
"Ozan... tolong aku... hiks... hiks... aku butuh kamu...!" Suara Naura terdengar parau karena menangis.
"Ada apa?" tanya Ozan datar
"Bisakah kamu kesini? Tolong...!" Suara Naura memelas.
"Huuufftttt..." Ozan menghela nafas "Tidak bisa. " Ozan mematikan sambungan telepon.
Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering. Naura kembali menghubunginya.
"Tolonglah Naura. Mau apalagi kamu?" Bentak Ozan yang mulai kesal.
"Aku ada di club malam dekat kantormu... aku tidak akan pulang sebelum kamu kesini" Suara Naura terdengar aneh, Ozan yakin Naura sedang mabuk.
"Baiklah..."
Ozan memutuskan sambungan teleponnya. Walaupun ia sebenarnya tidak peduli urusan Naura, tapi ia juga tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada mantan kekasihnya itu. Ozan meraih kunci mobil di atas meja lalu keluar dari ruang kerjanya, tepat saat Ameera sedang menuruni tangga.
"Ameera aku mau keluar sebentar." ucap Ozan seraya memakai jaketnya.
"Mau kemana?"
"Ada urusan penting."
"Tidak makan malam dulu?"
"Nanti saja. Kamu makan ya! "kata Ozan seraya membelai puncak kepala Ameera lalu bergegas keluar rumah.
Ameera menuju meja makan untuk makan malam. Walaupun ia sedang tidak berselera makan beberapa hari ini karena memikirkan Naura yang selalu mengganggunya.
Ia memainkan sendok di atas piring mengaduk makanan dengan malas. Seorang pelayan memperhatikan gerak-geriknya.
"Apa nona tidak suka makanannya? Apa perlu saya buatkan yang lain?" tanya pelayan bernama Imel itu.
"Tidak usah. Makanannya enak," Berkata walaupun belum mencoba makanan sama sekali. Pikirannya jauh terbang kesana.
Ameera terpaksa makan karena tidak enak pada seorang pelayan yang telah susah payah memasak untuknya. Walaupun rasanya semua makanan yang ia makan seperti ingin keluar kembali.
****
Ozan baru saja sampai di club malam di mana naura berada. Ia melangkahkan kakinya masuk ke club, mencari di mana Naura.
Seorang bartender yang mengenalnya menghampirinya lalu menunjukkan dimana Naura berada. Ozan masuk ke sebuah ruangan VIP, di sana Naura sudah setengah mabuk. Ozan mendekatinya, lalu menawarkan mengantarnya pulang namun Naura menolak.
"Ozan... kenapa kamu setega ini sama aku? Kamu tau aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku. Lalu kenapa kamu menikahi anak kecil seperti Ameera?" ucaP Naura sambil terus meneguk minuman di tangannya.
"Cukup Naura!" bentak Ozan
"Apa kamu tau, aku sangat merindukanmu?"
"Mari ku antar pulang!"
__ADS_1
"Aku tidak mau. Setidaknya kamu bisa temani aku minum dulu kan?" Pinta Naura yang sudah sempoyongan.
***
Tring...
Ponsel Ameera berbunyi, menandakan pesan masuk. Lagi-lagi pesan dari Naura. Dengan rasa malas Ameera membuka pesannya.
"Suamimu sedang bersamaku. Kalau tidak percaya datanglah ke club malam di dekat kantornya." Isi pesan Naura.
Ameera tidak begitu saja percaya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, memejamkan matanya yang terasa berat.
Beberapa menit kemudian ponsel kembali berbunyi menandakan pesan masuk. Kali ini Naura mengirimkan foto Ozan. Yang sedang duduk santai dengan minuman di depannya. Sepertinya Naura mengambil gambarnya diam-diam.
Jadi ini yang dia bilang urusan penting? Dasar manusia jadi-jadian. Batin Ameera
Ameera bergegas turun ke pos penjaga. Mencari seorang sopir yang biasanya duduk di sana jika tidak sedang keluar.
"Selamat malam, nona...! Anda butuh sesuatu?" tanya seorang sopir begitu melihat Ameera mendekat.
"Berikan aku kunci mobil, aku mau keluar." ucao Ameera seraya menengadahkan tangannya.
"Nona mau kemana? Biar saya antar." tawar sang sopir.
"Aku mau pergi sendiri, pak...! Tolong berikan kunci mobil yang terparkir disana." Menunjuk sebuah mobil berwarna putih yang terparkir tidak jauh dari lokasinya berdiri saat ini.
Sopir itu mulai bingung, pasalnya Ozan berpesan agar Ameera tidak keluar rumah sendirian.
"Aku cuma pergi sebentar, Pak. Tidak lama... cepat berikan! " raut wajah Ameera sudah mulai kesal.
Sopir itu masih menggenggam kunci mobil di tangannya. Takit memberikan pada Ameera.
"Tapi nona... nanti tuan muda bisa marah..."
Ameera merebut kunci mobil dari tangan sopir.
"Memang siapa yang peduli kalau dia marah?" ucap Ameera lalu berjalan menuju mobil. Ia pun melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat yang di sebutkan Naura.
Sopir itu sudah panik karena Ameera pergi tanpa di antar. Apalagi ia mengemudikan mobil dengan sangat terburu-buru. Laki-laki itu menghubungi Ozan, tetapi sudah berkali-kali di telepon, Ozan tidak juga menjawab panggilannya. Akhirnya ia mengirimkan pesan.
"Tuan muda... maafkan saya. Nona keluar membawa mobil sendiri." Isi pesan sopir. Namun selang beberapa menit menunggu, Ozan belum juga membaca pesannya.
***
Ameera sudah sampai di depan sebuah club malam. Ia memandangi bangunan tersebut yang mana banyak wanita lalu lalang dengan pakaian minim. Ameera jadi geli sendiri melihatnya.
Jadi mereka ke tempat menjijikan ini. Apa yang mereka lakukan di dalam sana?
Bayangan-bayangan kemesraan Ozan dan Naura bermunculan di benaknya Ameera. Walaupun agak ragu, ia tetap mencoba masuk kesana. Begitu sampai di dalam, Ameera mengedarkan pandangannya kesana-kemari mencari sosok Ozan.
Tempat macam apa ini. Kenapa juga aku harus kemari Tempat ini benar-benar menodai mataku. Di mana manusia jadi-jadian itu? Batin Ameera.
__ADS_1
Seorang bartender melihat Ameera yang sedang bingung seperti mencari seseorang. Ia pun menghampiri Ameera.
"Hai... ada yang bisa di bantu?" tanya laki-laki itu.
Ameera tidak menjawab. Matanya masih berkeliling ke setiap sudut ruangan.
"Aku mencari seseorang." Jawabnya singkat tanpa menoleh pada laki-laki itu.
"Siapa yang kamu cari. Mungkin aku bisa bantu?"
"Kamu kenal Ozan Chandra Jaya?" tanya Ameera seraya menatap laki-laki di depannya.
Ah, sepertinya gadis ini yang tadi di maksud Naura. Batin laki-laki itu
"Ozan...? Oh... iya, dia memang ada di sini. Tapi..." laki-laki itu menggantung ucapanya.
Ameera pun memicingkan matanya, "Tapi apa?" tanya Ameera yang mulai mengeraskan suaranya.
"Dia sedang bersama kekasihnya di ruang VIP. "
Brengsek...! Ameera mengumpat dalam hati.
Laki-laki itu bisa melihat raut wajah kesal Ameera. Lalu ia mengetik pesan di ponselnya dan mengirimkannya pada Naura.
"Orangnya sudah ada di sini. " isi pesan laki-laki itu pada Naura.
"Kamu siapa? Kenapa cari Ozan? Dan.... kamu baru pertama kali ke sini ya?" tanya laki-laki itu sambil menatap Ameera dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ruang VIP nya dimana?" Lagi-lagi Ameera tidak meladeni pertanyaan dari pria di depannya. Matanya hanya terfokus pada setiap sudut ruangan mencari Ozan.
"Mari ku antar." Laki-laki itu berjalan menuju sebuah ruangan di ikuti Ameera di belakangnya.
"Itu ruangannya, Ozan ada di sana bersama kekasihnya." laki-laki itu menunjuk sebuah ruangan yang pintunya terbuka separuh lalu pergi meninggalkan Ameera sendirian di sana.
Aku harus menyiapkan hatiku untuk melihat kemungkinan terburuk.
Ameera menatap pintu ruangan dengan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun. Namun ia berusaha bersikap setenang mungkin. Dengan langkah pelan, Ameera menuju pintu ruangan tersebut.
Ameera berdiri di depan pintu, menengok ke dalam dengan hati-hati agar kehadirannya tidak di ketahui Ozan. Matanya menangkap hal yang paling tidak ingin di lihatnya. Naura sedang menyandarkan kepalanya di bahu Ozan. Dan itu terlihat sangat mesra di mata Ameera.
Kurang ajar...! Hanya kepalaku yang boleh bersandar di sana! Perbuatan Kalian berdua sudah mengotori tempat ku. Batin Ameera.
Ingin sekali rasanya Ameera berteriak dan memukuli dua orang di dalam sana tanpa ampun. Namun, ia harus menahan diri.
Ia mengatur nafasnya yang terasa sesak. Ameera mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan VIP itu.
Benar, mereka hanya berdua di dalam. Tidak ada orang lain.
Ameera segera melangkahkan kaki nya menjauh dari ruangan itu. Ia harus segera keluar dari tempat menjijikkan itu.
Bersambung
__ADS_1