
"Mas, tadi pagi sama Rangga kemana?" tanya Ameera pada Ozan.
Mereka terlihat sedang mengobrol serius di balkon rumah sambil makan camilan, dengan Erzan yang berada di pangkuan Ameera dan Elmira ada di pangkuan Ozan.
"Tadi pagi aku merasa sedang shooting film sherlock holmes tahu..." jawab Ozan seraya membelai wajah putrinya, sesekali mengecupnya.
"Kenapa memangnya?"
"Si Rangga ngajakin jadi detektif dadakan, jadi penguntit Dina sama Ramon yang lagi jalan berdua. Aku yakin dia cemburu... Aku terpaksa harus jadi korban."
Mengingat betapa bodohnya Rangga tadi pagi membuat Ozan kesal setengah mati. Namun Ozan seolah tidak berkutik menghadapi adiknya itu.
"Memang Mas di apain sama Rangga?" Jiwa kepo Ameera mulai kumat lagi. Kalau sudah begini, ia akan bertanya sampai rasa penasarannya terpuaskan.
"Di cekek, Yank..." kata Ozan dengan nada kesalnya. Ia bahkan meletakkan telapak tangannya di leher bayi yang berada di pangkuannya, membuat bayi itu kaget dan menangis. Ameera terlonjak melihat ekspresi suaminya itu.
"Jangan di cekik Elmiranya!!" teriak Ameera.
Ozan terkejut karena baru menyadari tangannya reflek menyentuh ceruk leher bayi tersebut,
"Maaf, Nak... Ayah nggak sengaja," Ozan kemudian mengambil botol susu di sampingnya dan memberikanya pada Elmira.
Dasar bapak somplak. batin Ameera
"Kok bisa Mas di cekik sama Rangga?" tanya Ameera kemudian.
"Jangan tanya, Yank! Aku benar-benar nggak tahu harus jawab apa," Ozan sudah merasa pusing dengan kelakuan adiknya itu, padahal dulu dirinya juga berkelakuan sama dengan Rangga, bahkan lebih parah.
Sepertinya aku harus lapor sama Dina. batin Ameera.
"Setelah itu kalian kemana?"
"Aku minta Rangga antar aku ke kantor, habis itu aku nggak tahu lagi dia kemana,"
Tidak lama kemudian, Zarima datang mengagetkan pasangan suami istri itu.
"Ya ampun, kalian ini apa-apaan?" Zarima sudah mulai naik pitam melihat Ozan dan Ameera membawa bayi mereka keluar malam-malam ke balkon.
"Kenapa, Mah?" tanya Ozan.
"Kalian yang kenapa? Kalian ini jadi orang tua benar-benar ngaco tahu. Ini sudah malam kalian bawa anak-anak keluar ke balkon, udara di luar itu dingin. Mana cuma pakai jumpsuit pendek. Kalau cucu-cucu Mama masuk angin, awas kalian. Cepat masuk!!"
Ameera menelan ludah mendengar omelan sang mertua. Zarima sangat over protective kepada kedua cucunya itu. Ozan dan Ameera bergegas masuk ke dalam rumah setelah mendapat siraman rohani di malam itu.
***
Pagi itu rumah keluarga Chandra Jaya di sibukkan dengan persiapan acara aqiqahan Erzan dan Elmira yang akan di adakan siang harinya. Beberapa orang tampak sedang mendekorasi taman yang akan menjadi tempat acara berlangsung.
Beberapa kerabat dari Indonesia dan Turki pun berkumpul menyambut kehadiran dua anggota baru di keluarga besar mereka, sekaligus merayakan kembalinya Deniz alias Rangga yang selama ini disangka sudah meninggal, ternyata masih hidup.
Hari itu Naura juga datang bersama Dion dan Aliyah. Hasan menepati janjinya pada Hendri, yang sebelumnya telah berjanji akan memaafkan Naura jika Ameera di temukan dalam keadaan selamat. Sehingga Hasan mencabut semua tuntutannya pada Naura dan membebaskannya dari penjara. Sementara Hendri masih menunggu sidang putusan atas kasus terbunuhnya ayah Amera.
Setelah mendengar cerita yang sebenarnya dari Hendri, Naura sangat menyesali perbuatannya. Ia beberapa kali mendatangi Ameera dan Ozan untuk meminta maaf atas perbuatan jahatnya selama ini.
Naura yang sekarang tinggal bersama Aliyah, menjadi pribadi yang lebih baik. Kelembutan Aliyah sebagai seorang ibu banyak merubah dirinya. Naura pun mengisi kekosongan hati Aliyah setelah di tinggal Rangga, walaupun Rangga hampir setiap hari mengunjunginya.
"Mama, aku mau menemui Ameera dulu, ya..." kata Naura pada Aliyah.
"Iya sayang," sahut Aliyah.
Aliyah kemudian di sambut oleh Zarima. Kedua wanita paruh baya itu duduk bersama sembari menjaga Erzan dan Elmira yang berada dalam ayunan bayi di taman.
Naura lalu menghampiri Ameera yang sedang membantu para pelayan mengatur minuman untuk tamu.
"Ameera..." panggil Naura.
"Eh, Kak Naura sudah datang,"
__ADS_1
Naura kemudian memeluk Ameera. Lalu kedua wanita itu duduk berdua mengobrol santai.
"Terima kasih, ya... Kamu dan Ozan mau menerimaku di rumah ini setelah semua perbuatan jahatku. Aku merasa sangat malu pada kalian."
"Jangan di bahas lagi, ya, Kak... Itu kan salah paham. Aku sudah menerima semua yang terjadi padaku dan menganggapnya sebagai takdir hidupku. Kalau Tuhan sudah mentakdirkan jalan hidupku seperti itu, kenapa aku harus marah..."
Mata Naura sudah mulai menganak sungai, setiap kali teringat perbuatan jahatnya di masa lalu. Mulai saat ia pura-pura mendekati Ozan sampai akhirnya mereka berpacaran, rencananya membunuh Ozan yang gagal beberapa kali, hingga usahanya membunuh Ameera dan anaknya yang saat itu belum lahir. Naura merasa menjadi manusia paling jahat di muka bumi ini. Jika saja dirinya yang berada di posisi Ameera, belum tentu ia bisa memaafkan semudah Ameera memaafkannya.
"Ibumu pasti orang yang sangat mulia, sehingga memiliki anak sepertimu," ucap Naura serayaenyeka air matanya.
Ameera tersenyum, teringat kembali pada mendiang ayah dan ibunya.
Ayah, Ibu... kalian tidak akan keberatan kan, kalau aku memaafkan mereka. Beristirahatlah yang tenang,... Aku sekarang bahagia bersama keluarga yang kalian pilihkan untukku. Aku merasa sangat beruntung memiliki mereka. Suamiku dan keluarganya menjagaku dengan baik.
"Mari kita awali semuanya dengan menjadi orang yang lebih baik," kata Ameera.
****
Di sisi lain, Rangga sedang membantu Ozan mendekorasi taman. Ia sangat antusias ikut ambil bagian dalam persiapan acara keponakannya itu. Hingga matanya membulat sempurna saat melihat Dina datang bersama Ramon.
Astagfirullah... yang sabar hati, jangan merana jantung, jangan kram otak, jangan nangis mata. ucap Rangga dalam hati seraya mengusap dadanya.
Dina terlihat menyalami Zarima dan Aliyah yang sedang menggendong Er dan El. Sesaat kemudian salah satu bayi itu sudah berada dalam gendongan Dina. Rangga masih mengintip dari balik pohon. Sejenak melupakan aktivitasnya. Ia menggemnggam erat gagang palu di tangannya saking kesalnya.
"Bang, kok cuacanya tiba-tiba panas ya?" tanya Rangga pada Ozan.
Matanya tidak berhenti menatap Dina yang terlihat semakin cantik baginya. Ozan yang sedang sibuk dengan urusannya itu tidak menjawab pertanyaan Rangga.
Tidak lama kemudian, Ramon dan Dina duduk bersama seraya bermain dengan bayi kecil yang berusia satu bulan lebih itu. Mereka terlihat seperti sebuah keluarga harmonis.
Jika di tanya sudah ada di level berapa kecemburuan Rangga, mungkin level 10 adalah jawabannya.
Karena tidak bisa lagi menahan rasa cemburunya yang sudah di ubun-ubun, palu yang di tangannya di pukulkan ke meja. Ozan yang tak berdosa itu harus kembali menjadi korban.
"Auwhh tanganku!!" pekik Ozan seraya mengibaskan tangannya yang terkena palu.
"Loh abang kenap...." Rangga menggantung ucapannya ketika melihat tangan Ozan yang baru saja menjadi sasaran pelampiasan cemburunya, "Sorry, Bang!" ucap Rangga seraya maraih tangan yang terkena pukulan itu, lalu meniupnya beberapa kali.
"Apaan sih lu, main pukul-pukul aja. Lu mau bikin tangan gue remuk?" Ozan bersungut-sungut memarahi Rangga yang tingkahnya semakin aneh.
"Nggak sengaja, Bang! Abang ngapain coba tangannya di parkir di situ?"
" Brengseek lu...!!"
"Sabar, Bang! Udah punya anak, harus banyak sabar..." Rangga mengusap dada Ozan memintanya untuk bersabar. Padahal sebenarnya dirinyalah yang lebih membutuhkan ucapan itu.
Beberapa saat kemudian Ozan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Matanya menangkap Dina bersama Ramon yang terlihat begitu bahagia menggendong Si Kembar.
"Gue ngerti sekarang," ucap Ozan seraya mengangguk pelan.
"Ngerti apa, Bang?"
Dengan menahan rasa sakit di tangannya, Ozan menarik kerah kemeja Rangga dengan gemasnya, membuat Rangga gelagapan.
"Kalau cinta, ngomong lu... Jangan gue terus yang jadi korban cemburu lu!"
Ozan kemudian mendorong Rangga hingga terduduk, lalu meninggalkannya.
"Bang, mau di obatin nggak tangannya?" tanya Rangga ketika melihat Ozan pergi menjauh.
"Elu yang butuh obat, bukan gue..."
"Dih, apaan..."
Bagaikan di tarik oleh magnet bumi, Rangga kembali mengarahkan pandangannya pada dua orang di sudut sana.
"Gimana cara ngomongnya coba? Kalau gue bilang cinta sama Dina, bisa di gorok sama Bang Ramon." gumam Rangga.
__ADS_1
Bagai mendapat pencerahan, Rangga menemukan ide bagaimana cara mengungkapkan perasaannya pada gadis pujaannya itu. Ia naik ke sebuah panggung yang terdapat piano. Sepertinya ia akan kembali menjadi seorang penyanyi dadakan.
Ameera yang sedang membalut tangan suaminya dengan perban itu terkejut ketika melihat Rangga di atas panggung sana.
"Mas, dia mau ngapain lagi?"
"Nggak tahu, Yank. Kayaknya aku harus jaga jarak dari Rangga deh... Aku ngeri tahu..."
Rangga melirik Dina sekali, sebelum mulai memainkan piano. Ia akan menyanyikan sebuah lagi yang pernah di populerkan oleh penyanyi Delon Thamrin, yang berjudul Terbalik.
Tuhan... Aku ingin mencurahkan isi hatiku kepada-Mu
Dia... Tak kuanggap,
Tak kupandang...
Sama sekali Ku tak cinta
Tapi sesuatu t'lah terjadi menjadi terbalik
Kini Ku rasa, yang dia rasa padaku
Jika cinta biarkanlah aku jadi cinta
Jika sayang biarkanlah aku jadi sayang
Hatiku kini miliknya
Tuhan tolong, jangan jodohkan, dia dengan yang lain
Dia kuhindari
Kujauhi
Sama sekali ku tak cinta
Tapi sesuatu t'lah terjadi menjadi terbalik
Kini kurasa, yang dia rasa padaku
Jika cinta biarkanlah aku jadi cinta
Jika sayang biarkanlah aku jadi sayang
hatiku kini miliknya
Tuhan tolong, jangan jodohkan dia dengan yang lain
jadi terbalik...
Dina begitu menghayati lagu yang di bawakan oleh Rangga. Tak terasa air matanya meleleh begitu saja. Rasa cintanya pada Rangga masih utuh, tidak berkurang sedikitpun.
Ramon yang mengerti kesedihan Dina itupun menggenggam tangan gadis itu.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Ramon.
"Nggak apa-apa, Kak," jawab Dina seraya menghapus air matanya.
****
BERSAMBUNG
Eike galfok sama kelakuan babang ojan yang malah nuekek baby nya... hahaha
ADA YANG PERNAH DENGAR LAGU ITU? ATAU PERNAH MENGALAMI? SELAMAT! NASIB ANDA SAMA DENGAN BABANG RANGGA.
kalau belum pernah dengar, buruan donlot!
__ADS_1