
Setelah memasukkan iklan pencarian pendonor darah di internet, mereka menunggu kabar. Namun setelah beberapa jam menunggu, mereka tidak juga mendapat informasi apapun.
Hasan yang masih duduk menunggu, masih ragu-ragu apakah harus memberitahu Ozan atau tidak, tentang penyebab kecelakaan itu.
"Ozan, Rangga... bisa kita bicara sebentar?" Hasan memulai permbicaraan, memecah keheningan siang itu.
"Ada apa, Pah...?" sahut Rangga.
"Ini tentang Ameera, ada sesuatu yang penting dan harus kalian tahu tentang Ameera."
Rangga dan Ozan saling melirik. penasaran tentang hal apa yang tidak mereka ketahui tentang Ameera.
"Kenapa dengan Ameera, apa yang kami tidak tahu tentang Ameera?" Rangga semakin penasaran.
Dengan berat hati, Hasan kemudian menceritakan semua rahasia yang disimpannya tentang Ameera selama ini. Rahasia yang telah membuatnya berjanji pada mendiang sahabatnya untuk di sembunyikan sampai kapanpun.
Rangga dan Ozan belum percaya sepenuhnya pada apa yang di katakan sang ayah. Apalagi Rangga, karena selama ini tidak ada hal yang tidak diketahui Rangga tentang sahabatnya itu...
Bagaikan tersengat aliran listrik, setiap inci bagian tubuh Rangga bergetar. Ia memejamkan matanya sesaat.
J**adi itu alasan Om Rudi mati-matian membangun tembok pemisah antara aku dan Ameera. Dia bahkan memintaku berjanji untuk tidak memiliki hubungan lebih dari sahabat dengan Ameera. Om Rudi mengira aku dan Ameera saudara sedarah. batin Rangga.
"Jadi apa yang akan Papa lakukan? Papa mau menemui orang itu di rutan dan membawanya kemari?" tanya Ozan dengan nada datar.
"Ozan, sekarang bukan waktunya memikirkan semua masalah itu. Sekarang yang terpenting Ameera selamat."
"Kalau begitu aku akan menemui Kak Naura. Aku akan coba bicara dengannya, Kak Naura mungkin saja memiliki darah yang cocok dengan Ameera. Papa bisa ke rutan diantar Pak Surya, abang di sini saja menunggu Ameera.
Ozan tidak menjawab. Ia mematung tanpa ekspresi. Pikirannya hanya tertuju pada Ameera. Tentang bagaimana hancurnya perasaan Ameera saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
Setelah pembicaraan itu, Rangga segera menuju ke rumah Naura. Sedangkan Hasan menuju rumah tahanan. Entah akan seperti apa reaksi Hendri jika mengetahui rahasia itu.
Ozan masuk ke dalam ruang ICU tempat Ameera dirawat. Ia duduk di sisi pembaringan istrinya itu. Hatinya terasa di tusuk ribuan pisau melihat Ameera dengan banyaknya peralatan medis yang terpasang di tubuhnya, dengan gips di leher.
Ia menggenggam jemari Ameera, "Sayang, kamu harus bertahan. Erzan dan Elmira pasti sedih melihat ibu mereka dalam keadaan begini.
Di rumah Naura, Rangga baru saja menceritakan pada Naura dan Aliyah tentang hubungan Hendri dan Ameera. Di luar dugaan, Rangga yang mengira Naura akan kembali membenci Ameera, malah sebaliknya.
Naura menangis sejadi-jadinya mendengar kabar tentang Ameera yang sekarang kritis di rumah sakit.
"Bawa aku kesana Rangga, aku mau melihat adikku," pinta Naura dalam tangisannya.
__ADS_1
Naura kemudian menitipkan anak perempuannya pada Aliyah dan pergi ke rumah sakit bersama Rangga.
Selama perjalanan, Naura terus menangis, mengingat perbuatannya di masa lalu yang pernah mau membunuh Ameera.
"Aku pernah mau membunuhnya, padahal dia adikku sendiri, aku benar-benar sangat jahat," ucap Naura penuh sesal.
"Sudah Kak, itu masa lalu. Sekarang yang terpenting Ameera segera melewati masa kritisnya, mungkin saja darah Kakak cocok dengannya." Rangga mempercepat laju mobilnya agar ceoat sampai ke rumah sakit.
Sementara itu di tempat lain, Hasan sedang duduk berhadapan dengan Hendri. Tidak tahu harus mulai dari mana untuk memberitahukan Hendri kenyataan tentang Ameera.
Lelaki paruh baya itu hanya dapat menangisi anak menantunya dan memohon kepada Hendri untuk membantunya.
"Tolong anakku, Hen... Hanya kau yang bisa menolongnya sekarang," ucap Hasan seraya menangis.
"Apa maksudmu? Apa sesuatu terjadi pada Rangga atau Ozan?" tanya Hendri.
"Ameera,"
Hendri terhenyak sesaat, "Apa sesuatu terjadi pada Ameera?" tanya Hendri.
"Ameera mengalami kecelakaan mobil, sekarang dia kritis di rumah sakit. Dia kehilangan banyak darah dan kami tidak menemukan darah yang cocok dengannya."
Hendri membeku, pertanyaan bermunculan di benaknya, mengapa Hasan sampai datang ke rumah tahanan hanya untuk mengabarkan itu padanya, lalu pertolongan apakah yang dibutuhkan Hasan darinya.
Hasan pun menceritakan pada Hendri tentang segalanya tanpa menutupi apapun lagi. Janji yang pernah ia ucapkan pada mendiang Rudi dan Ratna untuk menyimpan kenyataan itu sampai takdir sendiri yang membukanya.
Sekaranglah waktunya, saat dimana Hendri mengetahui siapa Ameera yang sebenarnya. Anak yang pernah ia incar nyawanya.
Hendri mematung, tidak ada kata yang pantas untuk menggambarkan betapa hancur hatinya, betapa rasa berdosa begitu besar menghujam jantungnya.
Ia bersandar di kursi dengan tubuh bergetar. Sekelumit ingatannya tentang bagaimana selama ini ia berusaha membalas dendam pada Rudi dengan membunuh Ameera.
"Ameera... anakku?" gumam Hendri seraya menangis pilu.
Perasaan bersalah itu semakin menjadi-jadi, manakala bayangan Rudi bermunculan memenuhi ingatannya. Selama hidupnya, sahabatnya itu berusaha menjaga Ameera dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Melindunginya dari kejahatan ayah kandungnya sendiri.
"Aku mohon, tolonglah anakku itu, akan ku berikan apapun agar kau mau menolongnya," Hasan sekali lagi memohon agar Hendri mau menolong Ameera dengan mendonorkan darahnya.
Tidak ada kata apapun yang mampu di ucapkan Hendri, terhalang oleh tangisannya yang semakin menjadi-jadi.
Pria itu hanya mampu menggumamkan nama Ameera dalam tangisannya.
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari kepolisian, Hendri dikawal beberapa polisi menuju rumah sakit tempat Ameera di rawat.
Anakku, Ameera... Bagaimana aku akan memohon pengampunanmu. Setelah semua kejahatanku, apa aku masih pantas untuk di maafkan, batin Hendri.
Tidak lama kemudian, rombongan itu telah sampai di rumah sakit. Naura yang sudah memeriksakan darahnya di laboratorium rumah sakit terlebih dahulu harus kecewa, karena ternyata darahnya tidak cocok dengan Ameera.
Dokter dengan cepat mengambil sampel darah Hendri dan membawanya ke laboratorium untuk di cocokkan dengan darah Ameera. Setelah menunggu proses pemeriksaan, dokter menyatakan darah mereka cocok. Hendri pun mendonorkan darahnya untuk Ameera.
Dan, sore itu ketegangan kembali terjadi.
"Tolong izinkan aku melihat Ameera sebentar saja," pinta Hendri pada Hasan. Namun, Ozan yang sedang di penuhi kemarahan itu langsung menyela.
"Tidak!! Aku tidak izinkan dia melihat istriku!" ucap Ozan dengan tatapan dinginnya.
Hasan lalu mendekat pada anak sulungnya itu, berusaha melunakkan hatinya.
"Ozan, tolonglah, jangan seperti ini." bujuk Hasan.
"Tidak, Papa! Ameera istriku. Aku yang berhak sepenuhnya atas dirinya. Aku tidak mengizinkan dia melihatnya," raut wajah terlihat penuh kemarahan, "Aku tidak akan biarkan dia menyakiti istriku lagi,"
Rangga lalu berbisik di telinga kakaknya itu, "Bang, kasihan Ameera. Dia juga butuh do'a dari orang tuanya kan?"
"Lu lupa kalau kedua orang tuanya Ameera sudah meninggal?" Lagi-lagi ucapan Ozan menusuk hati laki-laki itu. Hendri hanya dapat terdiam, sadar dengan posisinya.
Naura yang duduk di kursi panjang itu hanya dapat terdiam menyaksikan ketegangan yang terjadi.
"Ozan, tolonglah, Nak. Demi Ameera, izinkan Hendri melihatnya sekali saja," Hasan mencoba membujuknya sekali lagi.
"5 menit!" ucap Ozan singkat.
Dengan pakaian steril, Hendri masuk ke ruangan itu. Hanya air matanya penyesalan yang berjatuhan, melihat anak bungsunya itu terbaring lemah.
"Ameera..." gumam Hendri,
Hari itu adalah pertemuan keduanya dengan Ameera. Pertama kalinya bertemu dengan Ameera adalah ketika Naura menculiknya.
Ia mengusap puncak kepala Ameera dan memandangi wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang ibunya. Sementara Ozan berdiri di sudut ruangan dengan tatapan dinginnya.
****
Bersambung
__ADS_1
Kira-kira kalau Ameera terbangun dari komanya, Om Hendri mau di apakan? ayo kita main tebak-tebakan lagi... wkwkwk