Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Rangga, Rangga dan Rangga


__ADS_3

Semua orang berdiri saat melihat dokter keluar dari ruangan. Aliyah maju lebih dulu menghampiri kakaknya itu.


"Bagaimana Rangga, Mas?" tanya Aliyah.


Sejenak dokter itu menunduk.


"Aku minta maaf Al..." ia menghela napas kasar, " Rangga... Rangga kritis. Bahkan tadi jantungnya sempat berhenti selama beberapa menit." ungkapnya.


Setelah dokter mencoba memberi kejut di jantung Rangga untuk yang ketiga kalinya, barulah jantungnya kembali berdetak. Sehingga Rangga selamat dari kematian.


"Rangga juga kehilangan banyak darah. Jadi harus segera di lakukan transfusi darah." ungkapnya kemudian.


Jantung Aliyah seakan mau berhenti mendengar ucapan dokter. Ia ingat betul golongan darah Rangga sangat langka. Saat duduk di bangku SMP, Rangga pernah kecelakaan dan membutuhkan darah. Saat itu bank darah tidak tersedia golongan darah itu. Beruntung ada seseorang pria yang datang secara tiba-tiba dan memiliki golongan darah yang sama sehingga Rangga dapat tertolong.


"Aku sudah meminta perawat menghubungi bank darah. Tapi... kamu tahu kan, Al. Golongan darah Rangga O rhesus negatif, dan itu sangat langka." ungkap dokter itu.


Aliyah hanya dapat memejamkan matanya mendengar penjelasan kakaknya itu. Ia sudah berserah diri, untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Rangga. Tangis Ameera pun semakin menjadi. Ozan yang mendengarkan pembicaraan mereka langsung menyela.


"Dok, golongan darah saya O rhesus negatif. Saya bisa menjadi pendonor untuk Rangga kan?" tanya Ozan.


Senyum mengembang di sudut bibir dokter itu mendengar ucapan Ozan. Ia bagai mendapat oase di gurun pasir.


"Tentu saja bisa. Tapi, harus melalui pemeriksaan dulu. Mari ikutlah denganku, " pinta dokter, "Al, ini keajaiban untuk Rangga." ucap dokter itu pada Aliyah.


Aliyah pun tampak bernafas lega setelah Ozan bersedia menjadi pendonor untuk Rangga.


" izinkan Aku melihat anakku, Mas." pinta Aliyah.


"Jangan dulu, Al. Nanti saja kalau sudah di pindahkan ke ruang ICU." kata dokter itu.


Dokter itu memberi kode pada Ozan agar ikut dengannya.


"Sayang... tunggu sebentar ya, aku ikut dokter dulu. Kamu tunggu di sini sama yang lain." ucap Ozan pada Ameera.


"Iya, Mas." sahut Ameera.


Ozan dan dokter kemudian menuju sebuah ruangan untuk mengambil sampel darah milik Ozan dan memeriksakannya di laboratorium.


Aliyah, Dina, Dan yang lain kembali duduk menunggu di depan ruangan. Hanya do'a yang terucap dari hati masing-masing. Rizal menatap Ameera yang terlihat begitu terpukul, ia tahu betul bagaimana perasaan antara Rangga dan Ameera. Rizal pun segera menghampiri Ameera dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Tenanglah, Ameera. Rangga itu orang yang kuat. Kalau dia tahu kamu sesedih ini, dia pasti ikut sedih. Kamu ingat kan, dulu Rangga sering bilang apa sama kamu?" ucap Rizal pada Ameera.


Jangan menangis saat aku tidak ada. Kamu hanya boleh menangis di depanku. Karena aku yang akan menghapus air matamu. Awas saja kalau kita bertemu dan matamu sembab. Aku akan marah.


Kembali terngiang di telinga Ameera, kalimat yang dulu sering di ucapkan Rangga saat ia menghibur Ameera di telepon, jika mereka tidak bisa bertemu. Ia pun segera menghapus air matanya. Mencoba menguatkan hatinya.


"Maafkan aku, ini salahku." ucap Ameera.


"Jangan menyalahkan dirimu. Ini bukan salahmu. Jika saja kamu yang tertabrak tadi, Rangga akan jauh lebih sedih." sahut Rizal.


Ameera pun segera mendekati Aliyah dan Dina.


"Tante, Dina, aku minta maaf. Rangga begini karena menyelamatkan aku."


Aliyah berusaha tersenyum pada Ameera. Ia membelai puncak kepala anak sahabatnya tersebut.


"Bukan, Nak... ini bukan salahmu. Rangga mengambil pilihan ini, karena dia tidak akan sanggup kalau kamu yang terbaring di dalam sana. Kamu tahu kan, selama ini yang dia pikirkan hanya melindungi kamu. Kalau terjadi apa-apa denganmu, dia akan merasa gagal." ucap Aliyah seraya memeluk Ameera.


Ameera yang mencoba menahan tangisnya pun tidak dapat lagi membendungnya. Tangisnya kembali pecah dalam pelukan Aliyah.


***


Rizal menyandarkan kepalanya di kursi, menghela napas kasar. "Ini perbuatan Naura, Ram..."


Ramon membelalakkan matanya tidak percaya. Merasa heran, karena Naura masih saja mendendam pada Ameera karena menikah dengan dengan Ozan.


"Maksud lu, Naura mantannya Ozan?" tanya Ramon.


Rizal menjawab dengan anggukan kepala.


"BRENGS*KK!! " Ramon mengumpat dengan keras, "harusnya gue singkirkan dia dari dulu." ucap Ramon penuh emosi.


"Masalahnya nggak sesederhana itu, Ram... Lu tau, Naura itu siapa?"


Ramon mengerutkan alisnya. Ucapan Rizal membuatnya bingung.


"Apa maksud lu, Naura siapa?"


"Naura Agung Darmawan." Rizal menyebutkan nama lengkap Naura, membuat Ramon terkejut setengah mati.

__ADS_1


"Artinya... Naura itu..." ucap Ramon terputus-putus.


"Iya... Naura itu kakaknya Rangga. Kakak tiri..."


Ramon membulatkan matanya, ia bahkan belum bisa mempercayai pendengarannya sendiri. Ia mulai menebak sendiri dalam otaknya tentang apa yang terjadi selama ini. Tentang bagaimana Ozan bisa berpacaran dengan Naura. Dan alasan mengapa Hasan tidak menyetujui hubungan Ozan dan Naura.


"Lu nggak bercanda kan, zal?" bentak Ramon.


"Sama seperti Rangga, identitas Naura juga di sembunyikan. Semua orang tahu Pak Hendri punya anak perempuan. Tapi tidak ada yang tahu nama anak perempuannya kan?"


"Jadi semua ini, bukan semata karena Naura cemburu sama Ameera? Tapi ada alasan lain kenapa Naura segitu dendamnya sama Ozan dan Ameera."


"Iya, Ram. Pak Hendry memanfaatkan Naura untuk mendekati Ozan. Bodohnya, Ozan percaya begitu saja sama Naura, bahkan Naura berhasil membuat Ozan jatuh cinta. Kecelakaan yang terjadi pada Ozan tiga tahun lalu, itu perbuatan Pak Hendry. Saat Ozan dan Naura menghabiskan waktu bersama, Pak Hendri menggunakan kesempatan itu untuk mensabotase mobil milik Ozan dengan merusak rem-nya." ungkap Rizal kemudian.


Pikiran Ramon mulai menjalar kemana-mana. Mengingat segala kejadian yang menimpa Ozan.


"Kejadian penyerangan Ozan di basement mall... terjadi setelah Ozan bertemu Naura. Artinya, penyerangan itu bukan kebetulan."


"Iya, begitulah. Gue nggak tahu kalau yang akan mereka serang hari itu adalah Ozan. Lu tahu kan, semua orang termasuk gue dan Rangga mengira Ozan tewas dalam kecelakaan saat mobilnya masuk jurang." sahut Rizal seraya menghela napas kasar, "jika Pak Hendry berhasil menumbuhkan dendam di hati Naura untuk Ozan dengan berbagai hasutan, maka lain halnya dengan Rangga. Pak Hendry bahkan tidak bisa menjangkau Ameera karena Rangga selalu ada dan menjadi perisai untuk Ameera. Bahkan gue masuk ke dalam tim pengawal Pak Hendry, tapi sebenarnya gue jadi mata-mata untuk Rangga. Karena itulah, Rangga bisa tahu kapan dan dimana Ameera akan di serang."


Wajah Ramon seketika berubah pucat. Begitu banyak rahasia dan teka-teki yang belum menemui titik terangnya. Ia mengusap wajahnya kasar. Kemudian meneguk sebotol air mineral di depannya, mencoba mencerna segala penjelasan panjang Rizal yang baginya seperti benang kusut.


"Maaf, Zal... gue harus laporin Naura ke pihak yang berwajib. Gue nggak bisa biarin dia terus mengancam keselamatan Ozan dan Ameera."


"Lu tenang aja, Ram. Gue udah laporin Naura. Tadi sebelum kejadian itu, Rangga minta gue laporin Naura. Sekarang polisi pasti lagi nyari si Naura."


Tiba-tiba raut wajah Rizal berubah, ia teringat bagaimana perjuangan Rangga melindungi Ameera. Bahkan sampai rela mengorbankan dirinya.


"Gue kasihan sama Rangga. Dia begitu mencintai Ameera, tapi dia harus rela lepasin Ameera buat Ozan. Karena dendam masa lalu Pak Hendri sama Pak Rudi. Bahkan sampai sekarang Ameera tidak pernah tahu tentang ini. Rangga menyembunyikan perasaannya dari Ameera. Dan segala rahasia tentang dirinya."


"Dendam masa lalu?"


"Iya Ram. Pak Rudi menikahi Bu Ratna yang adalah mantan Pak Hendri. Pak Hendri merasa Pak Rudi mengkhianati persahabatan mereka. Lalu, Pak Hendri menikahi tante Aliyah, yang merupakan sahabat Bu Ratna. Kekecewaan Pak Hendri membutakan matanya, sehingga dia mendendam begitu dalam. Sampai berusaha mencelakai Pak Rudi dan Ameera."


"Gue ngerti semuanya sekarang." ucap Ramon.


****


**TO BE CONTINUE....

__ADS_1


__ADS_2