
“Mau kemana kamu Mar?”
“Mau pergi dulu buat bakar-bakar dengan temanku.”
“Ini jangan lupa daging kambingnya dibawa.”
Ibuku memberikan satu kantung plastik yang berisikan daging sapi.
Hari ini adalah hari raya iduladha. Seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang, hari ini aku akan bakar-bakar di kantor bersama dengan Pak Hari dan yang lainnya. Setelah pagi harinya aku membantu Pak Ustadz dan para remaja masjid lainnya untuk memotong hewan kurban di masjid, sore harinya Pak Hari mengajakku untuk bakar-bakar di kantor. Pak Hari mengatakan hal ini untuk mengakrabkan diri dengan yang lainnya.
***
“Aku sudah mempersiapkan semuanya.”
Pak Hari memberikan tusuk sate dan pisau kecil kepadaku.
Aku sudah berada di atap dan aku sudah bertemu dengan Pak Hari yang sudah mempersiapkan semua kebutuhan kami untuk bakar-bakar.
“Ini daging yang aku dapatkan dari masjid setelah membantu di sana.”
Aku pun memberikan kantung plastik yang aku bawa kepada Pak Hari.
“Banyak sekali daging yang kau bawa Mar.”
Pak Hari pun menerima daging tersebut dan meletakannya di sebuah nampan.
“Ini hanya sedikit dari daging yang aku dapatkan dari masjid.”
“Memangnya apa yang kamu lakukan di sana?”
Tanya Pak Hari kepadaku.
“Amar adalah remaja masjid di sana, jadi setiap iduladha dia membantu dalam kegiatan kurban, makanya dia mendapatkan daging yang lumayan banyak.”
Maul pun mejelaskan hal itu kepada Pak Hari.
Sebenarnya tidak banyak juga daging yang aku dapatkan dari masjid. Aku hanya mendapatkan dua jatah saja, jatah panitia dan juga jatah masyarakat di sekitar masjid. Alasan kenapa aku mendapatkan banyak sekali daging
ketika iduladha, karena ibu dan bapakku selalu berkurban setiap tahunnya, jadinya aku mendapatkan bagian yang cukup banyak dari sapi yang dipotong.
“Aku tidak menyangka kalau kau suka berorganisasi juga Mar.”
“Aku melakukan itu karena guru ngajiku yang menyuruhku. Aku merasa tidak enak jika tidak membantunya.”
Tidak lama kemudian, datanglah Pak Febri dengan membawa sekantung besar yang di dalamnya berisi minuman yang sangat banyak.
“Sekarang di bawah sudah ada satpam?”
Pak Febri meletakan minuman-minuman yang telah dia bawa di atas meja.
“Iya, perusahaan di bawah yang menyewa satpam.”
“Tapi bukannya ini hari libur?”
“Aku yang mengundangnya untuk bakar-bakar. Aku hanya mengundang untuk orang-orang yang rumahnya dekat sini saja.”
“Oh begitu, lalu siapa yang membawa daging sebanyak ini?”
Pak Febri melihat ke arah daging yang sedang kami potong kecil-kecil.
“Amar yang membawanya.”
Ucap Pak Hari.
“Kerja bagus Mar.”
Kami pun membagi tugas dalam bakar-bakar kali ini. Aku dan Maul bertugas untuk memotong dagingnya menjadi bagian kecil lalu menusukkannya ke tusuk sate, sedangkan Pak Hari dan Pak Febri menyiapkan bakarannya.
“Bagaimana perkembangan komik yang sudah kalian koreksi?”
Tangannya Pak Hari tidak berhenti mengipasi arang yang ada di hadapannya.
“Aku sudah memeriksa semua komiknya dan semuanya sesuai dengan standar untuk pembaca di Indonesia, tidak ada komik yang aneh-aneh.”
Pak Febri menyalakan api di sebuah kertas yang sudah dia bawa.
“Aku juga sama, setelah banyak komik Jepang yang aku baca, sepertinya komik yang dibuat oleh komikus di Indonesia tidak ada yang aneh-aneh.”
“Lalu bagaimana perkembangan aplikasinya Mul?”
“Aplikasinya sudah siap semua, tinggal menunggu dirilis saja.”
__ADS_1
“Bagus, berarti kita bisa merilis aplikasinya sesuai dengan tanggal yang sudah kita sepakati di awal pertemuan.”
Pak Hari terlihat senang mendengar itu.
“Bagaimana tanggapan dari para komikus-komikus tentang aplikasi ini?”
Aku masih penasaran tentang hal itu setelah mendengar tanggapan dari Kak Rania.
“Banyak yang memberikan tanggapan positif tentang aplikasi ini dari para komikus, mereka berharap kalau aplikasi ini segera di rilis.”
“Temanku juga sudah ada yang mendaftar di web itu untuk ikut bergabung.”
“Itu sangat bagus Bri, semakin banyak komik yang tersedia di awal-awal perilisan, maka semakin menarik juga minat orang untuk membaca komik di aplikasi itu.”
“Akhirnya aku bisa tidur tenang juga.”
Sejak aku menerima tugas untuk membuat web dari Pak Hari sampai sekarang, aku sama sekali belum pernah tidur di bawah jam dua belas malam. Aku pasti tidur saat jam satu atau jam dua dini hari. Untung saja ketika pelajarannya Pak Febri, aku boleh izin ke UKS untuk tidur di sana sampai istirahat.
“Semangatlah Amar, sebentar lagi kau tidak perlu tidur larut malam lagi.”
Pak Hari pun menyemangatiku.
“Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan hal itu.”
“Tapi tenang saja, aku akan memanggil beberapa anak magang untuk membantu kalian ketika aplikasinya sudah dirilis.”
“Benarkah itu!? Itu sangat membantu sekali.”
Akhirnya pekerjaanku ada yang memegangnya juga. Padahal bekerja berdua dengan Pak Febri aku rasa sudah mudah, bagaimana jika ditambah orang lagi. Sepertinya nanti tidak ada pekerjaan yang akan kau kerjakan lagi. Apa dengan begitu aku tidak akan digunakan lagi? Kalau begitu ini sangat gawat sekali!
“Apakah kau juga perlu orang untuk membantumu menangani web dan aplikasinya Mul?”
“Aku hanya butuh satu orang lagi untuk menangani webnya. Kalau untuk aplikasi, aku bisa menanganinya sendiri.”
Woah! Seperti yang aku harapkan dari Maul, dia sangat bisa diandalkan.
“Kalau begitu aku akan segera membuka lowongan magang dari sekarang agar ketika aplikasinya sudah rilis, para anak magang itu sudah bisa bekerja.”
Oh iya aku hampir saja melupakannya, kalau minggu depan aplikasinya sudah rilis. Aku tidak menyadarinya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan yang aku kerjakan saat ini.
“Apa Pak Hari tidak berniat untuk membeli kursi dan meja untuk kantornya, karena aku melihat kantor yang sekarang terasa kosong sekali, bahkan kita rapat saja masih menggunakan tikar.”
“Kalau begitu...”
Maul sudah terlihat sangat bersemangat sekali.
“Tapi untuk ruang rapat sepertinya kita masih menggunakan tikar saja. Aku akan membeli kursi dan meja untuk ruang rapat ketika sudah memiliki karyawan. Karena uang yang aku miliki sudah tidak ada lagi untuk membeli hal itu.”
“Sayang sekali, Tapi kalau dipikir-pikir lagi duduk di tikar tidak terlalu buruk juga.”
Maul pun menjadi lemas kembali.
Kami pun mulai membakar satenya setelah semuanya sudah siap. Setelah satenya matang, Pak Hari membagikan sebagian satenya kepada para satpam yang berada di bawah sedang menjaga kantor. Padahal sebelumnya Pak Hari memanggilnya untuk makan bersama di atap, tapi mereka sepertinya tidak enak untuk bergabung bersama kami.
Kami pun menyantap sate itu walaupun Pak Hari belum kembali.
“Mar, Mul! Sebentar lagi UTS akan dimulai, kalian harus mempertahankan nilai kalian saat UTS nanti, jangan sampai turun sedikitpun.”
“Tenang saja.”
Aku dan Maul menjawab peringatan Pak Febri dengan kompak.
“Aku merasa heran dengan nilaimu akhir-akhir ini. Walaupun kau sedang mengerjakan sesuatu dan kau terlihat selalu menghabiskan waktu di pekerjaanmu, tapi kenapa nilaimu tidak pernah turun sama sekali Mar?”
“Memang dari awal aku tidak pernah belajar Pak, itulah kenapa nilaiku masih sama saja seperti sebelumnya tidak peduli ada kerjaan yang mengganggu atau tidak. Selama aku masih mendengarkan guru menerangkan di kelas itu sudah cukup.”
“Pantas saja, tapi hebat sekali kau dapat melakukan itu dengan mudah. Soalnya aku pernah menawarkan beberapa pekerjaan kepada para murid, tapi gara-gara pekerjaan yang aku berikan kepada mereka, sekolah mereka pun menjadi terbengkalai.”
“Itu semua juga berkatmu Pak, kalau kau memberikan tugas yang banyak saat aku mengerjakan pekerjaanku, mungkin pekerjaanku bisa terbengkalai.”
Hal itu tentu saja, karena walaupun aku sedang mengerjakan sesuatu yang menghasilkan uang, tapi jika itu sudah mengganggu sekolahku, aku pasti akan meninggalkan itu. Karena saat ini sekolah lebih penting dari apapun. Kalau uang, aku bisa mencarinya ketika aku telah lulus.
Mungkin banyak orang yang berkata kalau kesempatan bagus tidak terjadi dua kali. Namun menurutku, sebuah kesempatan bagus itu terjadi karena usaha yang kita lakukan, selama kita melakukan hal sama seperti yang kita lakukan dulu, maka kesempatan bagus itu bisa saja terjadi lagi.
“Nilai Maul juga akhir-akhir ini tidak ada yang turun, bahkan kadang-kadang meningkat.”
“Darimana Pak Febri tau itu?”
Ucap Maul.
“Aku sempat menanyakannya kepada guru produktif RPL. Karena jika seandainya nilai Maul menurun, itu adalah kesalahanku juga karena memberikan pekerjaan seperti ini.”
__ADS_1
“Tenang saja, aku sering melakukan pekerjaan seperti ini Pak.”
“WAh! Kalian sudah memulainya duluan.”
Pak Hari pun kembali setelah memberikan sate kepada para satpam dan bergabung dengan kami menyantap satenya.
“Oh iya Bri, apa kau masih memainkan gim Dito2?”
“Masih, bahkan aku sering bermain gim itu bersama dengan Amar dan Maul.”
“Apa Pak Hari juga tau tentang gim itu?”
Sebenarnya aku ragu menanyakan ini karena aku melihat kalau Pak Hari bukanlah orang yang mau menghabiskan waktunya untuk bermain gim.
“Kalau sekedar tau, aku tau. Tapi aku tidak memainkan gim itu karena tidak ada waktu untuk memainkannya.”
Dugaanku benar lagi, entah kenapa aku merasa kalau kehidupan masa mudanya Pak Hari suram sekali karena selalu bekerja dan bekerja. Aku rasa tidak ada salahnya jika dia berhenti sejenak untuk mengistirahatkan dirinya
dari pekerjaan yang melelahkan ini. Mental seorang atasan memang berbeda.
“Tapi kenapa kau bertanya tentang itu Ri?”
“Aku sebenarnya tertarik untuk membuat tim esport di bidang gim tersebut. Karena aku memiliki beberapa kenalan yang sudah menjalankan bisnis di bidang itu dan banyak dari mereka yang berhasil.”
Esport ya... Memang sekarang ini banyak sekali orang yang memiliki profesi sebagai professional player atau biasa disingkat dengan pro player.
“Itu ide bagus menurutku, aku mau mengelolanya untukmu jika kau ingin membuat itu.”
Pak Febri terlihat sangat bersemangat sekali. Memang tidak ada yang bisa mengalahkannya jika sedang berbicara tentang gim. Aku saja pernah sekali dipanggil olehnya ke lab saat sedang jam pelajaran hanya untuk bertanya barang apa yang bagus saat itu.
“Tapi aku belum tau bagaimana cara untuk membangun perusahaan seperti itu dari awal. Sepertinya jika aku ingin membuatnya, aku akan bertanya kepada teman-temanku.”
“Kau bisa pikirkan itu ketika perusahaan ini sudah berjalan dan berkembang. Untuk saat ini kita harus fokus kepada yang ini dulu.”
“Kau benar, pertama-tama kita sukseskan dulu perusahaan ini dan mulai membangun perusaan yang baru.”
Apakah mereka berdua tidak bercanda? Memangnya mereka berdua lupa betapa melelahkannya membangun usaha dari awal. Tapi aku rasa kalau bekerja sesuai dengan apa yang kita suka tidak akan terlalu melelahkan.
***
“Pak Hari beruntung sekali ya memiliki teman seperti Pak Febri yang mau membantunya tanpa bayaran sedikitpun.”
Ucap Maul kepadaku.
Saat ini kami berada di dalam bis yang menuju ke arah Cibubur. Kami sedang memandang ke luar jendela melihat barisan mobil yang sangat panjang sekali.
“Sebenarnya aku juga sedikit terkejut ketika mendengar Pak Febri yang ingin bekerja tanpa di bayar sedikitpun. Padahal ketika sedang berbicara denganku tentang bayaran dari pekerjaan yang aku dapatkan darinya, dia sangat ketat sekali dalam membahas hal itu.”
“Aku rasa ketika semasa sekolah dulu, Pak hari dan Pak Febri adalah teman dekat seperti Kita berdua dan juga Riki.”
“Sepertinya begitu.”
Bis kami pun berjalan sedikit demi sedikit mengikuti arus kemacetan yang sangat panjang sekali.
“Apakah kita juga bisa seperti itu ya Mar?”
“Selama tidak ada hal konyol yang dapat menghancurkan pertemanan, aku yakin kalau kita bertiga bisa seperti itu.”
Aku pun melirik kepada Maul.
“Apa yang dimaksud hal konyol di sini?”
“Tentu saja cinta.”
Karena aku pernah hampir bertengkar dengan Maul hanya karena masalah Miyuki dan itu akarnya adalah cinta, dan juga kalau aku tidak menjelaskan tentang rencana yang dibuat Kirana saat SMP, mungkin aku juga sudah bertengkar dengan Riki hanya karena masalah itu. Alasan awal kenapa aku tidak bisa berteman dengan Takeshi juga karena itu. Mungkin jika aku bertemu dengan Takeshi tanpa ada Miyuki di sana, mungkin hubunganku dan Takeshi akan jauh berbeda seperti sekarang ini.
“Kali ini aku setuju denganmu, aku dulu pernah marah sekali kepadamu karena aku kira kalau kau juga mengincar Miyuki. Saat ini aku merasa bodoh sekali karena menuduh orang yang anti dengan yang namanya pacaran seperti itu.”
Ohh... ternyata dia merasa, aku kira dia tidak merasa sama sekali.
“Selama kita saling percaya antara satu dengan yang lainnya, aku yakin kalau hubungan kita bisa lebih kuat dari Pak Hari dan Pak Febri.”
“Semoga saja itu yang terjadi.”
Pertemanan kah... Ketika sedang membahas ini entah kenapa pikiranku selalu teringat dengan teman masa kecilku saat itu, karena hanya dialah yang aku anggap sebagai teman saat itu. Aku juga sudah lama tidak mengunjungi makamnya karena aku tidak mau mengingat masa-masa ketika sedang berasama dengannya. Karena ketika aku mengenang masa-masa itu, hatiku merasa sakit dan aku malas untuk melakukan apa-apa. Mungkin lain kali aku akan mengunjungi makamnya untuk melepaskan semuanya di sana, aku tidak bisa seperti ini terus menerus.
Hei... Apakah kau sedang melihatku di alam sana? Kalau kau sedang melihatku saat ini, aku ingin kau melihat kalau aku bisa juga mendapatkan teman-teman yang aku percayai. Dulu kau sering meledekku tentang hal itu, kau selalu berkata kalau aku adalah penyendiri yang tidak mungkin mempunyai teman, tapi itu semua salah. Saat ini aku memiliki beberapa teman yang dapat aku percayai walaupun tidak banyak. Jadi kau tidak usah khawatir, aku pasti akan menjalani hidup seperti yang kau inginkan, walupun aku masih tidak bisa menerima cinta karena kepergianmu, tapi suatu saat akan datang seseorang yang dapat mengisi kekosongan atas kepergianmu itu.
Bicara apa aku ini, aku yakin dia juga tidak dapat mendengarku di sini, karena dia sudah tenang di alam sana.
-End Chapter 73-
__ADS_1