Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Pengorbanan Rangga


__ADS_3

Rangga berlari kencang menuju gerbang kampus, tidak mempedulikan Dina di belakangnya yang sudah kelelahan mengikuti langkah kaki Rangga. Dan ketika hampir tiba, dari kejauhan dia melihat Ozan dan Ameera di depan gerbang kampus. Ozan memeluk dan mengecup kening Ameera, membuat Rangga cemburu setengah mati. Padahal ia telah merelakan Ameera, namun ada saja rasa cemburu di hatinya.


Rangga kemudian tersenyum tipis saat melihat penampilan Ameera yang kini terlihat lebih berisi dengan perutnya yang membuncit.


"Kalau selesai hubungi aku, yank. Nanti aku yang jemput." ucap Ozan.


"Iya, Mas. Aku masuk dulu, ya..." Ameera tersenyum seraya melambaikan tangannya lalu berjalan menuju gerbang. Ozan pun menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari gerbang.


Tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang ke arah Ameera. Baik Ozan maupun Ameera tidak menyadari adanya bahaya di sekitar mereka. Dengan santainya, Ameera berjalan ke arah gerbang kampus.


Rangga yang melihat mobil milik Naura yang melaju dengan kecepatan tinggi itupun segera berlari mendekati Ameera.


"AMEERAAA AWASSS!!!" Rangga berteriak seraya mendorong tubuh Ameera sehingga terhuyung ke trotoar. Ozan yang sudah memegang gagang pintu mobilnya, terkejut mendengar suara teriakan laki-laki menyebut nama istrinya. Dia pun segera menoleh mencari sumber suara.


Di lihatnya Rangga terpental jauh saat mobil milik Naura menghantam tubuhnya. Dina yang berdiri di seberang jalan mematung menyaksikan kejadian di depan matanya. Hanya air mata yang berguguran, kakinya bahkan terasa lemas. Ia jatuh terduduk di sisi jalan.


Sementara Ameera yang masih dalam posisi tersungkur di pinggiran trotoar, memegangi sikutnya yang lecet akibat terjatuh karena di dorong Rangga. Saking terkejutnya, ia sempat tidak menyadari keadaan di sekitarnya, sampai matanya menangkap sosok Rangga yang sudah terbaring di aspal dengan bersimbah darah. Ameera mematung, tubuhnya bergetar, tak terasa air matanya pun tumpah begitu saja.


"RANGGAAA!!" Ameera berteriak histeris.


Tanpa mempedulikan sakit di tubuhnya akibat terjatuh Ameera berlari menghampiri Rangga.


Ozan pun ikut berlari menghampiri Rangga yang tergeletak tak berdaya. Sementara Naura yang masih terdiam di mobilnya, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ia barusan menabrak adiknya sendiri.


"Rangga... aku... barusan menabrak Rangga... " ucapnya terbata-bata. Ia hampir menangis di sana. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itupun menghampiri mobil Naura. Ada pula yang memukul-mukul kaca mobil meminta Naura turun dari mobil. Sadar situasi berbahaya untuknya, ia pun segera melajukan mobilnya meninggalkan lokasi kejadian.


"Rangga..." Ameera terisak, dengan suara bergetar memanggil nama Rangga, ia meletakkan kepala Rangga di pangkuannya dan memeluknya dengan erat. Tangisnya pilu melihat Rangga terbaring dengan banyaknya darah yang mengalir.


"Aa.. Mee.. Raa..." dengan susah payah Rangga menggumamkan nama Ameera. Rangga yang masih setengah sadar berusaha tersenyum menatap Ameera. Merasa lega karena orang yang di cintainya itu tidak apa-apa.

__ADS_1


Ozan berjongkok di sisi tubuh Rangga. Menggenggam tangan kiri Rangga. Bahkan Ozan pun menangis melihat keadaan Rangga.


Dina menyeret langkahnya mendekati Rangga. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Rangga. Lidahnya terasa keluh, namun air matanya terus mengalir.


"Ameera.. Ka.. mu.. tidak.. apa.. apa.. kan?" ucap Rangga terputus-putus, dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia berusaha meraih wajah Ameera dengan tangannya yang berlumuran darah.


Ameera segera meraih tangan Rangga dan meletakkannya di pipinya, sehingga darah dari tangan Rangga ikut menempel di pipi Ameera. Air mata tak berhenti mengalir di pipi Ameera.


"Ja.. ngan me.. nangis, aku.. sedang.. tidak bisa meng.. hapusnya..." Mendengar kalimat Rangga yang lemah semakin membuat tangis Ameera pecah.


"Tidak Rangga... Kamu yang harus menghapus air mataku. Kamu yang membuat aku menangis."


"Amee.. ra... boleh.. kah aku menga.. takan.. sesuatu...? aku.. merasa, ti.. dak kuat lagi... aku.. ingin.. me.. nga..takan ini se..jak.. dulu... "


Ameera mengangguk dengan cepat, deraian air matanya semakin deras. Ia mencium kening Rangga dan air matanya jatuh membasahi kening Rangga.


"RANGGAAA!" teriak Ameera, "kamu harus bertahan Rangga, jangan tinggalkan aku. Kamu janji sama aku kan, akan selamanya menjagaku dan menjadi temanku. Aku akan membencimu kalau kamu juga meninggalkanku seperti ayah pergi. Bangun Rangga... jangan lakukan ini padaku... " teriakan Ameera begitu terdengar memilukan, ia terus memanggil nama Rangga seraya menepuk lembut wajahnya.


"Mas, tolong Rangga... bawa Rangga ke rumah sakit." pinta Ameera pada Ozan.


Ozan pun tersadar dari lamunannya, ia segera berlari menuju mobilnya.


Orang-orang yang tadi berkerumun pun membantu Ozan menaikkan Rangga ke atas mobil.


"Dina, izinkan aku duduk di belakang menemani Rangga." pinta Ameera pada Dina. Gadis itupun menjawab dengan anggukan. Ia duduk bersama Ozan di jok depan. Sementara Ameera memangku kepala Rangga di belakang. Sepanjang jalan Ameera terus menangis memanggil Rangga.


Ozan yang melihat Ameera begitu terpukul, ikut merasakan sakitnya. Ia belum pernah melihat Ameera sesedih ini sebelumnya. Bahkan ketika ayahnya meninggal, ia masih dapat menahan air matanya.


"Mas, bisakah lebih cepat? Rangga sudah kehilangan banyak darah. " teriak Ameera. Padahal Ozan sudah sangat kencang melajukan mobil.

__ADS_1


"Rangga... bangun, bertahanlah Rangga... " isakan lirih Ameera terdengar begitu pilu. Ameera membelai lembut rambut Rangga, dengan deraian air matanya.


Aku tidak akan sanggup kalau kamu harus meninggalkanku, Rangga. Aku bisa bertahan hidup tanpa ayah karena kamu masih ada. Walaupun kita berjauhan, setidaknya aku masih bisa melihatmu. Aku akan merasa bersalah pada Dina kalau kamu kenapa-kenapa. Bertahanlah Rangga.


Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit. Petugas kesehatan yang berada di depan pintu masuk dengan sigap mengambil brankar dan membawa Rangga ke ruang IGD.


Ozan memeluk Ameera yang sejak tadi tidak berhenti menangis.


"Ini salahku, Mas... harusnya aku yang tertabrak, bukan Rangga." ucap Ameera penuh sesal.


"Bukan sayang. Ini bukan salahmu." Ozan terus berusaha menenangkan Ameera.


Sementara Dina duduk lemas di kursi ruang tunggu. Matanya hanya tertuju pada pintu ruangan tempat Rangga mendapat penanganan dokter.


Beberapa dokter terlihat panik, bergantian memasuki ruangan itu. Tidak lama kemudian, Aliyah datang bersama Ramon. Dina sempat meminta tolong Ramon untuk menjemput ibu Rangga di rumahnya. Ia tahu, Aliyah tidak akan kuat melihat putra semata wayangnya terluka. Dina pun memeluk Aliyah yang begitu terpukul mendengar kabar tentang anaknya itu.


Sementara itu di dalam ruangan, beberapa dokter yang menangani Rangga terlihat panik.


"Dok, tekanan darahnya menurun, detak jantung pasien melemah." ucap seorang perawat.


Tidak lama kemudian...


Tiiiiiiiiiitttt


Alat pendeteksi detak jantung berbunyi lama, menandakan detak jantung Rangga berhenti.


****


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2