Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 78 : Anak Magang Khusus.


__ADS_3

Setelah merayakan ulang tahun yang tidak terduga bersama teman-temanku, aku langsung pergi ke kantor karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh Pak Hari kepada kami. Aku tidak tau apakah dia mau mengadakan rapat lagi atau tidak, tapi aku rasa ini adalah hal yang sangat penting sekali.


Saat aku sampai di kantor, aku sudah melihat beberapa pekerja magang yang ada di sana. Meja dan kursi sekarang juga sudah ada melengkapi kantor yang sebelumnya kosong melompong. Sekarang kantor ini terlihat selayaknya kantor yang aku kenal.


Lalu sekarang dimana Pak Hari berada. Biasanya dia akan menunggu kami di lobi, tapi sekarang dia tidak ada di sana. Sepertinya aku lebih baik bertanya kepada orang yang ada di sini.


“Permisi, Pak Harinya ada dimana ya?”


Aku bertanya kepada pekerja magang yang berada di dekatku.


“Maaf, adek siapa ya?”


“Saya Amar, mau bertemu dengan Pak Hari.”


“Oh Amar! Pak Hari berada di ruangannya.”


“Ruangan? Kami tidak tau dimana ruangannya Pak Hari.”


“Kalau begitu biar saya antarkan.”


Orang itu pun mengantar kami ke sebuah ruangan yang ada di sana.


Sebelum itu aku sempat melihat layar komputer orang itu dan dia sedang memeriksa komik yang akan terbit di aplikasi Comic Universe nanti. Tunggu! Kenapa di kantor ini juga ada komputer? Bukannya Pak Hari berkata kalau dia hanya membeli meja dan kursi saja.


“Apa kau tidak lihat wajah terkejutnya tadi Mar? Aku rasa dia sudah menganggap kita sebagai atasan di sini.”


Bisik Maul kepadaku, dia sangat senang ketika melihat itu.


Tapi aku sempat berpikir kalau rasanya tidak pantas seorang yang lebih tua memanggilku dengan sebutan Pak karena aku atasan mereka. Aku lebih nyaman jika mereka memanggilku dengan nama biasa saja.


“Pak Hari sudah ada di dalam, kalian berdua bisa langsung masuk saja.”


Orang itu pun kembali ke tempatnya lagi untuk bekerja.


Ketika aku membuka ruangan itu, aku melihat Pak Hari yang sedang merapikan ruangannya yang masih berantakan.


“Darimana semua barang-barang ini?”


Aku melihat semua barang yang berserakan di sana. Di sana ada beberapa kursi, seperangkat sofa beserta dengan meja kacanya, sebuah rak buku yang cukup besar, dan beberapa pajangan berserakan di sana.


“Semua barang-barang ini adalah barang-barangku saat aku masih mengelola perusahaan Semesta Komik. Setelah perusahaan itu bangkrut, aku pun menyimpan semua barang-barang ini di rumahku.”


Seberapa besar rumahnya Pak Hari hingga bisa menampung semua barang ini.


“Dimana Pak Febri?”


Aku bertanya hal itu karena dari tadi, aku belum melihat Pak Febri berada di sini. Seharusnya dia sudah sampai di sini lebih dulu sebelum kami.


“Dia baru saja pulang setelah menyelesaikan beberapa urusan di sini.”


Pak Hari pun masih mendorong-dorong kursi ke tempat yang diinginkannya.


“Lalu apa yang ingin Pak Hari sampaikan kepada kami?”


“Aku ingin mengatakan kepada kalian kalau aku ingin mengangkat karyawan baru.”


“Karyawan? Memangnya aplikasi sudah ada pemasukan?”


Aku selalu menegaskan hal ini kepada Pak Hari, karena uang adalah masalah yang sangat berisiko sekali dalam sebuah perusahaan. Bahkan perusahaan Pak Hari sebelumnya bangkrut juga karena uang yang dibawa lari.


“Maul!”


Pak Hari menyerahkan Maul untuk menjelaskan hal itu.


“Aku sudah mengumpulkan datanya sejak aplikasi ini sudah di rilis. Aku melihat jumlah orang yang mengunduh aplikasi kita sangatlah banyak akhir-akhir ini, bisa jadi kedepannya akan terus meningkat. Aku rasa tidak masalah jika kita menerima karyawan baru.”


“Aku penasaran dengan pemasukan dari aplikasi itu.”


“Kau sudah melihatnya sendiri dampak dari perilisan aplikasi itu kan Mar. Sudah banyak orang yang mengetahui aplikasi itu di sekolah kita, Rian termasuk salah satu di antaranya.”


“Benar juga.”


“Ini baru fase awal dan kedepannya masih mungkin bertambah.”


“Woo! Itu hebat sekali.”


Aku mungkin akan lebih mudah dalam bekerja nanti. Karyawan baru ya... Aku penasaran seperti apa mereka nantinya.


“Aku juga ingin mengatakan kepada kalian berdua kalau hari ini kalian berdua akan aku angkat menjadi Anak Magang Khusus atau disingkat Amasus.”


Pak Hari berpose ketika mengatakan hal itu. Aku sedikit terdiam ketika melihat tingkah dari Pak Hari, karena baru pertama kalinya aku melihat dia mengatakan sesuatu yang memalukan sambil berpose yang memalukan juga.

__ADS_1


“Amasus?”


Aku dan Maul tidak mengerti dengan apa yang Pak Hari maksud.


“Itu adalah jabatan yang dipegang Amar dan Maul selama bersekolah. Aku mau kalian berdua untuk fokus dengan pendidikannya terlebih dahulu.”


Jadi seperti itu... Untuk ukuran seorang atasan, dia cukup peduli juga dengan bawahannya.


“Aku tidak masalah dengan jabatan yang aku terima asalkan memiliki pendapatan yang pasti. Itu sudah cukup buatku.”


Woah! Keren sekali kau Mul, tidak pakai basa-basi lagi.


“Kalian tidak usah khawatir, aku juga akan membayar upah untuk kalian berdua. Mungkin aku akan membayarnya tiga bulan lagi.”


Tiga bulan! Rasa senang dan kecewa bercampur menjadi satu, tapi setidaknya aku mendapatkan bayaran dari pekerjaan ini. Karena dari awal Pak Febri mengajakku melakukan pekerjaan ini, dia mengatakan kalau pekerjaan ini kemungkinan tidak ada bayarannya. Mendapatkan bayaran aku rasa sudah cukup daripada tidak sama sekali.


“Tadi itu semua pekerja magang?”


Maul meletakkan tasnya di pojok ruangan dan mulai membantu Pak Hari merapihkan ruangannya, bersama denganku juga tentunya.


“Ada sepuluh pekerja magang yang bekerja saat ini dan mereka semua adalah mahasiswa yang sedang berada di semester-semester akhir.”


Aku baru ingat kalau mahasiswa juga ada satu semester mereka habiskan hanya untuk magang di sebuah perusahaan.


“Memangnya perusahaan ini sudah menjadi perusahaan resmi?”


“Aku sudah mendaftarkan perusahaan ini sejak perilisan aplikasinya dan baru saja diterima kemarin.”


Seperti yang aku harapkan dari Pak Hari, kerjanya dia selalu cepat dan tepat. Dia sudah sangat berpengalaman sekali.


Setelah merapihkan ruangan Pak Hari, kami langsung pergi ke atap untuk beristirahat di sana.


“Sore Pak!”


“Sore!”


Ada beberapa pekerja yang menyapa ke Pak Hari. Aku rasa mereka adalah pekerja magang yang dikatakan Pak Hari tadi.


“Oh iya aku lupa menanyakan ini, kenapa tadi di kantor sudah ada komputer di sana? Memangnya seberapa banyak uang pensiun yang bapak miliki?”


Aku teringat pertanyaan yang aku lupakan ketika berada di ruangannya Pak Hari.


Aku tidak tau harus kagum atau kasihan kepada Pak Hari. Aku kagum karena dia memiliki koneksi yang cukup luas hingga bisa menutupi kekurangannya itu, tapi aku kasihan dengan keluargannya karena semua uang yang Pak Hari miliki hanya digunakan untuk perusahaannya saja.


Tidak ada salahnya mengunakan sedikit dari uang pensiun untuk bersenang-senang.


“Kapan jam masuk di kantor ini Pak?”


“Kalau untuk saat ini kita masih mengikuti jam kerja pada umumnya, tapi aku mengizinkan siapa saja yang ingin bekerja lembur. Tentu aku akan membayarnya lebih.”


“Pantas saja ketika aku memeriksa pekerjaan di web sering sekali aku tidak melihat komik yang dapat aku kerjakan.”


“Tentu saja Mar! Para pekerja magang kali ini sangat bersemangat semua, mungkin saja mereka ingin mendaftar menjadi karyawan. Aku akan sangat senang untuk menerima mereka jika itu terjadi.”


Aku rasa yang membuat mereka bersemangat adalah uang tambahan yang kau janjikan itu. Aku juga akan bersemangat ketika kau bilang akan ada uang tambahan.


“Apakah kalau begini kita sudah tidak diperlukan lagi?”


Maul merasa cemas posisinya tergantikan oleh orang lain.


“Itulah kenapa aku memberikan kalian jabatan Amasus. Kalian bisa menganggap kalau kalian adalah atasan dari mereka. Memang atasan itu jika sudah memiliki anak buah lebih sedikit bekerja. Walaupun kalian tidak bekerja, kalian tetap mendapatkan bayaran karena kalian adalah atasan, tapi itu untuk saat ini saja.”


Woah! Apa yang dikatakan Maul sudah terwujud sekarang.


Aku dan Maul pun saling tatap menatap kegirangan mendengarkan hal itu dari Pak Hari.


“Tapi bukankah kalau begitu kita seperti gaji buta?”


Apalagi yang harus kau pikirkan Mul! Bukankah itu adalah surga dunia ketika kau bisa mendapatkan uang tanpa perlu bekerja sedikitpun.


“Memang kalian akan merasa seperti memakan gaji buta, tapi kalau sudah ada banyak karyawan yang bekerja di perusahaan ini dan jumlah komikus yang ikut terlibat dalam Comic Universe juga meningkat, nanti kalian juga akan keteteran dengan pekerjaan yang ada. Bisa jadi kalian akan bekerja lebih banyak dibandingkan bawahan kalian.”


“Itu tidak masalah asalkan bayaran yang kami terima juga berbeda.”


“Hahahahaha... Sudah pasti bayaran kalian akan berbeda dengan yang lainnya Mul.”


Ada sesuatu yang ingin aku pastikan.


“Apa yang membuat Pak Hari seperti ini kepada kami?”


“Kau, Maul, dan Febri sudah aku anggap seperti salah satu pendiri dari perusahaan ini. Tanpa bantuan dari kalian, aku tidak mungkin bisa mendirikan perusahaan ini, jadinya aku tidak bisa mengakui perusahaan ini milikku sendiri.”

__ADS_1


Mul! Apakah kau dengar itu? Apa yang kau katakan kepadaku saat di lorong kelas ketika kita pertama kali mengerjakan pekerjaan ini tidaklah salah.


“Tentu saja aku menempatkan kalian berdua memiliki posisi yang berbeda dibandingkan yang lainnya karena kalian berdua sudah bekerja dari awal dan bahkan saat itu kita tidak tau apakah aplikasi ini akan berhasil atau tidak, tapi karena kita yakin kalau aplikasi ini akan berhasil makanya bisa sampai seperti ini.”


Tambah Pak Hari yang membuatku sangat bangga dengan apa yang aku lakukan selama ini. Rasanya semua kerja keras dan waktu yang aku kerahkan untuk mengerjakan aplikasi ini tidak sia-sia. Rasa kantukku ketika mendengarkan pelajaran sudah tidak terasa lagi mendengar hal ini.


“Tapi kenapa aplikasi ini bisa secepat itu terkenalnya? Aku merasa kalau perkembangan aplikasi ini terlalu tidak masuk akal.”


“Itu karena aku meminta teman-temanku di perusahaan penerbitan untuk mengiklankan aplikasi ini dan juga ada beberapa temanku yang memiliki banyak pengikut di sosial media juga membantu dalam mengiklankannya.”


“Pantas saja aplikasi ini bisa meningkat secepat itu.”


Aku tidak pernah melihat Pak Hari bekerja saat di depan kami, dia hanya memberikan masukan dan arahan kepada kami. Tapi  ternyata di balik semua itu, dia berusaha dengan sangat keras hingga sampai seperti ini. Apakah ini yang disebut dengan pemimpin?


“Kalian berdua jangan pulang terlalu malam.”


Pak Hari langsung memberikan peringatan kepada kami.


“Apa ini ada kaitannya dengan kasus penculikkan itu?”


“Iya.”


Hee... Bahkan Pak Hari sekarang membicarakan tentang kasus ini. Padahal sebelumnya hanya hal pekerjaan saja yang dia bahas dengan kami.


“Bukankah kasus penculikkannya sudah berkurang sejak anggota kepolisian memperketat keamanan di lokasi-lokasi yang rawan penculikkan.”


Ucap Maul kepada Pak Hari.


“Walaupun sudah berkurang tapi kasus ini masih tetap ada. Kalian berdua jangan pernah lengah dan selalu berhati-hati. Kita tidak tau apa yang ada di sekeliling kita jika kita lengah.”


“Memangnya laki-laki juga diculik? Bukankah selama ini hanya perempuan saja yang menjadi targetnya?”


“Aku baru mendengar berita kalau ada juga laki-laki yang menjadi korban dari kasus ini.”


“Buat apa laki-laki di culik. Kalau perempuan aku masih bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi kalau untuk laki-laki aku tidak tau.”


Bukankah itu sudah jelas Mul. Kalau laki-laki pasti akan dijual organ tubuhnya ke pasar gelap.


Kalau memang itu yang terjadi ini sangat meresahkan sekali, aku tidak tau kalau hal seperti ini sampai masuk ke Indonesia. Aku memang sering mendengar dan melihat ini di film-film barat, tapi aku tidak pernah membayangkannya jika ini terjadi di dunia nyata bahkan di Indonesia. Aku merasa kasihan dengan orang-orang yang menjadi korbannya.


“Bapak sendiri tidak pulang? Bukankah bapak juga bisa menjadi taget mereka.”


“Aku masih ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan nanti. Jadinya aku tidak bisa pulang cepat ke rumah.”


“Urusan?”


Maul memandang Pak Hari dengan sedikit curiga. Sepertinya Maul sudah mengetahui kemana Pak Hari akan pergi selanjutnya. Untuk seorang Maul dia sangat berani sekali mencurigai atasannya. Oh iya, kita kan juga atasan sekarang.


“Kalian berdua masih terlalu dini untuk mengetahui hal itu.”


Pak Hari pun menghabiskan minumannya dan berniat untuk kembali ke ruangannya.


“Jangan menghambur-hamburkan uang loh Pak! Kita baru saja mendapatkan pemasukan di sini.”


“Itu tenang saja.”


Pak Hari sedikit salah tingkah ketika dikatakan oleh Maul seperti itu. Aku yakin kalau Maul sudah mengetahui sesuatu tentang hal ini.


“Apa kau tau kemana dia akan pergi selanjutnya?”


“Tentu.”


“Kemana dia akan pergi?”


“Klub malam.”


“Hah!?”


Pantas saja dia berkata terlalu dini bagi kami untuk mengetahui itu, jadi itu alasannya. Padahal sebelumnya aku sangat kagum dengan sikap kepemimpinan dari Pak Hari. Tapi aku tidak boleh mengambil keputusan secara cepat, siapa tau dia ada alasan lain untuk pergi ke sana.


“Kenapa kau bisa mengetahui hal itu?”


“Bukankah aku bilang kalau semua yang ada di kantor ini sudah berada di kendaliku. Bahkan aku tau kalau saat ini di ponselmu ada pesan masuk dari Misaki yang ingin mengajakmu untuk bermain gim bersama. Sepertinya kalian sudah sangat dekat sekali ya.”


Mendengar itu dari Maul, aku pun langsung memeriksa ponselku dan ternyata apa yang dikatakan Maul itu benar. Ada pesan masuk yang berasal dari Misaki yang mengajakku bermain.


“Jangan lakukan ini ke perusahaan lain Ok?”


“Ok.”


-End Chapter 78-

__ADS_1


__ADS_2