Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Lamaran part 1


__ADS_3

3 bulan kemudian....


Hari berganti hari tanpa terasa. Setelah serangkaian pengobatan yang di jalaninya, Kini Hendri telah beraktivitas seperti sedia kala sebelum di penjara. Pria paruh baya itu sedang di sibukkan dengan proyek pembangunan yayasan amal yang akan didirikannya.


Hari itu ia mengajak Ameera melihat pembangunan gedung super megah itu.


"Papa, Double R itu apa?" tanya Ameera ketika melihat sebuah papan reklame bertuliskan kata Double R.


"Itu singkatan nama Rudi dan Ratna. Papa akan membangun sebuah yayasan atas nama mereka." Hendri mulai menjelaskan beberapa bangunan yang akan di bangun di area itu, "Di sini nanti akan ada rumah sakit gratis dan panti asuhan. Disana juga akan ada rumah susun untuk para tuna wisma. Jadi tidak akan ada anak-anak terlantar dan orang yang tidak mampu bisa di rawat di rumah sakit tanpa harus memikirkan biaya besar."


Ameera pun di buat berdecak kagum oleh besar dan luasnya tanah yang sedang dalam proses pembangunan itu.


"Papa akan membangun semua itu di sini?"


"Iya, Nak. Bagaimana menurutmu?"


"Bagus. Wah, Papa pasti menghabiskan banyak uang untuk membangun semua ini. Ah, aku lupa kalau papaku seorang sultan, hehe..."


"Sultan?" tanya Hendri di sertai kekehan.


"Iya. Dulu aku merasa Rangga seperti anak seorang raja karena dia sangat kaya. Dia membeli apapun yang dia mau."


"Haha, Bukankah keluarga Chandra Jaya memperlakukanmu seperti seorang tuan putri? Bahkan Ozan memperlakukanmu seperti ratunya." kata Hendri.


"Iya, Papa. Aku sangat beruntung memiliki mereka. Walaupun awalnya aku di paksa ayah."


"Rudi mempersiapkan semuanya dengan sangat baik."


Hendri kemudian mengajak Ameera berkeliling melihat-lihat proses pembangunan itu dengan menaiki sebuah kendaraan khusus yang di kemudikan oleh Hendri.


" Papa dan Rudi pernah punya keinginan membangun ini semua. Kami dulu berjuang bersama. Tapi semua kesalahpahaman itu merubah segalanya. Dan sekarang Papa harus membangunnya seorang diri tanpanya." Wajah hendri terlihat sedih setiap teringat pada sahabatnya itu. Ameera pun mencoba mengiburnya.


"Papa dan ayah sudah merencanakan membangun ini sejak lama?"


"Iya, Nak. Kamu tahu, ayahmu itu seseorang yang sangat baik."


Tentu saja. Ayahku sangat baik. Dia tahu aku bukan anak kandungnya, tapi dia menjagaku dengan nyawanya sendiri.


"Oh, ya... Bagaimana hubungan Rangga dengan Dina?" tanya Hendri kemudian. Dia tiba-tiba teringat pada Rangga yang beberapa minggu ini terlihat uring-uringan. Dan Ameera tahu betul apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Huh... Si Bodoh Rangga itu benar-benar payah..." Ameera mulai kesal jika sudah mengingat kebodohan Rangga.


"Kenapa?" tanya Hendri.


"Karena dia bodoh. Makanya dia kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya,"

__ADS_1


"Benarkah? Apa benar-benar tidak ada harapan lagi untuk mereka bersama?"


"Jangan tanya , Papa... Aku benar-benar kesal karena ulahnya. Aku akan memberinya pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya."


Hendri terperanjak mendengar Ameera yang seolah sangat emosi mengingat kelakuan Rangga belakangan ini. Pasalnya Rangga kembali menjadi seorang penguntit yang selalu mengikuti Dina kemana pun gadis itu pergi.


****


Rumah keluarga chandra Jaya.


Rangga kembali uring-uringan. Kali ini uring-uringannya sudah mencapai level mematikan. Ia baru saja memarahi Ameera dan Naura karena seolah mendukung rivalnya untuk mendapatkan Dina.


Ameera dan Naura yang duduk di sofa pun hanya mampu saling melirik melihat Rangga berapi-api memarahi mereka.


"Itu kan salahmu sendiri. Kenapa jadi kami yang kena?" Naura mulai protes.


"Jangan pedulikan dia Kak. Dia itu sudah mau gila. Kakak tahu, Mama dan Papa akan pergi melamar Dina untuk Kak Ramon minggu ini," kata Ameera.


"Secepat itu?"


"Iya... Tentu saja. Aku akan mengambil bagian penting dalam pernikahan mereka."


Wajah Rangga pun seketika menjadi mendung karena mendengar ucapan Ameera. Karena sudah tidak tahan akhirnya Rangga beranjak meninggalkan rumah itu.


"Dia sedih, Ameera?" kata Naura ketika melihat Rangga berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.


"Kamu yakin, Om Hasan dan Tante Zarima akan melamar Dina minggu depan?"


"Memang kenapa? Kak Ramon itu kan sudah seperti anak mama sama papa. Lagi pula Kak Ramon tidak punya keluarga lain selain kita. Jadi mulai dari acara lamaran sampai hari pernikahan, kita akan membatunya."


"Aku jadi kasihan dengan Rangga... Bagaimana dengannya?"


"Aku akan mencarikannya pacar yang baru," jawab Ameera singkat.


Naura mengerutkan alisnya, "Tidak mudah membuatnya jatuh cinta Ameera. Kamu kan yang paling mengenal dia."


"Justru karena aku yang paling mengenalnya, jadi aku akan mencarikannya jodoh yang terbaik. Kakak tenang saja. Aku akan buat kejutan besar untuk Si Bodoh itu,"


Naura pun penasaran kejutan besar apa yang sedang di siapkan Ameera untuk Rangga.


***


Malam harinya, di rumah keluarga Chandra Jaya, dua orang wanita kembali di sibukkan dengan sebuah pekerjaan penting.


Ameera bersama ibu mertuanya sedang menyiapkan beberapa seserahan untuk acara lamaran Dina. Mereka terlihat begitu antusias membungkus beberapa barang dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak yang terbuat dari akrilik.

__ADS_1


"Ameera, bagaimana persiapan lainnya?"


"Tenang saja, Mama... Aku yang akan turun tangan sendiri menyiapkannya. Aku sedang memikirkan desain undangan yang akan kita sebar. Pakaian yang akan di gunakan Dina juga sudah aku pesan,"


"Secepat itu?"


"Iya, Mah. Aku ingin yang terbaik untuk mereka."


"Tapi bagaimana dengan Deniz?"


"Mama tenang saja, aku akan mengatasinya. Dia tidak akan membuat kekacauan. Kalau dia berani, aku pasti akan mencekiknya."


Zarima terkekeh mendengar ucapan Ameera. Ameera penuh dengan rencana matang di otaknya.


Sementara itu, Hasan yang sudah lelah bermain kejar-kejaran dengan kedua cucu kesayangannya ikut duduk di ruang tamu. Pria paruh baya itu sedang mengatur napasnya yang tersengal karena kelelahan.


"Opa, ayo main lagi...." Elmira datang merengek dengan manjanya.


"El, Opa capek loh, main sama El terus..." kata Ameera.


****


Di tempat lain, Rangga sedang menikmati patah hatinya dengan duduk di sebuah cafe bersama Rizal.


"Lu tau nggak, Zal... Mama sama Papa mau melamar Dina untuk Bang Ramon," kata Rangga dengan wajah sedih.


"Lu ikhlas nggak?"


"Menurut lu?"


"Salah sendiri lu kelamaan jual mahal," ucap Rizal dengan santainya.


"Gue kan udah balas nunggu selama empat tahun, Zal. Ujung-ujungnya dia naik pelaminan sama orang lain."


"Lu cari aja yang lain..."


"Lu pikir gampang. Gue move on dari Ameera aja susahnya minta ampun. Sekarang harus move on lagi dari Dina."


Rizal pun terkekeh mendengar ucapan Rangga, "Bunuh diri aja lu... Daripada hidup makan hati melulu,"


"Brengseek lu, Zal... Nggak ada kasihannya sama gue,"


"Hahaha" Suara tawa Rizal pun memenuhi setiap sudut cafe itu. Membuat Rangga semakin kesal. Entah kenapa beberapa hari belakangan seolah semua orang yang di kenalnya menjadi menyebalkan.


****

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2