Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Cemburu buta


__ADS_3

Naura tersenyum senang mendapat laporan dari orang suruhannya. Bagaimana tidak, rencana jahatnya berjalan mulus tanpa hambatan. Ameera dan Ozan terjebak kedalam permainannya. Seolah dewi fortuna sedang menghinggapi hidupnya, Rangga ikut masuk ke dalam drama yang ia ciptakan untuk memisahkan Ozan dan Ameera. Sehingga Naura memanfaatkan kehadiran Rangga untuk memanas-manasi Ozan.


"Adikku yang bodoh itu ikut masuk kedalam rencanaku tanpa aku undang. Aku akan memanfaatkan kedatangannya dengan sebaik-baiknya. Aku bahkan tidak menyangka akan semudah ini." ucap Naura pada seorang laki-laki. Saat ini mereka sedang duduk di sebuah cafe.


***


Beberapa hari ini acara ngidam Ameera sangat aneh. Ketika keinginan makan sesuatunya muncul, maka tidak dapat di tahannya. Ia akan uring-uringan sendiri sampai mendapatkan apa yang diinginkannya. Emosinya pun ikut berubah-ubah dengan cepat. Membuatnya bingung sendiri. Kadang ia sangat pemarah dan kadang sangat cengeng. Kadang saat sedang senang ia menangis. Benar-benar aneh bagi dirinya sendiri.


Sekarang ia sedang termenung sendirian di sebuah kursi panjang didepan kampus. Diingatnya Ozan yang semakin hari bersikap semakin dingin padanya. Bahkan bicara dengan Ameera ia enggan. Tanpa di sadari Ameera, setitik air matanya jatuh teringat pada Ozan yang dulunya tidak pernah sedingin ini padanya. Bahkan sekarang Ameera memilih tidur di kamar tamu namun Ozan seakan tidak peduli.


Tiba-tiba seseorang berdiri tepat di hadapan Ameera. Ia mendongakkan kepalanya. Didepannya ada Rangga yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Rangga mengambil posisi duduk di samping Ameera menyelonjorkan kaki panjangnya. Sementara Ameera tertunduk lesu.


"Kenapa sih lemes banget kelihatannya. Masih marahan ya?"


Ameera menjawab dengan anggukan kepala.


"Ya udah... jajan aja yuk. Kamu ngidam mau makan sesuatu gak? Dina bilang kemarin kamu lagi pengen pancake. " ucapnya.


"Gak pengen lagi kok." Ameera merasa keinginannya makan pancake sudah lewat. Kemarin Dina ingin mengajaknya membelinya. Namun, Ameera menolak, tidak ingin merepotkan siapapun karena ngidamnya yang aneh-aneh.


"Makan yang lain aja klo gitu. Bilang aja lagi pengen makan apa, aku temenin deh. "


"Es krim" jawabnya singkat.


"Hah, es krim doang?"


"Iya tapi aku mau es krim yang di ujung jalan itu." Menunjuk sebuah jalan dimana ia pernah mampir untuk membeli banyak es krim.


"Ya udah, kesana yuk." ajak Rangga


"Tapi ajak Dina juga." pinta Ameera

__ADS_1


Rangga segera mengambil ponselnya yang ditinggal di mobil lalu menghubungi Dina. Rangga mengajak Dina pergi menemani Ameera membeli es krim. Namun, Dina menolak karena ada keperluan di kampus. Akhirnya Rangga dan Ameera pergi berdua ke kedai es krim yang lokasinya tidak begitu jauh dari kampus.


Dengan wajah berbinar Ameera mengambil es krim dari lemari pendingin. atu cup besar es krim tiga rasa sudah ada di tangannya. Ameera duduk didekat jendela kaca menikmati es krimnya. Sedangkan Rangga duduk didepannya tersenyum geli dengan tingkah Ameera yang seperti anak kecil.


Tidak jauh dari lokasi mereka seseorang yang berada didalam mobil mengepalkan tangannya melihat pemandangam didepannya. Ozan, yang sejak tadi mengikuti mereka dari kejauhan telah dibutakan oleh rasa cemburunya.


"BRENGSEEEKKKKK" Ozan mengumpat keras didalam mobil sambil memukul setir. Emosinya seakan telah menembus ubun-ubunnya. Merasa tidak tahan melihat kebersamaan istrinya dengan laki-laki lain, Ozan pergi meninggalkan kedai es krim itu dengan penuh kekesalan.


Ameera menghabiskan es krim cup besar itu membuat Rangga geleng-geleng kepala. Ameera tersenyum puas tanpa tahu bahwa tadi Ozan mengikutinya dari belakang.


"Lapar apa doyan?" Sambil menatap cup es krim yang sudah kosong.


"Dua-duanya"


"Mau yang lain lagi gak mumpung aku lagi baik?" tawar Rangga.


"Aku mau ketaman hiburan boleh?"


"Gak usah kayak gitu mukanya. Jadi mirip bunglon tau... " Rangga tertawa renyah.


"Puas-puasin ketawanya." Ameera mendengus kesal dikatakan mirip bunglon. Seketika wajahnya berubah sedih lagi teringat Ozan. Rangga menyadari perubahan wajah Ameera.


"Lha... kenapa lagi mukanya ditekuk begitu?" Mata Ameera sudah mulai berkaca-kaca. Membuat Rangga kelabakan.


"Maaf deh, aku salah ngomong ya, oke... oke... kamu gak mirip bunglon kok. Kamu seperti..." menggantung ucapannya sambil memikirkan kata-kata yang cocok.


"Bukan itu...!" Ameera sudah menangis ditempat duduknya.


"Bukan? Terus apa dong?" Rangga sudah frustasi. Ameera tentu saja tidak akan mengatakan bahwa saat ini dirinya sangat merindukan Ozan. Ia hanya terus menangis membuat Rangga menebak-nebak dalam hatinya.


"KAMU NYEBELIIIINNNNN... !" Ameera berteriak langsung berdiri meninggalkan Rangga. Rangga terlonjak kaget mendengar suara teriakan Ameera. Rangga mematung menatap Ameera yang hendak pergi dengan berurai air mata.

__ADS_1


"Gini banget ya ngadepin perempuan yang lagi hamil, barusan dia senang habis makan es krim, terus tiba-tiba nangis." Rangga menggaruk kepalanya fruatasi lalu berdiri hendak menyusul Ameera yang sudah berada didalam mobil.


Di dalam mobil Rangga terus berusaha membujuk Ameera yang masih menekuk wajahnya. Sampai tidak terasa hari mulai gelap. Rangga menepikan mobilnya didepan sebuah restoran. Rangga dan Dina janjian makan makan di restoran tersebut bersama Ameera.


"Yuk turun. Dina udah nungguin di dalam." ajak Rangga


Ameera turun mengikuti Rangga memasuki sebuah restoran. Dina sudah menunggu disana.


"Kok kalian lama sih?" tanya Dina


"Macet" jawab Rangga. Macet hanyalah alasan semata. Mereka lama karena Rangga baru saja di repotkan dengan tingkah aneh Ameera sampai dirinya yang harus berusaha keras membujuknya agar berhenti menangis.


"Ameera, kamu mau makan apa?" tanya Dina.


"Gak ah. Aku mau pulang aja. Kalian ajalah yang makan."ucap Ameera.


"Kita kan janjian mau makan bertiga. Masa mau pulang sih?" Dina memberi kode pada Rangga. Namun Rangga diam saja. Tidak tahu harus bagaimana jika sudah menghadapi seorang wanita yang sedang hamil.


"Rangga...!" panggil Dina sambil menarik ujung kemeja Rangga.


"Apa?" bisik Rangga. Dina lagi-lagi memberi kode pada Rangga seolah bertanya ada apa dengan Ameera. Namun Rangga hanya menggeleng. Dia sendiri juga bingung karena mood Ameera mudah berubah.


"Ya udah kalau gitu kita pulang aja deh" ucap Dina.


Ameera tergelak dan jadi tidak enak sendiri.


"Eh, jangan. Kalian aja yang makan. Nanti aku minta di jemput sopir"


"Gak mau. Kamu juga belum makan, kan? Tadi cuma makan es krim doang. Kasihan anak kamu, Ameera. Mereka butuh makan loh. " ucap Dina sedikit menekan Ameera.


Akhirnya setelah perdebatan kecil dan dipaksa oleh Dina, Ameera akhirnya makan walaupun sedikit. Mereka memutuskan mengantar Ameera pulang setelah makan.

__ADS_1


***


__ADS_2