
Tak terasa hari mulai gelap. Ameera masih setia menunggu di depan ruang ICU tempat Rangga di rawat dengan tatapannya yang kosong. Beberapa saat kemudian, Ozan yang baru saja mendonorkan darahnya untuk Rangga, datang menghampiri Ameera. Ia duduk di sisi istrinya itu dan langsung merangkul bahunya.
"Kamu nggak apa-apa yank? Wajahmu pucat." tanya Ozan pada Ameera.
"Nggak apa-apa, Mas." jawab Ameera dengan suaranya yang lemah.
"Aku antar kamu pulang, ya... biar kamu bisa istirahat." ucapnya seraya membelai wajah Ameera yang terlihat begitu lelah.
Ameera menggeleng, "Aku mau di sini. Aku mau tunggin Rangga."
"Sayang, kamu butuh istirahat, kamu juga belum makan dari pagi. Kasihan si kembar kalau kamu nggak makan." Ameera menyandarkan kepalanya di bahu Ozan. Mencoba mencari kedamaian di sana.
Tidak lama kemudian Aliyah bersama Dina datang, mereka baru saja dari kantin rumah sakit. Aliyah melihat Ameera yang tampak begitu terpukul, bahkan saat mereka mengajak Ameera ikut ke kantin, Ameera menolak dan lebih memilih tetap di sana menunggu setiap perkembangan Rangga. Aliyah segera mendekat pada Ameera. Ia membelai rambut Ameera dengan lembut.
"Ameera, Ozan, kalian pulang saja dulu, Nak. Kalian butuh istirahat." ucap Aliyah.
"Iya, Ameera... kamu pulang saja. Kamu juga belum makan dari pagi." imbuh Dina.
Ozan yang merasa pusing akibat mendonorkan darahnya mengurut keningnya yang terasa berdenyut.
"Ozan, terima kasih, ya... kamu sudah mau menolong Rangga dengan mendonorkan darahmu." ucap Aliyah, matanya kembali berkaca-kaca.
Ozan menghampiri Aliyah yang duduk di sisi Ameera dan berjongkok di depannya.
"Aku yang harusnya berterima kasih pada Rangga. Yang aku berikan padanya hanya hal kecil. Sementara Rangga menyelamatkan tiga nyawa untukku, Istri dan anak-anakku. Walaupun aku membayarnya dengan nyawaku sekalipun, itu tidak akan cukup." ungkap Ozan dengan suaranya yang bergetar. Hatinya bahkan di penuhi rasa bersalah.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Rizal dan Ramon datang. Setelah mendapat kabar bahwa Naura tertangkap, mereka bergegas mendatangi kantor polisi untuk mengurus beberapa laporan tentang tindak kriminal yang di lakukan oleh Naura.
Ramon melihat wajah Ozan dan Ameera yang begitu lelah. Terlebih Ozan yang butuh istirahat cukup setelah mendonorkan darahnya, sementara Ameera dalam keadaan hamil.
"Ozan... lu pulang dulu, ya sama Ameera. Kalian butuh istirahat. Biar gue yang tungguin Rangga di sini." ucap Rizal.
"Iya, gue juga malam ini tinggal di sini sama Rizal. Jadi kalian tenang saja." imbuh Ramon.
"Ayo Ameera, kita pulang dulu. Besok kita kesini lagi." ajak Ozan pada Ameera.
Setelah beberapa kali membujuk, akhirnya Ameera setuju untuk pulang bersama Ozan. Mereka lalu berpamitan pada Aliyah dan Dina. Ramon mengantar mereka karena Ozan masih pusing, sehingga tidak dapat menyetir.
Selama perjalanan pulang, Ameera terus melamun, pandangannya tertuju pada jalanan yang ramai malam itu. Sekelumit kenangannya bersama Rangga bermunculan. Sementara Ozan menyandarkan kepalanya yang terasa berat seraya memejamkan matanya.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah. Setelah mengantar Ozan dan Ameera, Ramon segera bergegas kembali ke rumah sakit. Sementara Ozan dan Ameera langsung menuju ke kamar mereka untuk beristirahat. Seharian berada di rumah sakit membuat mereka cukup lelah.
****
Rizal masih duduk di sebuah kursi panjang di depan ruang ICU, saat Ramon datang setelah mengantar Ameera dan Ozan. Sementara Aliyah sedang beristirahat di sebuah ruangan setelah syok mendengar penjelasan dokter tentang kondisi terakhir Rangga.
"Zal, Rangga gimana? Ada perkembangan?" tanya Ramon.
Rizal tampak menghela napas kasar. Wajahnya terlihat sangat sedih, bahkan matanya sembab seperti habis menangis.
"Dokter bilang, kemungkinan Rangga untuk sadar sangat kecil. Kondisinya semakin memburuk... Rangga koma, Ram." ucap Rizal seraya menahan tangisnya. Bagaimana pun Rangga telah di anggapnya adik sendiri. Sekarang Rangga terbaring lemah dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk Rangga.
__ADS_1
Ramon tersentak mendengar ucapan Rizal barusan. Pikirannya pun tertuju pada Dina. Jika terjadi sesuatu pada Rangga, mungkin Dina lah orang yang paling terpukul. Ia telah menunggu Rangga selama bertahun-tahun walaupun Rangga tidak pernah memandangnya.
"Tante Aliyah sama Dina gimana?" tanya Ramon.
"Tante Aliyah lagi istirahat, Dina ada di dalam menemani Rangga, mungkin ini saat-saat terakhir Rangga." ucap Rizal.
***
Dengan menggunakan pakaian khusus berwarna hijau polos, Dina memasuki ruangan tempat Rangga terbaring tak sadarkan diri. Ia duduk di kursi di sisi pembaringan pria yang di cintainya itu. Air matanya pun tak tertahankan melihat kondisi Rangga yang semakin memburuk.
Rangga yang selama ini terlihat sangat kuat dan berani, hari ini terbarinng lemah dengan banyaknya alat medis yang melekat di tubuhnya.
Diraihnya jemari Rangga dan menggenggamnya erat. Hatinya begitu sakit, bahkan rasa sakitnya lebih besar dari pada ketika Rangga mengabaikannya. Terlintas di pikirannya ucapan dokter bahwa kemungkinan Rangga bertahan sangat kecil, membuat Dina tidak dapat menahan tangisnya.
Dina menyandarkan kepalanya di lengan Rangga. "Kamu tahu, Rangga. Dulu, aku sering merasa cemburu saat kamu begitu memperhatikan Ameera. Aku merasa itu tidak adil untukku, bahkan aku sempat membenci Ameera. Tapi, aku tahu... seberapa besar kamu mencintai Ameera sejak dulu. Jauh sebelum aku masuk ke dalam hidupmu. Aku mulai mengerti perasaanmu. Kamu pasti merasa itu juga tidak adil untukmu. Dan hari ini, aku juga tahu, ini sama tidak adilnya untuk Ameera. Aku melihat cinta di matanya untukmu. Aku tahu, dia lebih terluka di banding aku. Walaupun dia berusaha menutupinya."
Air mata pun tumpah, membasahi pipi Dina. Seakan Dunia nya akan berhenti saat itu juga.
"Rangga, walaupun ini berat, tapi aku akan belajar mengikhlaskanmu, aku akan belajar untuk menjadi wanita yang kuat seperti Ameera." ucap Dina seraya terisak, "Aku tahu, kamu sedang menunggu Ameera, kan? Jadi bertahanlah untuk malam ini saja, Rangga. Aku akan membawa Ameera kemari besok."
Dina terus menangis di samping Rangga. Sampai sesegukan. Namun rasa sakit di hatinya terlalu besar.
***
**TO BE CONTINUE.
__ADS_1
BAB SELANJUTNYA AKAN ADA ADEGAN DIMANA AMEERA MENGATAKAN PERASAANNYA YANG DI SIMPAN SELAMA INI UNTUK RANGGA. MUNGKINKAH RANGGA BERTAHAN HANYA UNTUK DAPAT MENDENGAR UNGKAPAN ITU???
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR UNTUKKU GAES. KARENA KOMEN KALIAN ADALAH PENYEMANGATBUNTUKKU**.