
Pagi hari, Ameera sedang duduk melamun di ruang tamu saat seorang pelayan memberitahunya bahwa ia kedatangan tamu. Saat mengalihkan pandangannya pada seseorang yang berada di ujung sana, ia tergelak. Di lihatnya Dina yang sedang berdiri disana dengan wajah sembabnya.
"Dina...." gumam Ameera.
"Ameera, bisakah kita bicara sebentar?"
Ameera segera menghampiri Dina dan memintanya duduk bersamanya di sofa.
"Maafkan aku Ameera, bolehkah aku minta waktumu hari ini?" tanya Dina dengan suara bergetar, "Rangga membutuhkanmu di saat-saat terakhirnya. Ikutlah denganku Ameera. Aku mohon." ucap Dina kemudian. Wajahnya bahkan terlihat sangat memelas.
"Baiklah, tapi aku harus minta izin suamiku dulu, Din." sahut Ameera.
Ameera segera menghubungi Ozan yang sudah berangkat ke kantor untuk meminta izin. Tadi pagi sebelum berangkat, Ozan pun berjanji pada Ameera akan menemaninya menjenguk Rangga setelah rapatnya selesai. setelah mendapat izin dari Ozan, mereka lalu bergegas menuju suatu tempat, bukan ke rumah sakit, melainkan ke rumah Rangga. Ameera menatap rumah besar di depannya dengan perasaan bingung, mengapa Dina mengajaknya kesana dan bukan ke rumah sakit.
"Ini rumah siapa?" tanya Ameera pada Dina.
"Kamu akan tahu nanti. Ayo kita masuk." ajak Dina.
Tampak beberapa penjaga menghampiri mereka. Dan saat melihat Dina, mereka membungkuk tanda hormat.
"Aku mau mengambil sesuatu di dalam." ucap Dina pada seorang pria.
"Baik, Nona. Silahkan masuk." ucap pria itu.
Mereka pun masuk ke rumah mewah tersebut. Setelah memasuki rumah itu, barulah Ameera mengetahui rumah siapa itu dengan melihat foto yang mengiasi ruangan tersebut.
"Apa ini rumah Rangga?"
"Iya, Ameera. Ayo kita ke atas, ada sesuatu yang mau aku tunjukkan padamu." ajak Dina.
Mereka pun menaiki tangga menuju sebuah kamar. Dina membuka pintunya dan mengajak Ameera masuk ke dalam.
"Ini kamar Rangga." ucap Dina.
Ameera mengedarkan pandangannya pada setiap sudut kamar itu. Ada banyak foto di sana, salah satunya adalah fotonya bersama Rangga yang terbingkai dengan Rapi di atas meja nakas di sisi tempat tidur. Ia mengambil foto itu dan menatapnya dalam. Foto masa kecilnya bersama Rangga saat mereka berusia 8tahun. Tidak terasa air matanya jatuh begitu saja melihat foto itu.
"Ada sesuatu yang mau aku tunjukkan." ucap Dina. Ia berjalan menuju sebuah pintu yang terdapat di sudut kamar. Ameera mengikuti langkah Dina di belakangnya.
Dan saat memasuki sebuah ruangan yang mirip studio foto tersebut, Ameera begitu terkejut. Tanpa sadar ia menjatuhkan dirinya terduduk di lantai. Menatap setiap bagian dinding yang di penuhi foto dirinya. Tak terasa air matanya jatuh semakin deras.
"Segalanya tentang Rangga ada di dalam ruangan ini Ameera... dan seluruh ruangan ini isinya hanya dirimu. Kamu adalah segalanya untuk Rangga. Dia menuangkan semua perasaannya di sini. Semua yang tidak bisa dia tunjukkan padamu, dia tunjukkan di ruangan ini." ucap Dina.
Ameera terbangun dari duduknya. Ia berdiri menatap setiap foto dirinya yang memenuhi dinding ruangan itu, menyentuh beberapa foto dirinya bersama Rangga. Jarinya bahkan bergetar menyentuh foto-foto itu.
Adapun beberapa memo di sana yang di tulis oleh Rangga dan semuanya tentang Ameera.
"Rangga...." lirih suara Ameera menggumamkan nama pria yang menjadi cinta pertamanya itu.
Matanya tertuju pada sebuah blackboards yang berdiri di sudut lain ruangan itu, membuat hatinya bagai teriris.
"Rangga menuliskan kalimat ini setiap hari untukmu. Karena dia tidak bisa mengatakannya secara langsung." kata Dina.
Papan itu telah di penuhi tulisan ungkapan perasaan Rangga yang di tulis olehnya. Ameera menyeka air matanya. Ia membaca tulisan yang memenuhi papan itu.
"Aku mencintaimu, Lollypopku."
__ADS_1
"Kebo jelek, I love you."
"Ameeraku, aku sayang kamu."
Itulah beberapa dari ribuan kalimat yang di tulis Rangga untuk Ameera.
Dina mendekati Ameera dan mengusap bahunya pelan.
"Maafkan aku Ameera. Aku sudah ikut ambil bagian dalam memisahkanmu dari Rangga. Akulah dinding pertama yang membatasi kalian. Aku membuatmu mengira bahwa Rangga dan aku saling menyukai. Yang sebenarnya dalam hatinya hanya ada dirimu." ungkap Dina.
Dina membuka sebuah laci dan mengambil beberapa amplop yang ada di dalam sana, lalu memberikannya pada Ameera.
"Bacalah... aku akan menunggumu di luar." Setelah memberikan amplop tersebut, Dina keluar dan memilih duduk di sofa di dalam kamar Rangga.
Ameera menjatuhkan tubuhnya di kursi, dan dengan perasaan berdebar, Ameera membuka amplop itu dan membaca isinya. Sebuah surat yang pernah di tulis Rangga untuknya. Ia melihat tanggal dalam surat itu adalah beberapa hari sebelum pernikahannya dengan Ozan.
Ameeraku sayang, seandainya takdir berbaik hati padaku dengan memberi pilihan, aku akan memilih untuk tidak terlahir di keluarga Agung Darmawan. Terserah aku mau lahir di keluarga manapun yang di inginkan takdir. Karena aku pasti akan mengejar cintamu. Akan ku lakukan apapun untukmu. Tidak akan ku biarkan orang lain memilikimu. Tapi lihat kenyataan menyedihkan ini. Aku harus menggenggammu sebagai sahabat baikmu, bukan sebagai laki-laki yang mencintaimu. Bahkan aku harus pura-pura mencintai orang lain di depanmu, agar kau tidak memiliki perasaan lebih padaku. Sangat menyakitkan bukan, hidup sebagai diriku. Rasanya aku ingin egois dan membawamu pergi untuk bisa bahagia bersamaku, sambil menunggu sampai usiaku cukup dewasa dan menikahimu. Hehehe! Aku ingin melupakan semua orang yang membuat jurang pemisah diantara kita. Tapi Ameera, pada kenyataannya aku hanya manusia yang menyedihkan. Yang tidak bisa menunjukkan seberapa beratinya dirimu bagiku. Aku mencintaimu Ameera, dengan seluruh jiwaku.
Ameera pun memeluk kertas putih itu dengan air matanya yang tak tertahankan. Begitu menyedihkan baginya. Dulu, ia memendam sendiri perasaan sakit di hatinya, mengira cintanya pada Rangga bertepuk sebelah tangan. Namun, ia harus mengetahui segalanya saat semuanya telah terlambat. Dia telah menjadi milik orang lain dan sudah ada anak di antara mereka yang sedang di kandung Ameera.
Ameera pun membuka beberapa amplop lainnya. Membuat ruangan itu di penuhi isakan lirihnya. Setelah puas menumpahkan air matanya di ruangan itu, Ameera beranjak keluar menemui Dina.
"Kenapa dia lakukan semua ini padaku, Din?" tanya Ameera diiringi isakan.
"Dia hanya memikirkan satu hal, Ameera... Melindungimu. Hanya itu."
"Tapi siapa yang ingin melukaiku sampai Rangga harus menyembunyikan semuanya dariku?"
"Aku tidak punya hak untuk menjelaskannya, Ameera. Hanya Rangga yang berhak mengatakannya." ucap Dina.
"Bawa aku padanya, Din... aku mohon... aku akan memarahinya karena melakukan semua ini padaku." pinta Ameera.
****
Ameera menggunakan pakaian hijaunya memasuki ruang ICU. Air matanya kembali jatuh melihat tubuh Rangga yang di penuhi peralatan medis. Ia mendekat pada Rangga. Lalu duduk di sisinya. Ia mengecup dengan lembut kening Rangga.
"Rangga, kamu ingat... saat aku sedih, kamu selalu memberiku lollypop. Sekarang aku sedang sangat sedih. Lalu kenapa kamu tidak memberiku lollypop. Kenapa kamu diam saja?"
Ameera meraih tangan kiri Rangga dan meletakkannya di pipinya. Ia mulai menceritakan pada Rangga masa lalu yang mereka lalui berdua. Segala kenangan antara dirinya dan Rangga. Kadang Ameera terkekeh saat menceritakan hal-hal lucu yang mereka alami, lalu sesaat kemudian kembali terisak.
Ia menjatuhkan kepalanya di bahu kiri Rangga. Tangannya melingkar di tubuh Rangga.
Ameera lalu mendekatkan wajahnya di telinga Rangga lalu membisikkan sesuatu.
"Aku mencintaimu, Rangga. Sangat mencintaimu..." Akhirnya terucap dari mulut Ameera apa yang selama ini di simpannya sendiri, "jika takdir tidak menyatukan kita sebagai jodoh. Lalu kenapa? Kita akan saling memiliki untuk selamanya sebagai sahabat kan? Aku akan memilikimu sebagai temanku sampai maut memisahkan kita. Lalu sekarang apa yang kamu lakukan? Kamu mau meninggalkanku? Kamu curang."
Tanpa Ameera sadari, air mata menetes dari sudut mata Rangga. Seperti ia dapat mendengarkan kalimat yang di ucapkan Ameera.
Ameera kembali meraih tangan Rangga dan menggenggamnya.
"Kamu jahat sama aku. Dulu kamu yang selalu menghapus air mataku, dan sekarang lihat apa yang kamu lakukan padaku. Kamu membuatku menangis, tapi kamu tidak mampu menghapusnya kan? Kamu tahu, sampai kamu bangun, aku tidak berhenti menangis, biar kamu merasakan apa yang kurasakan. Biar saja aku membuatmu merasa bersalah dengan air mataku yang tidak bisa kamu hapus ini. Dan aku akan membencimu seumur hidupku untuk setiap tetes air mataku yang jatuh karena menangisimu."
Ucapan Ameera malah terdengar seperti ancaman untuk Rangga. Benar, dia sedang mengancam Rangga dengan sesuatu yang paling di takuti oleh pria itu. Menangis dan di benci oleh Ameera, adalah sesuatu yang paling di takuti Rangga dalam hidupnya.
***
__ADS_1
Jauh di alam bawah sadar Rangga, ia berpakaian serba putih sedang berjalan menuju sebuah jembatan besar. Ia tersenyum saat mendekat pada gerbang tersebut.
Dan saat ia mulai melangkahkan kakinya, saat itulah ia seperti mendengar suara orang-orang memanggil namanya. Ia berbalik, di lihatnya orang-orang yang di sayanginya ada disana. Ibu, ayah,Naura, Dina, Rizal dan lain-lain sedang tersenyum padanya. Ia pun membalas dengan senyuman lalu melambaikan tangan pada mereka. Dan saat ia kembali akan melangkah melewati jembatan itu, ia kembali mendengar suara memanggil namanya dari kejauhan.
Ameera ada di sana, sedang menangis. Ia terlihat sangat sedih. Bahkan air mata Rangga ikut jatuh melihat Ameera menangis sesegukan.
***
Jemari Rangga pun bergerak seiring suara isakan Ameera yang menorehkan sembilu di hatinya. Demi apapun Rangga tidak pernah rela jika suara pilu itu terngiang di telinganya.
"A... mee... raa..." suara lemah Rangga terucap dari bibirnya dengan matanya yang masih terpejam. Sekuat tenaga ia berusaha menggerakkan tangannya. Dan, seperti sebuah keajaiban, Rangga kemudian membuka matanya perlahan.
Melihat Rangga menggerakkan jarinya, seketika Ameera berhenti menangis, kemudian mengucek matanya beberapa kali, ia seperti bermimpi melihat Rangga tersadar. Tatapan mereka pun saling bertemu. Rangga berusaha mengangkat tangannya, mencoba meraih wajah Ameera. Namun, bukannya mendekat, Ameera malah bergerak mundur.
"Kamu pikir siapa dirimu? Beraninya membuatku menangis. Awas saja kalau Ranggaku sampai menemukanmu. Dia akan menghajarmu sampai mati." ucap Ameera pada Rangga dengan air matanya yang semakin deras.
"Ampun, Ameera. Jangan adukan aku pada Rangga. Dia pasti akan menghajarku sampai mati." ucapan lemah dan terputus-putus yang keluar dari mulut Rangga terdengar seperti gumaman.
Ameera lalu mendekatkan wajahnya pada Rangga, sehingga Rangga dapat menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Tolong, hentikan ini." ucap Rangga kemudian. Karena suaranya terdengar sangat lemah, Ameera bahkan harus mendekatkan telingnya dengan bibir Rangga agar dapat mendengarnya.
Dengan sisa tenaga yang di milikinya, ia mencoba melepas alat bantu pernafasannya.
"Mau apa kamu?" tanya Ameera.
"Aku tidak suka ini."
"Jangan banyak bicara dulu, aku akan panggil dokter." Ameera sudah mau melangkah, namun Rangga menarik pergelangan tangannya.
"Ameera, sebentar saja. Temani aku." Rangga yang begitu kesulitan menyelesaikan setiap kata-katanya membuat Ameera tidak tega. Akhirnya Ameera kembali duduk di menemani Rangga. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rangga dengan air mata yang kembali menetes.
"Apa kamu sengaja membuatku bekerja keras? Kamu terus menangis, membuatku repot karena harus terus menghapusnya." Kembali Rangga berbicara walaupun begitu sulit menyelesaikan kalimatnya.
"Biar saja, ini hukuman untukmu."
****
Sementara Aliyah, Dina dan Rizal masih duduk di depan ruangan itu. Mereka tidak tahu jika Rangga sudah siuman. Tidak lama kemudian, datanglah Ozan bersama Ramon. Lalu ikut duduk di sana.
"Bagaimana keadaan Rangga, Zal?" tanya Ozan pada Rizal.
"Masih sama. Ameera ada di dalam." jawab Rizal.
Tidak lama kemudian, tim dokter yang menangani Rangga datang hendak memeriksa kondisi Rangga. Namun, saat mereka akan memasuki ruangan itu, mereka seakan tidak percaya melihat Rangga telah siuman.
*****
**TO BE CONTINUE..
MAAFKAN KEHALUANKU YANG BERLEBIHAN INI. AKU TIDAK TAHU APA YNG KU TULIS.
NOTE**:
Tinggalkan komen untukku ya gaes. Kalo boleh serakah, di Vote🤣. Pion bisa di dapat dengan gratis kok. Nggak usah banyak-banyak. Asal tiap hari.. hahahhahah
__ADS_1
Yang mau baca kenangan manis Ameera dan Babang Rangga boleh flashback di bab-bab awal... 🤣**
Adegan dimana babang Rangga memulis surat untuk Ameera ada di bab 26 monggo flashback yang mau.