Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Film horor


__ADS_3

Ameera sedang bersantai ria dengan duduk di ruang keluarga sembari menonton film horor. Matanya membulat tanpa berkedip, tangannya sedikit gemetar. Sesekali ia terlonjak saat adegan menakutkan muncul. Sambil makan cake untuk mengurangi ketegangannya. Ozan datang dari arah belakang tanpa Ameera sadari. Dia berbisik manja ditelinga Ameera.


"Sayaaang..."


"Au'dzu billahi minasy syaithonir rojiim." Pekik Ameera. Ia terlonjak kaget mendengar bisikan ditelinganya, membuat bulu kuduknya berdiri. Piring kue ditangannya reflek di arahkannya kewajah Ozan, sehingga wajah Ozan penuh dengan krim kue.


"Apa sih kamu yank... Kamu pikir aku setan?"


"Oh... manusia toh, aku pikir boneka chucky keluar dari tv." ucap Ameera seraya mengusap dadanya. Jantungnya seolah mau keluar saking terkejutnya.


"Ganteng begini disangka chucky."


"Idih... Narsis juga harus ada kadarnya kan?"


Ozan mendengus kesal,berdebat dengan Ameera seakan tiada habisnya. Ia mengambil tissue di meja dan membersihkan krim di wajahnya. Kemudian duduk di sebelah Ameera. Dia dengan percaya dirinya merangkul bahu Ameera, termakan kebohongan Ramon yang mengatakan Ameera menelepon karena merindukannya.


Ameera gelagapan karena Ozan tiba-tiba merangkulnya. Ia reflek melayangkn jurus persatuan lima jari miliknya ke wajah Ozan.


"Aauuuhhh... " Ozan meringis memegangi pipinya.


"Makanya jangan sembarangan. Enak aja main peluk-peluk. Memangnya kita sudah baikan?" ujar Ameera seraya menggeser posisi duduknya ke sudut kursi.


"Bisa bonyok mukaku lama-lama. Kamu mau suamimu jadi jelek?"


"Bodo..." jawab Ameera dengam cueknya.


"Lagian kamu kan yang telepon... katanya kangen, aku cuma membantu mengobati rasa rindumu." ucapnya seraya mengusap pipinya yang terasa kebas.


"Kapan juga aku menelepon? Halu ada batasnya juga kan?"


"Ramon bil..." Ozan menggantung ucapannya.


Brengsek si Ramon. Dia pasti bohongin gue nih.


Wajah Ozan sudah merah padam menyadari kebohongan Ramon yang membuatnya malu didepan istrinya. Ia mengeluarkan benda pipih dari saku celananya dan mengetikkan pesan lalu mengirimnya pada Ramon.


"Hahahaha." Ramon tertawa terbahak-bahak membaca pesan yang dikirim Ozan.


"Mamp*s lu!" ujarnya diselingi gelak tawa menggelegar. Ia tidak membalas pesan Ozan karena tahu bos-nya itu sangat kesal dengan kelakuannya. Mungkin Ramon adalah bawahan paling kurang ajar di muka bumi ini. Ia satu-satunya bawahan Ozan yang paling berani dan paling tidak sopan padanya, tentunya hanya saat berdua saja.


Ozan melirik kertas brosur yang terletak di atas meja kemudian mengambilnya. Ia mengerutkan alisnya ketika melihat isi brosur tersebut.


Brosur penjualan sepeda motor. Jangan-jangan dia mau beli motor baru. Gawat.

__ADS_1


"Ini apa yank?" tanyanya seraya memperhatikan gambar brosur satu-persatu.


"Brosur..."


"Aku tahu yank, ini brosur, tapi buat apa?" Ozan sudah mulai gusar. Sudah mulai menebak dalam hatinya.


"Ya buat lihat-lihat motor. Aku mau beli motor baru."


"Buat apa yank? Aku kan sudah membelikanmu mobil." bertanya dengan nada gemas. Rasanya Ozan ingin menggigit Ameera saking gemasnya.


"Aku maunya motor!" Ameera menjawab tak kalah sengit.


"Kan kamu lagi hamil, yank... Bahaya loh naik motor. Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?" Ozan berusaha membujuk selembut mungkin agar Ameera membatalkan niatnya membeli motor.


"Nggak akan kenapa-kenapa. Aku kan mengendarai motor, bukan berkelahi."


Ozan menghela napas kasar. Berdebat dengan Ameera saat ini tidak akan ada habisnya. Ia harus banyak mengalah mengingat Ameera sedang hamil. Ozan Kemudian pergi ke kamar meninggalkan Ameera yang masih asyik menonton film horor. Ia kemudian menghubungi Ramon dan memintanya menelepon seluruh dealer motor yang ada di ibu kota untuk mem-black list Ameera. Kekhawatirannya yang berlebihan membuatnya bertindak gila.


"Pokoknya Lu hubungi semua showroom motor di kota ini. Suruh mereka black list Ameera. Jangan sampai Ameera beneran beli motor."


"Eh gila... kalau mau ngasih tugas kira-kira dong. Lu pikir showroom sepeda motor di kota ini sedikit?" Ramon bersungut-sungut mendengar perintah Ozan yang terasa di luar akal sehat manusia normal.


"Bodo amat. Pokoknya lu kerjain apa yang gue suruh." ucapnya seraya menutup panggilannya. Ramon mengumpat keras pada Ozan ketika mendengar nada panggilan terputus.


***


Keesokan harinya...


Ameera sudah beberapa kali keluar masuk dealer sepeda motor, namun tidak ada satupun yang mau menjual motor padanya dengan berbagai alasan yang menurutnya tidak masuk akal. Ramon benar-benar menjalankan tugas yang diberikan Ozan padanya.


Setidaknya sudah ada sepuluh dealer yang mengkonfirmasi kedatangan Ameera pada Ramon.


"Gimana Ram?" tanya Ozan di sela kesibukannya.


"Beres... Ameera pasti nggak jadi beli motor."


"Baguslah." ucapnya seraya tersenyum puas.


"Kualat lu ngerjain bini lu yang lagi hamil."


"Nah itu lu tau. Si Bini kan lagi hamil, masa iya gue harus izinin dia naik motor ? Lu tau kalau dia bawa motor itu ugal-ugalan. Lu kan udah lihat sendiri."


"Ah... lu nya aja yang over protective. Menurut gue standart kok dia mengendarai motor."

__ADS_1


Sementara Ameera yang berada di luar sana sudah mulai kesal. Ia sudah lelah berkeliling namun tidak juga mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Apa aku minta dibelikan saja sama manusia jadi-jadian itu, ya. Tapi kan aku gengsi bilangnya. Bisa hilang harga diriku. Tapi... gimana aku beli motornya." gumam Ameera.


Ia pun segera melajukan mobilnya menuju kantor Chandra Jaya Group. Sementara di belakangnya ada sebuah mobil pengawal yang mengikutinya secara sembunyi-sembunyi.


Tidak lama kemudian sampailah Ameera di kantor suaminya.


Jadi ini kantornya. Tapi ruangannya yang mana.


Ameera pun menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan ruangan suaminya.


"Permisi, saya mau ketemu Mas Ozan." ucap Ameera.


"Maaf, apa anda sudah membuat janji. Kalau mau bertemu Pak Ozan harus membuat janji dulu." sahut seorang resepsionis wanita. Ia memperhatikan Ameera dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia sama sekali tidak mengetahui jika gadis didepannya adalah istri bosnya.


"Tapi saya ada perlu penting, tolong ya..."


"Maaf... tidak bisa. Harus buat janji dulu."


Dua orang resepsionis itu bahkan bicara dengan nada ketus pada Ameera. Salah satunya menghubungi petugas keamanan untuk meminta bantuan membawa Ameera keluar dari gedung. Tak lama kemudian, dua orang petugas keamanan datang. Beruntung salah satu dari mereka mengenali Ameera.


"Nona, sedang apa anda di sini?" tanya seorang pria berseragam hitam.


"Maaf pak, gadis ini mau bertemu Pak Ozan. Tapi belum membuat janji, tolong di antar keluar." Sahut resepsionis yang bicara agak ketus pada Ameera.


"Maaf Nona atas ketidaknyamanan ini, sepertinya mereka tidak mengenali anda. Mari, saya antar ke ruangan Pak Ozan." ajak pria tersebut.


"Tapi Pak, nona ini belum membuat janji."


"Kenapa harus membuat janji. Ini Nona Ameera, istri Pak Ozan."


Resepsionis itu terlihat terkejut. Wajahnya bahkan sudah memucat dan tubuhnya sudah gemetaran. Bagaimana ia meminta petugas keamanan mengusir istri bos dari kantor.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak mengenali anda." ucapnya dengan suara bergetar.


"Ah, tidak apa-apa." jawab Ameera singkat.


Petugas keamanan pun mengantar Ameera menuju lift.


*****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2