
“Wah... Aku terlalu menikmati menonton Pak Febri bermain dengan gimnya tadi. Semoga saja aku datang tepat waktu.”
Aku sekarang sedang berlari kecil menuju ke mushala dari lab multimedia. Saat melihat Pak Febri bermain gim, tidak terasa ternyata tiga puluh menit sudah terlewat dengan cepat.
Ketika aku sampai di mushala, aku langsung melaksanakan salat asar dan setelah itu aku menunggu anggota yang lainnya di sana. Menurut informasi yang aku dapat dari Kak Ayu, semua anggota lelaki di ekskulku berkumpul di lantai satu sedangkan yang perempuannya berkumpul di lantai dua. Tapi ketika aku sedang menunggu di sana, aku sama sekali tidak melihat orang yang berada di sana.
Apa aku salah waktunya ya? Atau mereka semua sudah pulang terlebih dahulu. Aku rasa waktu itu Kak Ayu berkata ekskulnya mulai jam empat. Atau mungkin saja aku salah hari. Bagaimana ini? Seharusnya waktu itu aku meminta nomor ponsel milik Kak Ayu.
“Permisi... Apa kau ingin mengikuti ekskul rohis juga?”
Terdengan suara laki-laki dari belakangku, aku pun menolehkan kepalaku untuk melihat siapa itu.
“Juga? Berarti kau juga anggota ekskul rohis?”
“Begitulah.”
Syukurlah aku tidak salah hari.
“Namaku Rian.”
Lelaki itu memperkenalkan dirinya kepadaku.
“Aku Amar, senang berkenalan denganmu.”
“Apa yang ikut rohis ini hanya kita berdua saja?”
Rian melihat ke sekeliling musala dan hanya mendapati kami berdua saja yang berada di sana.
Aku memang sudah mengetahui dari teman-temanku kalau ekskul ini peminatnya kurang, tapi aku tidak menyangka kalau sampai separah ini.
“Bukankah seharusnya ada beberapa kakak kelas juga yang mengikuti ekskul ini?”
“Entahlah, aku tidak mencari tahu banyak tentang ekskul ini.”
Ketika kami sedang asik berbincang-bincang, datang sesosok lelaki dewasa denganmenggunakan peci dan juga baju koko menghampiri kami.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Lelaki itu memberikan salam kepada kami berdua.
“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Kami berdua menjawab salamnya. Aku sedikit bingung siapa lelaki ini, aku hanya berpikir kalau dia adalah mentor kami nantinya, karena hanya itu saja yang terpikir olehku saat itu.
“Rian dan Amar ya?”
Dia langsung menyebutkan nama kami berdua padahal kami belum menyebutkan nama kami sebelumnya.
“Iya Ustaz.”
Kami berdua mengiyakan hal itu. Sudah jelas kalau lelaki ini adalah mentor kami nanti.
“Sebelumnya perkenalkan dulu, saya Adi. Saya adalah mentor kalian selama di ekskul ini... Bagaimana kabar kalian berdua?”
Ustaz Adi memperkenalkan dirinya dengan ramah sekali. Setiap dia mengucapkan sesuatu atau bertanya kepada kami, dia terasa sebagai orang yang enak untuk diajak bicara.
“Alhamdulillah, sehat Ustaz!”
“Ustaz, apa di ekskul ini anggota laki-lakinya hanya kami berdua saja ustaz?”
Aku bertanya kepada Ustaz Adi untuk menghilangkan rasa penasaranku.
“Sebelumnya ada beberapa kakak kelas kalian yang ikut di ekskul ini. Tetapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai tidak datang satu per satu. Jadi anggota laki-laki di ekskul ini hanya kalian berdua saja.”
Pantas saja waktu aku mendaftar ekskul, aku tidak melihat sama sekali lelaki di stan pendaftaran. Awalnya aku kira mereka tidak masuk ataupun memiliki kesibukan lain, ternyata memang dari awal mereka tidak ada.
“Memangnya kenapa tidak ada orang yang mau masuk ke ekskul ini Ustaz?”
Aku bertanya lagi, karena aku makin penasaran dengan hal ini. Ekskul yang semua kriteriaku terdapat di dalamnya, tapi sama sekali tidak ada orang yang minat memasukinya.
“Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya ingin bertanya kepada kalian berdua. Mengapa kalian berdua mau masuk ke ekskul ini?”
“Kalau saya ingin lebih dekat dengan Sang Pencipta Ustaz, karena selama ini saya menganggap kalau diri saya sudah jauh dan terlalu banyak bermain-main.”
Mendengar jawaban dari Rian membuatku sedikit malu sendiri. Hebat sekali dia memiliki niat semulia itu untuk masuk ke dalam ekskul ini. Berbeda denganku yang masuk ke ekskul ini karena menurutku ekskul ini tidak melelahkan, merepotkan, dan dapat bebas.
“Kalau Amar bagaimana?”
“Kalau saya waktu mendaftar, menurut saya ekskul ini lebih menarik dibandingkan ekskul yang lainnya.”
Tidak mungkin kan aku mengatakan alasanku yang sebenarnya kepada Ustaz Adi.
“Memangnya apa yang menariknya?”
Gawat, aku tidak menyangka kalau dia akan bertanya lagi.
“Aku sendiri juga tidak begitu tau Ustaz, tapi ketika sedang memilih-milih ekskul entah kenapa aku merasa ekskul ini lebih menarik dari pada ekskul lainnya.”
__ADS_1
“Oh begitu.”
Ustaz Adi pun mencoba memahaminya dan tidak bertanya lebih lanjut lagi.
“Karena hari ini hari pertama, jadi kita belum masuk ke kegiatan ekskul dulu ya... Sebelum itu, saya mau bertanya tentang komitmen kalian. Dari hari senin, rabu, dan kamis, kira-kira kalian bisanya hari apa?”
“Untuk apa Ustaz?”
Aku sedikit tidak mengerti dengan apa yang Ustaz Adi tanyakan.
“Untuk menentukan hari ekskul kalian.”
“Jadi kita ekskul hanya seminggu sekali Ustaz?”
Aku mempertegasnya kembali kepada Ustaz Adi.
“Iya.”
HHHH... Apakah ini yang dinamakan nikmat? Awalnya aku mengira kalau ekskul ini akan diadakan tiga hari dalam seminggu, tapi ternyata kita hanya perlu memilih salah satu dari ketiga hari itu.
Aku pun mencoba menahan kegembiraanku ini di depan Ustaz Adi dan juga Rian. Tidak mungkin kan kalau aku merasa senang di saat seperti ini, itu akan terlihat tidak sopan menurutku.
“Ngomong-ngomong rumah kalian berdua di mana?”
“Kalau saya rumahnya berada di Cibubur Ustaz.”
“Masya Allah, kenapa bisa masuk ke sekolah ini? Kan jarak dari Cibubur ke Sawah Besar lumayan jauh.”
“Karena saya mendapatkan rekomendasi ke sekolah ini Ustaz, jadi saya mengambilnya.”
“Masya Allah, kalau kamu meniatkan dari rumah ke sekolah untuk menuntut ilmu, Insya Allah setiap langkah kaki kamu ke sini akan menjadi pahala.”
Hmmm... Kalau begitu, seminggu saja bersekolah di sini sudah membuat pahalaku banyak sekali.
“Kalau Rian?”
“Kalau rumah saya ada di Gambir Ustaz... Ustaz sendiri rumahnya dimana?”
“Saya mah rumahnya deket sini, jalan kaki juga sampai... Saya juga membuka pengajian di musala dekat rumah setelah salat maghrib, kalau kalian ada waktu nanti kita bisa pergi bersama-sama ke sana.”
“Benarkah itu Ustaz, Insya Allah kalau ada waktu nanti saya akan datang untuk ikut Ustaz.”
Rian terlihat sangat bersemangat sekali. Dia sepertinya tipe orang yang sama seperti Riki tapi semangatnya hanya keluar karena beberapa hal saja.
“Apa kau mau ikut juga Mar?”
“Yah... Mungkin kalau aku memiliki waktu kosong, aku akan ikut denganmu.”
“Tenang saja Mar, saya memaklumkan hal itu. Lagi pula rumahmu kan jauh juga, kalau Rian kan paling cuman setengah jam untuk sampai ke rumahnya.”
Ternyata Ustaz Adi baik sekali. Mungkin kalau aku memiliki waktu lebih, aku akan datang bersama Rian ke pengajiannya.
“Kalian berdua dari kelas mana?”
“Saya dari kelas sepuluh Multimedia D Ustaz.”
“Apa jangan-jangan kau anak baru dari kelas sepuluh yang pandai bermain basket itu?...”
Apaan itu? Aku saja baru mendengarnya.
“...Aku melihat pertandinganmu waktu final, karena jarak tempatku duduk dengan lapangan sangat jauh, jadi aku tidak dapat melihat dengan jelas orang itu. Apa benar itu kau orangnya?”
“Memangnya Amar hebat bermain basket?”
Ustaz Adi menjadi penasaran setelah mendengar hal itu dari Maul.
“Dia sangat hebat Ustaz, kalau kata temanku yang bisa bermain basket, kemampuannya seperti pemain profesional. Bahkan temanku yang bergabung dalam ekskul basket berkata kalau dia tidak bisa melakukan seperti apa yang Amar lakukan.”
Rian terlalu berlebihan dalam memujiku. Setiap teknik yang aku lakukan dalam bermain basket pasti bisa dilakukan oleh siapa saja, asalahkan dia mau berlatih dengan sungguh-sungguh.
“Apa kamu ikut ke ekskul basket juga Mar?”
“Tidak Ustaz, saya hanya mengikuti ekskul rohis saja.”
“Kenapa? Bukankah kamu pandai bermain basket, seharusnya kamu ikut saja ekskul basket.”
“Saya sudah tidak minat untuk masuk ke ekskul basket Ustaz, tapi kalau hanya sekedar bermain basket saja saya mau.”
“Ohh begitu... Kalau kamu Rian?”
“Saya dari kelas sepuluh RPL A Ustaz.”
RPL A?
“Apa kau kenal dengan Maulana?”
“Oh Maul... Dia teman sebangkuku. Kenapa kau bisa kenal Maul?”
__ADS_1
“Dulu aku pernah satu SMP dengannya, dan dia juga teman dekatku.”
“Kau tau Mar, dia sangat hebat sekali kemampuan programingnya. Padahal rata-rata temanku di kelas pada tidak mengetahui apa itu program, bahasa yang digunakan, dan perintah-perintahnya.”
Itu tentu saja, seorang yang dijuluki Hacker saat di SMP tidak mungkin kemampuan komputernya rendah. Padahal teman-teman di SMP sama sekali belum pernah melihat Maul melakukan tindakan peretasan, hanya Aku dan Riki saja yang pernah melihatnya. Oh iya, dan juga Miyuki.
“Jadi kalian maunya hari apa?”
“Kalau aku terserah kau saja Mar, kau kan yang rumahnya paling jauh.”
Rian pun menyerahkan keputusan ini kepadaku. Aku pun berpikir sebentar untuk menentukan harinya.
“Sepertinya hari senin saja Ustaz. Bagaimana Yan?”
Aku bertanya kepada Rian untuk meminta pendapat darinya.
“Tidak buruk, hari senin sepertinya hari yang bagus.”
“Kalau begitu kita sepakat ya ekskulnya hari senin, dan waktu mulainya jam empat.”
“Baik Ustaz.”
Dan kami pun berbincang-bincang seputar keimanan hingga pukul lima sore. Walaupun hanya berbincang-bincang saja, tidak terasa kalau waktu berjalan dengan begitu cepat. Awalnya aku mengira kalau perbincangan itu akan membosankan, tapi ternyata menarik juga, banyak hal baru yang aku tau dari sana.
Setelah ekskul selesai, aku pun langsung pergi ke perpustakaan untuk menemui Miyuki dan yang lainnya di sana. Karena kami sudah memutuskan untuk pulang bersama, seharusnya mereka sedang menunggu kami.
Ketika aku sampai di depan perpustakaan, aku melihat Maul yang sedang mengintip ke dalam perpustakaan dari luar. Dia terlihat serius sekali dan hal itu membuatku sangat penasaran.
“Ada apa Mul?”
Aku langsung menghampirinya dan bertanya kepadanya.
“Pelankan suaramu Mar.”
Maul menarikku untuk bersembunyi dan kami pun sama-sama mengintip ke dalam perpustakaan. Saat aku mengintip ke dalam perpustakaan, aku melihat Miyuki dan yang lainnya sedang bersama beberapa lelaki di sana. Aku juga mendengar kalau sesekali mereka digoda dengan lelaki itu.
“Sudah berapa lama kau di sini Mul?”
“Aku baru saja datang ke sini dan sudah melihat hal ini, jadinya aku tidak berani untuk masuk ke dalam sana."
“Bukannya di perpustakaan tidak boleh ada kegaduhan, kenapa tidak ada yang menghentikan mereka?”
“Kau lihat aja di sana.”
Maul menunjuk ke arah meja petugas perpustakaan yang ada di depan ruangan. Aku pun melihat ke arah meja tersebut dan di sana terdapat seorang murid yang menjaga. Pantas saja mereka tidak dihentikan, pasti yang menjaga takut untuk menegur mereka.
“Apa yang harus kita lakukan Mar?”
“Masuk saja seperti biasa, buat apa harus mengumpat seperti ini.”
“Aku takut jika kita berjalan masuk dan langsung menghampiri mereka. Kau tidak lihat tampang menyeramkan dari mereka. Aku yakin mereka pasti akan memukulmu jika kau mengganggu mereka. Aku berharap saat ini ada Riki di sini.”
Jadi itu alasannya dia dari tadi berada di sini dan tidak mau masuk ke dalam.
“Riki masih latihan dengan ekskulnya di gedung olahraga, jadi tidak mungkin dia akan ke sini sekarang. Lagi pula buat apa harus takut dengan mereka, memangnya kita punya masalah dengan mereka.”
Aku pun langsung masuk ke dalam perpustakaan dan meninggalkan Maul di lorong. Ketika aku masuk ke perpustakaan, pandangan Miyuki dan yang lainnya langsung mengarah kepadaku. Aku pun langsung pergi menghampirinya untuk bergabung dengan mereka.
Ketika aku hendak menghampiri mereka, tiba-tiba para lelaki itu pergi dari sana tanpa berbicara apapun kepadaku. Saat itu aku pun bingung sekaligus senang. Aku senang karena tidak perlu repot-repot mengurusi mereka dan bingungnya karena apa yang mereka lakukan menurutku tidak biasa.
Biasanya jika aku hendak menghampiri Miyuki yang sedang bersama mereka. Mereka akan mencoba bertanya apa hubunganku dengan Miyuki dan kemudian mereka mencoba untuk mengintimidasiku. Ya... Itulah yang selalu terjadi jika aku bersama dengan Miyuki. Karena hal itu sudah sering terjadi, jadinya aku sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini.
Rina pun langsung menghampiriku.
“Apa yang terjadi?”
“Saat kami sedang asik mengerjakan pr bersama, tiba-tiba mereka datang dan menghampiri kami. Mereka terus mengajak kami berbicara tiada hentinya, bahkan membuat kami jadi sudah untuk mengerjakan pr.”
Aku melihat Rina sangat kelelahan sekali untuk menghadapi mereka semua.
“Memangnya di antara kalian tidak ada yang berani menegur mereka?”
“Jangankan kami Ar, petugas yang berjaga saja tidak berani untuk menegur mereka. Awalnya ada beberapa murid juga di perpustakaan yang mengerjakan pr juga, tapi semenjak mereka datang, semua murid yang ada di sini langsung pergi keluar perpustakaan.”
Hmmm... Aku penasaran dengan orang-orang tadi. Apakah mereka begitu disegani di sekolah ini? Masih banyak hal yang perlu aku selidiki sepertinya.
“Sepertinya petugas perpustakaan hari ini hanyalah murid dari klub sastra. Wajar saja kalau dia tidak berani menegur para lelaki tadi.”
Maul juga sudah masuk ke dalam perpustakaan dan menghampiri kami.
“Pantas saja dia tidak berani untuk menegur mereka.”
Aku yakin ada yang tidak beres dengan sekumpulan lelaki tadi. Niat mereka sepertinya bukan datang untuk menggoda Miyuki dan yang lainnya saja. Pasti mereka memiliki maksud lain untuk datang ke sini. Kalau memang seperti itu yang terjadi, tapi apa yang mereka incar sekarang?
Sepertinya aku harus bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
-End Chapter 40-
__ADS_1