Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Melampiaskan emosi...


__ADS_3

Mobil Rangga berhenti tepat didepan rumah. Ameera turun dari kursi penumpang belakang. Ozan yang sedari tadi sudah pulang melihat Ameera dari jendela ruang tamu mengepalkan tangannya. Ia melayangkan tinjunya pada tembok dan membuat tangannya terluka. Merasa tidak tahan dengan pemandangan di depannya dimana istrinya melambaikan tangan pada sosok didalam mobil, Ozan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya dengan emosi memuncak. Ozan terbakar cemburu melihat Ameera diantar Rangga tanpa tahu ada Dina bersama mereka.


Ameera masuk kedalam rumah setelah seorang pelayan membukakan pintu. Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga dengan langkah gontai. Pikiran Ameera terus melayang-layang mengingat kondisinya sekarang.


Ameera terdiam sebentar menatap pintu kamarnya yang tertutup. Didalam kamar sudah ada Ozan yang akan menyambutnya dengan kecemburuannya yang sudah menembus ubun-ubun.


Ceklek!


Suara pintu terbuka. Ameera melangkahkan kakinya memasuki kamar. Matanya berkeliling ke setiap sudut kamar seperti mencari sesuatu.


"Bagus, ya...! Sepertinya kamu lupa waktu karena bertemu dengan orang yang kamu sebut sahabat lamamu."


Suara Ozan terdengar dari sudut kamar mengagetkan Ameera. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ozan sudah berdiri dihadapan Ameera dengan wajah penuh kemarahan.


Glek


Ameera menelan ludah kasar. Ia mundur selangkah ketika Ozan semakin dekat dengannya. Raut wajah ketakutan terpampang jelas di wajah Ameera. Tubuhnya pun sudah gemetar, mengingat dulu ia pernah pulang malam setelah bertemu Rangga dan Ozan melampiaskan kemarahan padanya dengan sangat kasar.


Mau apa dia. Apa dia mau melampiaskan kemarahannya seperti dulu?


Ozan mencengkam kedua lengan Ameera, sehingga membuatnya kesakitan, namun Ozan tidak peduli. Jika Ameera tidak mengingat diperutnya ada dua nyawa yang harus dilindungi, dia pasti sudah melawan dan memukuli suaminya itu.


"Le... Lepaskan aku! " Pinta Ameera dengan suara bergetar.


Bukannya melepaskan cengkramannya, Ozan malah menarik tengkuk Ameera dengan kasar dan menciumnya bagai orang yang kesetanan.


Ameera berusaha memberontak. Ozan menariknya dan menghempaskan tubuh Ameera keatas ranjang lalu menindihnya. Tanpa peduli pada tangisan Ameera, ia meloloskan seluruh pakaian Ameera, sehingga tak ada sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Ozan menerkam dengan kasar tubuh Ameera yang lemah tanpa ampun.


Kecemburuan, kemarahan, kekecewaan, kerinduan dan cintanya pada Ameera, menyatu dalam hatinya dan melampiaskannya dengan cara yang teramat kasar. Ameera terus merintih tapi Ozan tidak peduli. Sampai akhirnya ia ambruk diatas tubuh Ameera dan menjatuhkan wajahnya diceruk leher istrinya itu.


Ameera terisak. "Kamu puas?" tanyanya dengan suara lemah. "Kamu puas menjadikan aku objek pemuas nafsumu?apa aku tidak ada harganya di matamu sampai aku diperlakukan seperti ini?" ucapan Ameera mengandung kesedihan mendalam. Ia melepaskan cengkramannya dari tubuh Ameera. Ozan baru tersadar dengan tindakan gilanya barusan.


Ameera mendorong tubuh Ozan agar turun dari tubuhnya. Ameera segera mengambil jubah mandinya dan berlari keluar dari kamar dengan tangisannya yang pilu. Ozan masih terdiam diatas tempat tidurnya menyesali perbuatannya.


Ameera duduk bersimpuh di lantai kamar mandi dengan guyuran air dingin yang mengalir deras dari shower, dengan air matanya yang tak mampu dibendungnya.


***


"Din, perasaanku kok nggak enak, ya... " ucap Rangga yang tiba-tiba menghentikan laju mobilnya.


"Nggak enak gimana?" tanya Dina.


"Aku kepikiran Ameera. Apa dia baik-baik aja."


"Kan tadi kita sudah antar sampai rumahnya. Tenang aja, Rangga. Ameera pasti baik-baik aja kok." kata Dina menenangkan kegalauan Rangga.


Rangga menggenggam tangan Dina erat dan mencium punggung tangannya. "Din, aku minta maaf. Aku merasa sangat jahat sama kamu. Aku melibatkanmu dalam menjaga Ameera." ucap Rangga sedih.

__ADS_1


Dina tersenyum mendengar kalimat Rangga, tangan kirinya mengusap punggung tangan Rangga yang masih menggenggam erat tangan kanannya.


"Kamu nggak jahat Rangga. Kamu mencintai Ameera dan itu bukan salahmu." Dina menyandarkan kepalanya dibahu Rangga. Setetes air matanya jatuh membasahi pipinya. Dina sadar, tidak akan mudah bagi Rangga untuk bisa melupakan Ameera. Namun, Dina tetap akan setia menunggu sampai Rangga membuka hati untuknya.


***


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar.


"Ameera... buka pintunya. Aku mau bicara." ucap Ozan setengah berteriak dari balik pintu kamar tamu. Ameera terbaring lemah dan masih menangis segera menutup telinganya dengan bantal.


"Ameera... tolong buka pintunya. Kita harus bicara, aku minta maaf sudah kasar sama kamu tapi tolong buka dulu pintunya. " bujuk Ozan lembut. Karena tidak ada jawaban dari Ameera, Ozan beranjak ke ruang penyimpanan mengambil kunci cadangan.


Setelah mendapatkan kunci cadangan, ia bergegas kembali ke kamar tamu dan membuka pintunya. Tampaklah Ameera sedang meringkuk di pembaringan dengan kepalanya yang tertutupi bantal. Sesekali terdengar isakan. Ozan mendekat lalu meraih tubuh Ameera dan memeluknya erat.


"Sayang... aku minta maaf." ucapnya. Semakin Ameera berusaha memberontak dengan sisa tenaganya, semakin pula Ozan mengeratkan pelukannya.


"Lepaskan aku. Tolong... aku mau sendiri... tinggalkan aku."dengan suara lirihnya sambil terisak. Ozan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ameera. Ia terkejut melihat wajah pucat Ameera.


"A... Ameera... kamu..." menyentuh wajah Ameera namun Ameera segera menepis tangannya.


"KELUAARRR....!" teriak Ameera dengan kencang. Tidak ingin memperburuk suasana hati Ameera, Ozan segera keluar dari kamar itu. Ia bersandar sejenak dibalik pintu mengutuki tindakannya.


Apa yang sudah kulakukan padanya. Bagaimana aku bisa melampiaskan kemarahanku dengan sekasar itu sampai membuatnya jadi ketakutan. Wajahnya bahkan sangat pucat sekarang.


****


Ozan berangkat ke kantor lebih awal. Ia melajukan mobil bagai kesetanan membuat penjaga gerbang mengusap dadanya karena kaget, tidak bisanya Ozan mengemudi dengan tidak sabaran seperti itu. Sebelum berangkat, ia sempat menengok Ameera di kamar tamu, namun Ameera mengusirnya. Membuatnya merasa kesal dan langsung pergi.


Suara isakan lemah Ameera masih sesekali terdengar. Ia berusaha bangkit dari tidurnya, namun ia merasakan sesuatu seperti keluar dari bawah sana. Matanya terbelalak kaget melihat darah pada celana yang di pakainya.


"Da.. Darah?" Wajah Ameera berubah pias melihat noda darah. Ia mencari ponselnya namun tidak di temukan. Teringat kejadian semalam, pasti ponselnya tertinggal di kamarnya. Ameera menyeret langkahnya menuju kamar dan benar, tasnya berada di kamar itu. Segera ia mengambil ponsel dari dalam tas dan menghubungi Dina. Ameera terkulai lemas di lantai.


"Halo Meera..." terdengar suara Dina di seberang sana.


"Din, tolong aku..."


"Ameera... kamu kenapa?" Dina sudah panik mendengar suara Ameera yang melemah.


"Aku berdarah."


"Apaa...? Darah... ? " Dina semakin panik. Ia memutuskan sambungan telepon dan langsung mengambil kunci mobil diatas meja. Dina berlari menuju mobil dan tepat saat itu mobil Rangga baru saja tiba.


"Rangga cepat...!" Dina masuk ke mobil Rangga dengan panik membuat Rangga bingung.


"Kenapa?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Ameera... ayo cepat Rangga... kita ke rumah Ameera." berkata dengan setengah berteriak. Rangga melihat kepanikan Dina menjadi ikut panik.


"Ameera kenapa?"


"Ameera telepon. Katanya dia berdarah... aku nggak tau kenapa. Cepat Rangga!" pinta Dina. Tanpa pikir panjang, Rangga melajukan mobilnya menuju rumah Ameera. Ranggapun tak kalah paniknya dari Dina.


Tidak butuh waktu lama Rangga dan Dina telah berada di rumah besar itu. Mereka masuk setelah seorang pelayan membuka pintu.


"Dimana Ameera?" tanya Dina pada Imel.


"Nona Ameera belum keluar dari kamar." jawabnya.


"Tolong... aku mau melihatnya."


"Mari saya antar ke kamar. Tapi tuan muda sudah berangkat ke kantor dan..." Imel melirik Rangga. Seolah mengatakan bahwa laki-laki lain tidak boleh masuk ke kamar mereka saat Ozan tidak ada.


"Din, kamu lihat Ameera dulu." kata Rangga.


Imel mengantar Dina menuju kamarnya. Saat mengetuk pintu kamar, tidak ada jawaban dari Ameera. Dina yang panik langsung membuka pintu kamar. Ia menemukan Ameera sudah tergeletak di lantai. Dina berlari menghampirinya.


"RANGGAAAAA......!!!" Dina berteriak kencang membuat Rangga terkejut. Rangga segera berlari menuju kamar Ameera. Rangga panik melihat Ameera tergeletak dilantai dengan kepalanya yang berada dipangkuan Dina. Tanpa pikir panjang Rangga menggendong Ameera keluar dari kamar.


"Apa yang terjadi pada Nona Ameera?" tanya Imel panik.


Dina tidak menjawab, ia langsung berlari mengikuti Rangga yang sudah membawa Ameera menuju mobil.


Mobil melaju dengan cepat meninggalkan halaman rumah besar itu. Sedangkan Imel mematung disana dwngan sejuta pertanyaan di benaknya. Ia segera masuk ke rumah untuk menghubungi Ozan. Namun, saat dihubungi Ozan tidak menjawab panggilannya karena sedang ada rapat. Setelah puluhan kali mencoba, akhirnya Ozan menjawab panggilannya.


"Halo..."


"Tuan Muda... Nona Ameera..."


"Ada dengannya?"


"Nona Ameera di bawa pergi oleh seorang laki-laki ber... "


Tuuuuut...


Mendengar pelayan menyebut kata seorang laki-laki membawa pergi istrinya, emosinya kembali tersulut. Tanpa bertanya Ozan memutuskan panggilannya. Ia melemparkan ponselnya ke dinding hingga hancur. Imel mencoba menghubunginya lagi, namun sudah tidak menyambung.


"Brengsek!" Ozan mengumpat dengan keras, membuat Ramon yang baru saja masuk ke ruangan terlonjak kaget.


"Eh, kaget gue...! Apaan lu, gue baru masuk udah diteriakin. " sentak Ramon.


****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2