
Keesokan harinya. Rangga datang menjemput Ameera dengan mengendarai mobil miliknya.Selama perjalanan, Ameera lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya, ia akan mengobrol apa saja dengan Rangga. Namun, kali ini berbeda.
Kebiasaan sejak lama, ketika Ameera sedang merasa sedih, Rangga akan mengajaknya jalan-jalan di pantai. Biasanya suasana pantai mampu menghapus kesedihan Ameera.
Mereka berjalan diatas pasir di tepi pantai dengan bertelanjang kaki, Ameera sejak tadi termenung. Tidak ada pembicaraan di antara mereka, hanya ada suara deburan ombak. Rangga lalu berdiri tepat di depan Ameera, membuat langkah Ameera terhenti. Rangga menatap Ameera mencoba menemukan jawaban dari suramnya wajah sahabatnya tersebut.
"Jadi belum mau cerita?" tanya Rangga memecah keheningan.
Ameera menundukkan kepalanya, kelopak matanya telah di penuhi cairan bening yang berusaha di tahannya agak tidak menetes di pipinya.
"Enggak usah di tahan kali, kalau mau nangis mah, nangis aja!" ucap Rangga.
Mendengar kalimat tersebut, pertahanan Ameera pun runtuh seketika. Ia menangis tersedu-sedu. Suara tangisannya terdengar begitu pilu.
Rangga tidak tahan melihat keadaan Ameera, langsung menarik tubuh Ameera ke dalam pelukannya. Mencoba memberikan kekuatan dengan mengusap punggung Ameera, sesekali membelai rambutnya. Rangga bersumpah, tidak akan semudah itu memaafkan siapapun yang telah membuat gadis kesayangannya menangis seperti ini.
"Keluarin aja semuanya sampai gak tersisa lagi." ucapnya.
Tangisan Ameera semakin menjadi-jadi sampai sesegukan. Ia masih menyandarkan kepalanya di dada bidang Rangga, berharap bisa melupakan kesedihannya.
" Kenapa sih? Bilang sama aku, siapa yang berani membuat kamu sesedih ini?" tanya Rangga yang masih memeluk erat Ameera.
"Ayah. " jawabnya dengan masih sesegukan.
"Kamu di marahin ayahmu?"
"Nggak"
"Di pukul? "
"Nggak"
"Di hukum?"
"Nggak"
"Di usir?"
"Nggak"
"Dilarang ketemu aku lagi?"
"Bukan itu. "
Rangga berfikir sejenak. Dan sesaat kemudian ia seperti mengerti dengan masalah yang Ameera alami bahkan tanpa di beri tahu.
__ADS_1
"Aah, kayaknya aku tau deh. Jangan bilang kamu mau di nikahkan! " Ameera menjawab dengan mengangguk pelan. Tanpa di jelaskan oleh Ameera, Rangga sudah mengetahui masalahnya. Ameera bukanlah seorang gadis cengeng yang akan menangis jika itu hanya masalah sepele.
"Sama siapa?"
"Anak bossnya ayah. " jawabnya dengan di iringin isakan. Ameera semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Rangga. Ia semakin sedih jika mengingatnya.
Tanpa Ameera sadari, raut wajah Rangga telah berubah. Seperti sangat terkejut mendengar Ameera menyebut
anak bos ayahnya.
"Anak dari bos ayah kamu?" tanya Rangga keheranan kemudian melepaskan pelukan nya.
"Iya. " jawab Ameera pelan.
Apa di keluarga Chandra Jaya ada anak laki- laki selain Ozan Chandra Jaya? Batin Rangga
"Apa kamu di jodohkan dengan anak laki-laki dari keluarga Chandra Jaya Grup?" tanya Rangga penasaran.
"Kamu tau nama perusahaan tempat ayah bekerja?" tanya Ameera yang heran darimana Rangga tau nama perusahaan tempat ayahnya bekerja.
Rangga mengangguk pelan, "Aku tau dari dulu. Tapi... Siapa nama laki-laki itu, yang di jodohkan sama kamu?" Bertanya walaupun ada segurat kebingungan di wajahnya.
"Ozan. "
Apa? Apa aku salah dengar? Tapi tidak mungkin! Ozan Chandra Jaya tewas dalam kecelakaan mobil 2 tahun lalu. Apa jangan-jangan sebenarnya dia selamat dari kecelakaan itu. Berarti mereka sengaja membuat berita seolah-olah Ozan Chandra Jaya tewas? Batin Rangga curiga
"Nggak tau. Aku cuma dengar mereka memanggilnya dengan nama Ozan. " ucap Ameera.
"Itu gak mungkin Ameera, Ozan Chandra Jaya tewas dalam kecelakaan mobil dua tahun lalu. "
" Maksud kamu apa, Rangga? Tuan Hasan dan nyonya Zarima memanggil namanya Ozan. "
Berarti Ozan tidak meninggal dalam kecelakaan itu. Jadi mereka hanya membuat orang-orang berfikir kalau Ozan tewas.
"Dua tahun lalu Ozan Chandra Jaya di kabarkan tewas dalam sebuah kecelakaan. Mobilnya masuk jurang dan meledak." ungkap Rangga.
Ameera bingung dengan perkataan Rangga yang mengatakan Ozan tewas, padahal Ozan masih hidup dan baik-baik saja.
Rangga mengambil ponsel di saku celananya dan membuka akun instagram pribadi Ozan Chandra Jaya yang telah lama tidak pernah aktif. Ia membuka salah satu foto pria kebulean tersebut dan menunjukkannya pada Ameera.
"Apa ini orangnya?" tanya Rangga sambil memperlihatkan foto lama Ozan.
"Iya, ini orangnya. Apa kamu kenal dia?"
Sejenak wajah Rangga terlihat pucat, terlihat seperti bgingung dan terkejut.
__ADS_1
" Enggak, cuma kebetulan aku lihat berita nya di TV. " Rangga menjawab asal."Jadi beneran kamu di jodohkan dengan Ozan Chandra Jaya?" Rangga kembali ingin memastikan. Dan lagi-lagi Ameera mengangguk.
"Aku gak mau, Rangga. Tapi mereka memaksa. Aku harus bagaimana? Aku bahkan Nggak punya hak untuk bicara. Apa kamu akan membiarkan aku menikah dengan orang itu?" Ameera kembali menangis memeluk Rangga.
Rangga mengecup kening Ameera sekilas, mengusap rambut panjangnya yang tergerai.
Tidak Ameera! Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengannya.
"Apa Ozan setuju?" tanya Rangga.
"Enggak, dia sudah minta supaya orang tuanya membatalkan perjodohan ini. Tapi tuan dan nyonya besar itu tetap mau menjodohkan kami. " jawab Ameera.
"Jadi Ozan menolak?"
"Iya. Dia juga minta aku untuk bujuk ayah, tapi kamu tau kan bagaimana ayah. Nggak ada yang bisa merubah keputusan ayah.
"Emm... Ya udah, kamu tenang dulu. Nanti aku pikirin caranya. " ujar Rangga yang masih berusaha menenangkan Ameera.
"Aku nggak mau menikah dengan laki-laki aneh itu. Kamu tahu, namanya saja kedengaran aneh. Ozan, nama dari planet mana itu?"
Rangga terkekeh, "itu nama orang Turki, kebo jelek... itu bukan nama yang aneh," ucap Rangga seraya menepuk lembut jidat Ameera.
Apa kakak tau kalau Ozan masih hidup? Tapi nggak mungkin dia diam saja kalau tau kan.
"Kalau begitu kamu yang aneh! Kamu selalu panggil aku kebo jelek." ucap Ameera yang mulai merajuk.
"Haha... kamu memang kebo jelekku kan? Coba pikir... kamu sering tidur dimana pun itu. Di kelas, di perpustakaan, di toilet, iya kan?" ledek Rangga yang berhasil membuat Ameera tertawa.
Mereka akhirnya duduk di pasir dengan menyelonjorkan kaki. Menatap matahari yang sebentar lagi akan terbenam.
"Rangga, apa menurut kamu ayah punya hutang yang banyak pada mereka? Jadi mungkin saja ayah menjualku pada mereka untuk melunasi hutangnya." tanya Ameera dengan kecurigaannya yang tidak masuk akal.
Rangga tersentak. Merasa kasihan tapi juga gemas akan kepolosan Ameera yang sempat-sempatnya mengira ayahnya punya hutang banyak pada keluarga Chandra Jaya.
"Enggak Ameera, bukan itu. Kalau saja masalahnya sesederhana itu, akan kuberikan segalanya yang ku punya untuk membebaskanmu dari hutang ayahmu. "
Rangga kembali berusaha menenangkan Ameera dengan merangkul bahunya dan menyandarkan kepala Ameera di bahunya. Tetapi pikirannya melayang kemana-mana. Mencoba meluruskan benang kusut yang ada di otaknya. Pertanyaan bermunculan di otak Rangga, tentang bagaimana Ozan selamat dari kecelakaan maut yang di alaminya. Sementara mobilnya meledak di jurang.
Ya Tuhan, kenapa harus Ozan Chandra Jaya, apa tidak ada laki- laki lain selain Ozan? Bukankah menikah dengan Ozan akan membuat nyawa Ameera semakin terancam. Aku harus apa untuk mengagalkan pernikahan mereka. Aku tidak akan biarkan siapapun mengancam keselamatan Ameeraku. Rangga membatin
Di tengah kediamannya, Rangga sedang berpikir bagaimana cara menggagalkan perjodohan Ameera dan Ozan. Setidaknya Rangga sedikit lega karena Ameera berkata Ozan juga menolak perjodohan mereka.
Sehingga Rangga merasa masih memiliki celah untuk menggagalkan rencana ini.
Aku harus bicara dengan ayah Ameera. Apa maksudnya menjodohkan Ameera dengan Ozan.
__ADS_1
💎💎💎💎