Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Susahnya membujuk


__ADS_3

Malam itu, Ozan dan Ameera sedang duduk menyandar di ranjang. Sudah dengan pakaian tidur masing-masing. Tetapi Ozan masih sibuk dengan laptopnya, sedangkan Ameera sejak tadi diam menunggunya karena ada yang ingin ia bicarakan dengan suaminya. Tapi setelah lama menunggu, Ozan tidak juga selesai dengan pekerjaannya. Sampai akhirnya Ameera buka suara.


"Mas,ada yang mau aku bicarakan. " kata Ameera


"Hemmm..." Ozan yang sibuk bekerja itu hanya menjawab dengan deheman.


"Dengar dulu. " Ameera merengek sambil memegangi lengan Ozan.


"Iya sayang, aku dengar..." ucapnya tanpa berbalik


Melihat respon Ozan, Ameera membatalkan keinginannya. Iapun tidak jadi mengatakan apa yang ingin ia katakan sejak tadi. Ozan yang menyadari kediaman Ameera segera menutup laptopnya.


Ozan segera menarik Ameera ke dalam pelukannya.


"Mau bilang apa?" tanya Ozan sambil mencium kening Ameera.


"Minggu depan aku ada kegiatan sama teman-teman kampus..."


"Kegiatan apa?" tanya Ozan sambil membelai puncak kepala Ameera.


"Hiking. " jawabnya singkat


"Kemana?"


"Gu-nung pan-car. " Ameera emnjawab takut-takut.


Ozan tersenyum manis menatap wajah Ameera.


dia tersenyum, itu artinya boleh kan...


"Tidak boleh! " ucap Ozan dengan suara datar dan wajahnya tiba-tiba ikut datar.


"Kenapa tidak boleh. Ini kan kegiatan positif. "


"Di sana itu bahaya. Siapa yang akan jaga kamu disana?" Ozan melepaskan pelukannya dan kembali membuka laptop.


"Kan aku sama teman-teman. "


"Ada laki-laki nya juga?" tanya Ozan curiga


"Pasti. Namanya juga kegiatan kampus. Tapi kebanyakan teman wanita. "


"Tetap tidak boleh. "


Ameera mengambil bantal dan menimpuk wajah Ozan. Mendapat serangan itu, Ozan menjadi kesal.


"Kamu mulai barbar lagi ya, kamu mau aku balik nge-barbarin kamu?"


Ameera membelalakkan matanya, bergidik ngeri. Karena Ameera tau apa yang di maksud Ozan dengan kata nge-barbarin. Sudah pasti ia akan menemani Ozan begadang sampai pagi. Tidak mau mencari masalah, akhirnya Ameera memilih berbaring dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ozan yang memperhatikan kelakuan Ameera hanya dapat menahan senyumnya.


Bagaimana cara minta izin. Mendaki ke gunung yang dekat saja tidak boleh. Bagaimana yang jauh. Aku merasa dia seperti ayah dan Rangga.

__ADS_1


"Sayang... memang tidak ada kegiatan lain ? Yang tidak ekstrim. Mendaki gunung itu medannya bahaya..."


"Terus harus kemana yang boleh?" teriak Ameera yang suaranya terdengar dari bawah selimut.


"Kemana saja yang tidak berbahaya, aku tidak bisa biarkan kamu pergi sendiri apalagi mendaki gunung. Kalau ada apa-apa sama kamu bagaimana? Bisa di gorok aku sama Mama Papa."


"Bilang saja tidak mau memberi izin. tidak usah bawa-bawa Mama sama Papa segala. " tukas Ameera


Ketahuan deh alibinya. batin Ozan.


"Buka dulu selimutnya yank, biar bicaranya enak," pinta Ozan.


"Tidak mau. "


"Aku paksa ya.... " ancam Ozan lagi.


"tidak mau. "


"Kamu yang minta ya... "


"Bodo amat. "


"Oke kalau maunya aku memaksa. " terdengar nada bicara Ozan seperti sedang mengancam


Dan benar saja, mendengar nada ancaman dari Ozan, nyali Ameera langsung menciut. Ia pun segera membuka selimutnya, sambil mengerucutkan bibirnya. Ozan kembali mengulum senyumnya.


Satu hal yang Ozan sukai dari perubahan Ameera adalah ia sudah mulai menunjukkan kemanjaannya kepada Ozan. Ameera yang dulunya sangat dingin, galak dan cuek, sekarang sedikit demi sedikit menjadi Ameera yang manja dan menggemaskan.


Ozan lalu ikut berbaring dan menarik Ameera ke dalam pelukannya. Ozan mengecup kening istrinya beberapa kali.


Ameera hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Tapi aku ikut ya... biar bisa jaga kamu. " pinta Ozan membuat Ameera tertunduk lesu.


Kalau ajak kamu bisa ketahuan aku sudah menikah. Aku kan tidak mau ada yang tau kalau aku sudah menikah. Bisa di ledekin teman-teman.


"Memang kamu tidak ada jadwal penting?" Ameera mencoba memastikan apakah Ozan ada jadwal di hari itu


Ozan segera meraih ponselnya dan menghubungi Ramon.


"Halo. " terdengar suara serak Ramon di seberang telepon yang sepertinya sudah tidur.


"Ram, minggu depan gue ada jadwal nggak? tanya Ozan


"Minggu depan?Kenapa sih tanya nya harus sekarang? Kenapa nggak besok aja di kantor? Gue lupa-lupa ingat "


"Ya coba di ingat-ingat. " bentak Ozan


"Bentar. " Ramon membentak balik


Tidak lama kemudian...


"Minggu depan tinjau lokasi ke Bandung tiga hari, berangkat jumat, pulangnya senin. " jawab Ramon singkat

__ADS_1


"Hah, kenapa bisa pas begini waktunya? Lu bisa mewakilkan gue kan?" pinta Ozan


"Ya kagak lah bos. Kan elu bosnya bukan gue. Klient minta nya sama elu tinjau lokasinya."


Tanpa permisi Ramon memutuskan sambungan teleponnya dengan kesal karena Ozan telah mengganggu mimpi indahnya.


Sial


Ameera tersenyum penuh kemenangan melihat ekspresi wajah Ozan yang kelihatan menahan kekesalan. Ia menatap Ameera dengan raut wajah memelas.


"Yank... kamu tidak usah pergi ya!" rengek Ozan sambil mencium pipi Ameera berkali-kali berharap Ameera membatalkan rencananya.


"Aku mau pergi. "


"Aku ada jadwal di hari yang sama, malah tiga hari lagi. Nanti yang jaga kamu siapa?"


"Kan aku tidak sendiri perginya. Rame-rame. Lagipula menginapnya cuma semalam. Boleh ya," rengek Ameera lagi. Terlihat seperti anak kecil yang minta sesuatu pada orang tuanya.


Ozan berdecak. Kemudian menghela nafas kasar, lalu menatap bola mata Ameera yang sedang memelas minta di izinkan.


"Ya sudah. Kamu boleh pergi." ucapnya sambil masih menimbang-nimbang apakah keputusannya memberi izin Ameera pergi sudah tepat.


"Makasih mas..." Ameera tersenyum kegirangan akhirnya mendapat lampu hijau.


"Tapi kamu jangan macam-macam ya. Jangan satu tenda sama laki-laki. "


"Siapa juga yang mau satu tenda sama laki-laki."


"Kamu harus ingat, kamu hanya milikku. Awas saja kalau ada yang macam-macam sama kamu. "


"Iya, Bawel... " gumam Ameera


"Bilang apa barusan?"


"Tidak... "


"Ya sudah sini. " Ozan merentangkan tangan meminta Ameera mendekat.


Ameera pun segera merapat ke tubuh Ozan sehingga Ozan dapat memeluknya dengan erat. Menghirup Aroma segar tubuh Ameera yang selalu menjadi candunya.


"Kamu wangi, aku suka,"


Wajah Ameera seperti sudah terprogram otomatis merona setiap kali mendapat godaan dari Ozan. Ia merasa malu setiap Ozan menggodanya. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Ozan.


"Dosa tau, tidurnya belakangin suami. "


Ameera diam saja karena perasaan malunya. Ozan membalikkan tubuh Ameera agar berhadapan dengannya. Ia melihat rona merah di wajah Ameera. Membuatnya tidak tahan untuk mengecup bibir manis istrinya.


Mereka pun berciuman dengan mesra.


"Kamu sudah pintar ciumannya, tidak kaku lagi. "ucap Ozan lagi yang membuat Ameera membenamkan wajahnya di dada bidang Ozan.


Merasa sudah tidak tahan dengan tingkah menggemaskan istrinya, Ozan segera mematikan lampu kamar, untuk menuntaskan hasratnya. Pergulatan pun kembali terjadi di antara mereka.

__ADS_1


🎀🎀🎀🎀🎀


Bersambung


__ADS_2