Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 101 : Apa Aku Bisa Menyebutnya Kepala Sekolah Idaman?


__ADS_3

Class Meeting atau biasa disingkat dengan Class Meet adalah acara yang diadakan setiap akhir semester dengan mempertemukan setiap kelas di dalam perlombaan yang akan dipertandingkan. Biasanya perlombaan yang dipertandingkan di dalam Class Meet berasal dari cabang olahraga futsal dan basket.


Kesempatan ini banyak digunakan oleh murid-murid yang memiliki kemampuan olahraga yang baik dan wajah yang tampan untuk menaikan ketenaran mereka dikalangan murid-murid apalagi perempuan yang ada di sekolah ini.


Saat ini aku sedang berada di pelantara masjid untuk sekedar beristirahat saja di sana bersama dengan beberapa murid lainnya.. Aku pun bemain gim di ponselku sambil tiduran untuk menghabiskan waktuku. Karena alasanku masuk hari ini hanya untuk mengetahui apakah ada nilaiku yang perlu diremedial.


Hari ini indah sekali.


Aku merasakan kenyamanan lantai masjid yang dingin dan udara sejuk yang berhembus di sekitar sana.


“Oi Mar!”


Aku melihat ke atas kepalaku dan ternyata ada Pak Febri di sana.


“Ada apa Pak?”


Aku bagun dan sedikit membenarkan pakaianku yang berantakan.


“Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kau tidak bergabung dengan anak-anak kelas lainnya di gedung olahraga.”


“Tidak, aku lebih suka berada di sini sambil menunggu info jika ada nilaiku yang diremedial.”


Karena jarak mading untuk melihat pengumuman nama-nama murid yang mengikuti remedial lebih dekat dari masjid dibandingkan dari gedung olahraga.


“Kau memangnya tidak ikut bermain futsal?”


“Tidak, sudah ada Riki dan Akbar yang melakukannya. Aku tidak begitu jago dalam bermain futsal.”


Karena dari dulu aku tidak pernah diajak oleh teman-temanku bermain. Pernah sih sekali aku ikut mereka pergi untuk bermain futsal, tapi aku hanya berada di bangku cadangan tanpa dimainkan sebentar saja.


“Kalau begitu kita pergi ke lab saja yuk!”


Aku sudah mengetahui Pak Febri ingin mengajakku bermain gim di sana. Inilah yang aku tunggu-tunggu.


“Memangnya labnya tidak terkunci.”


Kemudian aku melihat Pak Febri yang memutar-mutar kunci dihadapanku. Sudah pasti itu adalah kunci labnya.


Akhirnya aku pun pergi bersama dengan Pak Febri ke lab. Selama di perjalanan, kami bercerita tentang Pak Febri yang selalu kalah dalam bermain gim akhir-akhir ini karena aku dan Maul tidak bermain menemaninya.


“Sudah hampir seminggu aku tidak mendapatkan kemenangan, musuh-musuhku kali ini sangat susah sekali.”


Keluh Pak Febri kepadaku.


“Aku juga sudah jarang bermain gim itu sejak bekerja di Pak Hari.”


“Apa pekerjaannya sesibuk itu?”


“Tidak, aku hanya sedang bermain gim lain dengan teman-temanku.”


“Oh begitu.”


Sebenarnya teman yang aku maksudkan di situ hanya Misaki. Karena aku pernah sekali mengajak Misaki untuk bermain gim yang aku mainkan dengan Pak Febri, tapi dia tidak pernah bisa memainkannya. Dia memang menonton perkembangan dari gim itu, tapi dia tidak bisa memainkannya. Daripada daftar riwayatku bermain tercemari dengan kekalahan, jadi lebih baik aku bermain gim yang Misaki bisa saja.


Ketika kami sampai di lab, ternyata pintu labnya tidak terkunci. Dan saat kami membuka pintunya, di sana terdapat beberapa guru yang sedang menggunakan beberapa komputer juga.


“Apa tidak masalah menggunakan komputer lab untuk bermain gim di saat seperti ini?”


“Tenang saja, kepala sekolah juga sudah tau kalau aku sering bermain gim di lab.”


Hebat sekali Pak Febri tidak dimarahi walaupun sudah ketauan seperti itu. Apa kepala sekolah di sekolah ini memang orangnya sesantai itu.


“Kenapa kepala sekolah mengizinkanmu bermain di sini, memangnya dia tidak marah sedikitpun karena itu?”


“Itu tidak akan, aku pernah berbicara dengan kepala sekolah untuk membuka ekskul esports di sekolah ini untuk diikutkan ke pertandingan-pertandingan.”


“Apa kepala sekolah mengizinkan itu?”


“Tentu, dia malah senang karena dengan bermain gim bisa bermanfaat seperti itu. Bahkan aku juga menjelaskan kepadanya tentang bagaimana penghasilan dari para pro player yang sudah sering memenangkan pertandingan.”


Aku tidak tau apa yang dipikirkan kepala sekolah di sekolah ini. Sepertinya dia kepala sekolah yang sangat berbeda dari kepala sekolah yang pernah aku temui.


“Kepala sekolah di sekolah ini sangat mendukung semua muridnya untuk memiliki prestasi di bidang manapun, bukan hanya bidang akademi saja. Itulah mengapa dia mewajibkan bagi muridnya untuk mengikuti kegiatan ekskul, dan sangat mengapresiasi sesuatu yang dapat meningkatkan prestasi dari para muridnya.”


“Hmm... Begitu.”


Aku dan Pak Febri mulai berjalan ke komputer yang biasa kami gunakan untuk bermain gim.


Aku juga melihat ke layar komputer dari guru-guru yang ada di sana. Ada beberapa yang sepertinya sedang sibuk dengan urusan nilai, ada beberapa yang mengerjakan sesuatu, dan juga ada yang bermain gim.


“Aku juga sudah menyelesaikan masalah dengan Akbar.”


Pak Febri menyalakan komputernya.


“Apa Akbar mengatakan sesuatu?”


“Beberapa hari sebelum UAS, dia datang menemuiku untuk berbicara tentang masalahnya. Katanya, dia harus bekerja untuk membantu keuangan keluarganya yang saat ini sedang menurun. Itulah kenapa dia tidak bisa mengikuti kegiatan ekskul.”


Apa yang dikatakan Akbar sama seperti yang dia katakan denganku waktu di tempat kerjanya. Berarti bisa aku pastikan kalau dia tidak berbohong waktu itu.


“Apa kau memiliki solusi dari masalah ini?”


“Aku berniat untuk memberikan dia beberapa pekerjaan agar dia bisa mendapatkan penghasilan dan juga mengikuti kegiatan ekskul.”


“Itu ide bagus.


“Apa saat ini di kantor tidak ada tempat kosong untuk Akbar?”


Tempat kosong ya...


“Aku tidak tau, aku belum berbicara dengan Pak Hari masalah itu.”


“Kenapa kau tidak mencoba memasukannya ke sana saja Mar?”


“Aku baru saja memasukan Riki ke kantor. Aku tidak enak jika harus memasukkan orang lagi, kecuali Pak Hari sedang mencari karyawan magang baru. Baru aku akan mencoba memasukkan Akbar ke sana.”


Aku tidak mau disangka menggunakan kekuasanku untuk memasukkan teman-temanku. Setidaknya aku harus memiliki alasan yang kuat untuk bisa memasukkan Akbar ke sana.

__ADS_1


“Mungkin aku akan memberikannya beberapa pekerjaannya terlebih dahulu.”


“Apa Akbar sudah mulai mengikuti kegiatan ekskulnya?”


“Minggu terakhir sebelum UAS, dia sudah datang sekali saja dari tiga pertemuan yang ada. Tapi itu sudah lumayan dibandingkan dia tidak datang sama sekali.”


Tiga pertemuan, banyak sekali pertemuan yang diadakan selama seminggu. Mungkin aku termasuk beruntung karena ekskulku hanya ada satu pertemuan saja selama seminggu.


“Apa itu tidak masalah?”


“Tidak, selama ada laporan dia mengikuti ekskul, itu tidak menjadi masalah. Lagi pula aku bisa memanipulasi datanya sebelum menyerahkannya ke kesiswaan.”


Pak Febri tersenyum jahat saat mengatakan hal itu.


“Itu tidak baik.”


“Aku tau itu, aku hanya akan melakukannya jika dalam keadaan darurat saja.”


Keadaan darurat apa yang mengharuskan dia melakukan hal seperti itu. Lagi pula kalau Pak Febri menjelaskan masalah yang dimiliki Akbar kepada kesiswaan dan kepala sekolah tanpa mengatakan kalau Akbar sedang bekerja, kemudian mengatakan kalau Akbar harus membantu orang tuanya di rumah, aku rasa mereka dapat memakluminya.


Apalagi setelah mendengar kalau kepala sekolah di sekolah ini sepertinya terdengar baik.


“Memangnya kau tidak ingin membicarakan ini dengan kedua orang tuanya Akbar Pak?”


“Aku juga sempat menyinggung tentang hal itu kemarin, tapi Akbar selalu mengalihkan dan menghindari pertanyaan itu.”


Hmmmm... Aku semakin penasaran dengan apa yang sedang dialami Akbar. Memang ini sedikit ikut campur masalah orang, tapi entah kenapa rasa penasaranku sangat kuat sekarang.


Ketika itu, bayangan Miyuki terbesit di kepalaku.


Kenapa di saat seperti ini aku membayangkan dia? Mungkin kalau sedang seperti ini, aku jadi mengingatnya karena hanya dia saja yang memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi.


“Apa kau belum pernah bertemu dengan orang tuanya Akbar Pak?”


“Jangankan orang tua Akbar, orang tuamu saja aku belum pernah ketemu. Aku hanya bertemu dengan orang tua murid ketika acara pengambilan rapot saja, dan baru minggu depan acara itu dimulai.”


Benar juga.


“Apa kau penasaran dengan nilai-nilaimu Mar?”


“Tidak juga.”


Aku yakin kalau aku menjawab penasaran, Pak Febri tidak akan memperlihatkannya kepadaku.


“Kenapa begitu?”


Pak Febri terlihat kecewa sekali karena rencananya gagal.


“Selama nilaiku sudah dapat membuatku naik kelas, itu sudah cukup.”


“Apa kau tidak mau mengincar peringkat di dalam kelas? Sekolah ini juga akan memberikan hadiah kepada murid-muridnya yang mendapatkan peringkat tiga besar di dalam kelas loh.”


“Sekolah ini baik sekali, memangnya dari mana sekolah ini mendapatkan pemasukan selain dari pemerintah?”


Karena tidak mungkin kalau uang dari pemerintah masih bisa memberikan hadiah-hadiah seperti untuk acara Class Meet dan peringkat itu.


“Memangnya kau tidak tau?”


Pak Febri pun membuka ponselnya dan menunjukkan kepadaku.


“Sekolah ini memiliki halaman web yang didalamnya menjual barang-barang yang dihasilkan oleh para murid.”


Aku melihat website itu dan di sana terdapat banyak sekali barang yang terjual. Ada kaus yang memiliki desain, ada novel dan buku yang dihasilkan dari klub sastra, dan masih banyak lagi.


“Aku baru tau kalau di halaman web sekolah dijual barang-barang seperti ini.”


“Semua barang-barang itu dibuat oleh murid-murid di sekolah ini saat kegiatan ekskul. Sebagian pendapatan dari barang yang terjual diberikan kepada muridnya, dan sebagian lagi untuk sekolah. Itulah kenapa sekolah memiliki pendapatan tambahan.”


Kalau tau seperti itu, bukannya lebih baik Akbar mengikuti ekskul yang dapat menghasilkan uang. Ya, tapi uang yang didapatkan tidak sebanyak jika kau bekerja secara langsung sih. Mungkin kalau untuk menambah-nambah uang jajan saja sudah cukup.


“Jadi, kau tidak tertarik untuk mengejar peringkat di kelas?”


“Apa kau lupa kalau aku juga bekerja? Rasanya sulit sekali kalau melakukan dua hal itu secara bersamaan.”


Sebenarnya aku bisa saja mengejar peringkat pertamaku dengan banyak-banyak belajar ketika di rumah karena pekerjaanku tidak terlalu banyak dan hanya memeriksa laporan-laporan saja. Hanya saja aku tidak mau mengurangi waktu bermain gimku saja.


“Kalau kau tidak peduli dengan nilaimu, kenapa kau masuk hari ini?”


“Aku hanya menunggu informasi jika nilaiku ada yang diremedial dan juga untuk mendapatkan uang saku dari orang tuaku.”


“Walaupun sudah bekerja kau masih dapat jatah dari orang tuamu Mar?”


“Aku belum memberitahukan pekerjaanku kepada orang tuaku.”


“Kenapa?”


Kalau ditanya kenapa aku juga sebenarnya juga bingung mau menjawab apa.


“Aku memang sengaja tidak memberitahukannya, biar saja waktu yang menjawab semuanya.”


“Apa kau takut orang tuamu marah jika mengetahui kalau kau bekerja?”


“Orang tuaku jarang sekali marah dengan apa yang dilakukanku selama itu baik.”


Kalau diingat-ingat, aku tidak pernah mengingat orang tuaku memarahiku. Paling terakhir kali itu terjadi lama sekali, saat aku masih kecil. Ketika itu aku membuat Nadira menangis karena memakan semua makanannya yang ada di kulkas. Tapi aku tidak menganggap hal itu kalau mereka marah, aku hanya menganggap kalau mereka hanya menasihatiku saja.


“Aku senang mendengar hal itu. Aku akan merasa bersalah jika seandainya orang tuamu tidak menyetujuinya, karena aku yang menyuruhmu untuk bekerja.”


“Tenang saja, kalau itu terjadi aku dapat menjelaskannya kepada mereka.”


Kami pun mulai bermain gim kami.


Waktu demi waktu berlalu dengan sangat cepat. Ketika kami sedang bermain, aku melihat ada seseorang yang masuk ke dalam lab dan berjalan menghampiriku. Karena saat ini aku sedang fokus dengan gim yang aku mainkan, aku jadi tidak bisa melihat siapa orang yang baru saja masuk itu.


“Serius sekali kamu bermain gimnya Mar.”


Suara ini...

__ADS_1


Karena karakterku di dalam gim sudah mati dan sedang menunggu waktu untuk hidup kembali. Aku melihat siapa orang yang saat ini sudah duduk di sampingku.


“Kenapa kau berada di sini?”


Aku melihat Miyuki yang saat ini sedang duduk dan memperhatikan kami berdua bermain gim.


“Aku sedang ingin mencari suasana baru saja.”


“Apa kau tidak mendukung teman-teman kelasmu yang sedang bertanding?”


“Sudah ada orang lain yang menggantikannya.”


“Sejak kapan gaya berbicaramu sama sepertiku.”


Mendengar itu membuat Miyuki tertawa kecil.


Karakterku pun hidup kembali dan aku mulai fokus dengan gimku lagi.


“Selama siang Pak Febri.”


Miyuki menyapa Pak Ferbi.


“Siang Miyuki.”


“Kau sendirian saja, Dimana Rina?”


Aku bertanya kepadanya.


“Rina sedang membantu wali kelasku.”


“Kenapa kau tidak membantu juga?”


“Aku bukan pengurus kelas, jadi aku tidak disuruh untuk melakukan itu.”


Yah, setidaknya jika dia hanya memperhatikanku tanpa banyak berbicara. Aku tidak terlalu mempermasalahkan kehadirannya di sini.


“Dari mana kau tau kalau aku berada di sini?”


“Aku tidak sengaja melihatmu dan Pak Febri pergi dari masjid. Karena aku sudah tau kalau kamu pasti pergi ke lab, aku jadinya pergi ke sini saat bosan menonton pertandingan... Apa ini gim yang sering kamu mainkan dengan Misaki?”


Miyuki langsung melihat gim yang aku mainkan dengan seksama.


“Gim yang sering aku mainkan dengan Misaki berbeda dangan yang ini. Aku tidak pernah memainkan gim ini dengan Misaki.”


Karena dia payah dalam bermain gim ini.


Aku mencoba untuk memfokuskan perhatianku ke dalam gimnya.


“Walaupun ada Miyuki, kau masih bisa mengabaikannya ya Mar.”


Pak Febri tersenyum kecil.


“Saat ini aku sedang fokus dengan gimku, kalau aku tidak fokus nanti kita bisa kalah.”


“Bukan kasihan Miyuki didiamkan seperti itu?”


“Aku sudah biasa didiamkan oleh Amar kok Pak.”


Entah kenapa aku merasa tersudutkan di sini.


“Amar orangnya memang sedikit dingin, tapi dia anak yang baik.”


“Aku tau itu.”


Huh... Kenapa mereka berdua sibuk membicarakanku.


“Apa yang kalian berdua bicarakan!”


Aku sedikit kesal mendengar pembicaraan mereka berdua.


“Hahahahahaha...”


Sepertinya memang niat awalnya Pak Febri untuk membuatku kesal saja.


“Lebih baik kau fokus dengan gimmu Pak.”


“Karakterku sudah mati dan aku sedang menunggunya untuk hidup kembali.”


Pantas saja dia bisa berbicara santai seperti itu.


“Apa kamu akan ikut pertandingan basket nanti Mar?”


Tanya Miyuki kepadaku.


“Aku tidak tau, tapi sepertinya tidak.”


“Kau harus ikut pertandingan itu Mar.”


Ucap Pak Febri.


“Kenapa?”


“Karena yang menang akan mendapatkan piala.”


Hah!? Apa Pak Febri bercanda mengatakan itu.


“Ya... Hanya sebuah piala.”


“Mungkin bagimu piala itu tidak terlalu penting, tapi ada beberapa murid di kelas yang sangat ingin mendapatkannya.”


“Baiklah, aku akan memikirkannya lagi.”


Mungkin tidak ada salahnya mendapatkan piala itu untuk teman-temanku di kelas. Lagi pula sejak kapan sifatku egois seperti itu, apa memang sifatku dari awal sudah egois tapi aku tidak pernah menyadarinya ya?


“Lihat kan, dia memang anak yang baik.”


Mendengar ucapan dari Pak Febri membuat Miyuki tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Ternyata mempertemukan Miyuki dan Pak Febri adalah sesuatu yang sangat menjengkelkan. Aku tidak tahan ini, lebih baik aku fokus dengan gimku saja dan mengabaikan pembicaraan mereka berdua.


­-End Chapter 101-


__ADS_2