Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Kemarahan Ozan


__ADS_3

Ameera melangkah mundur menyadari tatapan tajam suaminya. Belum pernah sebelumnya Ozan menatapnya seperti sekarang. Seakan tatapan itu mampu melumaat habis dirinya.


Dengan penuh emosi, Ozan kembali mencengkram lengan Ameera, membuat Ameera meringis kesakitan.


"Sepertinya kamu lupa siapa suamimu, sampai kamu berani semesra itu dengan laki-laki lain!" bentaknya.


"Ap.. ap.. apaa?" tanya Ameera terbata-bata, tubuhnya gemetaran menatap bola mata menyala itu.


Seakan ingin menunjukkan bahwa Ameera adalah miliknya, ia menarik paksa Ameera, dengan tangannya yang menahan tengkuk. Ia benamkan ciuman yang dalam pada bibir Ameera, membuat gadis muda itu gemetaran hebat.


Karena tidak mendapat balasan, Ozan mengigit bibir bawah Ameera dengan lembut, sehingga gadis itu perlahan membuka mulutnya. Buliran air mata mulai mengaliri pipinya.


"Lepaskan!!" teriak Ameera mendorong tubuh tinggi menjulang itu. Ia hendak menyerang Ozan dengan kepalan tinju, namun dengan mudahnya ditepis oleh Ozan. Telapak tangannya membungkus kepalan tinju Ameera.


"Bahkan kamu sama sekali nggak bisa menghormati aku sebagai suami kamu."


Ozan mendorong tubuh Ameera dengan kasar hingga terhempas ke atas tempat tidur, lalu membuka kaos berwarna putih yang melekat di tubuhnya. Ameera gelagapan, berusaha mundur menggeser tubuhnya agar menjauh dan hendak turun dari tempat tidur. Akan tetapi, Ozan menarik kakinya dan menindih tubuh kecil itu.


Yang dilakukan Ameera hanya memberontak sekuat tenaga. Namun, tidak membuahkan hasil. Bagai seekor singa yang kelaparan, Ozan menerkam Ameera dengan buasnya. Ia bahkan menarik kemeja yang dipakai Ameera dengan kasar, hingga kancingnya terburai berhamburan, menampakkan dua buah benda yang masih bersembunyi di balik kain penutup berbentuk kacamata.


Dikuasai kecemburuan yang meledak, Ozan menjamah tubuh Ameera tanpa mempedulikan Isak tangis yang mulai terdengar. Ia menjatuhkan bibirnya dimana-mana dan membuat tanda merah.


"Ja-jangan... Ibu, Ayah....! " rintihan Ameera memanggil nama kedua orang tuanya yang sudah meninggal, menyadarkan Ozan dari tindakan gilanya.


Dengan nafas tersengal, menahan emosi dan nafsunya, Ozan berbisik di telinga Ameera yang masih berada di bawah tubuhnya, "Aku minta maaf, aku khilaf,"


Ia lalu mengecup kening Ameera. Ozan turun dari atas tubuh Ameera sehingga posisi nya menyamping, lalu memeluk tubuh Ameera yang gemetaran.


"Maafkan aku. Aku salah memperlakukanmu seperti ini!"


"Ka-ka-mu yang meng-ijin-kan- aku per-gi kan? A-ku tidak macam-macam de-ngan Rangga..." Ameera mengucapkan dengan terbata-bata hingga sesegukan. Menambah rasa bersalah dalam hati Ozan.


Ia tidak tahu kenapa dirinya begitu marah melihat Rangga dan Ameera jalan berdua, padahal dirinya yang mengijinkan.


Ozan semakin mengeratkan pelukannya.


"Ia aku yang salah... Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya. Jangan menangis lagi ya... Pukullah aku sesukamu." Ozan lalu membenamkan wajah Ameera di dadanya.


Ozan yang sedari tadi mengikuti mereka dan mengawasi dari jauh merasa terbakar dengan pemandangan di depannya. Padahal mereka jalan layaknya teman biasa, tapi entah mengapa terasa mesra bagi Ozan.

__ADS_1


Itulah yang membuatnya gelap mata lalu melampiaskan emosinya dengan cara seperti ini. Seolah ingin menunjukkan kepada Ameera bahwa hanya dirinya yang berhak atas diri Ameera.


"Keluar! Aku mau sendiri." teriak Ameera.


Ozan melepaskan pelukannya. Mengecup kening Ameera berkali-kali. Lalu mengambil selimut dan menutupi tubuh Ameera yang berantakan.


Ozan mengambil kaosnya yang tergeletak di lantai lalu memakainya kembali. Kemudiankeluar dari kamar dengan sejuta perasaan bersalah.


Ameera pun menangis di dalam kamar itu.


****


Ozan menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin lalu menenggaknya. Dia kembali merenungkan perbuatannya.


Kenapa aku jadi gelap mata begini dan melakukan itu. Ameera pasti sangat membenciku sekarang.


"Imel, mama sama papa kemana?" tanya Ozan ketika melihat seorang pelayan kebetulan melewati dapur.


"Tuan dan nyonya sedang menghadiri undangan pernikahan,"


"Oh. Baiklah sepertinya mereka akan terlambat pulang." Ozan pun beranjak kembali ke kamar.


Ozan pun mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu. Hingga terdengar suara isakan.


Matanya menangkap Ameera yang sedang bersandar di tepi tempat tidur, dengan posisi telungkup. Seketika hatinya terasa berdenyut melihat Ameera dalam keadaan seperti itu. Rasanya Ozan ingin menghukum dirinya atas perbuatannya tadi.


Ozan mendekati Ameera dan berjongkok di depannya. Ameera terbalut jubah mandi berwarna putih dengan rambut yang basah.


"Saayaang...." Ozan menarik Ameera ke dalam pelukannya, "Aku benar-benar minta maaf. Jangan hukum dirimu seperti ini. Akulah yang seharuanya kamu hukum," bisiknya.


Ozan menggendong Ameera menuju sofa besar di sudut kamar. Mendudukkannya di sana dengan posisi selonjoran.


laki-laki itu menyalakan lampu kamar, lalu mengambil handuk kecil, berniat mengeringkan rambut Ameera. Sejurus kemudian ia melihat leher ameera yang kemerahan seperti luka lecet. Ia lalu menyibakkan sedikit jubah mandi Ameera untuk meyakinkan kecurigaannya. Ternyata benar, ada banyak luka memerah di sekitar leher, bahu dan dada Ameera. Sepertinya Ameera menggosok dengan keras bekas tanda yang di buat Ozan sehingga menjadi luka lecet. Ozan memejamkan matanya sejenak. Menghela nafas kasar. Semakin besar rasa bersalahnya.


"Tunggu di sini ya. Aku keluar sebentar," ucapnya pada Ameera.


Ozan pun segera ke garasi dan mengambil sepeda motor dan menuju ke apotek terdekat.


Saat akan pulang, terdengar sesorang memanggil namanya. Saat berbalik, sosok Naura sedang berdiri di belakangnya dengan menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Ozan, kamu sedang apa di sini?" Naura pura-pura bertanya. Padahal ia sudah sejak tadi mengikuti Ozan dari gerbang kompleks perumahannya.


"Naura, maaf. Aku sedang buru-buru." Ozan bergegas pergi tapi Naura mencegahnya


"Aku ingin kita bicara dulu. Jelaskan semuanya padaku. Kenapa kamu melakukan ini semua?"


"Aku akan menghubungimu begitu urusanku selesai."


"Tidak, aku ingin kita bicara sekarang."


"Aku mohon Naura!" bentak Ozan dengan keras membuat Naura terkejut. Pasalnya selama berpacaran, Ozan tidak pernah membentaknya.


Ozanpun pergi meninggalkan Naura. Gadis itu hanya memandangi punggung Ozan yang semakin menjauh dari pandangannya.


Setibanya di rumah, Ozan langsung menuju kamarnya. sementara Ameera sudah berbaring di bawah selimut.


"Ameera !" Panggil Ozan.


"Aku beli salep untukmu. Oleskan di lukamu supaya tidak perih. " ucap Ozan seraya menyerahkan salep itu.


"Letakkan di meja saja. Nanti aku pakai." jawab Ameera dengan sisa isakannya.


"Oleskan sekarang, nanti luka nya tambah perih."


Ameera pun mengambil salep dari tangan Ozan lalu masuk ke kamar mandi untuk mengoleskannya di beberapa bagian tubuhnya yang lecet kemerahan akibat di gosok keras dengan handuk.


"Manusia jadi-jadian itu benar-benar menakutkan. Aku sampai harus mengalami semua kekerasan ini. Dia benar-benar kuat. Aku bahkan tidak bisa melakukan perlawanan sedikitpun. Batin Ameera saat memandangi pantulan dirinya di cermin yang di penuhi luka lecet.


Setelah memakai salep itu, Ameera keluar dari kamar mandi dan mendapati Ozan berdiri di depan pintu. Ozan langsung memeluk Ameera.


"Ameera, maafkan aku... Aku benar-benar khilaf. Aku tidak berniat menyakitimu!" Untuk kesekian kalinya Ozan minta maaf, namun Ameera tetap diam.


"Aku mau tidur."


"Baiklah,"


Ozan pun membawa Ameera ke tempat tidur dan menyelimutinya. Namun saat akan berbaring, Ameera kembali menangis dan memintanya meninggalkannya.


Ozan pun terpaksa meninggalkan Ameera di kamar sendirian.

__ADS_1


***


__ADS_2