Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 125 : Mentraktir Rina.


__ADS_3

Hujan lebat yang mengguyur ibukota dari pagi hari hingga siang hari terjadi pada akhir pekan ini. Sebenarnya hari ini aku ada janji dengan Rina untuk pergi mencari hadiah untuk ulang tahun Miyuki pada jam sepuluh. Tapi karena kondisi masih hujan, kami pun mengundur waktunya hingga hujan reda.


Pada saat hujan reda, aku langsung pergi ke mal untuk bertemu Rina di sana.


Ya, walaupun rumah kami dekat, kami lebih memilih untuk bertemu di sana dibandingkan berangkat bersama dari rumah.


Ketika sampai di sana, aku langsung bertemu dengan Rina yang menungguku tidak jauh dari pintu masuk.


“Maaf aku sedikit terlambat."


Ucapku kepada Rina.


“Tidak apa Ar, aku juga baru sampai di sini. Mari kita mulai mencari hadiahnya.”


Kami pun mulai menyusuri mal itu untuk mencari hadiah terbaik untuk diberikan kepada Miyuki.


Aku melihat ke setiap toko yang ada di sana tapi aku bingung hadiah apa yang bagus untuk diberikan kepada Miyuki.


“Kira-kira Miyuki mau hadiah apa ya?”


Rina bertanya kepadaku sambil melihat toko-toko yang ada di sana.


“Aku tidak tau.”


Seharusnya Rina lebih tau tentang hal ini dibandingkan denganku, karena jelas dia adalah teman sekelasnya dan sepertinya mereka adalah teman dekatnya.


“Apa yang ingin kamu berikan kepada Miyuki untuk hadiah ulang tahun Ar?”


“Tidak tau.”


“Kenapa kau dari tadi berkata tidak tau melulu Ar!”


Rina merasa kesal akan hal itu.


“Ya karena aku tidak tau apa yang harus dibeli.”


“Sebenarnya aku berniat untuk membeli baju untuk Miyuki, bagaimana menurutmu Ar?”


“Itu ide bagus.”


Mau tidak mau aku berkata seperti itu karena aku sama sekali tidak tau mau membelikan dia apa.


“Sepertinya ukuran bajunya hampir sama denganku.”


Rina pun sedikit berputar ke kanan dan ke kiri untuk melihat-lihat ukuran badannya.


Setelah tau apa yang ingin kami beli, kami pun langsung pergi ke sebuah toko yang menjual baju-baju yang ada di mal tersebut.


Rina mulai memilih baju-baju yang sekiranya akan cocok dipakai oleh Miyuki.


“Apa kau memiliki uang untuk membeli hadiah ulang tahun Rina?”


“Aku sudah mengumpulkan untuk hal ini.”


Rina masih memilih-milih baju yang ada di hadapannya.


Sebenarnya kalau uangnya dia memang kurang, aku mau memberikan sedikit uangku untuknya. Kebetulan sebelum ke sini aku sudah mengambil uang terlebih dahulu di ATM dan aku juga membawa kartu debit jika uang yang aku bawa kurang.


“Kira-kira baju yang mana yang paling bagus?”


Rina pun menujukkan kedua baju di kedua tangannya dan aku mengalami sebuah deja vu


saat itu.


Ya, pada saat itu aku sekilas mengingat kenanganku ketika memilihkan hadiah untuk Rina bersama dengan Miyuki. Saat itu Miyuki memperagakan sesuatu seperti Rina saat ini.


Dan dari sana pun aku terpikirkan sebuah ide yang sepertinya cukup bagus menurutku.


“Sepertinya ada hal yang lebih bagus untuk dibelikan kepada Miyuki untuk menjadi hadiahnya.”


“Apa itu Ar?”


Rina terlihat penasaran saat aku mengatakan hal itu.


“Ikut aku.”


Aku pun mengajak Rina untuk pergi ke sebuah toko busana muslimah yang dulu pernah aku datangi bersama dengan Miyuki.


“Kenapa kamu membawaku ke tempat ini Ar?”


Rina bertanya heran kepadaku.


“Miyuki pernah berkata kepadaku kalau dia ingin menggunakan hijab suatu saat nanti.”


“Kapan kamu mendengar hal itu Ar?”


“Aku mendengar itu saat sedang menemaninya untuk mencarikan hadiah ulang tahunmu.”


“Hee... Kalau begitu aku akan membelikan Miyuki hijab dan gamis.”


Apa Rina memiliki uang sebanyak itu? Setahuku harga pakaian di sini cukup mahal karena aku pernah melihat harganya saat berbelanja dengan Miyuki.


Tapi kalau dia sudah berkata dengan penuh percaya diri seperti itu, berarti dia memang memiliki uang yang cukup.


“Apapun yang terjadi, jangan pernah bertanya kepadaku tentang pakaian yang bagus.”


Aku memperingati Rina akan suatu hal.


“Kenapa?”


“Aku tidak bisa menentukan mana pakaian yang bagus menurutku.”


Itulah yang terjadi saat aku mencarikan hadiah dengan Miyuki juga. Aku tidak bisa memberikan masukan banyak kepadanya, apalagi tentang pakaian wanita.


“Lalu Bagaimana selama ini kamu menentukan pakaianmu Ar?”


“Apa kau pernah melihatku menggunakan pakaian yang modis?”


Aku bertanya balik kepadanya.


“Tidak, aku selalu melihatmu menggunakan kaus berwarna hitam dan juga jaket, tapi sesekali kamu juga pernah menggunakan pakaian berkerah.”


“Aku tidak pernah memikirkan tentang penampilan, makanya aku tidak tau dengan hal-hal seperti ini.”


Ketika ibuku ingin pergi membelikan pakaian baru untukku, aku selalu menekankan kepadanya untuk membeli pakaian dengan warna gelap atau tidak hitam. Karena dengan warna gelap, aku tidak perlu takut jika baju yang aku gunakan akan terlihat kotor, dan aku juga dapat membersihkannya dengan mudah.


“Kalau begitu aku akan memilihnya sendiri.”


Rina pun pergi berkeliling toko itu untuk melihat-lihat pakaian mana yang bagus. Sedangkan aku hanya duduk menunggu di sebuah kursi yang disediakan di sana.


Waktu demi waktu pun berlalu, aku selalu melihat jam tanganku dan bertanya kapan Rina selesai memilih bajunya.

__ADS_1


Akhirnya pertanyaanku terjawab, aku melihat Rina menghampiriku dengan sebuah baju yang dia pegang dengan tangannya.


“Ar, aku mau mencobanya dulu di ruang ganti ya. Aku mau minta masukanmu akan hal ini.”


“Baiklah.”


Aku pun pergi bersama Rina ke ruang ganti untuk memberikan tanggapan kepadanya.


“Aku masuk dulu ya.”


Sepuluh menit telah berlalu, akhirnya tirai yang berada di depanku terbuka dan disana terlihat Rina dengan menggunakan sebuah gamis berwarna putih dengan sedikit warna biru langit, begitu juga dengan hijab yang memiliki motif garis-garis perpaduan antara warna biru dan putih.


“Bagaimana Ar?”


“Gamis dan hijabnya cocok.”


“Kalau begitu aku akan membeli yang ini saja.”


Rina pun kembali masuk dan mengganti pakaiannya kembali.


Setelah membayar pakaian itu di meja kasir, akhirnya urusanku di sini pun selesai.


“Apa ada sesuatu yang ingin kamu tuju Ar?”


Rina sangat senang sekali karena dia sudah ada hadiah untuk diberikan kepada Miyuki saat ulang tahunnya nanti.


“Aku rasa tidak ada, aku mau buru-buru pulang.”


“Memangnya kau tidak mau mencarikan hadiah untuk Miyuki di sini?”


“Nanti aku membelinya di internet saja.”


“Baiklah kalau begitu.”


Aku pun melihat jam dan ternyata waktu sudah mau menunjukkan pukul tiga sore. Waktu berjalan sangat cepat sekali saat kita berada di sini.


“Rina, apa kau sudah makan siang?”


Memang saat ini bukan waktu yang pas untuk membicarakan tentang makan siang. Tapi sebelum pergi ke sini, aku hanya memakan-makanan sisa sarapanku karena ibuku sama sekali belum memasak makanan saat itu. Jadi aku sama sekali belum makan siang.


“Aku sudah makan sebelum pergi ke sini. Memangnya kamu belum makan Ar?”


“Belum, aku belum makan siang sama sekali. Tadi sebelum ke sini, ibuku belum memasak makanan untuk makan siang.”


“Bukannya kamu bilang di awal Ar, agar kita pergi ke tempat makan terlebih dahulu sebelum pergi mencari hadiah.”


Aku hanya menjawab pertanyaan Rina dengan menyeringai saja.


“Baiklah, kita pergi ke sana terlebih dahulu sebelum pulang.”


Akhirnya kami pun pergi ke tempat makan yang menyajikan makanan Jepang yang tidak jauh dari sana. Aku tidak tau kenapa kami pergi ke sini dan bukan aku yang memilih tempat ini, aku hanya mengikuti kemana Rina berjalan dan berakhir di sini.


Setelah mencari bangku kosong, kami pun mulai memilih menu yang ada di sana.


“Pesanlah sesuatu Rina, aku akan membayarnya.”


“Memangnya kamu ada uang Ar?”


Heh! Jangan remehkan keuanganku saat ini. Untuk membayarkan satu orang makan, itu bukanlah masalah besar.


“Tidak usah khawatir dengan hal itu, kau bisa memesan apapun tanpa perlu mengkhawatirkan dengan harganya.”


Aku bisa bilang kalau makanan yang di tempat makan ini memiliki harga yang cukup mahal. Tapi karena saat ini aku memiliki banyak sekali uang dan juga tambahan uang dari kasus kemarin membuat aku tidak begitu peduli walaupun harus makan di tempat makan yang memiliki harga tinggi.


Rina pun mulai memilih menu yang ada di sana.


Setelah kami sudah selesai memilih menu, kami memanggil pelayan yang di sana dan memberikan pesanan kami kepadanya.


Kemudian pada saat itu, aku melihat Rina yang terus memperhatikan gelang yang aku kenakan.


“Kenapa kau selalu melihat gelang ini Rina?”


Aku penasaran akan hal itu, karena bukan saat ini saja dia melihat gelang itu. Bahkan ketika kami sedang memilih hadiah untuk MIyuki, sesekali Rina melirik ke arah gelangku.


“Dari mana kamu mendapatkan gelang itu Mar?”


“Aku mendapatkannya saat acara tukar kado saat hari kelulusan ketika SMP.”


Aku menunjukkan gelangku yang aku gunakan di tangan kiriku bersama dengan jam tangan.


“Jadi kau masih menyimpannya.”


“Tentu saja, aku sangat suka menggunakan gelang seperti ini dari dulu.”


“Hee...”


“Sebenarnya aku juga mendapatkan gelang yang sama seperti ini dari Kirana, tapi aku lupa menaruh gelang itu dimana.”


Kemudian makanan yang kami pesan pun datang dan kami mulai menyantap makanannya.


Saat aku sedang ingin menyantap makanan, aku tidak sengaja menengok ke arah jendela yang ada di samping kananku. Kemudian aku melihat dua orang yang sedang melihat ke arahku dan juga Rina dengan senyuman yang sangat menjengkelkan sekali.


Dua orang itu adalah Riki dan juga Kirana, sepertinya mereka sedang pergi berkencan.


Melihat aku yang berada di tempat makan itu membuat mereka masuk ke dua dan pergi menghampiri kami.


“Oi Mar! Apa yang kau lakukan di sini bersama dengan Rina? Apa kalian berdua sedang kencan?”


Itulah kata pertama yang diucapkan oleh Riki ketika sampai di dekat kami berdua.


Seperti biasa, Rina hanya terdiam malu mendengar perkataan itu dari Riki.


“Kami baru saja mencari hadiah untuk ulang tahun Miyuki.”


“Memangnya kapan ulang tahun Miyuki?”


Riki dan Kirana pun bergabung dengan kami di sana.


Karena ada Riki dan Kirana, terpaksa kami harus pindah ke meja yang bisa menampung empat orang.


“Tanggal 23 Januari.”


“Itu sebentar lagi, mungkin aku akan membelikan sesuatu juga.”


Riki dan Kirana mulai mengambil menu yang ada di sana.


“Aku juga akan memberikan sesuatu.”


“Apa kamu mau makan terlebih dahulu Kirana?”


Riki bertanya kepada Kirana.

__ADS_1


“Iya, sepertinya kita makan terlebih dahulu saja.”


“Kirana, pesanlah makanan sesukamu, aku akan membayarnya. Tidak perlu khawatir dengan harga yang ada di sana.”


Riki menyombongkan diri kepada Kirana. Karena Riki juga mendapatkan uang hadiah dari kasus itu, pasti dia juga memiliki uang yang sangat banyak saat ini.


“Kau sombong sekali Rik!”


Aku berusaha meledeknya.


“Barusan kamu juga mengatakan hal yang serupa Ar.”


Mendengar itu membuat Riki dan Kirana menjadi tertawa.


“Ternyata kau bisa menyombongkan diri kepada perempuan juga Mar.”


Sekarang Riki yang meledekku balik.


“Kenapa Kak Riki bisa memiliki uang banyak sekarang?”


“Memangnya Riki belum memberitahumu Kirana?”


Rina bertanya hal itu kepada Kirana dan Kirana hanya membalasnya dengan gelengan kepala saja.


Dan Rina mulai menceritakan semua yang terjadi waktu itu dan darimana Riki mendapatkan uang sebanyak itu.


Lalu yang terjadi adalah Riki yang habis dimarahi oleh Kirana.


“Santai Kirana, pelankan suaramu. Kau bisa mengganggu pelanggan yang lainnya.”


Aku menyuruh Kirana untuk menurunkan suaranya karena aku melihat beberapa pelanggan yang ada di sekitar kami mulai memperhatikan kami.


“Dan juga kenapa kamu tidak menceritakan hal ini kepadaku Kak?”


“Aku belum mendapatkan waktu yang pas untuk menceritakannya kepadamu.”


Riki menjadi panik melihat Kirana yang marah seperti itu.


Kirana pun menarik nafas yang cukup panjang untuk menahan amarahnya.


“Syukurlah kalian tidak apa-apa.”


“Aku juga cemas ketika Amar melakukan hal itu.”


 Ucap Rina dengan nada yang sedikit memelan.


“Kenapa kalian perlu cemas seperti itu?”


“Tentu saja kami cemas, kalian baru saja melakukan sesuatu yang berbahaya!”


Rina dan Kirana berkata secara bersamaan dengan nada sedikit emosi menjawab pertanyaan dariku.


“Jika kalian berdua melihat Amar saat di tempat kejadian, mungkin kalian berdua akan lebih khawatir lagi.”


“Seharusnya keadaanmu yang lebih mengkhawatirkan Rik.”


Aku tidak terima dikatakan keadaanku mengkhawatirkan saat itu.


“Memangnya apa yang dilakukan  oleh Kak Amar?”


Kirana menjadi penasaran.


“Saat keadaan sudah genting dan salah satu penculiknya menodongkan pistolnya ke arahku, Amar dari belakang langsung menerkam pencuri itu dan menjatuhkan pistolnya ke lantai, bahkan dia mengarahkan pisau itu ke arah leher dari pencuri itu seakan dia ingin membunuhnya.”


Riki menceritakan itu dengan nada dramatis.


“Apa itu benar Ar?”


Aku merasakan hawa yang kuat sekali dari Rina yang berada di hadapanku.


“Riki terlalu mendramatisir kejadian itu.”


“Tapi kejadian itu benar terjadi.”


Riki berusaha meyakinkan yang lainnya.


“Aku tidak akan marah lagi untuk saat ini, setidaknya kalian berdua tidak apa-apa.”


“Syukurlah kalau begitu.”


Aku sangat lega sekali mendengarkan hal itu dari Rina. Aku juga sedikit bingung, kenapa Rina selalu marah kepadaku jika aku melakukan sesuatu yang membahayakan diri.


Apa karena dia suka denganku dan dia tidak mau aku berada di dalam bahaya?


Kalau seandainya memang begitu, dia sangat membuang-buang tenaganya sekali untuk mengurusi orang sepertiku. Dan ditambah, kita tidak memiliki hubungan apapun selain teman, tidak lebih.


“Ar, jika kau terluka karena melakukan hal seperti ini lagi. Aku pasti akan memberitahu hal ini kepada orang tuamu.”


Rina mulai mengancamku dengan ancaman yang sangat membuatku takut sekali.


“Apapun yang terjadi jangan lakukan itu.”


Aku memohon belas kasih kepada Rina.


“Berjanjilah untuk tidak membahayakan diri sendiri lagi.”


“Aku berjanji.”


“Itu bagus.”


Rina pun tersenyum melihatku yang menuruti apa keinginannya.


“Aku tidak pernah melihat Kak Amar senurut ini.”


Kirana merasa heran dengan sikapku saat ini.


“Saat ini, aku tidak bisa membantah Rina sedikitpun.”


Kirana tertawa kecil mendengar hal itu.


“Mar, bagaimana kalau setelah ini kalian ikut dengan kami?”


Ucap Riki kepadaku.


Aku pun melihat ke arah jamku dan mengingat apakah ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Ternyata tidak ada dan sepertinya tidak masalah menghabiskan waktu di sini.


“Aku tidak masalah, bagaimana denganmu Rina?”


“Aku juga memiliki banyak waktu.”


Dan akhirnya setelah menghabiskan makanan kami, kami mulai berjalan-jalan di mal itu sebentar dan pulang setelah salat Isya.

__ADS_1


-End Chapter 125-


__ADS_2