
Malam hari pun telah tiba, seluruh area campsite telah ditutupi oleh kegelapan malam. Hanya sinar bulan dan bintang saja yang menjadi penerang di saat itu. Langit pun terlihat cerah dengan bintang-bintang yang berhamburan dengan sangat indah. Setelah salat isya, semua kelompok sudah mengitari api unggun besar yang berada di tengah-tengah kami. Kelompokku pun sedang mempersiapkan pertunjukan yang akan kami tampilkan nanti.
“Apa yang tadi kau lakukan dengan Kak Avlin?”
Maul adalah orang yang penasaran tentang kegiata apa saja yang aku lakukan dengan Kak Alvin sore tadi.
“Kami hanya berkeliling sekitar campsite saja. Tidak ada hal yang menarik dibahas saat itu.”
“Kau jangan berbohong Mar, aku sudah tau kalau dia pasti membicarakan tentang kasus pencurian itu.”
“Dia bertanya tentang sejauh mana aku mengetahui siapa pelaku dari pencurian itu.”
“Lalu apa yang kau katakan kepadanya?”
Rasa penasaran Maul makin menjadi-jadi.
“Tentu saja aku mengatakan kalau aku belum mengetahui siapa pelakunya.”
“Kenapa kau tidak memberitahu pelakunya ke Kak Alvin?”
“Aku memang belum mengetahui mengetahui siapa pelakunya, jadi percuma saja kalau aku memberitahu Kak Alvin.”
“Bukankah itu kesempatan yang bagus untuk mengeluarkan kau dari masalah ini.”
Maul menggelengkan kepalanya, sepertinya dia masih belum mengerti jalan pikiranku seperti apa.
“Masih ada beberapa hal yang ingin aku selidiki lagi. Lagi pula aku memiliki firasat kalau aku memberitahu Kak Alvin, rencanaku tidak akan berjalan dengan lancar.”
“Aku serahkan hal itu sepenuhnya kepadamu Mar. Sepertinya rencana yang sudah kau buat lebih matang dari apa yang aku kira.”
Ketika kami sedang menikmati pertunjukan yang dilakukan oleh setiap kelompok. Aku melihat Kak Fauzi memanggilku dengan tanggannya. Aku yakin kalau topik pembicaraan yang ingin Kak Fauzi bicarakan tidak jauh berbeda dengan Kak Alvin.
“Ada apa Kak?”
Aku pun menghampiri Kak Fauzi yang jaraknya tidak jauh dari tempatku.
“Ikut aku sebentar, aku ingin bicara denganmu.”
Kak Fauzi pun mengajakku ke sebuah tempat yang tidak jauh dari sana untuk berbicara empat mata dengannya. Karena kondisi sudah malam dan minimnya penerangan yang ada di sana, jadi tidak ada yang bisa melihat kami dengan jelas saat itu karena terhalang oleh kegelapan malam.
“Apa kakak memanggilku ke sini karena ingin bertanya tentang kasus tadi?”
“Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya lagi kepadamu.”
Aku samar-samar melihat Kak Fauzi yang tersenyum kecil.
“Apakah kamu sudah mengetahui siapakah pelakunya?”
Kak Fauzi bertanya sama persis dengan pertanyaan dari Kak Alvin.
“Kenapa pertanyaan kalian bisa sama seperti itu?”
“Dengan siapa?”
Kak Fauzi terlihat terkejut setelah mendengarnya.
“Kak Fauzi... Tadi sore baru saja dia bertanya hal yang sama dengan yang kau katakan.”
“Hahahahahaha... Jadi bagaimana jawabanmu? Ketika melihat kau tertuduh dalam kasus ini. Aku sangat tidak percaya kalau kau melakukan hal seperti itu. Hanya ada satu hal yang dapat aku pikirkan saat itu, kalau kau sedang dijebak oleh seseorang.”
“Aku belum mengetahui siapa pelakunya.”
“Kau pasti berbohong... Aku sudah mengenalmu dari SMP Mar. Aku yakin pasti kau mengetahui siapa pelakunya.”
Aku hanya tersenyum kecil mendengar perkataan dari Kak Fauzi.
“Kegiatan LDKS ini menyibukan diriku, jadi aku tidak memiliki waktu untuk menyelidiki pelakunya. Aku sekarang menjadi wakil di kelompoknya, jadi aku tidak bisa bergerak secara leluasa untuk mencari pelakunya.”
“Bagaimana tanggapan dari teman-teman sekelompokmu?”
“Rata-rata dari mereka percaya kalau aku bukanlah pelakunya. Apa lagi setelah tasku digeledah di depan semua murid seperti itu oleh Kak Alvin.”
“Aku sudah tau hal itu akan terjadi.”
“Bagaimana tanggapan kakak tentang hal ini?”
Aku bertanya balik kepada Kak Fauzi.
“Aku masih belum bisa menemukan siapa pelakunya, tapi aku mencurigai Deni yang merencanakan hal
ini semua.”
“Kenapa?”
“Karena ketika semua anggota OSIS sedang berkumpul, hanya dia saja yang selalu memanas-manasi anggota OSIS yang lain untuk menuduh Amar.”
__ADS_1
Aku pun berpikir sedikit setelah mendengar perkataan dari Kak Fauzi.
“Mungkin saja pelakunya itu Deni. Dia sengaja menjebakmu dengan rencana pencurian seperti ini, itulah kenapa dia bisa sengotot ini. Dulu Deni itu terkenal sebagai orang yang tenang dan dapat mengendalikan emosinya.”
“Sebenarnya aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu. Aku juga berpikir kalau Kak Deni lah yang merencanakan semua ini. tapi aku tidak mau menuduhnya terlebih dahulu. Barang bukti yang aku miliki untuk menuduh Kak Deni masih terbilang sedikit. Jadi aku tidak bisa berbuat banyak.”
“Kau terlalu berhati-hati Mar. Kalau aku menjadi dirimu sekarang, aku pasti sudah menuduh Deni dan meminta bantuan kepada Alvin untuk menyelesaikan masalah ini.”
“Itu adalah tindakan yang ceroboh, menuduh orang tanpa bukti yang kuat hanya akan membuat tuduhan itu berbalik kepada orang yang memberi tuduhan itu.”
Itulah kenapa untuk sekarang aku lebih baik bermain hati-hati. Karena masalah saat ini lebih sulit dibandingkan yang sebelumnya, salah satu langkah saja adalah akhir bagiku.
“Kau benar, mungkin caraku itu terlalu terburu-buru.”
“Ngomong-ngomong berapa orang yang kehilangan barangnya dan dari kelompok berapa saja?”
Aku bertanya kepada Kak Fauzi.
“Hanya kelompok delapan sampai tiga belas saja yang kehilangan barangnya, dan semua yang hilang itu adalah barang perempuan.”
Aku pun berpikir lagi setelah mendengar itu untuk menyempurnakan rencanaku. Ini adalah informasi yang berharaga. Dan dengan informasi ini juga semuanya sudah jelas siapa pelaku dari kasus pencurian ini.
“Apa kau mengetahui sesuatu Mar?”
“Tidak, aku tidak mengetahui apa-apa dari hal itu. Tapi informasi barusan sangatlah berharga.”
“Kalau kaumembutuhkan bantuanku janganlah sungkan Mar, aku pasti akan membantumu semampuyang aku bisa.”
Kak Fauzi menjulurkan tangannya kepadaku.
“Terima kasih ata bantuannya, aku akan menghubungimu jika aku membutuhkan bantuan.”
Setelah pembicaraan empat mata itu, kami pun kembali ke tempat kami masing-masing. Namun ketika aku ingin kembali ke kelompokku, aku bertemu dengan Yoshida yang sepertinya sedang menungguku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku ingin berbicara denganmu empat mata Mar.”
Mendengar perkataan dari Yoshida membuatku menjadi bingung. Kenapa hari ini banyak sekali orang yang ingin berbicara empat mata denganku. Ternyata ini lebih merepotkan dibandingkan yang aku duga.
“Apa kau ingin membicarakan tentang kasus pencurian itu?”
Yoshida pun hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya saja.
Huh... Ternyata hal itu lagi, bisakah kalian membiarkanku sendiri dengan semua rencana yang sudah aku buat. Saat ini aku sangat ingin membutuhkan ketenangan untuk menyusun langkah demi langkah selanjutnya.
Yoshida... Sepertinya kau tidak perlu mengatakan hal itu di sini. Kau hanya akan mengacaukan pikiranku saja di sini. Apa kau tidak ingat bagaimana situasinya saat ini?
Keadaan yang gelap gulita, sudut pandang yang terhalang oleh pohon-pohon yang ada di sini, dan sekarang kau sedang berdua saja dengan seorang lelaki yang menjadi tersangka dari kasus pencurian itu. Dengan kata lain, orang cabul.
Bagaimana jika aku adalah pelaku yang sebenarnya dan langsung menyerangmu sekarang? Menurutku ini adalah saat yang paling bagus untuk melakukan hal itu.
Tidak.. Tidak.. Tidak, aku harus mengalihkan pikiranku dengan sesuatu yang lain. Aku tidak mau pikiran seperti itu merasuki pikiranku saat ini.
Tarik nafas dalam-dalam... Hembuskan... Oke, sekarang sudah tenang lagi.
“Buruk sekali orang yang melakukan itu.”
“Aku yakin kalau hal ini terjadi karena kamu mendekati Miyuki Mar.”
“Apa yang baru saja kau katakan tidaklah salah, memang karena aku terlalu dekat dengan Miyuki hal ini bisa terjadi.”
Sebenarnya masalah seperti ini tidak akan terjadi jika ketika masa orientasi aku membiarkan Miyuki digoda oleh Kak Deni dan langsung balik ke kelasku. Lagi pula tidak mungkin Kak Deni melakukan sesuatu yang sangat berlebihan di lingkungan sekolah.
...
Tunggu... Aku menyadari sesuatu lagi.
“Mar?”
Yoshida melihatku yang sedang terdiam memikirkan sesuatu.
“Maaf, ada sesuatu yang sedang aku pikirkan tadi.”
“Aku ingin membantumu untuk keluar dari masalah ini Mar. Aku tidak tega melihatmu dituduh oleh semua orang seperti tadi. Lagi pula kenapa kamu tidak melakukan pembelaan saat diminta oleh Kak Alvin, siapa tau itu akan menyelamatkanmu dari hal ini.”
“Bukankah aku sudah mengatakannya, aku tidak mau melakukan sesuatu yang merepotkan. Lagi pula untuk saat ini aku belum membutuhkan bantuanmu, semua rencana yang aku lakukan sudah berjalan dengan lancar. Tapi terima kasih telah peduli kepadaku.”
“Aku tidak percaya hal itu, dari kemarin kamu selalu mengatakan hal semacam itu terus. Aku muak melihat sikapmu yang tidak mau mengandalkan orang lain dan selalu menanggungnya sendiri.”
Nada suara Yoshida sedikit meninggi dan dia sekarang terlihat marah kepadaku.
“Kau salah Yoshida, nyatanya dalam masalah ini aku sudah meminta bantuan kepada Riki dan Maul tepat sebelum LDKS berlangsung. Dan juga, semua rencanaku tidak dapat terbentuk tanpa bantuan dari orang-orang di sekitarku.”
“Tapi mengapa kamu tidak mau meminta bantuan kepadaku Mar? Aku kan juga mau membantumu.”
__ADS_1
“Maaf, aku tidak mau merepotkanmu dan terlibat ke masalahku lebih dalam lagi.”
Sebenarnya aku masih belum percaya dengan Yoshida. Jangankah Yoshida yang baru dekat denganku akhir-akhir ini. Miyuki saja yang aku pernah menceritakan masa laluku kepadanya, aku masih belum sepenuhnya percaya kepadanya untuk membantuku dalam menyelesaikan sebuah masalah. Aku masih menganggap kalau mereka hanya akan membuat rencanaku tidak berjalan dengan semestinya.
“Kamu tidak akan merepotkanku Mar. Aku malah senang jika kamu bergantung kepadaku.”
Ini yang sudah lama mengganjal pikiranku.
“Kenapa kamu selalu bersikeras kepadaku seperti ini?”
“...Aku hanya ingin membalas kebaikan dari Miyuki saja.”
Suara Yoshida pun menjadi normal kembali dan dia menunduk murung.
Berkat perkataan Yoshida barusan membuatku menjadi bingung kembali. Karena selama ini dia selalu ingin menjauhkanku dari Miyuki karena dia masih memiliki kebencian kepadanya tapi setelah mendengar hal ini membuatku menjadi bingung harus berkata apa.
“...Kamu itu termasuk orang yang berharga bagi Miyuki.”
“Tunggu.. Tunggu... Aku semakin bingung dengan perkataanmu. Berharga? Aku orang yang
berharga bagi Miyuki?”
Kalimat itu terasa ambigu menurutku. Banyak hal yang dapat di artikan dari kalimat barusan.
“...Ketika Miyuki dimusuhi satu sekolah waktu SMP, aku sempat termakan isu itu dan mulai menjauhi Miyuki. Aku tau kalau Miyuki merasa sakit dengan perlakuan teman-temannya kepada dirinya, bahkan aku sempat sesekali mendengarnya menangis sendirian di kamar mandi. Tapi suatu hari, dia tiba-tiba kembali seperti Miyuki yang biasanya dan aku baru mengetahui penyebabnya saat pergi ke Kepulauan Seribu. Di sana Miyuki terlihat sangat gembira sekali ketika sedang berkumpul bersama kamu dan juga yang lainnya.”
Yoshida pun menceritakan itu kepadaku. Ternyata apa yang dirasakan oleh Yoshida hampir sama seperti Kichida.
“Kalau soal itu, aku tidak berperan banyak di sini. Kalau kau mau berterima kasih, berterima kasih lah kepada Rina. Dialah yang banyak memberikan masukan-masukan kepada Miyuki.”
Walaupun Miyuki berkata kalau dia bisa selamat dari kejadian itu karena menggabungkan saran dariku dan juga Rina, tapi menurutku Rina lah yang paling cocok mendapatkan hal itu.
“Tetapi hal itu tidak merubah fakta kalau kamu termasuk orang yang berharga bagi Miyuki.”
Ahh.. Bagaimana ini? Aku tidak tau lagi harus berkata apa kepadanya sekarang. Aku memang tidak bisa jika harus berurusan dengan perempuan.
“Asal kau tau... Ketika kau bersikap biasa saja seperti sekarang sudah termasuk membantuku dalam rencana yang aku buat.”
“Benarkah itu?”
“Itu benar.”
“Aku membutuhkan sebuah bukti kuat agar aku percaya sepenuhnya kepadamu?”
Ahh!! Merepotkan sekali dia, mengapa setiap perempuan yang aku kenal sangat merepotkan sekali. Apa memang seperti ini sikap asli mereka? Aku sama sekali tidak percaya ini.
“Baiklah, kalau seandainya rencanaku gagal, kau boleh meminta apapun yang kau mau selama hal itu dapat aku lakukan. Bagaimana?”
“Kamu yakin?”
Yoshida pun terlihat senang sekali dengan tawaran yang aku berikan.
“Aku serius akan hal ini.”
Kalau tidak seperti ini, aku yakin dia pasti akan terus menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada habisnya. Aku tidak mau waktuku terbuang sia-sia hanya untuk meladeninya saja. Lagi pula aku yakin kalau rencanaku ini akan berhasil.
“Baiklah, aku akan mencoba untuk percaya kepadamu. Kamu jangan menyesal ya karena telah memberikanku penawaran seperti ini.”
“Tenang saja, aku yakin rencanaku akan berjalan dengan lancar dan aku dapat keluar dari masalah ini.”
Yoshida pun kembali ke tempatnya.
Setelah kepergian Yoshida, aku pun berdiam diri sejenak dan menyusun ulang rencanaku. Karena aku baru saja mendapatkan informasi baru dari Kak Fauzi yang dapat menambahkan tingkat keberhasilan dari rencanaku ini.
Hmmm... Baiklah, mari kita susun dari awal.
Informasi dari Riki ditambah informasi dari Maul membuat kesimpulan kalau Kak Deni akan melakukan tindakan pencurian saat acara LDKS.
Kalau menurut informasi dari Kak Fauzi, Kak Deni adalah orang yang tenang dan mudah mengatur emosinya. Dan kelompok yang terkena dampaknya hanya dari kelompok delapan sampai tiga belas.
Kebetulan jarak dari masing-masing tenda tidak terlalu jauh dan letak masing-masing tenda juga bersebelahan sesuai dengan nomor urutnya.
Anggota OSIS harus berjaga di masing-masing pos saat acara mencari jejak dan aku menemukan barang-barang curian itu ketika aku kembali ke tendaku kira-kira tiga puluh menit setelah acara berlangsung.
Lagi pula setiap kelompok pergi ke pos yang berbeda, dengan kata lain setiap pos pasti kebagian menjadi pos pertama dari salah satu kelompok. Aku rasa melakukan pencurian di enam tenda seorang diri terlalu memakan waktu yang lama, mengingat dia juga harus kembali ke posnya sebelum ada kelompok yang tiba di sana.
Berarti sampai di sini aku dapat menyimpulkan kalau Kak Deni tidak mungkin melakukan hal ini sendirian, pasti ada seseorang yang membantunya. Selain membantu dalam hal pencurian, dia juga memerlukan orang untuk mengalihkan perhatian guru-guru yang ada.
Tapi siapa yang dapat melakukan itu?
...
Ah... Semuanya sekarang sudah jelas.
Aku pun menemukan satu jawaban dari hal itu.
__ADS_1
Kemudian dari balik kegelapan malam muncul Riki yang tidak tau dari mana asalnya. Aku hanya tersenyum saja ketika melihat Riki datang menghampiriku.
-End Chapter 45-