Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 38 : Mengapa Harus Di Rumahku?


__ADS_3

Pertandingan olahraga pun telah berakhir, berakhir juga masa orientasi yang diadakan selama tiga hari. Setelah menerima piala dan juga uang tunai sebanyak lima ratus ribu rupiah. Saat acara pemberian hadiah, aku pun menyerahkan semuanya kepada Riki dan juga teman-teman, karena aku hanya bermain di pertandingan terakhir, aku tidak mau mengambil semua perhatian kepadaku. Mengingat di pertandingan terakhir sepertinya aku melakukan sesuatu yang membuat diriku menjadi mencolok.


Akhirnya masa orientasi pun berakhir. Setelah upacara penutupan, kami pun langsung berpesta di kelas setelah pulang sekolah, sekalian perpisahan dengan Kak Fauzi dan Kak Ayu.


Kami pun membelikan beberapa makanan dengan uang yang kami dapatkan dari hadiah pertandingan tadi dan sisanya diberikan kepada murid yang bermain di pertandinga. Aku kira awalnya aku tidak mendapatkan bagian karena aku hanya bermain di pertandingan terakhir, tapi sepertinya pertandingan terakhir yang aku mainkan itu sangat berarti untuk memenangkan pertandingan ini, jadi aku juga dapat bagian dari uang itu.


“Terima kasih semuanya, selama tiga hari ini kita telah bersama melakukan yang terbaik dalam mengikuti masa orientasi. Mungkin selama tiga hari itu kakak ada salah-salah sama kalian, kakak mohon maaf yang sebesar-besarnya. Nanti kalau sudah masuk sekolah seperti biasa, terus kalian bertemu dengan kakak jangan sungkan untuk menyapa ya.”


Kak Fauzi pun mengucapkan kata-kata terima kasih kepada kami.


“Iya, Kak Ayu juga mau mohon maaf jika selama tiga hari terakhir ini ada salah sama kalian.”


“Dari kami juga terima kasih Kak, telah dibimbing selama tiga hari ini.”


“Iya, terima kasih Kak.”


Dan selah memberikan beberapa patah kata, mereka pun berfoto bersama.


“Mar, tadi aksimu keren sekali.”


“Aku tidak tau kalau kau bisa bermain basket, apa kau bergabung di ekskul basket juga?”


“Kapan-kapan ajari aku cara melempar seperti itu Mar.”


Tiba-tiba semua anak laki-laki berkumpul mengerumuniku dan menghujaniku dengan pertanyaan yang banyak sekali seputar pertandinganku tadi, dan rata-rata dari mereka banyak sekali yang memuji kemampuan bermainku tadi.


“Itu biasa saja teman-teman, kalian terlalu melebihkan. Kalau kalian mencobanya, aku rasa kalian juga bisa.”


“Lalu bagaimana caranya kau membuat Takeshi melakukan foul tadi? Aku saja sampai terkejut kalau Takeshi yang terkena foulnya. Awalnya aku mengira kalau kau yang terkena foul.”


Akbar bertanya kepadaku tentang foul yang aku lakukan itu.


“Itu hanya kebetulan saja, sebenarnya memang niat awalku untuk melempar bolanya saat Takeshi sudah melompat terlebih dahulu dariku. Terus aku sering melihat pemain basket profesional melakukan hal seperti itu untuk mengejar ketertinggalan mereka.”


“Aku tetap saja tidak percaya kalau kau benar-benar bisa melakukan itu. Aku juga sering melihat pertandingan basket profesional di internet. Tapi menurutku itu terlalu sulit dilakukan jika kau tidak pernah melakukannya.”


Akbar pun tidak percaya kalau aku melakukan hal itu karena kebetulan.


“Amar memang dari dulu jago dalam bermain basket. Bahkan dulu waktu di SMP saja tidak ada yang bisa mengalahkannya.”


Riki pun dengan sangat bangga sekali. Memang seperti itulah sifatnya Riki, dia selalu bangga jika teman-temannya memiliki kemampuan yang hebat juga.


“Kalau begitu bukankah lebih baik kau bermain dari awal pertandingan.”


“Aku tidak sejago itu, Riki hanya melebih-lebihkannya saja.”


“Amar!”


Kak Fauzi pun memanggilku dan aku langsung menghampirinya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.


“Selamat telah memenangkan pertandingannya.”


Kak Fauzi mengucapkan selamat kepadaku. Aku kira ada sesuatu yang lebih penting yang ingin dia bicarakan denganku.


“Terima kasih.”


“Sebenarnya aku tau kalau kau bergabung di salah satu tim basket yang sering bertanding di tingkat nasional.”


Kak Fauzi membisikkan sesuatu yang membuatku sangat terkejut. Aku pun langsung menjaga jarak darinya.


“Dari mana kau mengetahui hal itu? Aku rasa aku tidak pernah membicarakan hal ini kepada siapapun tentang hal ini. Bahkan Riki dan Maul saja tidak pernah tau kalau aku bermain di sebuah tim.”


“Ketika aku menjadi ketua OSIS di SMP Cibubur, aku tidak sengaja menemukan data dirimu dan temanku yang bermain di salah satu tim basket juga bertanya kepadaku tentangmu, jadi secara tidak sengaja aku mengetahui hal itu.”


Huh... Aku tidak tau ada seseorang yang akan mengetahui hal ini. Padahal aku sudah menyembunyikan hal ini sebaik mungkin.


“Aku sudah tidak aktif lagi di tim itu sejak kelas dua SMP, tapi setiap akhir pekan aku masih sering bermain dengan anggota tim itu.”


“Kenapa kau tidak melanjutkan di tim basketmu itu? Padahal kau bisa berprestasi di olahraga tersebut.”


“Kau terlalu berlebihan, kemampuanku tidaklah sehebat itu. Masih banyak anggota tim yang memiliki kemampuan jauh di atasku.”


“Tapi tetap saja Mar, temanku pernah berkata kalau kau adalah salah satu shooting guard yang perlu di waspadai saat pertandingan. Berarti kemampuanmu memang sudah diakui oleh banyak orang Mar, aku rasa tim basket sekolah ini sangat senang mendapatkan anggota hebat seperti dirimu.”


Kak Fauzi berusaha membujukku untuk masuk ke tim basket dari sekolah ini.


“Bukannya aku ingin menolak penawaranmu itu. Tapi aku sudah berhenti dari hal-hal yang berbau kompetitif, menurutku itu sangat merepotkan. Selain itu, ada beberapa hal yang ingin aku lakukan. Aku sudah cukup puas dengan prestasi yang aku dapatkan selama ini, bahkan memenangkan pertandingan seperti ini saja menurutku sudah cukup.”


“Aku tidak mengerti bagaimana cara berpikirmu itu Mar, tapi itu semua kembali lagi kepadamu. Aku tidak mau memaksamu untuk melakukan sesuatu. Kalau oleh aku tau, apa yang membuatmu mengambil keputusan seperti itu?”


Kak Fauzi pun bertanya kepadaku tentang alasannya aku memutuskan berhenti dari tim basketku.


“Hmmm... Bagaimana mengatakannya ya. Aku lebih suka bersenang-senang dalam bertanding daripada serius dalam bertanding. Serius itu melelahkan dan kalau kalah hal itu akan sangat mengecewakan, jadi seperti itulah.”


“Aku memang tidak bisa memahami jalan pikiranmu dari dulu. Tapi tidak apa, itu semua adalah hak dan keputusanmu, aku tidak bisa memaksakannya lebih dalam lagi tentang hal itu. Aku hanya ingin memberikan


saran kepadamu.”


Seperti yang aku kira dari Kak Fauzi, ternyata dia memang orang yang bijak. Mengapa dulu aku tidak suka dengannya ya, apa karena statusnya yang menjadi OSIS di sekolahku yang membuatku menjadi tidak suka dengannya.


Dan kami pun melanjutkan pestanya hingga sore hari. Ketika kami sampai di depan gerbang sekolah, di sana sudah menunggu Maul, Yoshida, Rina, dan Miyuki.


“Sedang apa kalian di sini?”

__ADS_1


Aku bertanya mereka semua. Karena jarang sekali bertemu mereka setelah pulang sekolah seperti ini, biasanya mereka sudah pulang duluan.


“Tentu saja untuk pulang bersama Mar, hal seperti itu saja kamu tidak tau.”


“Oh...”


***


Seharusnya aku sudah tau hal ini akan terjadi.


“Sedang apa kalian semua di sini?”


Saat ini aku sudah berada di depan rumah dan aku ingin segera masuk ke dalam rumahku yang penuh dengan kedamaian. Tapi ternyata Riki, Rina, maul, Miyuki, Yoshida, dan Kichida juga berada di sana. Mereka mengikutiku hingga aku sampai di rumahku.


“Tentu saja untuk mengadakan pesta, bukan begitu teman-teman?”


Miyuki mengangkat tangannya dengan penuh semangat.


“OOOOOO!!!!”


Mereka semua pun terlihat sangat senang sekali.


“Tapi kenapa harus di rumahku? Kenapa kau tidak mengadakannya di rumahmu saja.”


“Tentu saja karena rumahmu saja yang sekarang bisa dipakai karena tidak ada orang sama sekali di rumah, jadi kami tidak perlu khawatir akan mengganggu rumah.”


“Kalian semua menggangguku... Selain itu Mul, kau pasti yang merencanakan hal ini kan?”


“Tidak mungkin aku mengadakan hal ini tanpa berbicara denganmu dulu.”


Maul pun terlihat gugup setelah aku tuduh seperti itu. Sepertinya memang benar kalau dia yang merencanakan semua ini.


“Ayolah Mar, Kichida dan Yoshida juga sudah jauh-jauh datang ke sini untuk ikut berpesta bersama kami. Masa pestanya batal begitu saja?”


Miyuki berusaha membujukku.


“Tetap tidak, aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah soalnya.”


Karena malam ini ada sebuah event di gim ponsel yang aku mainkan, jadi aku harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah agar aku dapat bermain gim dengan tenang.


“Bagaimana ini... Aku sudah memesan makanannya dan sudah di antar ke sini”


Miyuki pun terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Dasar wanita ini, kenapa dia sudah melakukannya sebelum meminta izin kepadaku, dan juga dari mana dia mendapatkan alamat dari rumahku. Aku yakin Maul atau Riki pasti yang merencanakan hal ini.


“Baiklah kalau begitu, tapi jangan sampai malam ya... Ada hal yang harus aku kerjakan.”


“Yeay asik!!”


Miyuki pun terlihat sangat senang sekali.


Ketika di dalam rumah, aku pun langsung menyuruh mereka untuk pergi ke ruang tamu.


“Minuman apa yang kalian inginkan? Aku hanya ada teh dan juga sirup.”


“Teh!”


Jawab kompak semuanya.


“OK.”


Aku pun beranjak untuk pergi ke dapur.


“Biar aku bantu Ar.”


Rina pun berniat untuk membantuku menyiapkan hal itu.


“Sudahlah, kau duduk saja dengan tenang di sana.”


Aku pun langsung mengambil sebuah teko yang sudah diisi dengan air kemudian mengambil kompor portabel yang sering aku bawa ketika mendaki gunung. Setelah itu, aku langsung pergi ke ruang tamu untuk menaruh itu semua.


“Silahkan seduh sendiri.”


Aku juga memberikan teh dan gula serta gelas dan sendok kepada mereka untuk mereka membuat tehnya sendiri.


“Orang tuamu masih belum pulang Ar?”


“Belum, orang tuaku baru pulang mungkin jam sepuluh malam nanti.”


Aku pun melihat ke jam diding yang berada di ruang tamu.


“Apa mereka selalu pulang selarut malam itu Ar?”


“Tentu saja, karena di akhir pekan mereka libur, jadinya pekerjaan yang mereka lakukan banyak sekali.”


“PERMISI!!”


Terdengar suara lelaki yang berasa dari depan rumahku. Sepertinya itu makanan yang dipesan oleh Miyuki. Riki pun langsung keluar untuk mengambil pesanan itu dan ketika Riki kembali, ternyata miyuki memesan piza yang cukup banyak.


Kami semua cukup terkejut dengan piza yang Miyuki beli. Aku sudah tau kalau dia akan memesan makanan, tapi aku tidak menyangka kalau dia akan memesannya sebanyak ini.


“Apa tidak masalah kamu menghabiskan uang sebanyak ini Miyuki?”

__ADS_1


Rina merasa tidak enak kepada Miyuki yang telah mengeluarkan uangnya untuk hal ini. Karena semua makanan yang dipesan saat itu, seluruhnya menggunakan uang Miyuki dan kami semua tidak ada yang patungan sedikit pun.


“Tenang saja Rin, uang jajanku bulan kemarin masih banyak karena tidak bersekolah. Aku tidak biasa melihat uang yang begitu banyak ada di rekeningku. Bisa-bisa aku menghamburkannya untuk sesuatu yang tidak berguna, jadi lebih baik aku gunakan buat hal seperti ini saja.”


Kira-kira berapa banyak uang jajan yang Miyuki dapatkan selama sebulan penuh ya? Liburan kemarin kami sempat pergi ke Gunung Prau dan Miyuki juga menyumbang banyak dalam perjalanan itu, dan kalau aku lihat dari makanan yang dia pesan sekarang ini, sepertinya harganya bisa lima ratus ribu ke atas.


Hmmmm... Pantas saja dia berani melakukan taruhan itu denganku tadi.


Dan mereka pun mulai menyantap makanan itu bersama-sama. Ketika sedang menyantap makanannya, aku sesekali melihat ke arah ponselku untuk melihat pemberitahuan yang keluar dari gim yang aku mainkan. Aku


tidak mau jika sampai ketinggalan di event kali ini, karena event kali ini memiliki banyak sekali item langka yang akan menjadi hadiahnya.


“Mar! Dimana letak kamar mandinya?”


Miyuki pun bertanya kepadaku yang sedang asik memakan piza yang Miyuki beli.


“Kau jalan saja lurus ke sana, tepat di samping dapur nanti ada kamar mandi.”


Aku pun menunjukkan arahnya dengan jariku.


“Oke, aku pinjam dulu kamar mandimu Mar.”


“Tunggu Miyuki, aku juga ikut denganmu.”


Rina dan Miyuki pun pergi ke kamar mandi bersama.


“Tetap saja aku tidak percaya kalau kau akan ikut bertanding tadi. Aku yakin kalau kau tidak bertanding, kelasmu akan kalah.”


“Eh-he, karena ada hadiah yang aku incar untuk mengurangi pengeluaranku bulan ini.”


“Ditambah lagi kemunculanmu di petandingan final dan kau menjadi bahan pembicaraan banyak orang gara-gara kemampuanmu itu. Padahal sebelumnya kau bilang sendiri kalau tidak ingin menjadi mencolok. Kau ini bagaimana Mar!”


Maul terlihat kesal sekali, aku dapat melihat rasa iri yang muncul dari diri Maul.


“Sebenarnya kalau teman-temanku bisa memenangkan pertandingan final itu, aku juga tidak akan ikut bermain dalam pertandingan finalnya. Lagi pula dari awal aku juga tidak berniat untuk bermain.”


“Aku juga sempat terkejut kalau Amar ternyata benar-benar hebat dalam bermain basket, aku kira Riki hanya membual tentang Amar waktu istirahat.”


Kichida pun bergabung dengan pembicaraan kami.


“Amar memanglah hebat, itulah kenapa aku sangat bersemangat ketika mendengar kalau dia mau ikut bermain dalam pertandingan final. Walaupun hanya lima menit, itu sangat berarti sekali.”


Seperti biasa, Riki selalu melebih-lebihkan apa yang aku miliki agar terlihat hebat dimata orang-orang.


“Aku pun sempat terkejut kalau Amar dapat melakukan hal seperti itu. Apa lagi ketika dia menggunakan fake, itu sangatlah sulit digunakan oleh seorang amatir.”


Yoshida pun beranggapan sama seperti Akbar. Apakah melakukan sebuah fake untuk membuat pemain lawan terkena foul sesulit itu. Aku sering melihat teman-temanku di tim basket sering melakukan itu dengan mudahnya. Atau mungkin kemampuan mereka saja yang sudah hebat makanya mereka dapat melakukan hal itu dengan mudah.


“Aku hanya beruntung saja, saat itu kebetulan Takeshi sudah lelah dan konsentrasinya juga sudah kacau, jadinya aku dapat dengan mudah mencari celah dari Takeshi.”


Kemudian saat kami sedang asik berbincang-bincang, Rina dan Miyuki pun kembali dari kamar mandi.


“Hei Mar, itu ruangan siapa yang berada di dekat kamar mandi yang di dalamnya terdapat banyak sekali alat musik?”


Sepertinya Miyuki tidak sengaja melihat ruang musik milik bapakku. Padahal lampu di dalamnya sudah aku matikan, tapi dia tetap masih bisa melihat hal itu dengan jelas.


“Itu hanya ruang musik milik bapakku.”


“Bapakmu suka musik Ar?”


“Sepertinya begitu, dia sering sekali membawa teman-temannya ke sini setiap akhir pekan untuk bermain musik di dalam sana. Kalau menurut cerita dari ibuku, waktu SMA dulu bapakku pernah memiliki sebuah band di sekolahnya.”


“Hebat sekali bapakmu Mar, seperti anak muda saja.”


Miyuki pun memuji bapakku.


Dia belum pernah saja ketemu dengan bapakku. Memang dia memiliki penampilan seperti anak muda, bahkan untuk urusan berpakaian lebih update-an dia dibandingkan denganku. Tapi tetap saja yang namanya sudah bapak-bapak tetaplah bapak-bapak.


“Apa kamu juga bisa memainkan salah satu alat musik yang ada di dalam sana?”


Miyuki pun bertanya kepadaku dengan sangat antusias sekali.


“...Yah, untuk alat musik aku tidak terlalu bisa memainkannya.”


“Selain itu Mar, kenapa kau tidak memiliki komputer? Padahal aku yakin kalau kau meminta kepada orang tuamu, mereka pasti akan memberikannya.”


Maul pun mengeluh kepadaku. Aku tau mengapa dia bisa mengeluh seperti itu, karena Maul sering kali aku repotkan jika aku memiliki tugas yang berkaitan tentang komputer di SMP. Aku sering datang ke rumahnya secara tiba-tiba hanya untuk meminjam kompurternya.


“Aku tidak bisa meminta uang lebih kepada orang tuaku. Aku sudah mendapatkan uang jajan yang cukup menurutku, jadi aku tidak mau meminta lebih. Lagi pula tidak enak juga meminta sesuatu yang tidak terlalu penting. Apa lagi aku dapat menggunakan lab multimedia untuk mengerjakan tugas, jadi hal itu tidak terlalu penting untuk di minta.”


“Terserah kau saja.”


Aku pun melihat ke arah Miyuki, Yoshida, RIna, dan Kichida yang terdiam melihat ke arahku.


“Ada apa dengan kalian semua?”


“Tidak... hanya saja aku sedikit terpesona denganmu ketika berkata seperti tadi. Aku baru tau kalau kau ternyata dewasa sekali.”


Kichida langsung membuang mukanya dan kembali melanjutkan makannya.


Dan malam itu pun dihabiskan dengan berpesta hingga kedua orang tuaku pulang kerja.


-End Chapter 38-

__ADS_1


__ADS_2