Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Menikah lagi?


__ADS_3

Sejak tinggal bersama keluarganya, Rangga mengalami banyak kemajuan. Jika dulu ia dingin seperti gunung es di kutub selatan, maka sekarang Ia telah berubah menjadi Rangga yang ceria dan manja. Sepertinya kehidupan sedang membayar hutang padanya atas ketidakadilan yang dirasakannya selama ini. Kebahagiaan yang tidak pernah ia rasakan, memiliki keluarga yang lengkap.


Berkat dukungan keluarganya Rangga kembali bersemangat menjalani terapi, perlahan ia mulai bisa menggerakkan kakinya yang lumpuh. Tubuhnya pun sekarang terlihat lebih berisi di banding saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah itu.


Zarima sangat berlebihan merawatnya. Ia bahkan menyuapinya saat makan, dan menemaninya dari bangun tidur hingga tidur kembali. Wanita paruh baya itu seolah ingin menebus waktu 18tahun terpisah dari putra bungsunya.


Dan pagi itu, perdebatan kembali terjadi antara Rangga dan Ameera di meja makan. Sejak tinggal serumah, mereka malah sering berdebat. Sehingga ada julukan baru untuk mereka, Tom dan Jerry.


"Mama... Rangga bilang aku mirip boneka salju." kata Ameera mengadukan perkataan Rangga.


"Tapi benar kan, Mah... memang Ameera mirip boneka salju?" tanya Rangga dengan mulut penuh makanan.


"Kenapa? Apanya yang mirip boneka salju?" Ameera semakin kesal.


"Itu badannya gendut, pendek, perutnya besar. Apa coba kalau bukan boneka salju?" ucapnya seraya terus mengunyah. "Mama, aku sudah kenyang..." Rangga mulai protes ketika sang ibu terus menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Habiskan makanannya, dosa tahu buang-buang makanan," ucap Zarima, lalu kembali menyuapkan makanan ke mulut Rangga.


Ameera tersenyum puas, menggerakkan bibirnya tanpa suara, "Syukurin !!"


"Aku doakan anakmu nanti lahir mirip aku..." ucap Rangga.


"Biar saja."


Zarima menggeleng seraya tersenyum geli. Matanya bergerak bergantian menatap Rangga dan Ameera yang sejak tadi saling mendebat.


Sepertinya aku mengerti kenapa takdir memilih menjadikan mereka sebagai sahabat. Mereka memang seperti kucing dan tikus. batin Zarima


Tidak lama kemudian Hasan dan Ozan datang bergabung bersama mereka.


"Selamat pagi semua...!" sapa Hasan seraya duduk di kursi.


"Selamat pagi, Papa..." jawab mereka bersamaan.


"Sepertinya Papa ketinggalan drama Tom dan Jerry pagi ini..." ucap Hasan yang baru akan memulai sarapannya. "Oh,ya... Ameera bukankah minggu depan jadwal operasimu??" tanyanya kemudian.


"Operasi?" Tiba-tiba wajah Ameera berubah jadi pucat, keringat dingin mulai membasahi keningnya, ia begitu takut dengan yang namanya operasi. Apalagi ia sering nonton video proses operasi caesar di internet yang menurutnya sangat mengerikan.


"Nggak apa-apa, Yank... Operasi caesar itu nggak semenakutkan yang kamu pikir. Mama juga pernah di operasi caesar, kok... iya kan, Mah...?"


"Iya, waktu Mama melahirkan Deniz, mama di operasi... Tidak terasa, kok." Zarima mencoba menghilangkan ketakutan dalam hati Ameera. Namun tetap saja ketakutannya mengalahkan segalanya.


ia lalu menghentikan sarapannya, "Aku sudah selesai sarapannya, aku duluan, ya..." Ameera segera meninggalkan meja makan dan mempercepat langkah menuju kamarnya.


Mereka kemudian saling menatap satu sama lain, merasa heran karena Ameera Ameera langsung pergi setelah membahas masalah operasinya.

__ADS_1


"Aku lihat Ameera dulu, ya..." ucap Ozan seraya berdiri dari duduknya lalu segera menyusul Ameera ke kamar.


"Ameera kenapa?" tanya Zarima yang heran karena wajah Ameera langsung pucat dan pergi setelah mereka membicarakan tentang operasinya.


"Ameera itu takut di operasi, Mah..." ucap Rangga,


"takut?" tanya Zarima.


"Sama jarum suntik saja dia takut, Mah... Apalagi operasi. Ada gunting, pisau..."


"Itu wajar, namanya juga kehamilan pertama. Apalagi usianya masih muda." sahut Zarima.


**


Ozan masuk ke kamar dan menemukan Ameera merenung di sana. Ia segera mendekat, "Sayang... Kamu masih takut di operasi, ya?" tanyanya seraya merangkul Ameera.


"Aku nggak mau di operasi, Mas... Kalau aku meninggal setelah operasi bagaimana?"


"Astagfirullah... Jangan bicara begitu, Yank. Kamu akan baik-baik saja." Ozan memeluk Ameera, mengecup keningnya.


"Aku takut, Mas...!"


"Yank... kalau operasi semengerikan yang ada di pikiranmu, kenapa ada banyak wanita yang mau di operasi sampai tiga kali coba?"


"Kalau aku meninggal, kamu menikah lagi tidak?"


"Ya menikah lagi, Yank. Masa aku mau sendiri seumur hidup."


"Jahat kamu, Mas!!" ucap Ameera seraya memukul dada Ozan dengan keras.


"Auuwwhh sakit..."


"Biarin!!"


"Daripada aku bohong, Yank. Mending aku jujur, nggak dosa."


"Kamu tega menikah lagi?"


Ozan terkekeh, lalu menangkup wajah Ameera dengan kedua tangannya, "Kamu nggak mau aku menikah lagi kan?" tanya Ozan.


Dengan cepat Ameera menggeleng, "Nggak mau, Mas nggak boleh menikah lagi."


"Ada syaratnya..." ucap Ozan dengan santainya.


"Apa?"

__ADS_1


"Kamu harus hidup lebih lama dari aku. Karena selama ada kamu, aku nggak akan menikah lagi. Gampang kan syaratnya?"


Ameera mematung, seperti terjebak oleh pertanyaannya sendiri.


***


Jika Zarima sedang merasa menjadi ibu paling bahagia di dunia, maka di tempat lain ada seorang ibu yang sedang bersedih. Sejak kepergian Rangga, Aliyah begitu terpukul. Namun, ia menyadari bahwa dirinya ikut bersalah karena menutupi kebenaran yang ada selama ini.


Siang itu, Aliyah mengunjungi suaminya di rumah tahanan dan menceritakan semuanya. Tentang Rangga yang telah kembali pada kehidupannya yang sebenarnya.


Hendri tampak tidak terkejut mendengar apa yang di sampaikan oleh istrinya itu. Ia hanya menunduk, merasa malu atas perbuatannya.


"Maafkan aku, Al... Aku telah menghancurkan hidup banyak orang." ucap Hendri penuh sesal.


"Sudah terlambat, Mas... Semuanya sudah terjadi. Rangga sudah pergi. Aku hanya berharap semoga suatu hari Rangga mau memaafkanku." Aliyah kembali menangis teringat pada Rangga. "Meskipun begitu, aku tetap berterima kasih, Mas sudah membawa Rangga padaku saat itu, walaupun dengan cara yang salah."


Hendri menggenggam tangan Aliyah untuk pertama kalinya. Sejak menikah, tidak pernah sekali pun ia memandang Aliyah sebagai istri. Pernikahan yang mereka jalani hanya sebatas status saja.


"Bolehkah aku memohon sesuatu padamu, Al..." pinta Hendri.


"Apa, Mas?"


"Tolong terimalah Naura untuk tinggal bersamamu jika suatu hari dia sembuh... Dia anak yang baik, akulah yang telah menanamkan kebencian dalam hatinya. Aku memanfaatkan kematian Maya untuk memuluskan ambisiku, dan akhirnya aku mengorbankan anakku sendiri."


Aliyah terdiam, kemarahannya atas perbuatan Naura yang membuat Rangga celaka masih membekas di hatinya.


"Aku tahu, kau sangat kecewa karena perbuatan Naura. Tapi, itu bukan salahnya, Al... Aku yang bersalah."


Wanita itu menarik napas dalam, membuangnya kasar. Ia berusaha sebisa mu gkin menahan air matanya yang kembali akan tumpah.


"Baiklah Mas, aku berjanji." ucap Aliyah.


"Naura dan Rangga tidak memaafkanku untuk ini."


Dan, pria paruh baya itu akhirnya menyadari bahwa balas dendam hanya memberinya kepuasan semu, menutup pintu kebahagiaannya. Tidak sedetik pun hidupnya menemukan kedamaian walau balas dendamnya telah tercapai. Dan pada akhirnya, ia terpenjara dalam penyesalan yang dalam.


Hendri teringat beberapa waktu lalu Hasan mengunjungi dirinya. Dan tanpa aba-aba, pria yang pernah bersahabat dengannya itu memukulinya tanpa ampun.


Jika saja tidak ada petugas saat itu, mungkin Hasan sudah membunuhnya. Hasan begitu murka dengan apa yang telah dilakukan Hendri pada keluarganya.


"Pulanglah, Al... Kau butuh istirahat." ucap Hendri yang melihat wajah Aliyah sembab.


***


To be Continue

__ADS_1


btw


yang sempat baca, jangan lupa likeπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2