
Pagi itu, Ozan menemani Ameera berjalan-jalan santai di taman belakang rumah. Karena kakinya membengkak, maka ia jadi sering berolahraga ringan di pagi hari dengan berjalan kaki. Bahkan Ameera juga sering ikut kelas yoga khusus ibu hamil.
"Kamu perutnya makin besar, ya? Lucu tahu." ucap Ozan seraya mengusap perut istrinya itu.
"Iya. Bajunya jadi sempit semua." sahut Ameera.
Belakangan ini jika di rumah ia memakai baju kaos milik Ozan, karena tidak nyaman dengan semua pakaian miliknya yang terasa sempit.
"Beli karung biar muat kamunya, haha."
Tidak terima di suruh memakai karung, Ameera memukul lengan Ozan dengan keras.
"Auuwh sakit tahu, yank..."
"Syukurin. Lama kan nggak dapat jurus persatuan lima jariku." ucapnya seraya mengerucutkan bibirnya, lalu mempercepat jalannya meninggalkan Ozan.
Ozan mengulum senyumnya, merasa Ameera semakin menggemaskan. Ia pun segera menyusul langkah kaki Ameera.
"Lagian kenapa nggak beli baju hamil coba?"
"Aku malas perginya..."
"Kan bisa online shop, yank. Nggak perlu keluar rumah kalau malas."
"Lagi nggak mau aja." jawabnya singkat.
"Oo iya, Yank... Hari ini kamu ada jadwal check up ke dokter kan?" tanya Ozan.
"Mas temani aku, ya..." pinta Ameera.
"Iya, yank. Memangnya kapan aku membiarkanmu pergi sendiri?"
"Nggk pernah, hehe... tapi pulangnya ke kedai es krim, boleh kan?"
"Boleh, tapi nggak boleh banyak-banyak." Ozan melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 07.30. "Ayo, yank... sarapan dulu, terus ke rumah sakit." ajaknya kemudian.
***
Di sebuah rumah sakit ibu dan anak, Ameera yang sedang memeriksakan kandungannya harus menjadi was-was setelah dokter menyarankan persalinan melalui operasi caesar.
Faktor usia yang masih muda dan kehamilan kembar menjadi alasan dokter menyarankannya menjalani operasi.
"Aku nggak mau di operasi, Mas... aku takut!" ucap Ameera pada Ozan. Mereka masih duduk di ruangan dokter.
"Yank... terlalu beresiko kalau kamu melahirkan normal." Ozan berusaha menenangkan Ameera yang ketakutan.
"Di operasi itu pasti sakit kan? suntikannya juga banyak kan? Perutku nanti di belah-belah sama mereka." ucapnya seraya menunjuk dokter wanita itu.
__ADS_1
"Di belah-belah?" gumam Ozan, ia lalu melirik dokter seraya tersenyum getir menyadari ucapan Ameera, yang terdengar seperti ingin mengatakan bahwa dokter adalah makhluk menyeramkan, "Dok, maaf ya..." ucap Ozan pada dokter. Ia kembali membujuk Ameera. "Nggak sakit yank, di operasi itu, kan nanti kamu di bius. Jadi nggak akan berasa. Iya kan, Dok?"
"Iya... nanti akan di suntik epidural. Jadi tidak akan terasa." sahut sang dokter.
"Suntik epidural? Itu jenis apa lagi?" suara Ameera mulai bergetar.
"Suntik epidural itu... " tiba-tiba Ozan menggantung ucapannya. Sedang memikirkan kalimat apa yang paling baik untuk menjelaskannya agar Ameera tidak semakin takut. Dan, tercetuslah ide kebohongan di otaknya. "Ah... seperti waktu kamu disuntik di lengan kirimu waktu itu, nggak berasa kan?" ucap Ozan seraya mengedipkan matanya pada dokter.
Dokter yang menyadari situasi itupun memilih tidak menjelaskan pada Ameera apa itu bius epidural. Jika wanita itu tahu apa itu suntik epidural dan prosesnya, mungkin ia akan menjerit ketakutan.
"Akan lebih sakit jika menjalani persalinan normal lho..." ucap dokter itu yang mulai mengerti situasi. Ia sadar Ameera sangat takut dengan jarum suntik dan ruang operasi.
"Ayo, Mas... kita pulang saja." bisik Ameera. Wajahnya bahkan sudah terlihat pucat saking takutnya.
Ozan memberinya air mineral, seraya membelai lembut rambutnya. Mencoba meyakinkan bahwa operasi caesar tidak seperti yang ada di pikiran Ameera. Bagaimana otak polosnya berpikir dokter akan membelah-belah perutnya dengan sadis.
"Jadi kapan istri saya bisa menjalani operasinya, Dok?" tanya Ozan.
"Sekarang usia kehamilan sudah masuk 30 minggu, jadi lebih baik operasi di lakukan 7 minggu ke depan, di usia kehamilan 37 minggu." sahut dokter.
"Baik, Dok."
"Jaga pola makan dan ingat, jangan stress." ucap dokter seraya menuliskan resep untuk Ameera.
Mereka pun beranjak pulang setelah menebus beberapa resep obat untuk Ameera. Sepanjang perjalanan pulang Ameera banyak diam. Memikirkan ruang operasi membuatnya merasa cukup stres. Ia bahkan tidak mendengar Ozan yang sudah beberapa kali memanggilnya.
"Dikit."
"Habis dari tadi diam, aku panggil nggak dengar. Kamu mikirin apa?" tanya Ozan seraya menyetir.
"Nggak mikirin apa-apa."
"Yank... besok mama berangkat ke sini. Kamu tahu kan?"
"Iya, Mas... mama tadi telepon aku." sahut Ameera.
"Kamu lagi mikirin jadwal operasimu ya?"
Ameera menjawab dengan anggukan.
"Jangan terlalu di pikirkan. Kata dokter kamu nggak boleh stress. Tanya aja mama nanti, mama juga pernah operasi caesar kok." ucapnya seraya membelai rambut Ameera.
Tidak lama, mereka telah sampai di rumah setelah sebelumnya mampir ke kedai es krim.
***
Di kota Istanbul, Turki...
__ADS_1
Setelah mendapat kabar mengenai segala yang terjadi pada Ozan, Ameera dan Rangga, Zarima tidak pernah tenang. Setiap hari pikirannya hanya ingin kembali ke Indonesia. Bahkan ia beberapa kali harus berdebat dengan sang suami yang tidak mengizinkannya berangkat ke Indonesia sendirian. Seperti halnya malam ini. Mereka sedang berdebat di tengah-tengah makan malam.
"Aku tidak mau tahu, Mas. Aku akan berangkat ke Indonesia secepatnya. Aku mau menemani anak-anak. Kasihan mereka hanya tinggal berdua." ucap Zarima berapi-api.
"Zar.. aku masih banyak perkerjaan, dua minggu lagi saja berangkatnya. Lagi pula Ozan dan Ameera tidak tinggal sendiri." sahut Hasan.
Pria paruh baya tersebut bahkan sudah tidak punya kata-kata untuk menghadapi istrinya yang baginya sangat keras kepala itu.
"Mas, Ameera sedang hamil tua. Mereka itu belum punya pengalaman tentang ibu hamil. Aku tidak mau Ameera makan sembarangan, di rawat sembarangan, apalagi tanggal kelahiran cucu kita semakin dekat." Zarima tetap kekeh mau kembali ke Indonesia secepatnya.
Hasan mengernyit, seperti sedang berpikir. Mengambil segelas air putih untuk menyegarkan pikirannya yang kalut, karena sang istri tidak kunjung berhenti bicara.
"Bukannya usia kandungan Ameera baru 7 bulan lebih, ya... Masih ada waktu, kan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu." ucap Hasan.
"Kalau begitu aku saja yang duluan berangkat. Mas bisa berangkat nanti kalau urusan kantor sudah selesai. Tolong, Mas... aku mohon. Ameera kan hamil bayi kembar. Itu harus ekstra di jaga."
"Zar, tenanglah. Bukankah Ozan bilang Bu Yani ada bersama mereka?" tanya Hasan.
Ozan memang meminta Bu Yani menggantikan Pak Diman yang telah pensiun beberapa minggu lalu. Sehingga sekarang Bu Yani tinggal di sana bersama Ozan dan Ameera.
Namun, bukan Zarima Duvenci namanya jika ia menyerah. Dia tetap kekeh mau berangkat ke Indonesia duluan, sehingga mau tidak mau Hasan mengalah.
"Baiklah, Zar. Kau duluan berangkat." ucap Hasan kemudian. Ia sudah tidak sanggup berdebat dengan wanita Turki tersebut.
Tiba-tiba wajah Zarima menjadi murung saat teringat sesuatu. Bahkan matanya berkaca-kaca sekarang. Hasan yang melihatnya segera menyodorkan tissue.
"Ada apa lagi, Zar...?" tanya Hasan.
Zarima mendongak, mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah. Namun, cairan bening itu tetap meluncur dengan bebasnya.
"Aku sedang memikirkan Ameera, Mas..." Zarima menyeka air matanya dengan tissue. "Anak malang itu... dia harus kehilangan segalanya di usianya yang masih remaja. Bahkan, kita memaksanya menikah dengan Ozan. Dan sekarang, dia harus menjadi ibu di usia 19 tahun. Usia yang seharusnya dia nikmati seperti anak seusianya."
"Ya... aku tahu. Ini tidak mudah untuk Ameera. Tapi itulah satu-satunya cara untuk melindunginya." ucap Hasan.
"Aku hanya tidak bisa membayangkan jika dia tahu kebenaran tentang dirinya. Rahasia besar yang selama ini kita tutup rapat. Apa dia bisa menerima semuanya?"
"Jangan sampai dia tahu, Zar. Kita sudah berjanji pada mendiang Rudi dan Ratna. Ameera tidak akan tahu rahasia itu sampai takdir sendiri yang membukanya. Kita hanya perlu memastikan Ameera bahagia bersama Ozan."
"Seandainya Deniz masih ada, dia yang akan menjaga Ameera." ucap Zarima seraya terisak.
Tiba-tiba Zarima teringat pada satu nama yang tidak pernah lagi mereka sebutkan sejak lama. Nama yang selama ini mereka kenang di hati masing-masing.
"Zar.. sudahlah... kita sudah sepakat untuk tidak pernah mengungkit tentang Deniz lagi. Dia sudah tenang di sana." Hasan menepuk bahu Zarima pelan, "Lagi pula Ozan menjaga Ameera dengan baik."
Zarima mencoba menguasai perasaannya, lalu menghapus sisa air matanya.
"Aku akan berbelanja besok pagi. Aku harus membeli banyak hadiah untuk Ameera." ucap Zarima kemudian.
__ADS_1
***