Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Gantungan kunci


__ADS_3

Ameera mendengus kesal mendengar nada dering ponselnya yang sudah ratusan kali berbunyi. Sejak tiba di kampus, Ozan terus menerus meneleponnya. Pesan yang masukpun sudah puluhan.


"Apa sih ini manusia jadi-jadian?" gumamnya kesal.


Sekali lagi ponselnya berbunyi. Akhirnya Ameera me-reject panggilan dari suaminya dan segera mematikan ponselnya.


"Bodo amat." ucapnya kemudian.


Ozan di kantor menjadi panik saat mendapati ponsel Ameera tidak aktif lagi.


"Ini dimatiin apa gimana sih?" gumam pelan. Ozan melirik berkas di meja yang sudah bertumpukan.


"Aaarrrgghhhh... lembur lagi kan..."


Diliriknya jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul 15.20 sore. Ozan pun segera melanjutkan pekerjaannya, berharap selesai sebelum malam tiba.


Ameera sedang berada di sebuah cafe dipinggir pantai. Sedang menikmati es kelapa muda dengan pemandangan pantai di sore hari, menunggu matahari terbenam.


Enak juga ya rasanya jadi orang bebas. Dulu Ayah sama Rangga menjagaku seperti tahanan penjara. Batinnya


Mentaripun terbenam, dinginnya malam mulai merasuk menusuk tulang. Sementara Ameera masih duduk di dermaga pantai menyaksikan deburan ombak yang berkejaran. Ia pun tersadar dari lamunannya. Diliriknya jam dipergelangan tangannya.


"Haah... sudah lewat jam tujuh malam, aduh kenapa aku malah melamun disini?" gumamnya seraya meraih tas lalu berjalan menuju parkiran.


Ozan yang sudah sampai dirumah terlebih dahulu dilanda kepanikan, pasalnya hari sudah gelap, namun istrinya belum juga kembali. Berkali-kali ia menghubungi ponsel Ameera, namun tidak juga tersambung. Ozan membuat seisi rumah ikut panik dengan marah-marah tidak jelas.


"Ram, gue mau keluar dulu cari Ameera."


"Apa nggak tunggu info dari orang suruhan gue aja. Mereka lagi melacak keberadaan Ameera kok."


"Ah, lama... jalan aja dulu." ucapnya sambil berjalan keluar rumah. Ozan sudah mau naik ke mobil ketika Ameera datang dengan motor maticnya. Ia menatap Ameera dengan raut wajah panik bercampur kesal.


"Sayaaaang.. Kamu darimana sih?" tanya Ozan gemas, ia berusaha menyembunyikan kekesalannya, namun tetap dapat terlihat.


"Aku habis jajan es kelapa muda di pantai. Kenapa?"


"Kalau kamu mau sesuatu, kan bisa bilang sama aku. Jangan pergi sendiri! Kenapa lagi ponselnya nggak aktif?"


"Ah, kayaknya lowbatt. Hehe. " jawab Ameera diselingi kekehan. Ia sudah mau masuk ke rumah namun Ozan menahannya.


"Siniin kunci motornya." pinta Ozan sambil menengadahkan tangannya.


"Buat apa?"


"Sini..."


Tanpa banyak tanya Ameera memberikan kunci motor pada Ozan. Saat melihat kunci motor di tangannya Ozan menganga tak percaya.


Apa ini, gantungan kuncinya?


"Ameera... Kamu sengaja menjadikan kalung berlianmu sebagai gantungan kunci motor?" tanya Ozan seraya menunjukkan kalung milik Ameera.


"Oh itu. Kenapa?"


Malah tanya kenapa.


"Ah, nggak apa-apa yank." ucapnya seraya tersenyum pelik.

__ADS_1


"Daripada nggak dipakai, aku jadiin aja gantungan kunci motor." sahut Ameera polos.


Bocah ini. Mana ada kalung berlian di jadikan gantungan kunci motor.


"Yank... kamu tau harga mobil baru kamu?"


Ameera menggeleng dengan wajah polosnya.


"Mahal ya?"


"Kalung ini harganya diatas mobil itu tahu. " terang Ozan. Sambil memainkan kalung berlian itu ditangannya.


Ameera tergelak mengetahui kalung berlian yang dihadiahkan Ozan saat mereka ke puncak ternyata sangat mahal.


"Mana aku tahu kalau itu mahal. Kan kamu yang bilang kalung itu nggak mahal. " ucapnya cuek sambil berjalan memasuki rumah.


Nggak merasa bersalah sama sekali ya, ini bocah.


Ameera terus berjalan tanpa mempedulikan Ozan dibelakangnya, seolah tidak melakukan kesalahan.


"Ya udah, Kamu keatas duluan, ya. Aku ada perlu sama Ramon."


Terserah! Laporan sana sama pak RT.


Ameera sudah beranjak menapaki tangga, sedangkan Ramon baru saja datang dari dapur. Ozan melemparkan kunci motor pada Ramon, dan ditangkapnya gelagapan.


"Buat apa nih kunci motor?" tanya Ramon pada Ozan. Ramon mau melemparnya kembali pada Ozan, namun matanya terbelalak melihat gantungan kunci motor tersebut.


"Buset. Ini kan kalung berlian yang lu pesan khusus buat Ameera."


"Ajaib bini lu. Motor harganya 20jutaan gantungan kuncinya milliaran. Wow.. gue takjub." ujar Ramon seraya menggelengkan kepalanya.


"Dia bilang, daripada nggak di pakai, mending jadi gantungan kunci. Haha... Ada ya, wanita kayak si Bini itu. Bagaimana bisa dia pikir kalung berlian itu murah?" tutur Ozan diselingi gelak tawa. Sangat gemas dengan kelakuan istrinya. Ramon ikut terkekeh. Diapun pernah menjadi korban ke-isengan Ameera.


Ramon melepaskan kalung itu dari kunci motor Dan meletakkannya di Meja.


"Siap-siap aja lu di kerjain lebih dari sekarang. Kayaknya dia masih dendam banget sama lu."


Ozan terdiam sejenak, ia sadar kesalahannya pada istrinya.


"Nggak apa-apalah, yang penting dia nggak kabur lagi dari rumah." ucapnya seraya menyandarkan kepalanya disandaran kursi.


"Ya udah gue pulang dulu lah."


Setelah kepergian Ramon, Ozan beranjak ke dapur meminta pelayan menyiapkan makan malam untuk Ameera.


****


"Bim... aku Ada tugas penting untukmu." ucap Ozan saat mendatangi pos penjaga.


"Ia, Tuan Muda."


Ozan menyerahkan kunci motor Ameera ketangan sopirnya itu.


"Buang motor itu jauh-jauh dari sini."titah Ozan.


"Dibuang, Tuan Muda?" tanya Bima, ia ingin memastikan apakah telinganya tidak salah dengar.

__ADS_1


"Iya buang, besok pagi aku tidak mau melihat motor itu masih ada di rumah ini. " sahut Ozan.


"Tapi saya harus buang kemana?"


"Malah tanya... ya terserah kamu. Kalau perlu tenggelamkan di segitiga bermuda biar tersedot ke kerak bumi sekalian. Pastikan istriku tidak bisa menemukan motor itu lagi. "


"Ba... Baik, saya akan membuangnya besok pagi."


"Jangan besok pagi. Lakukan malam ini dengan diam-diam. Dan ingat, jangan sampai istriku tahu aku menyuruhmu membuangnya." nada Ozan sedikit terdengar seperti mengancam serius.


"Kalau nona tanya kemana motornya, saya harus jawab apa?"


"Bilang saja dicuri, atau apalah. Terserah!"


"Baik."


Mana bisa alasannya di curi. Sedangkan rumah ini di jaga 24jam.


"Lakukan dengan baik dan rahasia." ucapnya kemudian. Ia sudah berjalan memasuki rumah sementara Bima masih di pusingkan dengan perintah bosnya yang menyuruh membuang motor dengan diam-diam.


"Dia menyuruh membuang motor seperti membuang mayat saja. Hati-hati dan rahasia. Kenapa juga harus ke segitiga bermuda untuk membuangnya." gerutu sopir itu.


****


Ozan sudah masuk ke kamar, mendapati Ameera sudah meringkuk dibawah selimut. Ia beranjak ke kamar mandi lalu berganti pakaian. Setelahnya Ozan ikut berbaring disamping Ameera. Ia membelai wajah istrinya lalu mengecup keningnya dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun dan memarahinya. Ozan pun menarik selimut dan tidur membelakangi Ameera.


Tidak lama kemudian...


Ameera membuka matanya perlahan. Ia duduk bersandar dan menatap punggung Ozan.


Kenapa aku jadi sedih dia tidur membelakangiku. Padahal aku kan masih dalam rangka balas dendam.


Ameera merangkak, hendak mengintip, dilihatnya wajah Ozan yang sudah tertidur pulas. Kemudian ia kembali duduk bersandar seperti memikirkan sesuatu sesekali melirik punggung suaminya. Ia terlihat menepuk pipinya beberapa kali, memejamkan mata seraya menggeleng. Seperti hendak mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak berpikir macam-macam.


Ia pun menyelinap masuk kedalam selimut. Menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit sehingga gerakannya seperti ulat bulu. Ia menggeser semakin mendekat ketubuh Ozan hingga menempel, melingkarkan tanggannya dipinggang dan membenamkan wajahnya dipunggung suaminya.


Hmmm wanginya...


Ameera semakin mengeratkan pelukannya tanpa sadar. Sementara senyum tipis muncul di bibir Ozan. Ia memilih tidak bergerak, jika Ameera tahu dia belum tidur, Ameera pasti mengelak dan dirinya akan berada diposisi yang tersalahkan.


Tak lama kemudian terdengar isakan lirih. Ozan tergelak dan berbalik. Ameera sedang menangis dengan posisi tangannya yang melingkar di pinggang Ozan.


"Sayaaaang... kamu nangis? Kenapa?" tanyanya lembut. Ia menangkup wajah Ameera dan memberi kecupan di seluruh bagian wajahnya seperti yang biasanya ia lakukan.


"Kamu lagi mau makan sesuatu?" tanyanya lagi. Ameera menjawab dengan gelengan kepala.


"Terus ini kenapa nangis?" sambil menghapus air mata Ameera yang mengalir di pipinya.


"Kamu jahat." lirih Ameera di selingi isakan.


"Aku minta maaf yank. Aku jahatin kamu belakangan ini, aku membuatmu sakit, aku meninggalkanmu sendirian, aku tahu aku salah... karena cemburu aku sampai khilaf berbuat begitu. Aku sangat menyesal." bujuk Ozan seraya memeluk erat tubuh Ameera, sambil terus mengusap rambut dan punggungnya. Sesekali memberi kecupan lembut dikening. Sementara Ameera hanyut dalam pelukan hangat suaminya, seringai tipis muncul di sudut bibirnya.


Apa aku sudah gila? Aku sampai harus pura-pura menangis hanya untuk dapat pelukan ini.


*****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2