
"Kamu yakin mas? Bukannya kamu punya pacar?"
"Itu mantan Ameera, aku putus dengannya sebelum menikah denganmu."
"Tapi waktu itu dia bilang...." melihat raut wajah Ozan, Ameera tidak melanjutkan kata-katanya.
"Percaya padaku Ameera. Sejujurnya aku memang belum melupakannya sepenuhnya. Aku bisa apa? Begitulah keadaan sebenarnya. Aku minta maaf."
Ozan bangun dari duduknya, dan meraih tangan Ameera agar ikut berdiri. Sekarang mereka berdiri dengan jarak yang sangat dekat. Mata mereka saling bertemu. Ozan membelai puncak kepala Ameera. Lalu meletakkan tangannya di pinggang Ameera.
"Kamu maukan memulai segalanya dari awal denganku? Aku berjanji akan berusaha menjadi suami yang baik dan membuatmu bahagia." Ameera terharu dan meneteskan Air mata. Ozan pun mengecup matanya kanan dan kiri bergantian, "Jadilah istriku satu-satunya dan selamanya." pinta Ozan kepada Ameera.
Ameera mengangguk pelan, membuat Ozan tidak tahan untuk membawanya kedalam pelukannya.
Ameerapun menyadari ia harus belajar membuka hatinya untuk suaminya. Seperti Ozan yang ingin berusaha mencintainya. Maka dirinya harus melakukan hal yang sama.
Suasana yang romantis, dengan nyala lilin kecil seolah menjadi saksi janji yang di ucapkan Ozan untuk Ameera.
Ozan meminta Ameera kembali duduk di kursi, lalu mengambil kotak yang ia letakkan di atas meja. Ia membuka dan memberikannya kepada Ameera. Tampak kalung berlian yang sangat indah.
Ameera yang tidk mengerti apapun tentang perhiasan itu hanya menatap kalung itu tanpa ekspresi.
Polos sekali, kalau wanita lain pasti akan kegirangan di beri hadiah kalung berlian. Tapi dia malah kebingungan. batin Ozan.
Ozan memakaikan kalung tersebut ke leher Ameera. Lalu kembali mengecup keningnya.
"Apa ini harganya mahal?" tanya Ameera.
Ozan mengulum senyumnya mendengar pertanyaan Ameera yang begitu polos.
Bagaimana dia bisa sepolos ini bertanya tentang harga barang yang di hadiahkan untuknya? Tentu saja itu mahal, namanya juga berlian. Batin Ozan
"Itu tidak mahal sayang, memangnya kenapa? "
__ADS_1
"Aku takut menghilangkannya. Apa di simpan saja?" Ozan rasanya ingin tertawa mendengar kepolosan Ameera.
"Kenapa? Pakai saja. Kalau hilang nanti aku belikan lagi."
Ayah, lihatlah betapa polosnya anak ayah ini. Batin Ozan
***
Ozan dan Ameera berjalan ke sebuah danau buatan yang ada di belakang villa. Kembali di suguhkan suasana romantis. Di taman pinggiran danau ada lampu lampu kecil yang bergelantungan di pohon yang berkelap kelip.
"Aku masih ada kejutan buat kamu." Bisiknya di telinga Ameera.
"Ah, masih ada?" Ameera kegirangan mendengar masih ada kejutan untuknya.
"Masih. Yang tadi belum cukup untuk mengawali segalanya" kata Ozan.
Karena udara yang cukup dingin, Ozan melepas jaketnya dan memakaikannya pada Ameera.
Ozan menggandeng tangan Ameera dan menuntunnya menaiki sebuah perahu kecil. Ozan mengayuh perahu ke tengah danau.
Mendengar kata-kata Ameera, Ozan tidak tahan untuk tertawa terbahak-bahak. Sejak tadi ia ingin tertawa tapi di tahan karena takut Ameera tersinggung.
"Apa aku sebodoh itu? Kalau aku menenggelamkanmu, aku akan jadi duda perjaka. Siapa juga yang mau mengalami hal mengerikan itu?" Ozan embali tertawa, sementara Ameera menunduk menahan malunya.
"Coba lihat ke atas." pinta Ozan.
Ameera mengarahkan pandangannya keatas dan ia kembali tidak percaya dengan yang di lihatnya. Di atas sana sudah ada puluhan lampu lampion yang beterbangan.
"Wah, indah sekali." sejak tadi Ameera tidak menyadari. Ramon dan beberapa orang di dermaga sedang menerbangkan lampion kecil. Langit yang gelap menjadi sangat indah di hiasi cahaya lampion dan bintang yang berkelap kelip di angkasa.
Beberapa saat kemudian kembang api ikut mengiasi langit gelap di malam itu. Lengkap sudah kejutan untuk Ameera.
Ia sangat bahagia hari ini.
__ADS_1
Ameera memandang takjub pada indahnya pemandangan di atas sana. Sedangkan Ozan memandangi wajah cantik Ameera tanpa berkedip. Membuatnya tidak tahan untuk mengecup bibir manis Ameera.
Beberapa saat kemudian, Ozan sudah mendaratkan bibirnya ke bibir Ameera.
Ameera kaget dan membelalakkan matanya tetapi tidak menolak ciuman suaminya. Ia terbawa suasana yang romantis. Ozan dapat merasakan betapa gugup dan kakunya Ameera. Sepertinya ia akan sering-sering mengajarkan istrinya cara berciuman yang benar.
Ramon yang berada di dermaga terpaku dengan pemandangan di depannya.
Rasanya jiwa jombloku meronta-ronta melihat pemandangan di depanku. Batin Ramon.
Sejurus kemudian ia melihat beberapa orang yang bersamanya ikut melihat adegan ciuman Ozan dan Ameera.
"Eh, kalian jangan lihat kesana. Kalau ketahuan bos, habis kalian..." Ramon memberi ancaman mematikan pada bawahannya. Segera mereka memalingkan pandangannya dan sibuk menyalakan kembang api.
Malam yang sangat indah bagi Ameera.
***
Ameera dan Ozan sedang dalam perjalanan kembali ke ibu kota. Dengan Ramon yang sedang menyetir. Sepertinya Ameera kelelahan dan tidur di mobil. Ozan sesekali mencuri pandang menatap wajah Ameera yang sedang berbaring dan menjadikan paha Ozan sebagai bantalnya.
Ozan berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan apapun untuk membuat istrinya bahagia. Cukuplah pengorbanan ayah Ameera yang rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan hidup Ozan. Sekarang giliran Ozan membalas dengan berusaha sepenuh hati mencintai dan membahagiakan Ameera.
Mereka sampai di rumah sudah tengah malam. Ramon membukakan pintu mobil. Karena Ameera masih tidur, Ozan menggendongnya dan membawanya masuk ke kamar. Ia membaringkan Ameera di ranjang. Lalu membuka jaketnya yang masih di pakai Ameera. Setelah itu menyelimuti tubuh Ameera. Kemudian keluar menemui Ramon yang masih berada di ruang tamu.
"Hari ini lu ngerjain tugas dengan baik, gue akan kasih lu bonus yang banyak," kata Ozan kepada Ramon yang sedang duduk manis di sofa dengan menikmati secangkir kopi.
"Ga usah nyogok lu. Gue capek ini. Lu harus bayar mahal tenaga gue yang terkuras hari ini buat kencan dadakan lu sama bini lu." Ramon bicara dengan emosi menyala seperti kobaran api.
"Lu tenang aja. Berapapun yang lu minta gue kasih"
Sahut Ozan.
"Udah ah, gue mau pulang. Bosan gue liat muka lu lama-lama. Lanjutin tuh kencan lu di kamar sama bini lu. Awas aja besok lu bangun masih perjaka. Sia-sia pengorbanan gue" ucapan Ramon yang tanpa di sensor walaupun Ozan adalah bosnya membuat Ozan geleng-geleng kepala. Ramon sudah menghilang dari pandangan Ozan.
__ADS_1
"Ayah mungut dimana itu bocah ya, bisa-bisanya di kasih ke gue" gumam Ozan yang merasa heran karena Rudiantolah yang memilih Ramon untuk menjadi asisten pribadi Ozan. Tidak bisa di pungkiri, Ozan memang sangat berterima kasih kepada mendiang mertuanya tersebut karena telah mengirimkan Ramon ke dalam hidupnya. Ramon bukan hanya menjadi asisten pribadinya yang setia, tetapi juga menjadi sahabatnya.
Bersambung