
Ozan sudah uring-uringan mencari Ameera. Sudah puluhan kali laki-laki itu mencoba menghubungi nomor istrinya, namun tidak di jawab juga, sampai akhirnya tidak dapat di hubungi lagi.
Ozan pun menjadi panik. Pikiran-pikiran aneh tentang Ameera mulai bermunculan di benaknya. Ia mondar-mandir di ruang tamu, sambil menatap layar ponselnya.
Ameera kemana? Dina bilang dia sudah pulang sejak tadi. Tapi kenapa belum sampai rumah? bati. Ozan.
Ia pun pergi ke kamar mengambil jaket dan kunci mobil. Dia memutuskan untuk pergi mencari Ameera. Ozan mengambil ponsel dan menghubungi Ramon.
"Halo, Ram. Suruh hacker lu lacak keberadaan Ameera. Dia belum pulang sampai sekarang. Nomornya tidak aktif ." perintah Ozan yang sudah berada di dalam mobil. Ia melajukan mobilnya hendak mencari Ameera.
"Kamu kemana Ameera, kenapa nomormu tidak aktif." Gumam Ozan yang semakin panik.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul 8 malam .
Ya Allah. Sudah jam segini. Kamu kemana dia. Di luar malam-malam sendiri itu berbahaya.
Tiba-tiba Ozan teringat rumah ayahnya. Mungkin Ameera kesana. Ozan segera memutar arah mobilnya menuju rumah lama Ameera. Tidak butuh waktu lama bagi Ozan untuk sampai di rumah Ameera. Ia mengemudikan mobil bagai orang kesetanan.
Ia sudah sampai di halaman rumah Ameera. Suasana rumah masih sama persis seperti dulu saat Ameera dan ayahnya masih berada di rumah itu.
Rumah itu sekarang hanya di huni oleh Bu Yani dan anaknya yang masih sekolah.
"Bu, apa Ameera ada di sini?" tanya Ozan sesaat setelah wanita paruh baya itu membuka pintu.
"Ameera belum kesini sejak pulang dari Turki. jawab Bu Yani.
Seketika wajah Ozan terlihat panik. Entah kemana lagi harus mencari Ameera.
"Apa ada teman Ameera yang sering dia temui?"tanyanya lagi.
"Teman Ameera itu cuma Rangga, setahu Ibu, dia tidak punya teman lain lagi," jawab Bu Yani.
"Jadi Ameera kemana?" gumam Ozan.
"Apa ada masalah dengan Ameera? Tidak biasanya dia pergi tanpa kabar." Bu Yani sudah ikut panik.
"Aku juga tidak tahu, Bu... Tadi baik-baik saja sebelum berangkat ke kampus."
__ADS_1
"Lalu dia kemana?"
Ozan pun sudah mulai frustasi, "Bu, kalau Ameera kesini tolong kabari aku, ya! Aku mau cari Ameera dulu!"
"Iya. Hati-hati," ucap Bu Yani. " Kalau ada apa-apa dengan Ameera, kabari ibu, ya..."
"Iya, Bu..." Ozan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu. Sambil sesekali mencoba menghubungi nomor Ameera. Namun masih tidak aktif. Ozan sudah sangat panik.
Matanya melirik kesana-kemari menyusuri setiap jalan yang di lewatinya. Ia sudah memerintahkan Ramon dan orang suruhannya mencari Ameera. Tidak peduli kemanapun mereka akan mencarinya. Yang ia inginkan hanya menemukan Ameera secepatnya dalam keadaan utuh.
Hujan turun di sertai petir. Kepanikan Ozan sudah tidak terbendung. Rasanya ia hampir gila mencari keberadaan Ameera.
"Kamu di mana, Ameera. Bagaimana kalau kamu kehujanan di luar sana. " gumamnya penuh kepanikan.
Rasanya jantungnya sudah mau berhenti berdetak sekarang. Ponselpun berdering. Tampak nama Ramon di layar ponsel milik Ozan.
"Halo, Ram! Gimana?"
"Lu dimana?" tanya Ramon tanoa menjawab pertanyaan Ozan.
"Menurut orang yang gue, lokasi terakhir Ameera ada di taman kota. Lu coba cari kesana. Sapa tau beneran ada."
Ozan melemparkan ponselnya ke kursi penumpang di sebelahnya. Ia melajukan mobil dengan kencang di tengah derasnya hujan. Tak lama, ia sudah berada di taman kota.
Ozan turun dari mobil tanpa mempedulikan hujan yang deras. Ia mengelilingi taman yang luas mencari Ameera.
"Ameeraaaaaa....!" Suara teriakannya menyebut nama Ameera terdengar di tengah derasnya hujan. Ia sudah beberapa kali meneriakkan nama Ameera, namun tidak juga muncul tanda keberadaan Ameera.
Ia kembali mencari Ameera di setiap sudut taman kota yang pencahayaannya terbatas karena hanya ada beberapa lampu taman yang menyala.
Cukup lama Ozan berkeliling sampai matanya menangkap sosok wanita sedang kehujanan duduk di kursi taman. Ia yakin itu Ameera dengan melihat pakaian yang di gunakannya adalah pakaian yang tadi ameera gunakan saat berangkat kuliah.
Tampak Ameera sudah gemetaran menahan dingin yang menggerogoti tubuhnya. Ozan pun segera mendekat dan meraih tubuhnya yang menggigil.
"Sayang... Sedang apa kamu malam-malam di sini,"
Karena kedinginan Ameera tidak sanggup lagi menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Kita pulang, ya... badan kamu dingin."
Ozan langsung menggendong Ameera menuju mobil yang terparkir di depan taman. Ia mendudukkan Ameera di kursi penumpang depan.
Tubuh Ameera sudah gemetaran. Ozan membuka baju Ameera dan memakaikan jaketnya yang di ambil dari kursi belakang. Dengan segera Ozan melajukan mobil menuju ke rumahnya.
Ozan pun mengambil ponselnya dan menghubungi orang di rumah agar menyiapkan air hangat untuk Ameera mandi.
****
Ozan sedang memeluk Ameera yang tertidur di bawah selimut tebal. Sesekali ia mengujani wajah Ameera dengan kecupan-kecupan. Rasa khawatir yang tadi menguasai hatinya belum sepenuhnya hilang.
Untuk kedua kalinya ia merasakan ketakutan yang sama, seperti saat Ameera hilang di hutan pinus.
Mengingat semua kejadian itu, ingin rasanya ia mengurung Ameera di rumah agar tidak kemana-mana.
"Jangan membuatku khawatir seperti tadi lagi. Aku hampir gila karena mencarimu. " berbisik di telinga Ameera yang sedang tidur.
Dini hari....
Ameera membuka matanya. Seperti biasa, saat terbangun dari tidurnya, ia akan mendapati Ozan memeluknya. Ameera memandangi wajah Ozan yang masih terlelap. Ia membelai wajah suaminya itu hingga Ozan terbangun karena merasakan tangan Ameera yang menjelajahi wajahnya.
"Sayang, kamu kenapa? Tidak bisa tidur, ya?" tanya Ozan.
Ameera hanya menjawab dengan menggeleng. Ozan pun segera memeluknya.
"Jangan buat aku khawatir seperti tadi lagi, ya. Aku benar-benar hampir gila mencarimu," bisik Ozan di telinga Ameera. Beberpa saat kemudian, Ozan melepaskan pelukannya.
Ameera masih memandangi wajah Ozan. Namun kali ini tatapannya berbeda. Kelopak mata Ameera mulai di penuhi cairan bening, namun ia menahannya agar tidak tumpah.
"Sayang, apa kamu ada masalah? Kenapa kamu menangis?" Ozan membelai wajah Ameera dengan lembut lalu mengecupi keningnya, "Ada apa? Katakan padaku..."
Ameera hanya diam membisu, tidak menjawab pertanyaan Ozan. Satu hal yang Ameera sadari adalah, ia telah gagal membentengi hatinya.
Ameera merasa terkhianati oleh hatinya sendiri. Bagaimana ia berusaha membangun benteng di hatinya agar jangan sampai nama Ozan terukir di dalamnya. Namun tanpa dia sadari Ozan telah masuk dan menguasai hatinya. Dan kenyataan pahitnya, Ozan tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Kenapa ini harus terjadi padaku. Ozanku... Apa dia akan meninggalkanku sekarang? Naura sudah kembali padanya. Aku benar-benar menyedihkan.
__ADS_1