Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 141 : Pundakku Terasa Ringan Sekali!


__ADS_3

“ANGKAT TANGAN KALIAN SEMUA DAN JANGAN BERGERAK!!”


Anggota kepolisian datang dengan menggunakan pakaian biasa dan memegang sebuah pistol di tangan mereka.


Semua orang yang berada di aula itu pun akhirnya mengangkat tangan sesuai dengan intruksi dari polisi tersebut, dan meletakan tangan mereka di belakang kepala.


“Apa yang harus kita lakukan Mar? Sepertinya masalahnya akan bertambah rumit jika bapaknya Maul tidak mengenali kita.”


“Untuk sekarang kita ikuti saja, apa yang disuruh oleh para polisi itu.”


Aku dan Riki pun mengikuti intruksi dari polisi itu.


Kemudian aku melihat bapaknya Maul memasuki aula dan langsung berjalan menghampiri kami berdua.


“Kalian berdua ini memang tidak ada kapoknya ya!”


Dia pun sudah mengetahui kalau itu adalah kami walaupun wajah kami masih tertutup oleh topeng yang kami pakai.


Aku pun tersenyum mendengar hal itu dan kami berdua membuka topeng kami.


Huh... Akhirnya hal melelahkan ini selesai juga.


Sekarang aku bisa bernafas lega karena dari sini, masalah ini akan diambil alih oleh pihak kepolisian.


“Kenapa Om bisa mengetahui kalau ini kami?”


Tanya Riki kepadanya.


“Maul yang memberitahu kepadaku sebelum aku masuk ke sini. Katanya kalian berdua berada di aula itu dengan membawa seorang perempuan yang terikat di troli.”


Bapaknya Maul pun melihat ke arah Kichida yang masih terikat di belakang kami.


“Sepertinya ini kedua kalinya aku akan mengintrogasi kalian bertiga lagi.”


Bapaknya Maul hanya heran dengan apa yang dilakukan oleh kami.


“Tenang saja Om, aku akan mengatakan apa saja yang ingin Om tau tentang masalah ini.”


Kemudian salah seorang polisi pun datang menghampiri kami.


“Lapor Komandan, semuanya sudah berhasil kami amankan termasuk pembawa acara yang berinisial Mr S itu.”


“Kerja bagus.”


Kerja mereka juga cepat sekali, aku yakin Mr S sangat terkejut sekali karena ada polisi yang menggerebek tempat ini.


“Kalau begitu aku pergi dulu ya, aku harus mengurusi masalah di sini terlebih dahulu. Kalian berdua pulang duluan saja ke rumah.”


“Siap Om!”


Aku dan Riki memberikan hormat kepada bapaknya Maul.


Bapak Maul pun pergi untuk mengurus semua orang yang sudah ditahan dan dikumpulkan di aula, termasuk petugas-petugas acara dan juga peserta.


Aku pun langsung membuka semua ikatan Kichida dan juga aku membuka kain yang mengikat mulutnya Kichida.


Setelah semua ikatan sudah aku lepas, sontak Kichida langsung melompat dan memeluk ke arahku.


“Wuaaaaaa! Aku takut sekali Mar!”


Dia pun menangis sejadi-jadinya sambil memelukku dengan sangat erat.


Sesak sekali! Aku harap dia sedikit melepaskan pelukannya itu.


“Tenang saja, sekarang kau sudah aman.”


Aku pun mengusap kepala Kichida agar dia menjadi tenang.


“Apa tidak masalah melakukan hal itu Mar?”


Riki memperingatiku akan sesuatu.


“Memang kenapa?”


Aku tidak tau peringatan apa yang coba Riki beritahu kepadaku.


Riki tidak mengatakan apapun, dia hanya melirik-lirik ke atas. Dan ketika aku melihat ke atas, aku pun melihat kalau di sana ada sebuah kamera pengawas yang sedang menyorot ke arahku.


Aku tau kalau Riki mencoba memberitahuku kalau apa yang kita lakukan di sini pasti disaksikan oleh orang-orang yang ada di rumah, dan itu berarti Rina dan Miyuki juga menyaksikan apa yang sedang aku lakukan ini.


Tapi aku tidak peduli akan hal itu, aku tidak memiliki hubungan apapun terhadap mereka semua.


“Kalau untuk itu tenang saja Mar, aku sudah tidak menampilkan gambar dari kamera pengawas.”


“Akuberterima kasih kepadamu Mul.”


Ya, setidaknya itu sedikit membantuku.


“Kau harus mentraktirku setelah ini Mar!”


“Setelah ini aku akan mentraktir kalian berdua sepuas yang kalian mau.”


“Yeay!”


Riki senang sekali ketika mendengar hal itu.


“Untuk sekarang kita pulang terlebih dahulu, sekarang sudah mau pagi. Mungkin kita akan sampai di rumah sebelum adzan subuh.”


“Baiklah.”


Aku, Riki, dan Kichida pun keluar dari hotel itu. Tepat di depan hotel, sudah banyak sekali mobil yang terparkir di sana. Aku juga melihat banyak orang yang mengerumuni bagian depan hotel tersebut. Pasti mereka bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam hotel itu.


Ketika kami ingin pergi meninggalkan daerah hotel, tiba-tiba ada satu orang anggota kepolisian yang menjegat kami.


“Ada masalah apa Pak?”


Jangan-jangan dia mengira kalau kami terlibat dalam acara itu dan dia berusaha untuk menangkap kami.


“Aku disuruh untuk mengantarkan kalian hingga sampai rumah oleh komandan.”


Ternyata dia orang suruhannya bapaknya Maul. Aku kira dia hanya orang yang salah paham tadinya.


Aku juga bersyukur karena ada orang yang mau mengantarkan kami pulang, aku jadi tidak perlu mengeluarkan uangku.


Karena sekarang sudah dini hari dan jarang sekali transportasi umum yang menuju ke rumahku pada pukul segini. Kalau aku naik taksi, pasti harganya jauh lebih mahal dibandingkan aku naik taksi pada siang hari.

__ADS_1


Akhirnya kami pun pulang dengan menggunakan mobil polisi.


Untung saja saat ini aku tidak pulang ke rumah. Kalau seandainya aku pulang ke rumah, pasti orang tuaku akan terkejut karena aku diantar dengan menggunakan mobil polisi.


“Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa sampai diculik Kichida?”


Aku bertanya kepadanya yang duduk di kursi belakang bersama dengan Riki.


“Malam hari ketika kau datang ke kontrakanku, saat aku pulang setelah membeli nasi goreng. Tiba-tiba ada seseorang yang menyekapku dari belakang dan tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. Saat aku terbangun, aku sudah berada di atas panggung itu.”


Ternyata apa yang dikatakan Maul waktu itu benar, Kichida diculik saat dia pergi keluar malam untuk membeli makan malam.


“Apa saat itu kau membawa ponselmu Kichida?”


“Tentu saja, karena sangat membosankan menunggu pesananku matang. Jadi aku membawa ponselku untuk menghabiskan waktu.”


Kemudian Kichida pun memeriksa semua kantung yang ada di pakaiannya.


“Ada apa?”


Tanya Riki kepadanya.


“Ponselmu tidak ada!”


“Mungkin ponselmu sudah dibuang atau diambil seseorang.”


Aku sih berfirasat kalau penculik itu menjual ponsel yang dimiliki Kichida.


“Tidak apa-apa, kau bisa membeli ponsel baru nanti.”


Riki mengucapkan itu dengan mudahnya.


“Tapi setidaknya kau beruntung karena membawa ponsel ketika itu.”


Ucapku kepadanya.


“Kenapa memangnya Mar?”


“Karena berkat ponsel yang kau bawa itu, aku dan Maul bisa mengetahui dimana kau berada.”


“Aku sangat berterima kasih sekali kepada kalian semua yang telah menyelamatkanku. Aku tidak tau harus membayar kebaikan kalian dengan apa.”


“Tidak usah memikirkan hal itu, selama kau selamat itu sudah cukup.”


Woah! Riki baru saja mengatakan sesuatu yang sangat keren sekali.


“Saat aku terbangun tadi, aku merasa sangat ketakutan sekali karena dipertontonkan dihadapan banyak orang yang tidak aku kenal sama sekali dalam keadaan terikat. Saat itu aku sudah bingung harus berharap dengan siapa lagi, hingga akhirnya mataku tertuju kepada dua orang yang aku yakini kalau itu adalah Kau dan juga Riki.”


Aku dapat mengetahui hal itu dengan jelas dari sorotan mata yang kau keluarkan pada saat itu.


“Dari mana kau tau kalau itu aku dan Amar?”


“Kalau Riki, aku mengetahuinya dari gaya rambut dan perawakanmu Rik, sedangkan aku mengetahui kalau itu Amar dari jaket yang biasa dia gunakan.”


Aku pun melihat jaketku saat itu dan memang aku menggunakan jaket yang biasa aku gunakan ketika pergi ke sekolah.


Ya mau bagaimana lagi, aku hanya mempunyai dua buah jaket. Dan aku baru mengganti jaketku seminggu sekali.


“Sepertinya gaya berpakaianmu itu menguntungkan juga Mar!”


Aku tidak menyangka kalau gaya berpakaianku ini akan menguntungkan nantinya.


“Tadi siapa polisi yang berbicara dengan kalian berdua?”


Tanya Kichida kepada kami berdua.


“Itu bapaknya Maul.”


“Apa kau merencanakan hal ini karena bekerja sama dengan kepolisian?”


“Tidak, kami bekerja sendiri-sendiri. Bahkan bapaknya Maul tidak tau kalau aku dan Riki ada di acara pelelangan itu sebelum diberitahu oleh Maul.”


Mobil kami pun terus melaju dengan cukup kencang.


Karena saat itu keadaan masih pagi hari, jadinya kondisi jalan sangat lenggang sekali. Berbeda sekali keadaannya ketika aku berangkat ke sini, kondisinya macet parah dan aku memerlukan waktu tiga jam untuk sampai ke sana.


“Kemana kita sekarang pergi Mar?”


“Ke rumahnya Miyuki.”


“Kenapa kita pergi ke sana?”


Kichida sedikit terkejut ketika mendengar hal itu.


“Karena Miyuki, Yoshida, Takeshi, dan Rina sedang menunggumu di sana.”


Mendengar itu tiba-tiba Kichida kembali menangis lagi.


Aku tidak tau apa yang membuat dia menangis hanya karena mendengar nama-nama itu.


“Apa yang kau lakukan Mar!”


Riki sedikit memarahi aku.


“Aku tidak tau, dia tiba-tiba menangis. Apa kau melihat aku melakukan sesuatu kepadanya?”


“Aku sangat tidak enak membuat semuanya khawatir kepadaku.”


Riki pun berusaha menenangkan Kichida.


“Kalian berdua memang anak-anak yang hebat.”


Ucap sopir yang saat ini sedang membawa kami pulang ke rumahnya Miyuki.


Aku yang saat itu duduk di sampingnya hanya tertawa kecil saja menanggapi perkataan dari polisi itu.


“Siapa nama kalian berdua?”


“Aku Amar dan yang berada di belakangku adalah Riki. Kalau bapak sendiri?”


“Nama saya Galuh.”


“Pak Galuh ini siapanya bapaknya Maul ya?”


“Kalau saya hanya bawahannya Pak Yuniawan saja.”

__ADS_1


Bawahannya, apa jangan-jangan semua polisi yang menggerebek tempat itu adalah bawahan dari bapaknya Maul semua? Itu bisa jadi, orang bapaknya Maul adalah orang yang memiliki jabatan yang cukup tinggi di sana.


“Apa Pak Galuh dan yang lainnya melakukan hal ini secara sembunyi-sembunyi juga?”


“Iya, semua orang yang ikut dalam penyergapan tadi adalah orang yang dipercaya oleh Pak Yuniawan untuk menyelesaikan kasus ini.”


Orang yang dipercaya ya... Apa dia yakin kalau diantara orang-orang tadi tidak ada penghianat?


Biasanya sih ada salah satu dari mereka yang membocorkan masalah ini ke kantor pusat.


“Iya, kantor sama sekali tidak mengetahui tentang hal iin.”


“Sepertinya orang yang disogok itu akan terkejut ketika pasar perdagangan manusianya berhasil ditumpas dalam satu malam.”


Ucap Riki kepada kami.


Sebenarnya bukan satu malam juga sih, sudah banyak hari yang kita lewatkan untuk mendapatkan informasi yang berharga hingga kita dapat mengetahui lokasi dari pelelangannya.


“Kenapa Nak Riki bisa tau kalau ada seseorang yang disogok di kepolisian? Apa kalian diberitahu juga oleh Pak Yuniawan?”


Pak Galuh sedikit terkejut mendengar ucapan dari Riki.


“Aku mengetahuinya dari Amar.”


“Aku hanya menebaknya saja, aku tidak tau apa tebakanku itu benar atau tidak.”


“Apa kau tertarik untuk menjadi seorang polisi ketiak lulus nanti?”


Polisi?


“Aku tidak tertarik sama sekali untuk menjadi seorang aparat keamanan.”


Karena itu akan sangat merepotkan, apalagi setelah mengingat pelatihan-pelatihan yang akan aku jalani sebelum masuk ke sana.


Tidak-tidak-tidak... Itu bukanlah pekerjaan yang cocok untukku.


Comic Universe adalah pekerjaan terbaik yang telah aku temukan.


Aku mengantuk sekali, berapa lama lagi hingga kami sampai di rumahnya Miyuki.


“Apa besok kau masuk ke sekolah Mar?”


“Tidak, aku mau izin saja. Lagi pula kalau masuk aku tidak bisa mengikuti pelajaran dengan serius.”


Jadi lebih baik aku memanfaatkan izin yang sudah pasti aku dapatkan. Pak Febri juga berkata kalau dia akan mengatur hal itu untukku nantinya.


“Mungkin aku juga tidak masuk juga.”


“Apa kalian berdua ini teman anaknya Pak Yuniawan?”


“Iya, kami sudah berteman sejak SMP.”


“Anaknya Pak Yuniawan hebat sekali ya, dia bisa meretas keamanan yang begitu sulit dengan mudah. Dia juga cepat sekali dalam mengumpulkan informasi yang sangat rumit dan sulit untuk didapatkan...”


Pak Galuh pun memuji Maul tidak ada hentinya.


Memang Maul adalah orang yang sangat hebat dan hal itu tidak bisa aku pungkiri. Hanya saja ada saja sisi bodoh yang kadang-kadang dia tunjukkan kepadaku.


“Iya, rencanaku bisa lancar seperti ini juga berkat bantuan darinya.”


“Puji aku terus Mar!”


Ternyata Maul belum mematikan panggilan telponnya.


“Aku kira kau sudah memutuskan panggilanmu.”


“Aku juga penasaran dengan apa yang sedang terjadi di sana soalnya.”


“Bagaimana keadaan di rumah Miyuki?”


“Keadaannya jauh lebih mendingan dibandingkan sebelumnya, sekarang mereka semua sedang menunggu kalian sampai di sini.”


Aku juga tidak sabar untuk sampai di rumahnya Miyuki. Aku ingin sekali tidur dan juga makan di sana.


Mungkin aku akan makan terlebih dahulu sebelum tidur, karena aku sama sekali belum makan sejak berangkat kemarin malam.


Riki sih enak sudah menghabiskan roti bakar yang dia pesan saat di kafe tadi, sedangkan aku hanya memakan satu potong kentang goreng saja. Andai saja ketika di sana aku memakan makanan lebih banyak, pasti aku tidak akan kelaparan seperti ini.


Aku memegang perutku yang sesekali berbunyi karena kelaparan.


“Kapan kau sampai di sini Mar?”


“Mungkin sebelum subuh aku sudah sampai di sana.”


Aku pun melihat jamku dan jam sudah menunjukkan jam empat pagi dan subuh saat ini jam lima kurang lima belas.


“Aku tidak menyangka kalau sampai pagi hari seperti ini, aku sudah sangat mengantuk sekali.”


Aku mendengar suara orang menguap yang sepertinya itu berasal dari Maul.


“Aku juga sama denganmu Mul, kau kira kau saja yang mengantuk.”


“Bagaimana keadaannya Kichida?”


“Dia sedang ditenangkan oleh Riki setelah menangis tadi.”


Aku pun menoleh ke arah Kichida yang masih saja menangis, Riki pun yang duduk di sampingnya memberikan kata-kata motivasi kepadanya. Memang kalau untuk urusan seperti ini, dia jauh lebih ahli dibandingkan denganku.


“Selamat atas keberhasilanmu Mar!”


“Begitu juga dengan kau kawan.”


Akhirnya malam yang cukup panjang dan juga menegangkan selesai.


Saat ini aku hanya berharap supaya bapaknya Maul benar-benar menyelesaikan kasus ini sampai ke akar-akarnya dan menghentikan semua jenis perdagangan semacam ini di seluruh wilayah Indonesia.


Selain itu, aku juga berharap supaya para korban yang diculik sebelum-sebelumnya dapat ditemukan dan dikembalikan ke keluarganya masing-masing.


Aku rasa mereka semua masih berada dalam ketakutan hingga saat ini.


Mobil kami pun melaju di jalanan yang cukup sepi dan hanya ditemani oleh lampu-lampu jalan yang begitu indah.


Aku pun sempat tertidur karena tidak bisa menahan kantuk yang sangat berat sekali.


Dan saat itu, aku merasa kalau aku bisa tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


-End Chapter 141-


__ADS_2