Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Masih di teror


__ADS_3

Ameera duduk termenung di mushola kampusnya. Ia baru saja menjalankan kewajibannya pada sang pencipta. Rasa tenang dan damai yang di rasakan Ameera kembali terusik oleh gangguan yang berasal dari masa lalu suaminya. Ketika Naura kembali mengirimkan pesan kepadanya beserta foto kebersamaannya dengan Ozan.


"Ozan milikku. Dia mencintaku." Isi pesan Naura.


Ameera hanya membaca tanpa membalas. Lalu kemudian memblokir nomor Naura.


Siapa yang peduli padamu, dasar siluman jahat. Batin Ameera begitu selesai memblokir nomor kontak Naura.


"Aaarrrrgghhhhh kurang ajar sekali dia. Dia pikir aku akan menyerah meneror nya, hanya karena dia memblokirku? Haha tunggulah Anak kecil. Sebentar lagi Ozan akan kembali padaku." Ucap Naura yang kesal setelah tidak mendapatkan nomor ponsel Ameera lagi.


Sejak kemunculan Naura di antara Ozan dan Ameera, hubungan mereka menjadi renggang. Naura dengan kelicikannya berhasil mengadu domba pasangan itu. Bahkan berhasil membuat pembatas di antara mereka. Ameera bahkan berpikir Ozan masih mencintai Naura dan akan kembali pada Naura jika sudah bosan dengannya. Sementara Ozan mengira perubahan Ameera yang terus menghindarinya karena ada penyebab lain. Begitulah drama salah paham di antara keduanya terus berjalan, karena kurangnya komunikasi di antara mereka.


Ameera keluar dari mushola hendak menuju ke perpustakaan. Tiba-tiba Dina menghampirinya.


"Ameera... kamu mau kemana?"


"Eh, Din... aku mau ke perpustakaan. Aku ada tugas." Tersenyum paksa.


"Wajahmu pucat Ameera, kamu sakit?"


"Nggak kok. Biasa aja. Aku ke perpustakaan dulu ya. " Ameera berjalan meninggalkan Dina di sana. Sementara Dina mematung memperhatikan Ameera yang wajahnya sangat pucat.


Kamu benar, Din! Aku sakit. Hatiku yang sakit. Suamiku di rebut wanita dari masa lalunya. Ah tidak, tidak, akulah perebutnya. Wajar kalau dia mengambilnya kembali.


Ameera sudah sampai di perpustakaan. Ia sibuk mencari beberapa buku. Begitu menemukan buku yang di carinya, ia segera menuju meja kosong dekat jendela. Sampai akhirnya siang berganti sore barulah Ameera tersadar dari keasyikannya membaca buku.


***


Ozan dan Ramon sedang berada di sebuah cafe. Sejak beberapa hari ini Ozan benar-benar kehilangan semangat kerjanya. Hingga Ramon mengajaknya nongkrong di cafe untuk menghilangkan kejenuhannya.


"Zan... Lu sebenarnya sama Ameera kenapa sih?" Tanya Ramon sambil menyeruput kopinya.


"Gak tau. Dia berubah banget. Kayak jauhin gue. Dia kadang marah tanpa sebab. Gak mau dekat sama gue. Kemarin aja dia gak sadar tengah malam minta gue peluk. Pas gue udah peluk, dia nya malah dorong gue dan ngusir gue dari kamar. Kesel gak gue?" Cerita Ozan panjang lebar membuat Ramon geleng-geleng kepala.


"Lu ada salah kali sama dia yang lu gak tau"

__ADS_1


"Apaan?"


"Ya mana gue tau. Kan dia bini lu." Ucap Ramon sambil memakan kentang gorengnya.


"Jadi gue harus gimana, Ram?"


"Mending lu ngaku sama bini lu. " Saran Ramon.


"Nagku apaan?"


"Ya lu ngomong kalau lu cinta sama dia."


"Hah... Siapa yang cinta?" Ozan menyangkal


"Jangan kayak abg lu. Udah jadi bucin masih kagak mau ngaku lu. "


"Ada saran lain selain itu gak?" Mencoba menghindari perintah Ramon yang selalu menyuruhnya mengaku cinta pada Ameera. Sedangkan gengsi nya setinggi gunung.


"Mending lu omongin sama bini lu. Ya, lu buang dulu gengsi lu buat minta maaf duluan. Kan lu bisa jemput dia di kampusnya. Lu ajakin kencan deh kayak waktu itu" Ramon teringat pada kencan dadakan Ameera dan Ozan di puncak yang sangat merepotkan dirinya.


***


Ameera melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia segera keluar dari perpustakaan. Biasanya sopirnya sudah ada di depan menunggunya. Sudah beberapa minggu ini, bukan Ozan lagi yang menjemputnya. Ameera selalu menolak jika Ozan menawarkan diri menjemputnya. Akhirnya sejak saat itu, Ozan meminta sopir untuk menggantikannya menjemput Ameera.


Ameera sedang berjalan di dekat taman kampus hendak ke gerbang menunggu sopir nya. Tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut dan pandangannya sedikit kabur. Ketika oleng dan hampir jatuh, sepasang tangan menangkap tubuhnya. Ameera mencoba menajamkan penglihatannya dan menatap seorang pria di depannya. Matanya terbelalak kaget melihat siapa yang ada di hadapannya.


"Rangga...!" Ameera tidak percaya dengan sosok yang berada di depannya. Ia berpikir ia hanya berhalusinasi. Namun kenyataannya pria itu memang Rangga.


"Kamu sakit ya? Kamu hampir pingsan loh. Mukamu juga pucat." Ucap Rangga yang membantu Ameera duduk di sebuah kursi yang terdapat di taman.


"Kapan kamu ke Indo? Bukannya kamu akan lama di luar negeri, ya? Tanya Ameera


"Aku mau urus sesuatu di sini. Terus nanti balik lagi ke sana." Rangga tersenyum manis ke arah Ameera. Mereka pun ngobrol panjang lebar sampai lupa waktu.


Ozan sejak tadi berada di gerbang kampus menunggu Ameera. Tapi Ameera tidak muncul juga. Akhirnya Ozan memutuskan masuk ke dalam kampus berkeliling mencari Ameera. Pikirannya tertuju pada taman. Dulu ia menemukan Ameera bersama teman-temannya di taman.

__ADS_1


Selang beberapa lama, ozan telah sampai di taman. Matanya berkeliling mencari Ameera. Sampai matanya menangkap Ameera duduk di kursi taman bersama seorang pria yang sangat Ozan kenal.


"Rangga?" Ozan belum percaya dengan penglihatannya. "Bukannya Rangga lagi di luar negeri?" Gumam Ozan.


Ozan mengepalkan tangannya. Tatapannya penuh kecemburuan melihat istrinya duduk manis di sana bersama pria lain di taman.


"Jadi karena ini kamu berubah, Ameera. Karena Rangga sudah kembali. " batin Ozan sangat kesal.


Karena rasa cemburunya terasa menembus ubun-ubun, Ozan pergi melajukan mobilnya meninggalkan halaman kampus. Ia merasa sangat kecewa. Rencana memperbaiki hubungan dengan Ameera pupus sudah. Ia berpikir perubahan Ameera ada hubungannya dengan kembalinya Rangga.


Ozan melajukan mobilnya ugal-ugalan di jalan. Kadang Ozan mendapat umpatan dan sumpah serapah dari pengendara lain.


Rangga kembali ke Indonesia karena mendapat informasi dari Dina yang mengatakan Naura datang menemui Ameera. Dina melaporkan pada Rangga semua yang Dina ucapkan saat bertemu Ameera. Termasuk ancaman Naura yang ingin mendapatkan Ozan kembali.


Setelah di paksa Rangga, Ameera pun menceritakan masalahnya dengan Ozan dalam versi yang diketahui Ameera. Hal itu berhasil membuat Rangga kesal kepada Ozan.


Akhirnya Ameera memutuskan untuk pergi ke gerbang kampus. Mungkin sopirnya sudah datang dan menunggunya di sana.


Namun baru beberapa langkah, Ameera sudah tersungkur ke belakang. Ia pingsan. Beruntung Rangga dengan sigap menangkap tubuh Ameera lalu membawanya ke mobilnya yang terparkir tidak tauh dari lokasi mereka saat ini.


Dengan panik Rangga mencoba membangunkan Ameera yang sudah duduk di kursi penumpang depan.


"Ameera bangun! Buka mata kamu. Ameeraaa...!" Rangga menepuk pipi Ameera, namun Ameera tidak bergerak sedikitpun. Akhirnya Rangga memutuskan segera membawa Ameera ke rumah sakit karena wajahnya sudah sangat pucat. Rangga melajukan mobilnya dengan panik. Bahkan ia melupakan Dina yang masih berada di dalam kampus.


Mobil sudah sampai di halaman rumah sakit. Rangga menggendong Ameera menuju sebuah tandu yang di persiapakan petugas kesehatan.


***


Rangga sedang mondar-mandir di depan ruang IGD. Rasa khawatirnya kepada Ameera mengalahkan segalanya. Rangga duduk di kursi panjang, lalu berdiri lagi dan begitu terus sampai dokter yang menangani Ameera keluar dari ruangan. Rangga pun berdiri menghampiri dokter dan bertanya tentang keadaan Ameera.


"Suami pasien ?"


" oh bukan, Dok... Belum datang. Mungkin sedang di jalan. Saya temannya." ucap Rangga pada dokter.


****

__ADS_1


__ADS_2