
Pagi hari Ameera membuka matanya perlahan. Tubuhnya menggeliat pelan. Seperti biasa akan ada tangan kekar melingkar di atas perutnya. Dia mencoba menyingkirkan tangan itu, membuat sang pemilik terbangun.
"Pagi sayang." ucap Ozan seraya mengecup kening istrinya. Ameera gelagapan mendorong tubuh Ozan.
"Jangan cari-cari kesempatan, ya! Memang kita sudah baikan? Aku kan belum bilang sudah memaafkanmu." kata Ameera dengan ketus. Ia lalu bangkit menuju kamar mandi. Ozan hanya mampu mengerutkan alisnya menghadapi tingkah istrinya.
Dasar barbar. Ucapan dan kelakuannya selalu tidak singkron. Jelas-jelas tadi malam dia yang mepet manja minta di peluk. Sekarang marah-marah tidak jelas. Apa jangan-jangan semalam dia mengigau?
Ozan beranjak dari tempat tidur hendak turun ke lantai bawah.
"Bima, apa mobil yang aku pesan sudah datang?" tanya Ozan pada salah satu sopir yang sedang sarapan di dapur. Semalam setelah membaca surat perjanjian yang dibuat oleh Ameera, Ozan langsung menelepon salah seorang temannya yang memiliki dealer mobil dan memesan sebuah mobil untuk Ameera.
"Ia, Tuan Muda! Mobilnya sudah datang pagi-pagi sekali. Sekarang ada di parkiran." jawabnya.
"Baiklah. Teruskan sarapanmu. Aku mau lihat mobilnya dulu." Ozan segera menuju parkiran memeriksa mobil yang dipesannya untuk Ameera.
"Lumayan sih..." ucapnya saat melihat mobil mewah di parkiran. Ia pun mencoba mengemudikan mobil mengelilingi halaman rumahnya yang luas.
Tak lama kemudian Ramon datang menghampiri Ozan yang baru saja selesai melakukan test drive.
"Mobil baru nih?" tanya Ramon.
"Iya, gue pesan buat Si Bini. " jawabnya singkat.
"Padahal parkiran lu udah mau penuh, ngapain lu pesan mobil lagi. Tinggal lu kasih salah satunya. Pada nganggur juga kan." celetuk Ramon.
"Yang lain buang aja. Nggak ada yang pakai juga." Sahutnya sambil terus memeriksa bagian dalam mobil.
"Lagak lu tuh, udah kayak sultan dari planet mana gitu."
"Bodo amat. Kalau ini kan sesuai dengan karakter cewek. Udah anti peluru juga, jadi cocoklah buat Si Bini." lanjutnya. Ia kemudian beranjak memasuki rumah di ikuti Ramon di belakangnya. "Lu sarapan dulu deh, gue mau mandi." ucap Ozan kemudian.
"Hmmmm. "
Saat Ozan masuk ke kamar, Ameera sudah selesai mandi. Ia sedang asyik memilih pakaian dalam lemarinya. Ozan pun segera membuka seluruh pakaiannya dan mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Ozan keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk dipinggang. Alangkah terkejutnya melihat pemandangan didepannya. Ia berjalan menghampiri Ameera yang sedang berdiri didepan meja rias. Ozan membulatkan matanya, mulutnya menganga seolah tidak percaya.
"Yank... kamu kenapa?" Ozan bertanya tanpa berkedip. Matanya menjelajahi tubuh Ameera setiap incinya.
"Memang aku kenapa?" tanya balik.
__ADS_1
"Kamu mungut baju beginian darimana? Kok sobek-sobek gini celana sama bajunya?" tanyanya sambil memutar tubuh Ameera, memperhatikan dengan seksama penampilan istrinya yang menurutnya seperti preman pasar. Celana jeans biru dengan beberapa sobekan dilutut dan baju kaos oblong yang melekat di tubuhnya.
"Sembarangan kalau ngomong. Ini pakaian lamaku. Kan kemarin aku pulang kerumah ambil satu koper."
"Haah... jadi koper yang kamu bawa itu isinya beginian?" tanyanya seolah tak percaya.
"Iya... keren kan? Ini trend anak muda tahu. Aku kan masih muda. Kamu mana ngerti fashion anak muda, kamu kan udah tua!" sambil tersenyum terus memperhatikan penampilannya dari pantulan cermin.
"Ya nggak tua-tua amat kan yank. Aku cuma selisih tua tujuh tahun doank dari kamu. Itu normal loh..." sangkal Ozan.
"Itu namanya udah tua."
Perdebatan mereka mulai melebar kemana-mana. Mulai dari pakaian sampai usia.
"Ganti nggak bajunya?" ucap Ozan kemudian.
"Ogah. Kamu kan sudah tanda tangan surat perjanjian tadi malam. Poin ke empat, jangan melarang apapun. Jadi suka-suka aku dong! Hehe. " ucapnya di selingi kekehan.
"Tapi yank... kamu mau kemana pake baju kayak gini. Nanti kamu dikira preman pasar sama orang-orang. "
"Bodo amat." jawabnya cuek. Kemudian Ameera beranjak ke sofa, hendak memakai sepatunya.
Setelah selesai, Ozan dan Ameera turun ke bawah untuk sarapan.
"Eh, ada kak Ramon... selamat pagi!" sapa Ameera dengan penuh semangat.
"Pagi..." sahutnya. Ramon yang sedang asyik sarapan dibuat kaget saat melihat Ameera. Ia memperhatikan Ameera dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ramon memberi kode pada Ozan dengan menggerakkan kepalanya seperti bertanya ada apa dengan Ameera. Namun Ozan hanya menjawab dengan mengangkat bahunya. Ameera segera duduk dan mulai sarapan. Selama sarapan berlangsung, Ozan dan Ramon terus mengarahkan pandangannya pada Ameera, sesekali saling memberi kode. Namun, Ameera sangat cuek walapun sejak tadi Ozan dan Ramon tidak mengalihkan pandangan darinya. Bahkan beberapa pelayan ikut heran dengan penampilan Ameera.
"Yank... ini kunci mobil barumu." Ozan mengulurkan tangannya memberi kunci mobil. Mereka sudah ada di halaman depan.
"Mobil baru?"
"Iya, aku beliin kamu mobil. Biar kamu kemana-mana enak. Tuh mobilnya. " tunjuknya pada sebuah mobil mewah berwarna merah.
"Memang mobil dirumah ini kurang?"
"Ya, itu kan mobil yang aku pesan khusus buat kamu, bukannya terima kasih."
"Nggak ah. Aku mau ke kampus naik motor itu aja. " tunjuknya pada sebuah sepeda motor matic. Pagi-pagi sekali ia meminta Bima menyiapkan sepeda motor yang terparkir di garasi.
"Yank... aneh boleh lah. Tapi jangan kelebihan juga. Kamu kan lagi hamil, masa naik motor sih. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" Ozan sudah frustasi menghadapi Ameera yang bertingkah semakin aneh.
__ADS_1
"Kamu bilang aku aneh mas?" Ameera mulai tersulut emosi.
"Bu.. bukan yank... aduh gimana sih ngomongnya." Ozan menggaruk kepala.
Ampun deh. Ini anak gue yang banyak maunya apa emaknya yang aneh sih.
"Ya udah ya... pilihannya kamu naik mobil apa aku yang antar?" Ozan mengeraskan suaranya. Sudah mulai kehilangan kesabarannya. Ameera hanya terdiam dan matanya sudah berkaca-kaca. Melihat istrinya hampir menangis membuat Ozan kebingungan.
Aduh salah lagi kan?
Ozan mendekati Ameera dan memeluknya. "Sayang... aku nggak mau kamu sama anak kita kenapa-kenapa. Kamu boleh minta apapun yang kamu mau. Tapi jangan naik motor, ya... " ucapnya lembut. Namun, Ameera dia saja membuat Ozan semakin bingung.
"Lepasin. Jangan peluk-peluk! Aku kan cuma hamil. Bukan sakit parah." Ameera mendorong tubuh Ozan sampai mundur beberapa langkah.
"Ya udah yank. Kamu boleh naik motor. Tapi hati-hati." dan akhirnya Ozan menyerah juga. Sudah tidak tahu bagaimana menghadapi istrinya.
"Benar?" tanyanya. Ozan menjawab dengam anggukan kepala.
Ameera tersenyum penuh kemenangan. Ia menyalami Ozan dengan mencium punggung tangannya lalu segera mengambil posisi duduk di motor, sebelum menyalakan mesin, ia berbalik menatap Ozan.
" Hasta La Vista, baby! " ucap Ameera seraya mengedipkan mata.
Ameera pun segera melajukan sepeda motornya meninggalkan halaman rumah.
"Dasar Ababil... Assalamu alaikum yng bener!" teriaknya saat Ameera mulai menjauh.
Ozan kemudian segera menaiki mobil yang sejak tadi menunggunya.
"Ram, ikutin Ameera! Tapi jaga jarak. Jangan sampai Ameera sadar kita ikutin. " pintanya pada Ramon yang duduk di jok kemudi.
"Kenapa Ameera nggak di kawal aja?"
"Panjang ceritanya, Ram. Cepet jalan! " Ramon pun melajukan mobil mengikuti Ameera dari jarak yang aman agar tidak ketahuan.
"Gini banget ya ngadepin wanita hamil. Kelakuannya makin aneh. Bentar senang, bentar manja, dikit-dikit ngambek, salah-salah nangis, giliran disayang-sayang tiba-tiba berubah galak." gerutu Ozan sambil memperhatikan Ameera di depan sana.
"Nggak usah banyak protes lu. Kan lu sendiri yang bikin istri lu hamil. Jadi terima resikonya."
Selama perjalanan mengikuti Ameera, Ozan menceritakan pada Ramon semua tingkah aneh Ameera yang membuat surat perjanjian yang isinya tidak masuk akal. Ramon tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Ozan. Tidak habis pikir, seorang Ozan Chandra Jaya bisa takluk sepenuhnya pada Ameera. Padahal awalnya, pria itu mati-matian menolak saat mereka dijodohkan. Terkadang cinta memang mampu memperbudak seseorang. Walaupun Ozan sendiri belum mau mengakui bahwa hatinya sudah tunduk pada sosok Ameera. Namun, perlakuannya pada istri kecilnya itu mewakilkan semua perasaan cintanya.
Setelah Ameera tiba di kampus, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kantor.
__ADS_1