Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Jurus anti pelakor


__ADS_3

Malam harinya, Ozan sudah terlelap di bawah selimut dengan posisi terlentang. Suasana kamar temaram dan hanya di terangi oleh lampu tidur. Sosok tangan kecil sedang melambai di depan wajahnya seperti hendak memastikan sang pemilik wajah tampan itu sudah benar-benar tidur atau belum.


"Dia benar-benar sudah tidur kan?" gumam Ameera.


Dia mendekat dan berbaring dengan posisi tengkurap dengan Dagu bertumpu pada kedua telapak tangannya. Seakan tiada bosannya, Ameera terus memandangi wajah suaminya yang kebulean itu. Sesekali senyum tipis hadir di sudut bibirnya. Ia mengecup lembut kening Ozan lagi dan lagi. Kemudian memberi kecupan di seluruh bagian wajah pria itu seperti yang biasa di lakukan Ozan padanya saat sedang tidur.


Aku kenapa ya? Kenapa ku sangat merindukannya. Batin Ameera


Ia kemudian merubah posisinya menjadi menyamping, menempelkan keningnya dengan kening suaminya. Dalam hati Ameera menertawakan dirinya yang begitu merindukan Ozan namun gengsinya setinggi gunung.


Tiba-tiba terbesit sebuah ide gila dalam otak polosnya. Ia berbaring membelakangi suaminya dan meraih tangan kekar itu lalu melingkarkannya di perut.


Kalau kamu bangun kan aku bisa pura-pura memarahimu. Hehe


Ameera tidak tahu saja bahwa Ozan belum tidur. Pria itu sengaja pura-pura tidur agar dapat memergoki istrinya yang kadang terbangun tengah malam dan melakukan hal-hal aneh. Senyum kemenangan pun hadir di wajah Ozan.


Aku tidak akan melepaskanmu malam ini. Bagaimana kalau di mulai dengan aku pura-pura cuek. Batin Ozan.


Ozan tertawa dalam hati melihat kelakuan lucu Ameera. Sejak tadi ia menggeser tubuhnya agar Ozan terbangun. Namun, Ozan tidak bergeming sedikitpun sehingga Ameera merasa kesal.


"Kamu ini tidur apa mati sih?" ucap Ameera kesal. Ia sudah bangun dan merubah posisinya dari baring menjadi duduk selonjoran. Melirik Ozan dengan ekor matanya dengan bibirmya yang mengerucut.Ameera pun berbaring dengan posisi membelakangi Ozan. Kali ini tidak menempel seperti tadi, namun berjarak. Mencoba menutup matanya namun sulit untuk dapat tertidur. Ameera Malah semakin gelisah membolak-balik tubuhnya mencari posisi yang pas.


Ozan membuka matanya, ia tersenyum tipis lalu menggeser tubuhnya mendekati Ameera dan memeluknya dari belakang dengan erat.


"Sayang... kamu kenapa? Nggak bisa tidur ya?" bisiknya di telinga Ameera. Membuat Ameera berbalik sehingga mereka berhadapan. Ameera membelai wajah Ozan dengan lembut, sejenak ia lupa dengan segala balas dendam yang tersusun rapi di otaknya. Ozan tersenyum lalu mengecup kening Ameera. Dan yang menjadi favoritnya, memberi kecupan di seluruh bagian wajah istrinya.


Entah siapa yang memulai mereka telah larut dalam ciuman mesra. Ameera hanyut dalam belaian lembut suaminya. Dan akhirnya mereka pun melakukannya lagi dan lagi. Kerinduan yang selama ini bersarang di hati masing-masing larut dalam kemesraan mereka malam itu. Ozan menumpahkan hasrat yang selama ini di tahannya. Ia memperlakukan Ameera dengan lembut dan hati-hati mengingat istrinya sedang hamil. Hingga dini hari mereka masih terhanyut dalam indahnya percintaan mereka. Sampai akhirnya keduanya terkulai lemas dan tidur saling berpelukan di bawah selimut yang sama dengan tubuh polos.


Pagi-pagi buta Ozan terbangun lebih dulu, memandangi wajah polos Ameera yang berada dalam pelukannya. Tersenyum mengingat kegiatannya semalam. Ameera menggeliat dan membuka matanya perlahan.


"Pagi sayang..." ucap Ozan seraya mengecup singkat bibir Ameera membuatnya terlonjak.


"Apaan cium-cium... Jangan dekat-dekat. Lepasin tangannya." pinta Ameera seraya melepas tangan Ozan yang melingkar di perutnya.


"Ini kenapa marah-marah lagi sih? Kan semalam kita udah..." sahut Ozan.

__ADS_1


"Bukan berarti kita sudah baikan kan? Aku belum bilang sudah memaafkanmu."


Ameera segera meraih jubah mandinya dan masuk ke kamar mandi sementara Ozan masih duduk bersandar di tempat tidur memperhatikan Ameera yang kembali berulah.


****


Ozan baru saja selesai mandi sementara Ameera sudah selesai berganti pakaian, ia sedang memoles wajahnya dengan make up. Ozan terlonjak kaget melihat penampilan Ameera. Jika beberapa hari belakangan Ameera berpenampilan tomboi, hari ini dia berdandan cantik.


"Kamu kenapa, yank?" tanya Ozan seraya memperhatikan Ameera dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ketika berdandan Ameera menjadi sangat berbeda. Begitu cantik dan dewasa.


"Kenapa? Mas mau bilang aku jelek? Memangnya cuma client kamu itu yang bisa cantik. Aku juga bisa." sahut Ameera.


"Nggak yank. Kamu cantik kalau dandan begini. Aku jadi makin sayang." puji Ozan seraya tersenyum.


Deg


Mendengar kata sayang terucap dari bibir Ozan saja sudah membuat jantungnya berdebar. Pasalnya Ozan belum pernah sekalipun menyatakan cintanya pada Ameera.


Aku kan berdandan biar matamu nggak melirik wanita lain. Biar aku nggak kalah cantik dari wanita-wanita di kantormu.


Ameera teringat kemarin setelah pulang dari kantor Ozan, ia bertemu Dina, Indah dan Riri di sebuah kedai es krim. Mereka bertiga memberi Ameera jurus anti pelakor.


Ameera dan ketiga sahabatnya sedang nongkrong di kedai es krim favorit Ameera. Karena kesal, Ameera menceritakan pada ketiga temannya tentang dirinya yang pergi ke kantor suaminya namun hendak di usir oleh resepsionis, lalu saat sampai di ruangan Ozan, ia malah mendapati suaminya sedang berduaan dengan seorang wanita dewasa yang sangat cantik.


Riri dan Indah pun meracuni pikiran Ameera dan menakut-nakutinya.


"Kalau dandanan kamu kayak preman pasar gini, awas loh, suami kamu bisa kepincut wanita-wanita cantik dan seksi di luar sana." ujar Riri.


"Iya, bener. Suamimu kan bule turki yang gantengnya out of the box. Pasti banyak wanita dewasa yang ngantri buat dia. Aku aja pernah suka sebelum tau dia suami kamu." tambah Indah.


Ameera menelan ludahnya kasar. Otaknya mulai memikirkan hal-hal aneh.


Dia memang di kelilingi wanita-wanita cantik. Karyawan di kantornya juga cantik-cantik.


"Din... Masa gitu? " tanya Ameera pada Dina. Namun, Dina hanya menjawab dengan mengangkat bahunya seraya tersenyum pelik membuat Ameera semakin was-was.

__ADS_1


"Lagian kenapa penampilan kamu jadi mirip preman pasar begini? Tadinya kamu kan nggak begini dandanannya." tanya Riri yang heran dengan penampilan Ameera sekarang. Karena awal masuk kuliah, Ameera berpenampilan cantik dan menarik. Sekarang penampilannya seperti sebelum menikah. Zarima lah yang mengajarkan Ameera berdandan layaknya seorang wanita.


"Memang aneh banget, ya?" tanya Ameera kemudian.


"Nggak aneh kok Ameera. Cuma kelihatan tomboi aja." sahut Dina.


"Balikin aja penampilanmu seperti sebelumnya. Awas loh, pelakor ada dimana-mana. Kalau laki-lakinya kayak suami kamu, aku rela jadi pelakor. " ucap Indah. Mendengar perkataan frontal dari indah, Ameera tersulut emosi.


"Akan ku terjunkan manusia jadi-jadian itu dari puncak gedung burj khalifa tanpa parasut kalau dia berani macam-macam dengan wanita lain di luar sana." sahut Ameera penuh emosi.


"Makanya di jaga Ameera. Jangan sampai berpindah ke lain hati." ucap Indah kemudian.


"Nah... kapan terakhir kali kamu ngasih jatah malam sama suami kamu?" tanya Dina yang kali ini terpaksa ikut masuk dalam pembicaraan itu. Sejak tadi dia hanya terdiam mendengar pembicaraan ketiga temannya.


Ameera mengerutkan alisnya. Berusaha mengingat terakhir kalinya dia dan Ozan melakukannya.


"Kan kamu tahu kapan terakhir kalinya. Waktu itu kamu kan yang tolongin aku." jawab Ameera.


Riri dan Indah tersendak es krim mendengar ucapan Ameera. Pikiran mereka mulai menjalar kemana-mana.


"Kamu sampai harus di tolong Dina? Kamu di apain sama suami kamu? Ganas banget ya... " tanya Indah membuat Ameera gelagapan, wajahnya bersemu merah.


"Maksud aku sebelum itu. Waktu itu kan kamu dipaksa. Jadi nggak masuk hitungan." kata Dina.


"Terakhir kalinya awal kemunculan si Naura itu. Sekitar dua bulan kalau nggak salah. Ah.. tidak.. tidak... hampir tiga bulan." jawab Ameera.


"Hah... selama itu?" ucap ketiga temannya bersamaan, membuat beberapa pengunjung lain mengarahkan pandangan pada mereka.


Ameera menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Aku sih nggak heran kalau dia kepincut wanita cantik di luar sana. Orang istrinya barbar kayak gini." ujar Riri.


Dari hasil pembicaraan itulah sehingga pagi ini Ameera merubah kembali penampilannya yang tomboi menjadi feminim. Semalam juga ia tidak menolak saat Ozan meminta jatahnya sebagai suami. Ameera yang takut jika manusia jadi-jadiannya kepincut wanita lain di luar sana.


Ozan hanya milik Ameera. Batinnya.

__ADS_1


****


Bersambung


__ADS_2