Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 104 : Pengambilan Rapot.


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang berarti... Bagi orang tuaku, bukan untukku. Karena hari ini adalah hari dimana hasil dari nilaiku selama satu semester keluar. Hari ini biasanya adalah hari yang sangat menakutkan bagi anak-anak yang merasa kalau nilainya mereka tidak terlalu bagus, karena hal itu dapat mengundang amarah dari orang tua mereka.


Tapi aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu, karena orang tuaku tidak pernah marah kepadaku.


Ya, hari ini adalah hari pengambilan rapot


Saat ini aku pergi bersama kedua orang tuaku, dan juga dengan Riki beserta dengan ibunya. Kami berangkat bersama menggunakan mobil milik keluargaku.


Kami semua pergi ke kelas untuk mengikuti acara pengambilan rapot itu kecuali bapakku yang memutuskan untuk menunggu di mobil.


Aku setuju dengan keputusan yang diambil oleh bapakku, karena buat apa kedua orang tuaku ikut ke kelas. Memangnya mereka ingin mengantarkan seorang anak kecil yang pertama kali masuk ke sekolah.


Ketika kami sampai di kelas, aku bertemu dengan Pak Hari yang sudah berada di sana sedang duduk dan bermain dengan ponselnya.


“Hai Mar! Kau sudah datang.”


Pak Hari memasukan ponselnya dan berbicara denganku.


“Pagi Pak, cepat sekali bapak datangnya.”


“Iya, Natasha menyuruhku untuk datang buru-buru karena dia harus membantu Febri di kelas.”


Aku tidak melihat Natasha ada di sekitar sana.


“Apa yang dibelakangmu itu ibumu?”


“Iya... Bu perkenalkan ini Pak Hari, kakaknya Natasha teman sekelasku.”


Aku memperkenalkan Pak Hari kepada ibuku.


“Saya ibunya Amar.”


“Saya Hari Bu.”


“Sepertinya kalian berdua terlihat dekat sekali.”


Ibuku mulai basa-basi dengan Pak Hari.


“Iya Bu, soalnya kami sering bertemu ketika Amar pergi main ke rumah.”


Pak Hari... Kau memang berniat membantuku untuk tidak mengatakan kalau aku bekerja di kantormu, tapi kenapa kau harus mengatakan itu juga sebagai alasannya.


Ibuku pun melihat ke arahku dengan tatapan sinis.


Matilah aku...


Ibuku pun duduk di kursi yang masih kosong bersama dengan ibunya Riki.


“Kenapa kau harus mengatakan hal itu?”


Aku keberatan dengan apa yang dikatakan Pak Hari barusan.


“Aku bingung harus berkata apa, habisnya aku tidak boleh mengatakan kalau kau sedang bekerja.”


“Ah! Jangan katakan itu keras-keras.”


Aku menyuruh Pak Hari untuk mengecilkan suaranya.


Aku melihat ke arah ibuku dan ternyata dia sedang asik berbicara dengan ibunya Riki. Jadi dia tidak mendengar apa yang baru saja Pak Hari katakan.


Kemudian Kichida dengan seorang wanita yang berada di sampingnya. Dapat aku simpulkan kalau itu adalah ibunya. Ya kalau bukan dia memangnya siapa lagi.


“Apa tempat ini kosong?”


Ibunya Kichida bertanya kepada Pak Hari karena tempat duduk di samping Pak Hari belum ada yang mengisi.


Aku dapat mendengar kalau Ibunya Kichida belum terlalu lancar mengucapkan bahasa Indonesia.


“Kosong Bu, silahkan.”


Pak Hari terlihat sedikit gugup.


“Ada orang Jepang Mar!”


Pak Hari berbisik kepadaku.


“Kenapa kau terkejut seperti itu? Bukannya seharusnya kau sudah mengetahui hal itu saat aku mengajak teman-temanku ke kantor ketika pesta.”


“Waktu itu aku tidak terlalu memperhatikan.”


“Hai Mar!”


Kichida menyapaku.


“Yo!”


“Itu siapa lagi Mar?”


Ibuku yang duduk tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang bertanya kepadaku.


“Dia teman sekelasku, namanya Kichida.”


“Salam kenal Bu, saya teman sekelasnya Amar. Nama saya Kichida.”


Kichida memperkenalkan diri dengan sangat sopan.


“Kenapa kamu sekarang banyak sekali teman orang Jepang Mar?”


“Hal ini terjadi sejak aku berkenalan dengan Miyuki.”


“Oh iya, kelasnya Miyuki dimana?”


“Kelasnya Miyuki ada di lantai atas.”


Pasti ibuku akan memintaku untuk mengantarnya ke sana setelah ini.


“Sepertinya setelah ini aku akan pergi menemuinya terlebih dahulu sebelum pulang. Kebetulan Dian juga datang untuk mengambil rapot.”


Sepertinya itu bukan sebuah kebetulan.


Pak Febri memasuki kelas dengan membawa beberapa rapot dan sebuah map di tangannya. Saat dia baru saja duduk di meja guru, pandangannya langsung tertuju ke arahku dan juga Riki.


Pasti dia akan menyuruhku untuk pergi ke ruang guru untuk mengambil rapot.


“Riki.. Amar... Kalian berdua pergi ke ruang guru untuk mengambil rapot yang tersisa.”


“Kenapa kau tidak memberikan pesan saja sebelum aku sampai di kelas Pak, Apa kau lupa kalau jarak dari kelas ke ruang guru lumayan jauh.”


“Aku tidak tau itu.”


“Amar! Kamu tidak sopan sekali dengan gurumu.”


Suara Ibuku sedikit meninggi.


Aku lupa kalau sekarang ada ibuku di sini, aku tidak bisa berbicara dengan Pak Febri seperti biasanya.


“Hahahahaha... Tenang saja Bu, Amar memang biasa seperti itu.”


Pak Febri hanya tertawa kecil saja.


“Jangan pernah lakukan itu lagi Mar! Itu tidak sopan bersikap seperti itu kepada orang yang lebih tua darimu.”


Aku pun dimarahi habis oleh ibuku dan banyak sekali orang yang memperhatikanku saat ini. Aku malu sekali.


“Tidak apa-apa Bu, aku sudah menganggap Amar sebagai teman soalnya. Jadi interaksi kami memang seperti itu saat di sekolah.”


“Maafkan atas sifat anakku Pak.”


Ibuku meminta maaf kepada Pak Febri.


Aku dan Riki pun pergi menuju ke ruang guru untuk melarikan diri dari hal itu.

__ADS_1


“Kau dimarahi habis-habisan ya!”


Riki tersenyum puas sekali melihat hal itu.


“Senang sekali kau melihatku terkena marah seperti itu.”


“Lagian kau sendiri yang berkata seperti itu saat ada ibumu.”


“Aku lupa.”


Dan lagi aku sudah terbiasa berbicara kepada Pak Febri seperti itu, jadi mau bagaimana lagi.


Ketika aku sampai di ruang guru, aku melihat Rina seorang diri berada di sana sedang berusaha untuk mengangkat rapot-rapot milik kelasnya sekaligus.


“Apa yang kau lakukan Rina?”


Riki langsung menghampiri Rina.


Apa kau tidak bisa melihatnya kalau dia sedang mengangkat rapot Rik, sudah pasti dia sedang mengambil rapot milik kelasnya.


“Aku disuruh wali kelasku untuk mengambil rapot kelas yang tersisa.”


“Kenapa kau seorang diri saja, diaman ketua kelasnya?”


“Dia belum tiba.”


Heee... Aku kira aku sudah siang datang ke sekolahnya, ternyata masih terlalu pagi.


“Mar, kau bantu saja Rina membawa rapot itu ke kelasnya.”


Huh!


Aku melihat tumpukkan rapot yang sebelumnya ingin diangkat oleh Rina. Walaupun tidak sebanyak rapot kelasku, tapi tetap saja kalau membawanya ke kelasnya Rina akan memakan tenaga dan itu sangat melelahkan.


“Bagaimana denganmu sendiri? Bukannya rapot kelas kita lumayan banyak.”


Riki mulai mengangkat tumpukkan rapot yang sangat banyak itu.


“Tenang saja, aku bisa melakukannya sendiri.”


Dia memang monster.


Baiklah, setidaknya rapot ini tidak terlalu banyak.


Aku mulai melakukan peregangan sedikit agar tidak terkena cidera saat mengangkat tumpukkan rapot itu.


“Kenapa kau tidak meminta bantuan dari anak laki-laki di kelasmu?”


“Belum ada anak laki-laki yang datang.”


Yang benar saja, Dasar mereka semua!


Aku yakin mereka sengaja datang siang karena tidak mau disuruh-suruh hal seperti ini oleh wali kelasnya. Lihat saja, kapan-kapan akan aku beri pelajaran semua anak laki-laki di kelasnya Rina.


Oh iya, Takeshi juga berada di kelasnya Rina.


“Bagaimana dengan Takeshi?”


“Takeshi juga belum datang.”


Aku hanya menghela nafas saja ketika mendengarkan hal itu.


“Apa Miyuki sudah datang?”


Riki bertanya kepada Rina.


“Miyuki sudah datang dan sekarang dia sedang membantu wali kelasku di kelas.”


“Kenapa wali kelasmu tidak menyuruh orang lain untuk membawakan rapot-rapot ini? Ini bukanlah pekerjaan yang cocok untuk seorang perempuan.”


Benar itu Rik, aku juga tidak perlu mengeluarkan tenagaku untuk pergi ke lantai tiga dan membawa rapot yang berat ini.


“Sebenarnya tadi wali kelasku menyarankan untuk meminta bantuan kepada tukang bersih-bersih, tapi aku tidak menemukannya saat menuju ke sini.”


Karena perjalanan menuju ke kelasku dan juga Rina searah, kami bertiga pun pergi bersama-sama.


“Apa kamu tidak keberatan Ar?”


Rina yang berjalan di belakangku, bertanya dengan sangat cemas.


“Tenang saja.”


Lima langkah kemudian...


“Apa kamu tidak kelelahan Ar?”


“Tidak Rina.”


Kemudian ketika aku ingin menginjakkan langkahku yang kelima kali, Rina terlihat ingin mengatakan hal yang sama.


“Tenang saja Rina, aku tidak apa-apa. Rapot seperti ini tidak akan memberatkanku.”


Aku menyela Rina sebelum dia bertanya.


Padahal sejujurnya aku sangat keberatan sekali mengangkat hal ini.


“Kau terlalu khawatir kepada Amar Rina.”


Ucap Riki kepada Rina.


Karena kelasku berada di lantai dua, kami pun berpisah dengan Riki. Dan aku terus melanjutkan perjalananku menuju ke lantai tiga.


Aku sangat jarang sekali pergi ke lantai tiga di gedungku. Kalau tidak salah aku hanya pernah dua kali pergi ke sana saat menyerahkan proposal kepada OSIS karena ruang OSIS berada di lantai tiga dan saat tur sekolah ketika MOS.


“Dengan siapa kamu datang ke sini Ar?”


Rina memulai sebuah pebicaraan.


“Dengan bapak dan ibukku, kalau kau sendiri?”


“Aku datang bersama bapakku.”


“Memangnya warungmu tidak buka hari ini?”


“Buka, ada ibuku dan kakakku yang mengurus warung.”


Hari ini adalah hari sabtu, tentu saja kakaknya Rina tidak pergi mengajar di kampusnya.


“Apa tempat makanmu tidak ada hari liburnya Rin?”


Karena aku jarang sekali melihat tempat makannya Rina libur kecuali hari raya idulfitri saja.


“Tempat makanku hanya libur ketika hari jumat saja.”


“Tumben sekali ada tempat makan yang libur di hari jumat.”


“Karena kalau hari libur adalah hari ramai-ramainya orang yang mengunjungi tempat makanku.”


Benar juga, kenapa aku menanyakan hal yang seharusnya dapat aku jawab dengan mudah ya. Mungkin saat itu yang ada dipikiranku bagaimana agar pembicaraanku dan Rina tidak berakhir dengan cepat sebelum kita sampai di kelasnya.


Akhirnya setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, aku pun sampai di kelasnya Rina. Aku dapat melihat Miyuki dan seorang temannya duduk di depan kelas. Sepertinya mereka bertugas sebagai penerima tamu.


“Loh! Kenapa Amar yang mengangkat rapot-rapot itu?”


“Tadi kami sempat bertemu saat di ruang guru... Kamu bisa taruh rapot-rapot itu di sini saja Ar. Terima kasih atas bantuannya.”


Aku pun meletakan rapot-rapot itu di meja yang digunakan untuk menerima tamu.


Ah... Tanganku rasanya pegal sekali, lebih baik aku segera ke kelas sebelum ada seseorang yang mengenaliku.


Ketika aku ingin pergi dari sana, tiba-tiba Misaki keluar dari kelas dan memelukku dengan sangat erat.

__ADS_1


“Apa kau mau kembali ke kelas Bang Amar?”


“Iya.”


“Aku mau ikut.”


Kalau dia ikut, ini akan sangat merepotkan karena aku harus mengurus seorang anak kecil di sana.


“Buat apa?”


“Aku bosan berada di kelas terus.”


“Kau juga akan merasa bosan jika berada di kelasku juga Misaki.”


“Kalau di kelasmu, aku bisa berbicara dan bermain bersama denganmu.”


Aku melihat ke arah Miyuki dan mengisyaratkan kepadanya untuk melepaskan Misaki dariku. Tapi dia hanya menggelengkan kepalanya saja, sepertinya dia juga tidak bisa mengatasi Misaki jika sudah seperti ini.


Baiklah, daripada aku menarik perhatian lebih di sini, lebih baik aku segera pergi ke kelas.


“Ok, aku akan menemanimu bermain di kantin.”


“Benarkah? Hore!”


Misaki sangat senang sekali mendengar itu.


“Tapi sebelum itu, aku ingin pergi ke kelas dulu untuk memberitahu ibuku.”


“Baiklah.”


Huh...


***


“Siapa ini Mar?”


“Lucu sekali.”


Aku tidak tau kalau membawa Misaki ke kelas akan seburuk ini.


Saat ini, aku sedang berada di kelasku bersama dengan Misaki dan teman-temanku yang sekarang sedang mengerumuni Misaki.


“Apa ini adikmu Mar?”


Salah satu temanku ada yang bertanya hal itu kepadaku.


“Adikku? Apa wajah kami berdua terlihat mirip?”


Temanku itu pun mengamatiku dan juga Misaki.


“Beda sekali, tapi entah kenapa aku merasa tidak asing sekali dengan wajahnya ya?”


Ucapnya.


“Apa hanya aku saja yang merasa atau wajahnya mirip sekali dengan Miyuki?”


Ucap temanku yang satunya lagi.


“Setelah kau bilang seperti itu, aku jadi berpikir demikian.”


“Memang dia adiknya Miyuki.”


Ucapku kepada mereka semua.


Setelah mendengar itu membuat teman-temanku itu pun langsung bertanya kepada Misaki dan bersikap baik kepadanya, apalagi teman-temanku yang laki-laki.


Misaki yang tidak tahan dengan perlakuan teman-temanku kepadanya, dia langsung bersembunyi dibalik badanku.


“Kenapa kamu bisa bertemu dengan Misaki Mar?”


Tanya ibuku kepadaku.


“Aku baru saja dari kelasnya Miyuki untuk membantu Rina menaruh rapot-rapot kelasnya dan saat di sana aku bertemu dengan Misaki.”


“Bagaimana kabarmu Misaki?”


Sapa Ibuku kepadanya.


“Baik!”


Misaki menjawabnya dengan riang.


“Aku mau mengajak Misaki pergi ke kantin untuk bermain dengannya.”


“Memangnya kamu tidak perlu ada saat pembagian rapot?”


“Tidak perlu.”


“Oh ya sudah.”


Ibuku pun ingin mengeluarkan dompet dari tas yang dia bawa.


“Tidak usah Bu, aku ada uang.”


“Tumben sekali kau menolak uang Mar.”


Ibuku sedikit mencurigai sikapku yang tidak biasa itu.


“Aku sedang ada uang lebih saja, kalau tidak juga aku akan menerima uangnya.”


“Dari mana kamu mendapatkan uang itu?”


“Pokoknya ada.”


Aku pun mendengar Pak Hari yang tertawa kecil mendengar pembicaraanku dengan ibuku.


“Kapan kita pergi ke kantin Bang Amar?”


Misaki sepertinya sudah risih dengan perlakuan dari teman-temanku.


“Sekarang juga.”


“Mar!”


Pak Febri pun memanggilku.


“Ada apa Pak?”


“Nanti setelah acara ini selesai, kau jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Apa itu?”


“Nanti saja kita membicarakannya.”


Hmmm... Aku mencium bau-bau beban yang akan dilimpahkan kepadaku lagi. Tapi apa? Masalahnya Akbar? bukannya itu sudah selesai.


Aku dan Misaki pun pergi ke kantin dan ternyata di sana tidak begitu terlalu banyak sekali orang. Aku hanya melihat bapak-bapak berada di sana yang sedang menunggu sambil memakan atau meminum sesuatu.


“Misaki, kamu mau jajan apa?”


“Hmmm... Aku ingin membeli itu, tapi aku tidak membawa uang.”


Misaki menunjuk pedagang kantin yang menjual burger, sepageti, dan makanan cepat saji lainnya.


“Beli saja, aku yang akan membayarnya.”


“Asik!”


Misaki pun berlari ke arah pedagang dan memesan pesananya.


Setidaknya uangku tidak akan berkurang banyak jika mentraktir Misaki saja.

__ADS_1


-End Chapter 104-


__ADS_2