.


Tema kajian yang dibawakan oleh Ustadz Adi adalah tentang keimanan, tujuan manusia diciptakan di dunia adalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah, semua hal yang kita lakukan di dunia akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak, manusia memiliki hukum untuk menentukan mana yang baik dan benar yaitu hukum syara yang di dalamnya terdapat wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Dengan mengikuti hukum syara, maka manusia dapan menentukan antara yang baik dan yang buruk menurut sang pencipta, karena menusia tidak bisa menentukan sendiri mana yang baik dan yang buruk. Kemudian setelah itu Ustadz Adi menjelaskan tentang bagaimana manusia bisa bangkin dengan mengunakan pemikirannya.


***


“Akhirnya selesai juga!”


Saat ini, aku, Maul, dan Riki sedang berbaring di salah satu sisi masjid. Kami berencana untuk mengistirahatkan otak kami setelah mendengarkan kajian yang sangat rumit sekali.


“Baru kali ini aku mendengarkan kajian yang seperti itu.”


Riki pun memejamkan matanya dan berniat untuk tidur sebentar.


“Aku juga tidak menyangka kalau kajian ini akan membuat kepalaku pusing. Biasanya aku mengantuk ketika mendengarkan kajian, tapi kali ini karena pembahasannya cukup menarik aku mendengarkannya dengan sangat fokus. Tapi semakin fokus aku mendengarkannya semakin pusing juga pikiranku dibuatnya.”


Maul pun menutup wajahnya dengan peci yang dia gunakan.


Ketika kami sedang rebahan Rian pun datang menghampiri kami.


Saat itu, aku sama sekali tidak melihat tanda-tanda dia kelelahan seperti kami setelah mendengar kajian dari Ustadz Adi. Padahal saat kajian, dialah yang paling serius memperhatikan dan sering sekali bertanya. Apa mungkin dia sering mendengarkan kajian seperti ini? Hebat sekali dia.


“Kalian semua mau ikut aku mencarikan makanan untuk berbuka tidak?”


“Bukannya seharusnya makanannya sudah disediakan?”


Aku pun langsung bangun dan merapikan pakaianku.


“Memang makanannya sudah disediakan, tapi itu untuk makan malam. Kalau untuk berbuka belum disiapkan sama sekali sama Ustadz Adi. Katanya biasanya ada warga yang memberikan makanan untuk berbuka, tapi karena banyak warga yang sudah pulang kampung, jadi tidak ada yang memberikan.”


“Aku rasa membeli makanan tidaklah buruk, sekalian mencari udara segar.”


Riki langsung bangun dari tidurnya dan dia terlihat segar sekali.


“Aku setuju denganmu, jalan-jalan sore sambl ngabuburit tidak buruk juga.”


Begitu juga dengan Maul.


Akhirnya kami pun pergi mencari makanan untuk berbuka. Setelah lama mencari penjual makanan di sana, sampailah kami di sebuah penjual yang menjual berbagai macam gorengan dan juga lontong.


Riki dan Rian langsung pergi menghampiri penjual tersebut untuk memesan makanan untuk berbuka. Aku melihat ke belakangku kalau Maul sedang memainkan ponselnya, karena penasaran aku pun pergi untuk menghampirinya.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


“Aku sedang memeriksa berita tentang penculikan yang saat ini sedang marak-maraknya.”


“Apakah kau masih berniat untuk menyelesaikan kasus itu Mul? Bukankah aku sudah bilang kepadamu kalau hal itu berbahaya.”


“Tenang saja Mar, aku hanya memeriksa kasusnya saja. Aku tidak berniat untuk menyelesaikannya seorang diri, apalagi tanpa bantuanmu. Itu sama seperti bunuh diri.”


Aku kira kau akan menjadi nekat dan berusaha untuk menyelesaikan kasus itu seorang diri.


“Tapi aku merasa kalau kita akan terlibat dengan hal itu?”


“Apa maksudmu?”


“Aku sudah mencaritahu tentang kasus ini dan kebanyakan kora yang diculik itu adalah perempuan dengan umur sekitar 13-18 tahun yang dimana itu adalah umur untuk orang yang masih duduk di bangku SMP dan SMA.”


Setelah diberitahu oleh Maul tentang hal itu, entah kenapa firasatku juga mengatakan demikian.


“Dan lagi kasus itu sedang marak di daerah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat yang dimana sekolah kita berada di dalam zona itu.”


“Kalau begitu kenapa belum ada pemberitahuan dari kepolisian tentang hal ini. aku belum mendengar satu pun berita yang membahas tentang hal ini di televisi.”


“Aku tidak tau kalau soal itu, tapi menurutku tinggal menunggu waktu saja hingga kasus itu diberitakan di televisi. Mungkin satu atau dua kasus lagi hingga berita itu naik.”


“Semoga saja aku tidak perlu melakukan hal yang merepotkan seperti itu.”


“Aku juga sama.”


Karena ini adalah hal yang sangat merepotkan. Berurusan dengan Takeshi dan OSIS hanyalah butiran debu yang ada di jalan dibandingkan hal ini, karena aku tidak tau siapa yang harus aku lawan.


“Oi Mar... Mul... Gorengannya udah jadi nih, ayo kita balik ke masjid.”


Riki memanggil kami yang masih berbincang jauh di belakang mereka.

__ADS_1


Dan kami pun kembali ke masjid untuk bersiap-siap menunggu waktu berbuka. Namun selama di perjalanan aku selalu terpikirkan oleh kasus yang diberitahu oleh Maul. Karena jika kasus ini memang sedang marak dan membahayakan, maka kemungkinan besar aku akan terlibat dalam hal ini. Tapi semoga saja itu hanya firasatku.


-End Chapter 56-


__ADS_2