Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 70 : Makan-makan Di Rumah Rina.


__ADS_3

Hari ini adalah hari spesial bagi Rina karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Aku bersama dengan teman-teman yang lainnya berencana untuk pergi ke rumahnya Rina untuk mengadakan pesta ulang tahun di sana. Sebenarnya Rina yang mengundang kami untuk ke rumahnya.


“Selamat ulang tahun Rina.”


Semua orang yang ada di sana menyelamati Rina.


“Terima kasih semuanya karena sudah datang ke acara ulang tahunku.”


Rina terlihat senang sekali teman-temannya pada datang.


Menurut Rina, hari ini ibunya membuat nasi kuning untuk kami semua. Awalnya aku mengira kalau kita akan makan soto bersama di sini, ternyata aku salah.


“Apa kamu sudah memberikan hadiahmu kepada Rina Mar?”


Miyuki berbisik kepadaku


“Tentu saja, aku sudah memberikannya tadi.”


“Ah sayang sekali, padahal aku ingin melihat ekspresimu ketika memberikan hadiah kepada Rina.”


“Hah? Hanya memberikan hadiah apa yang berubah?”


“Ekspresi Amar tidaklah berbeda seperti biasanya, hanya ekspresinya Rina saja yang berubah karena tidak menyangka kalau Amar akan memberikan dia hadiah.”


Riki menjelaskan hal itu kepada Miyuki.


“Apa kabar Kirana?”


Maul menyapa Kirana yang kebetulan diundang juga oleh Rina.


“Alhamdulillah baik, bagaimana dengan Kak Maul sendiri?”


“Alhamdulillah baik juga, bagaimana SMP Cibubur sekarang?”


“SMP Cibubur sekarang sedikit membosankan karena tidak ada hal seru seperti saat Kak Amar dan yang lainnya masih bersekolah di sana.”


“Memangnya apa yang pernah dilakukan Amar ketika di sekolah?”


Miyuki yang merasa penasaran kepada Kirana tentang hal itu.


Kenapa perempuan yang satu ini rasa penasarannya sangat luar biasa sekali. Aku kira dia akan sangat cocok jika bekerja menjadi seorang wartawan.


“Dulu ketika masih ada Kak Amar dan juga yang lainnya. SMP Cibubur serasa memiliki sebuah rahasia yang sangat banyak dan menarik untuk diuangkapkan satu per satu. Seperti pemimpin bayangan, perjanjian diantara murid laki-laki, kakak kelas yang misterius, dan masih banyak lagi.”


“Woah! Kalau di sekolahku juga ada yang seperti itu tapi kami menyebutnya dengan tujuh misteri.”


Ucap Miyuki kepada Kirana.


“Apa misteri-misteri itu pernah dipecahkan?”


Maul menjadi penasaran dengan hal itu juga.


“Tidak ada, rata-rata semua itu hanyalah rumor saja.”


“Kalau di sekolahku, semua misteri itu adalah buatanya Amar.”


Maul pun memberitahukannya kepada Miyuki.


Aku tidak bisa menyangkalnya, karena semua masalah yang ditimbulkan oleh Riki dan juga Maul pasti aku yang menyelesaikannya, dan rata-rata dari masalah yang aku selesaikan akan menjadi sebuah misteri karena simpang siurnya kabar yang tersebar di antara murid-murid.


“Benarkah itu Mar?”


Miyuki langsung melihat ke arahku dengan mata yang berbinar-binar.


“Sepertinya aku tidak bisa mengelaknya.”


“Bagaimana caramu membuat misteri-misteri itu? Apa kamu ingin membuat hal serupa di SMK Sawah Besar juga?”


Tolonglah Miyuki, sekali saja kau tidak seperti ini. Pandanganku kepadamu pasti akan berubah dan tidak menganggapmu menyebalkan lagi.


“Lalu kemana tujuan sekolahmu selanjutnya Kirana?”


Rina bertanya kepada Kirana.


“Tentu saja aku akan masuk ke SMK Sawah Besar, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan rekomendasi ke sana.”


Kirana dengan semangat membara-bara dan mengepalkan tangannya mengatakan hal itu dengan sangat yakin sekali.


“Semangatlah!”


“Terima kasih Kak Rina.”


“Kenapa kau ingin masuk ke SMK Sawah Besar? kalau kau ingin mengincar jurusan yang ada di sana, lebih baik masuk ke sekolah yang berada di dekat sini saja.”


Karena kalau Kirana masuk lagi ke sekolahku, aku rasa akan menjadi sangat merepotkan sekali.


“Kau kejam sekali Kak Amar. Aku mau masuk ke SMK Sawah Besar agar bisa satu sekolah dengan Kak Riki. Kita bisa pulang sekolah bersama, berangkat bersama, makan bekal bersama, dan banyak yang lainnya.”


Inilah dia kekuatan dari cinta. Ketika dia mulai bertindak, mereka sudah tidak dapat berpikiran logis lagi. Apa semenyenangkan itu melakukan hal bersama dengan orang yang kita sukai? Bukankah kalau sering bertemu dengan orang itu maka kita akan cepat bosan?


“Bagaimana dengan perlombaannya Rik?”


Maul bertanya keapda Riki.


“Masih ada empat pertandingan lagi untuk berhasil lolos babak penyisihan.”


“Dan setelah itu kau langsung pergi ke Makassar?”


Tanyaku kepadanya.


“Iya.”


“Apa kau akan merasa kesepian jika tiadk ada Riki Mar?”


Maul berusaha untuk meledekku.


“Malah sebaliknya, aku bisa tidur dengan tenang ketika istirahat.”


“Kau jahat sekali Mar.”


Ucap Riki.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong Miyuki, dimana Yoshida, Kichida, dan Takeshi? Bukankah dia diundang juga ke acara ini?”


“Kalau Yoshida ada acara dengan keluarganya, Kichida ada urusan mendadak, dan Takeshi katanya dia tidak bisa pergi hari ini.”


Miyuki memberitahukan itu kepada Maul.


“Alhamdulillah Takeshi tidak datang ke sini.”


Huh.. Kalau Takeshi datang, mungkin akan terjadi satu atau dua pertikaian antara aku dengannya.


“Mengapa kamu masih membenci Takeshi Mar? Padahal dia sudah mencoba untuk menerimamu loh.”


Ucap Miyuki kepadaku.


“Walaupun dia sudah seperti itu, tetapi aku merasakan kalau dia masih menyebalkan.”


Ketika kami sedang berbincang-bincang di sana, kakak perempuan Rina pun datang dan bergabung dengan kami.


Kakaknya Rina bernama Rania, dia bekerja sebagai seorang dosen jurusan seni di salah satu universitas negeri yang ada di Jakarta. Kak Rania sangat hebat dalam menggambar dan melukis, aku beberapa kali melihat dia menggambar dan aku terkagum-kagum dengan kemampuan yang dia miliki.


“Hei Mar! Sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu. Sekarang kau sudah besar ya.”


Kak Rania langsung menyapaku dan duduk tepat di depanku karena hanya depanku saja yang kosong saat itu.


“Aku rasa Kak Rania sendiri yang jarang kelihatan di masjid.”


Kak Rania juga salah satu remaja masjid senior di masjid dekat rumahku. Itulah kenapa semua informasi yang ada di masjid, pasti akan disampaikan melalui dirinya. Kadang Kak Rania juga membuat acara-acara kreatif di masjid bersama remaja masjid dan masyarakat.


“Sekarang sekolah dimana Mar?”


“Aku bersekolah di sekolah yang sama dengan Rina, namun aku berada di jurusan multimedia.


“Heee... Pantas saja Rina bersih keras untuk masuk ke SMK Sawah Besar. Jadi karena ada Amar toh.”


Kak Rania melirik ke arah Rina, Rina langsung terlihat panik dan wajahnya memerah mendengar ucapan dari Kak Rania.


“Berhenti membicarakan itu Kak!”


Wajah Rina makin memerah dan sekarang dia sedang menunduk malu.


“Kakaknya Rina sesuatu sekali ya, berbeda sekali dengan Rina.”


Miyuki pun berbisik kepadaku.


“Begitulah.”


“Ayo semuanya, mari makan!”


Ibunya Rina pun datang dengan membawa sepanci besar yang berisikan nasi kuning dan lauk yang sudah berada di sana. Kami pun mulai mengambil nasi dan makan bersama. Setelah mengambil nasi, ketika hendak kembali ke tempat dudukku. Aku melihat Kak Rania sedang memainkan ponselnya dan tepat di layar ponselnya, aku melihat Kak Rania sedang membaca sebuah komik.


“Komik apa itu Kak?”


Tanyaku kepadanya.


“Oh ini, jadi temanku ada yang sedang membuat komik untuk aplikasi komik yang sebentar lagi akan rilis di Indonesia, dan dia meminta pendapatku tentang komik yang dia buat.”


“Begitu.”


“Aplikasi apa itu Kak?”


Rina pun penasaran dengan hal itu.


“Jadi ada perusahaan yang dulunya pernah mengeluarkan komik, dulu majalahnya sering kali kamu baca Rina.”


“Apa itu Semesta Komik?”


Dan Rina juga mengetahui hal itu, ternyata cuman aku saja yang tidak mengetahui tentang Semesta Komik di sini.


“Iya, dan dia sekarang ingin mengeluarkan aplikasi untuk membaca komik di ponsel. Sudah banyak komikus-komikus dalam negeri yang mengikuti perilisan itu.”


“Bukankah seharusnya majalah itu sudah bangkrut?”


“Jadi kamu tau tentang majalah itu juga Rina?”


Tanya Maul kepadanya.


“Dulu aku sering membeli majalah itu karena ada satu komik yang aku ikuti karena seru.”


“Aku tidak tau bagaimana detailnya, tapi kalau kata temanku, pemilik perusahaan itu mau membangun perusahaannya kembali.”


Selama pembicaraan itu, aku selalu meliaht ke Miyuki karena hanya dia saja yang tau kalau aku sedang bekerja di perusahaan yang berkecimpung di dunia komik. Miyuki pun melihatku dan tersenyum dengan niat sesuatu.


Apa anak itu akan membicaraknnya di sini juga? Kalau dia sampai membicaraknnya, akan sangat ribet menjelaskannya kepada mereka, apalagi di sini sedang ada Kak Rania.


Tapi Miyuki tidak mengatakan apa-apa, dia justru lebih memilih untuk diam dan mendengarkan pembicaraan dari Kak Rania.


“Bagaimana pendapat Kak Rania tentang ini?”


Maul pun langsung menanyakan hal itu kepadanya.


“Aku rasa aplikasi ini sangat bagus, apalagi nantinya aplikasi ini bisa menyalurkan karya-karya dari komikus dalam negeri. Tentu saja aku akan mendukungnya.”


“Kenapa kamu bertanya seperti itu Mul?”


Rina pun melihat Maul dengan curiga, dan Maul langsung melihat ke arahku untuk meminta pertolongan.


Dasar Maul bodoh! Seharusnya kau berpikir dulu sebelum berbicara. Karnamu sekarang Rina menjadi curiga dengan hal ini. Kau harus menjelaskannya tanpa bantuan dariku.


“Aku hanya penasaran saja, hahaha...”


“Kalian semua, ketika pulang sekolah berhati-hatilah.”


Tiba-tiba Kak Rania langsung mengubah topik pembicaraan.


“Apa ini ada hubungannya dengan kasus penculikkan yang sedang ramai akhir-akhir ini?”


Tanyaku kepadanya.


“Iya, kemarin ada mahasiswa di kampusku yang hampir saja menjadi korban penculikkan, Alhamdulillah saat itu ada warga yang melihat dan menolongnya. Kalau tidak mungkin dia sudah dibawa entah kemana.”


“Hal ini semakin lama semakin meresahkan sekali, kenapa pihak kepolisian belum menangani kasus ini?”

__ADS_1


Miyuki terlihat kesal sekali akan hal itu. Aku, Riki, dan Maul lebih memilih diam dan mendengarkan pembicaraan dari mereka terlebih dahulu. Apalagi jika aku bersuara sekarang, pasti mereka akan menyadari kalau aku mengetahui sesuatu tentang hal ini.


“Sepertinya kamu mengetahui sesuatu Mar.”


Kak Rania melihat ke arahku yang sedang mendengar pembicaraan mereka dengan seksama.


Kenapa saat aku sudah diam masih saja ada orang yang dapat mengetahuinya.


“Kenapa Kak Rania bisa berpikiran seperti itu?”


Aku bertanya balik kepadanya.


“Karena ketika kita sedang membicarakan tentang hal ini, kamu tidak terlihat terkejut atau tertarik sama sekali seperti sudah tau apa yang sebenarnya terjadi.”


Aku baru tau kalau merasa tidak antusias dengan sesuatu dapat membongkar penyamaranku.


“Kak Rania bisa saja.”


“Aku sudah banyak sekali bertemu dengan macam-macam sifat mahasiswa, dan sifat sepertimu biasanya adalah orang yang tidak tertarik akan sesuatu namun dibalik semua itu kamu sebenarnya mengetahui banyak hal.”


“Itu sama sekali seperti Amar.”


Ucap Miyuki untuk memperkuat dugaan dari Kak Rania.


“Aku tidak tau apa-apa, apa yang kalian harapkan dari sekorang anak SMK yang baru masuk tiga bulan yang lalu?”


“Biasanya jika Amar sudah mengatakan hal itu, dia sedang menutup-nutupi sesuatu. Aku semakin yakin kalau Amar pasti tau tentang hal ini.”


Dasar Miyuki! Kenapa perempuan ini selalu membuatku bingung. Sekarang apa yang akan aku katakan kepada mereka agar bisa meyakinkan mereka.


“Aku tidak tau jelasnya bagaimana, tapi kalau menurutku berdasarkan berita yang telah aku baca mengenai kasus-kasus ini, mungkin ada masalah internal di kepolisian sendiri.”


Aku terpaksa mengatakannya.


“Apa masalah internalnya?”


“Entahlah, mungkin ada seorang pemimpin di kepolisian yang berhasil disogok oleh para penculik itu.”


Aku pun melirik ke arah Maul dan Riki, aku tau kalau mereka berusaha untuk menolongku keluar dari masalah ini tapi mereka tidak tau ingin melakukan apa. Karena yang saat ini sedang kita lawan adalah Miyuki dan Kak Rania yang memiliki kombinasi yang sangat kuat jika sedang bertanya kepada seseorang. Mereka berdua adalah tipe-tipe orang yang tidak mau aku temui.


“Kamu mengatakan itu seperti sudah mengetahui apa yang terjadi.”


Kak Rania sedikit tersenyum saat mengatakan itu.


“Itu hanya asumsiku saja, aku tidak tau apakah ucapanku itu benar atau tidak.”


“Mengapa mereka menculik orang? Memangnya uang yang dihasilkan dari menculik orang sangat banyak?”


Apa kau ini anak kecil Rina?


“Mereka bisa saja mendapatkan uang dengan sangat banyak tergantung cara yang mereka lakukan. Entah itu meminta tebusan kepada keluarga korban, menjualnya ke tempat perdagangan manusia, atau lebih parahnya lagi menjual seluruh anggota tubuh dan organ dari korban di pasar gelap.”


Rina dan Miyuki terlihat terkejut sekaligus jijik ketika mendengarkan perkataan dariku. Syukurlah saat itu semua orang sudah selesai makannya.


“Memangnya pasar seperti itu ada di Indonesia?”


Tanya Rina yang masih merasa jijik dengan ucapanku sebelumnya.


“Aku sendiri juga tidak tau. Kita semua tidak tau apa yang ada di luar sana.”


“Kamu ini ternyata orangnya pintar berimajinasi juga ya Mar.”


Aku tau apa yang baru saja Kak Rania lakukan untuk mencairkan suasana saja karena suasana yang sudah menjadi tegang. Kalau Kak Rania sudah melakukan itu, sepertinya aku hanya perlu mengikutinya saja.


“Aku hanya mengatakan apa yang ada di dalam pikiranku saja.”


“Kalian bertiga harus berhati-hati ya, apalagi kalian bertiga cantik-cantik. Kalian sangat rawan untuk diincar oleh para penculik itu.”


Kak Rania pun memperingatinya kepada Miyuki, Rina, dan Kirana.


“Apakah yang baru saja kau katakan itu benar Kak?”


Kirana berbisik kepadaku tentang hal tadi.


“Itu hanya perkiraaannya saja, apa yang terjadi sebenarnya aku sendiri tidak tau.”


“Apa kalian sedang menangani kasus ini?”


“Tidak mungkin, kasus seperti ini seharusnya ditangani oleh orang yang sudah ahli.”


“Hei! Apa yang sedang kalian berdua bicarakan?”


Riki menatap kami dengan tatapan cemburunya karena dari tadi Kirana berbicara denganku.


“Kirana hanya bertanya kepadaku tentang hadiah yang cocok untuk diberikan ketika ulang tahunmu nanti.”


Aku pun melirik ke arah Kirana.


“Kenapa Kak Amar mengatakan itu?”


Kirana sedikit panik karena tidak menyangka kalau aku akan mengatakan hal seperti itu. Sepertinya jika Kirana merasa kesusahan karena hal ini, aku akan membantunya ketika mencari hadiah untuk Riki.


“Apa itu benar?”


Tatapan cemburu Riki pun sudah berubah menjadi tatapan berharap akan hadiah dari Kirana.


Aku pun sedikit mengangkat alisku untuk memberikan kode kepada Kirana untuk mengikuti pembicaraan yang sudah aku buat.


“Hee- Begitulah.”


Kirana mengatakan itu dengan terpaksa.


“Kirana!”


Riki terharu mendengar itu.


“Kau harus bertanggung jawab tentang hal ini loh Kak!”


Kirana memperingatkannya kepadaku.


“Tenang saja.”

__ADS_1


-End Chapter 70-


__ADS_2