
Akhirnya hari-hari sekolahku yang damai dimulai. Tidak ada suara berisik yang mengganggu di kelas, dan juga ketika aku sedang istirahat. Ya, dua hari yang lalu Riki sudah pergi ke Makassar bersama dengan tim basket putra untuk mengikuti O2SN di sana, karena hanya mereka berdua saja yang lolos dari seleksi untuk mewakilkan Jakarta dalam O2SN.
Sepi sekali... Ini yang aku inginkan sejak lama.
Karena saat ini Riki sedang pergi ke Makassar, hal itu membuatku terpaksa duduk sendiri..
“Mar, kira-kira nanti pekerjaan apa saja yang harus aku kerjakan?”
Natasha bertanya kepadaku saat aku sedang menikmati detik-detik kedamaianku.
“Kalau untuk itu, kau bisa melihatnya di Web nanti.”
Sudah lebih dari satu minggu aku mengajari Natasha untuk menjadi seorang editor dan semua itu aku lakukan saat aku berada di sekolah. Saat berada di kantor, aku menyuruh Natasha untuk belajar dengan karyawan lainnya. Aku menyuruhnya untuk melakukan itu agar dia bisa bergaul dengan karyawan yang lainnya saat dia sudah mulai bekerja nanti. Tidak mungkin kan dia selalu bertanya kepadaku setiap ada masalah.
Pertama aku tidak punya waktu untuk meladeninya terus dan Kedua itu terlalu merepotkan. Jadi kalau dia sudah akrab dengan beberapa karyawan di sana apalagi para senior di bagian editor, itu akan sangat membantuku.
***
Ketika istirahat, kami masih berkumpul di tempat biasa walaupun saat ini Riki sedang tidak ada. Saat istirahat pun sama damainya seperti saat di kelas, tidak ada pembicaraan bodoh yang terjadi, dan suara berisik dari pembicaraan teman-temanku tidak terjadi saat ini.
“Rasanya kalau tidak ada Riki seperti ada yang kurang.”
Ucap Miyuki sedikit merindukan kehadiran Riki.
Memang ketika istirahat Riki selalu saja memancing sebuah pembicaraan dan membuat semuanya menjadi aktif. Bahkan dia bisa membuat pembicaraan itu tidak ada habisnya sampai jam istirahat selesai. Dan tanpa kehadiran Riki, tidak ada seseorang yang bisa melakukan hal itu di sini.
Apa kalian berharap aku dan Maul melakukan hal seperti itu? Itu tidak mungkin, aku dan Maul memiliki sifat yang hampir sama, walaupun Maul sedikit lebih bersahabat seperti Riki tapi Maul adalah tipe orang yang sulit untuk memulai pembicaraan di awal jika tidak ada topik yang menarik untuk dibahas.
Kalau Rian adalah orang yang pendiam, dia hanya aktif ketika sedang ekskul rohis saja. Takeshi? Aku tidak mengharapkan apa-apa darinya, tapi setiap dia bergabung dalam kelompok kami, dia juga termasuk orang yang jarang berbicara.
“Iya, terasa hampa sekali perkumpulan ini.”
Sahut Yoshida sambil melihat kami satu dengan yang lainnya.
“Riki hanya pergi untuk sebulan saja, tidak lama.”
“Memangnya kamu tidak merasa kesepian Mar?”
Miyuki bertanya kepadaku.
Aku? Kesepian karena tidak ada Riki? Itu tidak mungkin. Satu-satunya yang aku rasakan saat ini adalah rasa khawatir karena penjagaku satu-satunya sedang tidak ada. Aku takut ada sesuatu yang merepotkan terjadi saat dia tidak ada di sampingku.
“Kesepian? Aku rasa tidak, aku malah lebih suka karena bisa menghabiskan waktu tidurku di kelas dengan tenang.”
“Apa yang ada di pikiranmu hanya tidur saja Mar?”
Miyuki terlihat bosan sekali, aku dapat melihatnya dengan jelas di matanya.
“Tentu saja, aku harus mengistirahatkan tubuhku agar dapat bekerja di malam hari. Kalau tidak seperti itu bisa-bisa daya tahan tubuhku berkurang dan aku menjadi sakit.”
“Memangnya pekerjaan yang kamu lakukan masih banyak Ar? Bukannya sekarang sudah ada karyawan yang membantumu.”
Tanya Rina kepadaku.
“Karena saat awal-awal membuat aplikasi ini aku terbiasa tidur saat mendekati waktu subuh, aku jadi tidak terbiasa jika tidur lebih awal dari waktu itu. makanya aku biasa bermain gim terlebih dahulu sampai aku mengantuk.”
“Kamu ini Mar, berhentilah mengajak Misaki untuk bermain gim hingga larut malam. Aku sering memergokinya masih terbangun saat malam hari.”
Miyuki langsung memarahiku.
“Itu bukan kesalahanku, Misaki sendiri yang masih mau bermain denganku hingga larut malam. Padahal setiap jam dua belas, aku selalu menyuruhnya untuk tidur.”
“Tetap saja! Jam dua belas itu sudah sangat malam untuk anak seukuran Misaki.”
Benarkah seperti itu? Aku rasa untuk anak kecil kelas empat sampai lima SD tidur jam dua belas malam sudah termasuk biasa. Apa cuman aku saja yang melakukannya ya?
“Memangnya apa untungnya bermain gim? Bukannya itu hanya membuang-buang waktu saja.”
Takeshi bergabung dengan pembicaraan kami.
“Memangnya kau tidak pernah bermain gim?”
Maul menjawab pertanyaan dari Takeshi.
“Aku hanya bermain gim saat akhir pekan saja.”
“Lalu apa yang kau lakukan saat hari biasa?”
Sambung Maul melanjutkan pertanyaannya itu.
“Hanya belajar dan berolahraga mungkin.”
Ucap Takeshi sambil mengingat-ingat hal itu.
“Membosankan sekali keseharianmu, kalau tidak melakukan sesuatu yang menyenangkan sama sekali.”
“Apa kau bilang Mar!”
Takeshi sedikit marah mendengar apa yang baru saja aku ucapkan.
“Dengar! Menjadi profesional gamer adalah salah satu dari impianku. Karena menurutku bekerja di sesuatu yang menjadi hobi kita adalah hal yang terbaik.”
Aku menunjuk Takeshi dengan menggunakan sendok makanku.
“Bukannya sekarang kamu sudah memiliki pekerjaan yang bagus Mar? Buat apa mencari lagi?”
Yoshida bertanya keheranan kepadaku.
“Aku hanya ingin mencobanya saja ketika ada kesempatan.”
__ADS_1
“Misaki juga pernah mengatakan hal itu kepadaku, apalagi setelah melihat pertandingan sebuah gim yang memiliki hadiah yang sangat besar.”
“Itulah kenapa aku ingin mencobanya, selagi masih muda tidak ada salahnya untuk memperbanyak pengalaman di bidang apapun.”
“Kata-katamu barusan itu keren sekali, aku suka itu.”
Maul pun mengepalkan tangannya dan mengarahkannya kepadaku, aku pun mengepalkan tanganku juga dan kami melakukan salam tinju.
“Ngomong-ngomong bagaimana perkembangan dari kasus itu akhir-akhir ini?”
Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan soal itu. Karena akhir-akhir ini aku jarang sekali melihat kasus penculikkan di berita yang ada di televisi.
“Lumayan bagus, saat ini kasus itu sedang mengalami penurunan yang signifikan.”
“Alhamdulillah!”
Rina dan Miyuki sangat senang sekali ketika mendengar itu.
“Tapi kenapa hal itu bisa terjadi? Apa bapakmu melakukan sesuatu?”
“Hal itu bisa terjadi karena saat ini sudah banyak masyarakat yang menjadi waspada dengan sesuatu hal dan setiap malam polisi selalu berpatroli ke wilayah-wilayah yang rawan akan penculikkan.”
“Heee... Begitu.”
“Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan Mar?”
Miyuki melihatku saat ini.
“Tidak ada.”
“Saat ini juga bapakku sedang menyelidiki orang-orang di dalam kepolisian yang sekiranya memiliki hubungan langsung dengan orang dari aksi penculikkan ini, atau mereka yang dapat disogok dan membocorkan informasu milik kepolisian.”
Tambah Maul kepada kami.
“Ya.. Setidaknya kasusnya sudah menurun dan polisi berhasil mengatasinya, dengan begitu aku tidak perlu khawatir lagi jika harus pulang malam hari.”
“Kau benar, untuk saat ini kita masih bisa bernafas lega setidaknya.”
Walaupun menurutku kita tidak bisa lengah juga kalau kasus ini belum seutuhnya menghilang.
“Kalau begitu aku bisa menonton bioskop lagi saat pulang sekolah.”
Jadi itu yang membuat Miyuki sangat senang tadi.
“Kau tidak boleh melakukan itu dulu untuk saat ini.”
Aku mencoba untuk memperingati Miyuki.
Perempuan ini, baru saja kondisinya sudah membaik sedikit dia sudah mau melakukan hal itu.
“Kenapa? Bukankah kasusnya sudah menurun dan kepolisian sudah meningkatkan keamanan, berarti aku bisa pergi saat malam hari tanpa perlu khawatir apapun kan?”
“Kalau penurunan kasus itu bukan berarti kasusnya sudah lenyap, kalau semua orang memiliki pemikiran yang sama denganmu, yang ada kasusnya malah makin bertambah.”
Maul menambahkan penjelasannya kepada kami.
“Aku rasa kamu benar Mar, mungkin aku akan menontonnya melalui internet atau televisi di rumahku saja. Ya... Walaupun sensasinya sedikit berbeda dibandingkan menonton di bioskop.”
Miyuki terlihat sangat kecewa sekali, memang seberapa sukanya dia menonton bioskop.
“Bukannya itu tidak baik membuat masyarakat menjadi takut seperti itu?”
Tanya Takeshi kepada Maul.
“Aku rasa tidak masalah jika demi kebaikan seperti ini. Lagi pula ini tidak terjadi selamanya, paling sampai orang-orang yang bermasalah di dalam kepolisian ditemukan.”
“Benar apa yang dikatakan Amar. Ini tidak akan berlangsung lama.”
Maul membenarkan apa yang aku katakan.
Tapi dari informasi yang Maul katakan barusan membuatku terpikir sesuatu. Apa memang kasusnya saat ini sudah turun apa memang kepolisian sedang menyembunyikan sesuatu yang sama sekali tidak ingin diketahui oleh orang-orang.
Hmmm... Ini aneh.
“Apa yang sedang kau pikirkan Mar?”
Aku baru menyadari kalau dari tadi semua orang yang ada di sini sedang melihatku yang sedang berpikir.
Apa wajahku sangat kelihatan jika sedang memikirkan sesuatu? Aku rasa, aku harus mengatasi hal itu. Jujur ini sangat menggangguku.
“Bukannya bapakmu bisa dalam bahaya?”
“Kenapa?”
“Ini hanya kemungkinan yang aku pikirkan saja, aku tidak tau benar atau tidak. Tapi jika orang yang bermasalah di dalam kepolisian memiliki pengaruh yang tinggi dan jabatan dibandingkan bapakmu, bisa jadi bapakmu akan dibungkam akan hal itu.”
Karena menurut perkiraanku, hanya seorang yang memiliki pangkat tinggi di kepolisian saja yang dapat melakukan hal ini.
“Itu tidak mungkin terjadi, masih banyak atasan yang percaya dengan bapakku.”
Maul menyangkal perkiraanku itu.
Yah semoga saja apa yang aku pikirkan itu hanyalah pemikiranku semata saja.
“Oh iya Mar? Apa liburan nanti kamu dan yang lainnya akan pergi ke gunung lagi?”
Syukurlah Miyuki merubah pembicaraan ini ke arah yang lain.
“Aku baru ingin bertanya tentang hal itu juga.”
__ADS_1
Ucap Rian.
“Aku tidak tau apakah akan pergi ke sana atau tidak karena biasanya yang mengajakku untuk pergi mendaki adalah Riki. Aku sama sekali tidak pernah pergi menanjak ke gunung tidak bersama dengan Riki.”
Karena memang Riki adalah satu-satunya teman yang dekat denganku selain Maul dan dia orang yang selalu mengajakku mendaki ke gunung.
“Aku rasa lebih baik kau menanyakan hal itu kepada Riki saat dia sudah kembali ke Jakarta.”
Saran Maul kepada Miyuki.
“Aku akan melakukannya.”
“Apa pemandangan di atas gunung memang sebagus itu? Aku kalau mendengar cerita dari Miyuki terdengar seperti dia sedang melebih-lebihkannya saja.”
Kichida merasa penasaran dengan hal itu.
“Kamu jahat sekali Kichida, aku kira kamu tertarik juga dengan ceritaku saat itu.”
Kichida hanya tertawa kecil mendengar perkataan dari Miyuki.
“Asal kamu tau, saat aku pergi ke Gunung Prau bersama dengan Amar dan yang lainnya, pemandangan yang aku
lihat di sana tidak ada duanya apalagi saat matahari terbit. Awan-awan yang berada di bawahmu membentuk seperti lautan yang luas dan juga pemandangan tiga gunung yang berada di depanmu membuatmu ingin sekali kembali ke sana. Dan bukan hanya itu saat malam hari...”
Miyuki menceritakan semua yang dia lihat saat di Gunung Prau.
“Apa itu benar Mar?”
Yoshida memastikannya lagi kepadaku.
“Iya, semua yang Miyuki katakan benar terjadi saat itu.”
“Aku jadi ingin pergi ke gunung.”
“Aku juga.”
Seketika Kichida dan Yoshida pun menjadi ingin sekali pergi ke gunung.
“Tapi apa di atas gunung ada toilet?”
Kichida langsung bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang sedikit mengganggu.
“Ada beberapa gunung saja yang memiliki toilet di atas sana, tapi selebihnya tidak ada.”
“Lalu bagaimana jika ketika kalian di atas sana perlu pergi ke toilet?”
“Biasanya kami pergi dari tempat yang jauh dari keramaian dan mencari semak-semak untuk menuntaskannya di sana.”
Jawabku kepadanya.
“Hebat sekali kamu dapat melakukan hal seperti itu Miyuki.”
Kichida menatap kagum dan heran kepada Miyuki.
“Awalnya aku juga merasa risih dengan keadaan itu, tapi mau bagaimana lagi. Lebih baik dikeluarkan dari pada ditahan dan menunggunya hingga sampai di bawah lagi.”
“Kawan-kawan... Aku rasa masih ada hal-hal indah di gunung yang dapat kalian bicarakan dibandingkan membicarakan tentang hal itu.”
Maul langsung merubah arah pembicaraan yang sudah tidak karuan lagi.
“Kira-kira gunung mana yang akan kalian daki nanti?”
Miyuki yang terlihat masih bersemangat langsung bertanya kepadaku.
“Mungkin kalau liburan semester nanti kita akan pergi ke Gunung Gede yang ada di Bogor karena jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.”
Ucapku menjawab pertanyaan dari Miyuki.
“Apa gunung itu memiliki ketinggian yang sama seperti Gunung Prau?”
“Tidak, Gunung Gede jauh lebih tinggi dibandingkan Gunung Prau, dan di Gunung Gede juga banyak sekali cadangan air ketika di atas saja, jadi kita tidak perlu khawatir jika kehabisan air saat sedang mendaki.”
“Di salah satu jalur pendakian di Gunung Gede juga ada air terjun dan sungai yang bisa kita pakai untuk mandi dan berendam di sana.”
Maul pun menambahkan ucapanku yang membuat Miyuki semakin tertarik untuk mendaki ke Gunung Gede.
“Benarkah itu?”
Aku dapat melihat mata Miyuki yang berbinar-binar saat ini. Aku rasa dia sudah tidak sabar untuk mendaki ke sana.
“Iya, tapi jalur pendakiannya lebih panjang dan lama dibandingkan dengan Gunung Prau.”
“Selama aku bisa melihat pemandangan yang indah di atas sana, itu tidak masalah.”
“Sepertinya Miyuki sangat ketagihan untuk naik gunung.”
Ucap Rina sambil tertawa kecil.
“Tentu saja, aku tidak menyangka kalau naik gunung bisa semenyenangkan itu, awalnya memang melelahkan tapi semua itu terbayar dengan pemandangan-pemandangan indah yang kita dapatkan saat di atas sana.”
“Tidak selamanya saat kita mendaki gunung akan mendapatkan pemandangan yang indah. Hanya kondisi tertentu kita bisa mendapatkan pemandangan yang indah seperti kemarin.”
Aku mengucapkan hal itu kepada Miyuki agar dia tidak kecewa ketika saat sedang mendaki gunung dan tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Kadang-kadang juga saat sedang mendaki kita tidak mendapatkan pemandangan sama sekali karena kabut tebal yang menutupi pemandangan yang ada.”
“Sayang sekali kalau begitu.”
“Itu tidak masalah, selama masih bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan di atas gunung.”
__ADS_1
Walaupun sudah aku katakan seperti itu dia masih saja bersemangat, baguslah kalau begitu. Setidaknya aku tidak akan mendengarkan keluhannya saat mendaki gunung dan tidak mendapatkan pemandangan yang bagus di atas sana.
-End Chapter 91-