Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Berenang


__ADS_3

"Wah, keren juga si Babang Ojan... Ikan piaraannya banyak sekali. Ada arwana-nya lagi," gumam Rangga yang sedang memberi makan ikan peliharaan kakaknya yang terletak tidak jauh dari kolam renang. Ada tiga aquarium besar di sana yang setiap aquariumnya terisi jenis ikan yang berbeda. Masih duduk di kursi roda, walaupun sekarang Rangga mulai bisa menggerakkan kakinya perlahan, namun ia belum sanggup untuk berdiri.


Tidak lama kemudian, Ameera datang dengan pakaian renang khusus ibu hamil yang serba tertutup. Rangga menoleh sekilas melihat Ameera.


"Haha kenapa dia jadi mirip ikan koi?" gumam Rangga pelan seraya terkekeh.


"Apa lihat-lihat?" tanya Ameera.


"Nggak..." Rangga mengalihkan pandangannya pada ikan-ikan di dalam aquarium besar itu, "Ameera... Coba lihat ikan merah itu, " ucapnya seraya menunjuk ikan mas koki yang hamil. Ameera lalu melihat ikan yang di tunjuk Rangga, "Mirip kamu loh..." ucap Rangga meledek.


Kesal, Ameera memukulnya dengan handuk yang di pegangnya berkali-kali.


"Hahaha..." terdengar gelak tawa Rangga memecah keheningan pagi itu. "Ampun... ampun... Kan aku bercanda, kamu kok serius mukulnya..."


"Biarin!!"


Setelah puas memukul, ia lalu duduk di kursi. Mengatur napasnya. Mereka kemudian mengobrol panjang lebar pagi itu.


"ngomong-ngomong... Kenapa kamu nggak pernah mengunjungi Tante Aliyah? Kamu masih marah, ya..." tanya Ameera yang tiba-tiba teringat pada sosok ibu Rangga itu.


"Nggak... Aku mana bisa marah sama mamaku. Aku hanya kecewa saja."


"Dia pasti sangat sedih."


"Itu nggak sebanding dengan perderitaan mama, papa dan kakakku selama 18 tahun, Ameera. Selama itu mereka hidup dalam rasa bersalah karena merasa gagal menjagaku."


"Tapi bagaimana dengan tante Aliyah selama ini? Kamu kan tahu sendiri bagaimana dia melalui hari-harinya. Sekarang kamu malah menghukumnya dengan sangat kejam."


Rangga terdiam sejenak. Mengingat Aliyah yang selama ini memberinya kasih sayang layaknya ibu kandungnya sendiri.


Maafkan aku, Mama. Ameera benar, aku terlalu jahat menghukum Mama.


"Aku akan mengunjunginya nanti. Tapi temani aku, ya..." pinta Rangga.


"okey. Kalau mau di temani menemui Dina, aku juga siap... hehe..." Ameera dengan santainya menyebut nama Dina, membuat raut wajah Rangga berubah. Sejak menyadari perasaannya pada Dina, wajahnya otomatis akan memerah jika teringat gadis itu.


"Kamu mau aku di gorok Bang Ramon kalau menemuinya?"


Haha, hatimu terbakar kan? kamu cemburu kan? Baiklah, aku panas-panasi saja.


"Kalau aku bilang Dina dan Kak Ramon belum pacaran, bagaimana?"


Rangga tersentak, tapi terlihat rona bahagia di wajahnya saat mendengar ucapan Ameera.


"Kamu tahu darimana mereka nggak pacaran? Kamu nggak tahu seromantis apa mereka di luar sana?" tanya Rangga, ia berusaha menyembunyikan perasaan cemburunya yang seakan menembus langit ketujuh.


"Dari Mas Ozan. Aku kan tiap malam merayunya, biar dia mau membocorkan semua info yang dia tahu tentang Kak Ramon dan Dina."

__ADS_1


Meskipun sangat penasaran, namun Rangga tetap pura-pura tidak peduli. Ia menutupi perasaannya dengan sempurna.


"Itu urusan mereka, Ameera. Aku nggak mau ikut campur."


"Yakin?" Ameera mengedip-ngedipkan matanya seraya tersenyum penuh arti. Ia sangat tahu Rangga sedang cemburu.


"Sana...!! kolam ikan besar sudah menunggumu untuk berenang." ucapnya seraya menunjuk kolam renang.


"Itu kolam renang, bukan kolam ikan." sahut Ameera dengan suara meninggi.


"Iya, tapi kalau kamu masuk kesana kolamnya berubah jadi kolam ikan." kata Rangga, "kamu kan ikan mas koki..." gumam pelan seperti berbisik.


Ameera menjadi kesal karena mendengar gumaman Rangga yang menyebutnya mirip ikan mas koki, ia kembali meninju lengan Rangga,


"Auw... sakit tahu," Rangga meringis memegangi lengannya.


"Syukurin."


"Sudah mau punya anak, bar-barnya tidak berkurang."


"Aku mau berenang dulu." ucap Ameera seraya beranjak meninggalkan Rangga, namun sejenak ia berbalik, "Kak Ramon dan Dina belum pacaran loh, kamu masih punya kesempatan mengejarnya sampai malam ini. Mas Ozan bilang, malam ini Kak Ramon mau mengungkapkan perasaannya. Jadi sayangi jantungmu, ya... hahaha..."


Dengan senyum lebar, Ameera lalu berjalan menuju kolam renang, sedangkan Rangga terdiam di sana dengan perasaan tidak karu-karuan. Ameera memang sangat pandai mengaduk-aduk perasaan adik iparnya itu.


Apa yang harus aku lakukan, aku sadar selama ini aku terlalu banyak menyakitinya. Dina berhak bahagia. Tapi... hati sialan ini benar-benar menyebalkan, kenapa rasanya sakit begini.


"Rangga tolong aku, kakiku kram...!!" terdengar suara teriakan Ameera dari kolam renang, membuyarkan lamunan Rangga.


"Kamu kenapa, Ameera?" Rangga mulai panik melihat Ameera di kolam renang seperti akan tenggelam, terlebih Ameera sedang berada di bagian kolam yang dalamnya sekitar 2 meter itu. "kenapa kamu


berenang di situ? Bagian itu dalam, Ameera!!"


Ameera terlihat mulai lemas, hanya ujung tangannya yang terlihat di permukaan air. Rangga semakin panik,


"MAMA... BANG OZAAAN... PAPA... TOLONG AMEERA!!!" Rangga berteriak dengan keras, air matanya mulai menetes melihat Ameera di sana.


"Aku harus bagaimana?" gumamnya. Rangga kembali berteriak dengan keras memanggil seluruh penghuni rumah, namun tidak ada yang mendengarnya. "AMEERAAA!!!" teriak Rangga, dengan air mata mengalir.


Beberapa saat kemudian, Ameera sudah mengapung di tengah kolam renang itu. Rangga yang melihatnya sangat syok. Jika dulu ia mampu berbuat apapun untuk melindungi Ameera, maka sekarang ia merasa seperti tidak mampu berbuat apa-apa untuk sekedar menolongnya, hanya teriakan kepanikan yang terdengar memenuhi setiap sudut tempat itu.


aduh perutku, kenapa bentuknya harus begini, coba... kelihatan seperti gunung di tengah lautan, batin Ameera ketika membuka sedikit matanya dan melihat perutnya menyembul di perbukaan air. Ia sebenarnya sedang mengerjai Rangga. Akhirnya ia memilih menenggelamkan dirinya ke dasar kolam renang.


Dan perkiraan Ameera sangat tepat, karena ketakutannya yang luar biasa, Rangga terus berusaha menggerakkan kakinya. Hingga akhirnya, dorongan ketakutan itu mendesaknya untuk melakukan hal yang tidak dapat ia lakukan.


Pernah dengar, manusia memiliki kekuatan besar yang tersembunyi dalam diri masing-masing. Kekuatan yang hanya muncul dalam keadaan terdesak, dalam psikologi menyebutnya sebagai 'energi alam bawah sadar'. Dan kadang orang-orang menggunakan serapan kalimat wake up the giant inside you. Yah, inilah yang sedang di lakukan Ameera. Ia berusaha membangunkan kemampuan Rangga dengan membuatnya berada dalam keadaan terdesak, panik, dan takut.


Secara tidak sadar, Rangga berlari menuju kolam renang menjatuhkan tubuhnya, dan berenang ke arah Ameera. Ameera tersenyum puas, namun masih pura-pura tenggelam.

__ADS_1


Rangga meraih tubuh Ameera di dalam air, dan menariknya ke permukaan. Ia panik setengah mati, lalu beranjak membawa Ameera ke pinggiran kolam. Namun, saat akan mengangkat tubuh Ameera, terdengar gelak tawa kecil, membuat Rangga yang sedang panik terlonjak kaget.


"Kamu...?" Rangga mengernyit menatap wajah Ameera yang sedang berada dalam gendongannya di dalam air.


"Hehe, aku lagi ngerjain kamu..." ucap Ameera santai seraya terkekeh.


Rangga yang merasa di jebak langsung menurunkan Ameera, "Kamu sengaja ya, pura-pura tenggelam?!!" tanya Rangga setengah berteriak.


"Ya maaf..." Ameera terus tertawa membuat Rangga semakin kesal, ia lalu menghempaskan tangannya ke dalam air dan mencipratkannya ke arah Ameera.


"SINI KAMU!!" panggil Rangga saat Ameera kembali berenang menjauh darinya.


"Ayo kejar aku," ucapnya seraya menjulurkan lidahnya. Rangga pu berenang mengejar Ameera yang sudah berada di tengah kolam yang dalam, sampai akhirnya mereka main perang-perangan dalam air seperti anak kecil.


Zarima, Ozan dan Hasan yang tadi samar-samar mendengar suara teriakan Rangga, segera menuju kolam renang, dan alangkah paniknya mereka melihat Rangga di bawah sana, mengira Rangga tenggelam. Zarima hampir pingsan saking takutnya.


Tanpa aba-aba, Ozan yang sudah rapi dengan setelan jasnya langsung melompat ke kolam renang dan dengan cepat berenang mendekat lalu meraih tubuh adiknya itu.


"Bang... kalau mau ikutan berenang, ganti dulu bajunya, masa berenang pakai jas." ucap Rangga dengan santainya membuat Ozan mengernyit, masih dengan tangan yang melingkar memeluk tubuh Rangga di dalam air.


"Apa? Jadi ... kalian?" Pelan-pelan Ozan melepaskan tangannya yang memeluk Rangga, meneliti tubuh yang begitu santai berendam dalam air itu. Ameera hanya mengulum bibir, menahan agar tawanya tidak keluar melihat wajah Ozan yang memucat karena panik. "Ameeraaa!! Ini pasti perbuatan kamu, kan?" ucap Ozan setelah menyadari apa yang terjadi.


Sementara Hasan dan Zarima yang berada di pinggiran kolam masih belum menyadari apa yang terjadi di bawah sana.


"Ozan, cepat bawa Deniz kemari!!" teriak Zarima.


"Mama, ayo kita hukum kenakalan mereka berdua. Mereka benar-benar penipu!" ucap Ozan dengan wajah kesal, lalu meninggalkan dua orang itu dengan senyum merekah yang terbit di sudut bibirnya.


"Ayo kita tos!" ucap Rangga seraya menaikkan telapak tangannya di sambut Ameera, mereka kemudian tertawa melihat Ozan yang begitu panik berenang dengan setelan jas lengkap.


****


Mereka sudah berada di pinggiran kolam renang... Rangga duduk di kursi dengan kaki yang masih sedikit gemetar.


"Oh,jadi begitu ceritanya..." ucap Zarima ketika Rangga menceritakan alasan mengapa dirinya bisa sampai tercebur ke kolam renang.


Zarima kemudian mengeringkan tubuh Rangga dengan handuk.


"Kamu pintar, Ameera..." Senyum bahagia jelas terlihat di wajah wanita itu melihat anaknya mulai bisa berjalan kembali.


"Cepat sana ganti baju, nanti kalian masuk angin." ucap Hasan pada Ozan dan Ameera yang masih berdiri di pinggiran kolam renang dengan pakaian basah.


"Ayo, Yank... Aku akan menghukummu karena membuat panik sepagi ini, dan membuatku berenang dengan jas dan sepatu."


**To be Continue.


Maafkan author yang amatiran ini. Jangan lupa like, komen sekalian๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚**....!!!

__ADS_1


__ADS_2