Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Penantian cinta


__ADS_3

Tidak terasa sudah satu minggu sejak Rangga terbangun dari koma-nya, setiap hari Dina maupun Ameera datang bergantian menemaninya. Sore itu, setelah selesai kuliah, Dina langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk pujaan hatinya tersebut.


Rangga sedang duduk melamun di atas kursi roda. Memperhatikan pemandangan laut dari balik jendela kaca di kamar perawatannya yang terletak di lantai 11 sebuah rumah sakit.


"Maaf, Rangga... aku baru datang." ucap Dina saat masuk ke kamar Rangga.


"Nggak apa-apa, Dina... kamu jangan repot-repot. Kamu pasti lelah." sahut Rangga tanpa menoleh. Ia masih betah dengan pemandangan di depannya.


Saat ia berbalik menatap Dina, ia terlonjak kaget. Matanya membulat menatap Dina dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Ada apa denganmu, Din?" tanya Rangga.


Ia tidak percaya dengan penampilan Dina hari ini. Dina sengaja mengubah penampilannya menjadi seperti Ameera yang dulu. Celana jeans dengan sobekan di lutut dengan baju kaos oblong membuat penampilannya terlihat tomboi. Sangat berbeda dengan keseharian Dina.


"Jelek, ya?" tanya Dina.


Rangga terkekeh seraya memperhatikan Dina. "Kemarilah, Din... duduk di kursi itu." pinta Rangga. Dina segera duduk di kursi berhadapan dengan Rangga. "Apa yang kamu lakukan?"


"Aku berpikir untuk menjadi Ameera dan menemanimu setiap hari. Mungkin kamu bisa lebih baik dengan penyamaranku."


Sesaat kemudian wajah Rangga terlihat sedih, ada rasa bersalah menghinggapi hatinya. Di raihnya jemari Dina dan menggenggamnya erat.


Maafkan aku, Din... kamu sampai harus melakukan ini untuk dapat perhatianku. batin Rangga.


"Dina... kamu tidak perlu melakukan semua ini. Kamu tidak akan bisa menjadi Ameera. Dan sebaliknya, Ameera tidak akan bisa menjadi kamu." ucap Rangga. "Kamu dan Ameera punya tempat masing-masing di hatiku."


"Siapa tahu dengan berpenampilan begini aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku..." ucap Dina seraya tersenyum.


"Hehe..." Rangga terkekeh mendengar ucapan Dina yang terdengar sangat menggemaskan. "Din, aku lebih suka kamu menjadi dirimu sendiri."


"Rangga, apa boleh aku tanya sesuatu?" ucap Dina dengan ragu-ragu.


"Tanya apa?"


"Apa yang membuatmu begitu mencintai Ameera?" tanya Dina. Selama ini gadis itu tidak berani menanyakannya pada Rangga. Entah kekuatan darimana yang membuatnya berani bertanya.


Sejenak Rangga terdiam mendengar pertanyaan Dina. Membicarakan Ameera tidak akan ada habisnya bagi Rangga.

__ADS_1


"Aku tidak butuh alasan untuk mencintai Ameera. Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi satu hal yang aku tahu, aku mencintai apapun yang ada di dalam dirinya. Itu saja."


Butiran air mata berguguran, membasahi pipi gadis cantik itu. Ia tahu, hatinya akan sakit mendengar jawaban Rangga atas pertanyaannya. Namun setidaknya Rangga telah berkata jujur padanya, dan itu sudah cukup baginya.


Menunggu Rangga adalah harga mati bagi seorang Dina. Berapa lama pun Rangga membutuhkan waktu untuk dapat membuka hatinya, akan dia berikan.


"Aku sedang berusaha menujumu, Din. Aku mohon bersabarlah. Aku sudah pernah menjanjikannya untukmu kan? Tempat kosong di sisiku, hanya akan di isi olehmu. Maafkan aku, karena aku butuh waktu yang lama. Aku hanya tidak mau membohongimu tentang perasaanku. Ameera memang cinta pertamaku, tapi... aku sedang berusaha menjadikanmu cinta terakhirku." ucap Rangga.


Ada perasaan bahagia dalam hati Dina. Ia tahu, Rangga bukan tipe orang yang suka mengumbar janji manis. Rangga seorang pria apa adanya, yang berbicara sesuai apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.


"Aku akan tetap menunggu, berapa lama pun itu." ucap Dina pada Rangga.


Jika Dina mampu bersabar selama bertahun-tahun pada penantian cintanya, maka lain halnya dengan Ramon. Dia yang terlanjur jatuh cinta pada Dina sedang menelan pil pahit dalam hidupnya. Sejak tadi ia berdiri di belakang pintu mendengar pembicaraan Dina dan Rangga.


Ada sakit yang tak terlihat, sebuah rasa yang sulit di artikan olehnya. Bagaimana Dina yang baginya hanya seorang gadis remaja, mampu membuatnya jatuh cinta.


Aku kalah jauh dari Rangga. Dia memang seseorang yang unik. Bahkan Dina bertekuk lutut di depannya mengharap cintanya. Batin Ramon.


Akhirnya Ramon memilih menunggu di depan pintu. Tidak ingin mengganggu pembicaraan Rangga dan Dina yang terasa seperti duri di telinganya.


Atas permintaan Ameera, Ramon ke rumah sakit hendak membawakan Rangga kue kesukaannya yang di buat sendiri oleh Ameera. Namun, justru kejutan menyakitkan yang datang padanya.


"Oh... iya, Din... aku kesini mau membawakan titipan Ameera untuk Rangga." sahut Ramon.


"Masuk saja... Rangga ada di dalam. Aku mau ke depan sebentar."


"Iya, Din..."


Dina kemudian pergi meninggalkan Ramon yang sednag mematung di depan pintu.


Sama seperti Rangga, ia juga terkejut melihat penampilan Dina yang benar-benar mirip Ameera. Setelah Dina menghilang dari pandangannya barulah ia masuk kedalam.


"Gimana keadaan lu, Bro?" tanya Ramon saat memasuki ruangan Rangga.


"Eh, Bang... gue kira siapa, kaget gue." sahut Rangga.


"Gue kesini mau bawain lu ini. Titipan dari Ameera." ucap Ramon seraya menyerahkan sebuah kotak pada Rangga.

__ADS_1


"Apa ini?"


"Katanya kue kesukaan lu. Ameera buat sendiri..."


"Hebat juga si kebo jelek itu, sudah bisa bikin kue sendiri." ucap Rangga seraya membuka kotak itu. Dan matanya berbinar melihat pancake durian kesukaannya. "Wah, gue harus makasih sama Bang Ozan nih. Dia berhasil merubah Ameera yang bar-bar menjadi wanita sungguhan. Sudah bisa buat kue... haha" ucap Rangga kemudian.


"Hehe, dulu Ozan sering di kerjain habis sama Ameera tahu..." ucap Ramon, ia ingat di awal pernikahan mereka, Ozan sering di buat pusing dengan tingkah Ameera. "By the way, gimana kaki lu?" tanya Ramon kemudian.


"Ya gini lah, belum ada perkembangan. Gue kayaknya bakalan lumpuh." jawabnya.


"Jangan pesimis... lu pasti bisa jalan lagi kok. Lu udah menjalani fisioterapi kan?"


.


"Lagi sementara sih."sahut Rangga.


Kau beruntung Rangga. Dalam keadaan seperti ini Dina masib tetap setia padamu. batin Ramon.


"Oh,ya... makasih ya, Bang. Lu mau repot-repot bawain gue ini." ucap Rangga.


"Iya. Nggak repot kok... gue sekalian lewat." Padahal alasan sebenarnya, Ramon hanya ingin melihat Dina saja. Sejak Rangga si rawat di rumah sakit, ia tidak pernah lagi bisa mengajak Dina bertemu berdua.


***


Keesokan harinya...


Karena kondisinya sudah membaik, hari ini Rangga di izinkan pulang oleh dokter. Rizal sudah berada di rumah sakit untuk mengurus administrasi rumah sakitsetelah semua urusan selesai, mereka bergegas meninggalkan rumah sakit.


Rizal mendorong kurso roda Rangga menuju sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah sakit.


"Lu mau langsung pulang atau mau mampir di suatu tempat?"


"Antar gue ke rumah tahanan." pinta Rangga.


"Mau ngapain lu di sana?" tanya Rizal. Sepertinya ia mulai mengerti alasan Rangga memintanya menjemputnya sendirian. Ia tidak ingin ibunya atau Dina ikut menjemputnya.


"Udah lu antar aja gue ke sana. Nanti juga lu tahu..."

__ADS_1


Akhirnya Rizal mengalah dan melajukan mobil menuju rumah tahanan tempat Hendri menjalani hukumannya.


***


__ADS_2