Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Bimbang


__ADS_3

Hari berganti hari tanpa terasa sudah tiga bulan sejak Ozan dan Ameera menikah. Hubungan merekapun mengalami banyak kemajuan. Ameera yang sejak kejadian pemaksaan oleh Ozan, menjadi trauma dan ketakutan setiap kali mereka bertemu, sekarang sudah membaik. Dirinya perlahan mulai melupakan kejadian tersebut. Ozan setiap hari membawa sebuket bunga mawar putih dan cokelat sebagai permintaan maafnya.


Sejak saat itu Ameera dan Ozan memang tidur di kamar terpisah. Karena setiap Ozan mendekatinya, Ameera akan ketakutan. Ozan berjanji tidak akan menyentuh Ameera sampai Ameera mengijinkannya. Maka dari itu Ozan memilih tidur di kamar tamu dan hanya masuk ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju.


Kedua orang tua Ozan tidak mengetahui masalah ini, karena Ozan dan Ameera menutupinya. Berhubung sejak sebulan lalu kedua orang tua Ozan pindah di luar negeri karena mengurus perusahaannya di luar negeri. Jadi perusahaan yang berada di dalam negeri sepenuhnya di serahkan ke tangan Ozan.


Pagi ini di mulai dengan sarapan bersama.


"Mas, hari ini aku sibuk di kampus. Mungkin pulangnya agak sore." Ameera sudah mengganti nama panggilan tuan mudanya menjadi mas. Ameera sudah mulai sibuk dengan kegiatannya di kampus. Sekarang sedang dalam masa ospek.


"Oke. Telepon saja. Nanti aku jemput"


"Kan ada sopir"


"Aku saja."


"Baiklah"


Ramon tiba-tiba datang dan duduk di meja makan, ikut sarapan tanpa di tawari.


"Cie yang sudah akur." ucap Ramon meledek.


"Ehemmm"


"Apa lu ehem ehem segala?"


"Makasih loh ya, datang-datang ke rumah orang udah nunjukin tampang nyebelin, nggak permisi lagi lu"


"Bodo." ucapnya sambil mengoles selai di selembar roti tawar.


"Bisa cepet mati gue kalau semua karyawan gue kayak gini"


"Buktinya gue terus ada di dekat lu tapi lu belum mati" Ramon bicara dengan mulut penuh roti.


Ameera diam saja mendengar perdebatan dua orang di depannya.


"Aku sudah selesai. Aku duluan, ya.."


"Tunggu! Hari ini aku yang antar. Ram, lu ke kantor sendiri ya." Langsung berlalu keluar mengejar Ameera.


"Kalau tau mau bawa mobil sendiri, ngapain gue ke sini coba. Emang dia pikir rumah gue deket pake jemput dia segala."


Hari ini Ameera di antar Ozan ke kampus, ini termasuk kemajuan, karena selama ini Ameera selalu menolak dan hanya mau di antar sopir. Mobil berhenti di depan gerbang kampus.


"Terima kasih ya." ucapnya sambil tersenyum tipis.


Ketika Ameera hampir masuk ke gerbang Ozan memanggil.


"Ameera...! ini ketinggalan." Ameera hampir melupakan map biru yang ia letakkan di kursi belakang.


"Iya, aku lupa. Terima kasih ya. Aku masuk dulu sampai jumpa."


Ozan memperhatikan Ameera masuk ke kampus, sesaat kemudian beberapa orang menghampiri Ameera. Satu di antaranya laki-laki. Ozan rasanya tidak senang melihatnya. Tapi ia mengabaikan perasaan tidak sukanya dan memilih pergi.


***

__ADS_1


"Zan, ada yang mau gue omongin." Ramon duduk di kursi depan meja.


"Apaan?" tanyanya sambil membaca beberapa file di meja.


"Lu sama Ameera sebenarnya gimana sih?"


"Apanya?"


"Ya hubungan lu, geblek." Ramon menjadi kesal dengan Ozan yg seperti pura-pura bodoh.


"Ya gitu aja. Biasa."


"Maksudnya"


"Kan lu tau gimana gue sama Ameera..."


"Hah, jadi lu masih tidur di kamar tamu?" tanya Ramon terkejut. Ia pikir hubungan Ozan dan Ameera sudah membaik.


"Gak usah ngeselin gitu muka lu!"


"Ya jawab dong..."


"Iya." jawab Ozan dengan mimik wajah kesal.


"Lu gak berusaha deketin dia lagi?"


"Memangnya lu gak liat gue tiap hari usaha?"


"Usaha apaan udah tiga bulan lu nikah, tapi lu masih perjaka aja. Laki bukan lu?" ucapan Ramon yang bermuatan sindiran itu membuat Ozan kesal setengah mati.


"Lagian gue juga nggak mau melakukannya tanpa cinta."


"Maksudnya lu belum cinta sama bini lu?"


"Gue belum bisa mencintai Ameera setelah semua usaha yang gue lakukan. Masih sulit buat gue. "


Ramon pun berdecak heran mendengar ucapan Oza, "Jangan bilang elu masih mikirin si Naura"


Ozan jadi frustasi dengan perkataan Ramon yang memang benar adanya, "Ya gimana lagi. Memang begitu kenyataannya."


"Gimana lu bisa yakin sama perasaan lu kalau di batasin. Lu suami istri tapi tidur di kamar yang berbeda. Lu gak pernah ajak dia kencan berdua. Kebersamaan lu sama istri lu cuma antara sarapan dan makan malam, untung ada bunga sama coklat yang temenin elu. Terus lu anggap itu udah usaha gitu?" Ozan melirik Ramon dengan tatapan kesal, ucapan Ramon tepat menghujam jantungnya.


"Lu ada saran apa?"


"Ajaklah Ameera kencan. Besok weekend."


"Liat besok aja deh, gue yakin Ameera juga nggak mau."


"Si Naura masih usaha terus deketin lu kan?" tanya Ramon kemudian, Ozan menjawab dengan mengangguk, "Itu lagi masalahnya. Singkirkan Naura dari hidup lu..."


Ozan termenung memikirkan antara Ameera dan Naura. Ia masih ingin mencoba bertahan dengan Ameera tetapi belum bisa melupakan kenangan Naura. Tidak bisa di pungkiri, walaupun dirinya terus menolak Naura, namun ia masih memiliki perasaan kepada Naura.


Perasaan inilah yang menghalanginya untuk bisa menerima Ameera sepenuhnya.


Sedangkan Ameera terus membentengi hatinya agar jangan sampai jatuh cinta kepada Ozan, berjaga-jaga jika suatu hari Ozan akan kembali kepada Naura.

__ADS_1


Tiba-tiba kepala Ozan terasa berat memikirkan masalah itu. Ia lalu menandatangani beberapa berkas di depannya kemudian menyerahkannya pada Ramon.


***


"Mas, aku sudah selesai. Sebentar lagi mau pulang." isi pesan Ameera.


"Jangan kemana-mana. Tunggu aku jemput"


Ozan mengirimkan pesan balasan kepada Ameera.


Dua puluh menit kemudian Ozan telah sampai di gerbang kampus Ameera. Ameera yang sudah menunggunya di depan gerbang, langsung naik ke mobil.


"Maaf ya lama, soalnya macet."


"nggak apa-apa kok."


"Ini buat kamu.." Ozan menyerahkan sebuah boneka teddy bear yang lucu dengan cokelat kesukaan Ameera.


"Makasih ya.." Ameera pun tersenyum paksa menerima hadiah dari suaminya itu.


Apa yang harus ku lakukan dengan boneka ini.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Ozan sambil sesekali melirik Ameera.


"Nanti saja di rumah."


" ini sudah sore Ameera, nanti kamu sakit." Ozan pun membelokkan mobilnya menuju sebuah restoran.


***


Malam harinya...


Ozan mendatangi kamar yang di tempati Ameera hendak mengatakan sesuatu.


"Ameera, kamu sudah tidur belum?" tanya Ozan dari balik pintu. Ameera pun langsung keluar dan membuka pintu.


"Kenapa mas?"


"Aku kira kamu sudah tidur..."


"Oh, belum..."


"Besok kamu sibuk nggak?"


"Kenapa?"


"Besok weekend, aku mau ajak kamu ke suatu tempat."


"Berdua?" tanya Ameera dengan nada cemas.


"Iya. Kamu tenang saja. Aku tidak akan macam-macam.


"Baiklah, tapi sebelumnya aku mau ke makam ayah dan ibu dulu ya."


"Iya..."

__ADS_1


****


__ADS_2