
Hari yang di tunggu Ameera akhirnya tiba. Pagi ini ia masih di sibukkan dengan menyiapkan barang-barang bawaannya. Ia hanya membawa barang seadanya sesuai keperluan. Tak lupa ia memasukkan baju hangat, kupluk, selimut kecil, kaos kaki, baju ganti, senter, kompas dan beberapa makanan ringan ke dalam tasnya.
Ozan sudah berangkat ke Bandung bersama Ramon untuk urusan kantornya sejak kemarin pagi. Sebelum berangkat ia beberapa kali mengingatkan Ameera untuk berhati-hati.
Jam menunjukkan pukul 06.30pagi. Ameera segera turun untuk sarapan. Seorang pelayan membantunya membawakan tas ranselnya ke dalam mobil. Ia harus segera berangkat ke kampus karena mereka akan start perjananan pukul 07.30 pagi.
Ameera tiba di gerbang kampus dengan di antar seorang sopir. Ia segera turun dari mobil. Dengan penuh semangat ia melangkahkan kakinya mencari beberapa temannya. Sampai Ameera melihat sebuah bus. Di sana sudah ada beberapa temannya. Ia pun mempercepat langkahnya menuju bus.
"Hai Ameera, selamat pagi" sapa Indah yang baru saja menyimpan tas ransel miliknya ke dalam bus.
"Pagi, Indah" Ameera menyapa balik sambil menaiki bis untuk menyimpan tas ranselnya.
"Kamu di antar siapa?" Tanya Indah
"Di antar sopir" jawabnya singkat
"Sepupu kamu yang ganteng itu?"
"Lagi ke Bandung. Ada urusan kantor. Kenapa kamu tanyain dia, aku kan sudah bilang dia sudah punya istri" ketus Ameera
"Gak kok. Cuma nanyain aja apa salahnya hehe" sambil cengengesan
Dasar centil. Kamu bisa jantungan kalau aku bilang dia suamiku. Batin Ameera
Akhirnya semua mahasiswa yang ikut dalam kegiatan itu telah berkumpul. Mereka menaiki bus satu-persatu. Ameera duduk di samping indah. Tadinya Indra memintanya duduk di sebelahnya tapi, ia lebih memilih duduk di samping teman wanitanya. Bus pun melaju menuju kota bogor dimana terletak gunung pancar yang menjadi lokasi tujuan mereka. Jarak dari jakarta ke gunung pacar kurang lebih 45 kilometer dan dapat di tempuh dalam beberapa jam.
Sepanjang jalan beberapa mahasiswa terdengar berdendang, ada yang tertawa dan bercanda ria. Ameera dan teman wanitanya sedang mengobrol santai sambil memakan camilan yang di bawa dari rumah.
***
Sementara itu di sisi lain Ozan sedang dalam perjalanan bertemu dengan klientnya. Sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya memikirkan Ameera yang ia yakini sudah berangkat ke Bogor.
"Ram, lu ngerjain apa yang gue suruh kan?" Tanya Ozan memastikan
"Iya. Gue sudah suruh beberapa orang awasin bini lu" jawab Ramon sambil menyetir.
"Tapi lu suruh mereka hati-hati kan? Jangan sampai Ameera tau kalau dia di awasin" tegas Ozan
__ADS_1
"Iya tenang aja. Lagian lokasi mereka mendaki medannya gak berbahaya kok. Itu juga bukan gunung yang tinggi banget. Lagian lu kenapa sih. Kalau gak suka Ameera pergi, kenapa di kasih izin?" Sambil terus memperhatikan jalan di depannya
"Gue gak tega. Dia nya merengek terus. Lagian gue gak enak terlalu batasin dia. Lu tau kan kehidupan dia sebelum menikah sama gue. Dia gak menikmati masa remajanya karena ayah batasin dia. Di tambah lagi si Rangga yang gak biarin dia bergaul dengan teman lainnya." Jawab Ozan panjang lebar
"Kan lu tau sendiri, seberapa rawannya hidup Ameera dulu. Ameera selalu di bawah ancaman bapaknya si Rangga. Sekarangkan sudah aman. Bapaknya si Rangga sudah masuk penjara. Lu sama Ameera sudah bebas." Tukas Ramon
"Makanyan gue gak tega terlalu batasin Ameera. Dia masih remaja. Yang harusnya dia menikmati masa mudanya, malah terjebak pernikahan sama gue"
"Iya juga sih"
"Maka lu suruh orang-orang lu awasin yang bener. Jangan sampai Ameera kenapa-kenapa dan jangan sampai ada laki-laki yang deketin Ameera." Titah Ozan
"Iya... bawel banget lu kalau udah menyangkut Ameera" sentak Ramon yang masih menyetir.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah restoran tempat mereka janjian dengan klient.
****
Ameera dan teman-temannya sudah sampai di lokasi. Mereka turun dari bus satu-persatu dengan membawa tas ransel masing-masing. Sebelum memasuki kawasan, pertama-tama pemandu memberikan beberapa informasi seputar gunung pancar.
Sampailah mereka di TWA (Taman Wisata Alam) gunung pancar. Beberapa dari mereka sedang sibuk memasang tenda, karena rencananya mereka akan menginap malam ini dan kembali ke kota besok sore.
"Iya" jawab Ameera singkat.
"Hati-hati ya. Sebenarnya medannya gak berbahaya kayak di gunung tinggi lain kok. Cuma tetap hati-hati aja. Kan namanya gunung.
Ameera mengangguk sambi tersenyum mendengar penjelasan Indra.
"Aku sengaja memilih kesini karena medannya gak terlalu ekstrim karena banyak anak cewek yang ikut. Lagian bukit yang di daki juga gak tinggi-tinggi banget kok. Jadi aman-aman aja." Jelas Indra panjang lebar dan hanya di balas senyum oleh Ameera.
Akhirnya mereka sampai pada titik awal pendakian. Sebagian rombongan ikut mendaki seperti Ameera, Indah,Riri dan bebarapa teman wanita lainnya sedangkan yang lainnya memilih tinggal di tenda. Sementara yang laki-laki semuanya ikut mendaki. Mereka memulai titik pendakian dari sebuah sekolah SD. Seorang pemuda memandu mereka untuk naik ke puncak.
Selama perjalanan menuju puncak bukit, mereka di suguhkan pemandangan indah di bawah sana yang memanjakan mata. Menjelang puncak, mereka melewati jalur yang berundak dan sudah di buat pembatas di pinggirnya. Ada beberapa kursi panjang untuk mereka yang ingin beristirahat sejenak.
"Capek juga ya? Masih jauh gak? " Tanya Riri dengan nafas terengah.
"Sebentar lagi kok. Paling jalan satu jam lagi sampai" Indra menyambar.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan perjalanan setelah beristirahat sejenak. Setelah mendaki selama kurang lebih satu jam, sampailah mereka ke puncak gunung pancar. Pemandangan yang luar biasa indah dapat mereka nikmati di sana. Pemandangan ibu kota pun dapat di lihat dari sini. Ameera dan teman-temannya di buat kagum dengan pemandangan di depannya. Mereka lalu berselfie ria dengan pemandangan indah di sekitarnya.
"Kalian jagan takabur atau ngomong sembarangan ya, di sini ada banyak makam" Indra memperingatkan membuat beberapa orang merasa sedikit takut.
Ameera sedang menikmati pemandangan di depannya. Sekali-kali ia mengambil gambar dengan kamera yang di bawanya. Sampai Indra datang menghampirinya. Beberapa teman sedikit menjauh karena mereka tau Indra sedang berusaha mendekati Ameera.
"Ameera ada yang mau aku tanyakan" Indra memulai pembicaraan
"Tanya aja" kata Ameera sedikit cuek sambil masih mengambil gambar pemandangan
"Kamu... sudah punya pacar belum? Atau seseorang yang kamu suka?" Tanya Indra dengan ragu-ragu.
Ameera tergelak mendengar pertanyaan yang di lontarkan Indra. Lalu ia menghela nafas panjang sebelum menjawabnya. Ameera sudah menebak apa yang akan Indra katakan selanjutnya jika ia tidak menghentikannya.
"Indra, maaf ya kalau sebelumnya aku gak pernah mengatakan soal statusku pada kalian semua. Aku gak mau statusku menjadi bebanku untuk berteman dengan siapapun" jawab Ameera
"Maksudnya?"
"Aku sudah menikah" jawab Ameera singkat.
Mendengar perkataan Ameera tentang statusnya membuat jantung Indra seperti di remas. Betapa kecewanya hati Indra mendengar pujaan hatinya ternyata sudah menjadi milik orang lain.
"Kamu gak bercanda kan?" Tanya Indra yang ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar
"Aku serius. Aku minta maaf."
"Lalu dimana suami kamu?" Indra penasaran dengan sosok suami Ameera.
"Dia lagi ke bandung, ada urusan kantor" Ameera tidak menjelaskan bahwa suaminya adalah seorang Ozan Chandra Jaya. Ia takut teman-temannya akan merasa risih berteman dengannya jika mereka tau siapa suami Ameera. Karena Keluarga Chandra Jaya adalah pemilik yayasan tempatnya kuliah.
"Ya sudah, gak apa-apa. Yang penting aku sudah tau. Tapi kita masih bisa tetap berteman kan?" Tawar Indra.
"Pasti" jawab Ameera singkat dengan senyum manisnya.
Setelah puas menikmati pemandangan alam dan berselfie, mereka akhirnya memutuskan untuk turun dari puncak bukit karena hari sudah sore. Mereka harus sudah di bawah sebelum gelap.
💔💔💔💔
__ADS_1
Bersambung