Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
Penyesalan selalu di belakang


__ADS_3

Jika sebagian anak di dunia menjadikan ayahnya sebagai pahlawan dalam hidupnya, maka lain halnya dengan Rangga. Ia menilai ayahnya hanya sebagai bongkahan dendam yang semakin lama semakin membesar. Bahkan dendam itu telah menghancurkan banyak orang termasuk keluarganya sendiri.


Di sinilah Rangga sekarang, duduk menunggu kedatangan ayahnya dengan tatapan kosong. Setelah satu tahun di penjara, untuk pertama kalinya Rangga mengunjungi ayahnya tersebut. Ada rasa kecewa yang sangat besar pada pria yang seharusnya menjadi panutannya itu. Dan saat Hendri datang, alangkah terkejutnya dirinya melihat anak kesayangannya duduk di kursi roda. Rangga melihat kedatangan Hendri dengan tatapan dingin.


"Rangga, anakku... apa yang terjadi padamu?" tanya Hendri dengan suara bergetar.


"Apa kabar, Papa?" Bukannya menjawab pertanyaan sang ayah, Rangga malah bicara hal lain, "aku minta maaf, selama ini tidak pernah mengunjungi Papa. Aku pasti membuat Papa kecewa." ucapnya kemudian.


"Siapa yang melakukan ini padamu, Rangga?"


"Apa yang akan Papa lakukan kalau tahu siapa yang melakukan ini padaku? Apa papa akan memerintahkan Jack menghabisi orang itu?" Seringai tipis hadir di sudut bibir Rangga. "Ini adalah hasil perbuatan Papa." ungkap Rangga dengan entengnya.


Hendri yang masih tidak mengerti ucapan Rangga menatap Rizal yang berdiri di belakang Rangga, seperti hendak mencari jawaban dari pria yang pernah menjadi pengawalnya itu.


"Rizal, jelaskan padaku apa yang terjadi pada anakku." pinta Hendri pada Rizal. Namun, Rizal hanya terdiam mendengar pertanyaan itu.


"Inilah hasil perbuatan Papa." Rangga mengulangi kata-katanya, "Papa sudah menghancurkan banyak hal. Termasuk aku, kakak, mama, dan sahabat Papa sendiri. Haruskah aku ucapkan selamat untuk keberhasilan Papa ini?"


Hendri terdiam mendengar setiap ucapan Rangga yang seperti menghujam jantungnya.


"Papa berhasil meracuni kakak dengan dendam dan kebencian. Kakakku yang dulu hanya seorang gadis polos, sekarang harus ikut menanggung dosa-dosa Papa. Papa tahu, dia mau membunuh Ameera yang sedang hamil dengan menabraknya. Lihatlah, Pah... inilah hasil perbuatan Papa, aku duduk di kursi roda sekarang dan kakakku harus depresi, dan sekarang di rawat di rumah sakit jiwa. Papa puas?"


Seketika wajah pria paruh baya tersebut berubah pias, ia kehilangan kata-kata. Hanya cairan bening yang memenuhi kelopak matanya.


"Papa tahu, dulu... Om Rudi dan Om Hasan bisa saja membunuhku dengan mudah, mereka bahkan bisa menyerang Kak Naura, seperti apa yang papa lakukan pada Ameera dan Ozan. Tapi mereka tidak melakukannya, mereka memilih tidak mengisi hidupnya dengan dendam. Bahkan Ameera memaafkan papa dengan mudah, setelah Papa membunuh kedua orang tuanya. Lalu aku... menanggung rasa bersalah seumur hidupku pada Ameera. Walaupun aku melindunginya dengan mengorbankan nyawaku, itu tidak akan cukup untuk membayar apa yang papa lakukan padanya."


Bagai di sambar petir di siang bolong, Hendri hanya dapat meratapi perbuatannya di masa lalu.

__ADS_1


"Maafkan papa Rangga..." ucap Hendri dengan suara bergetar, matanya bahkan telah di penuhi cairan bening. Hanya kata maaf yang dapat di ucapkan pria itu.


"Rizal..." panggil Rangga seraya menengadahkan tangannya seperti meminta sesuatu. Rizal pun segera menyerahkan sebuah amplop ke tangan Rangga.


"Kenapa, Pah... ada apa dengan Papa? Apa papa tahu, ketika anak lain akan bangga menceritakan apapun tentang ayahnya, tapi, bagaimana denganku?" Suara Rangga sudah mulai berubah, seperti menahan tangisnya, "tidak ada sesuatu pun dalam diri papa yang bisa ku banggakan. Selama hidupku, aku hanya melihat ambisi balas dendam dan kebencian dalam diri Papa. Sekali saja, jika Papa bisa menunjukkan padaku sesuatu yang bisa aku banggakan, mungkin hidupku akan lebih baik, aku akan lebih mudah memaafkan Papa."


Rangga meletakkan amplop yang di berikan Rizal di atas meja di depan Hendri.


"Aku harap tempat ini bisa membantu Papa merenungi semua kesalahan Papa. Maafkan aku, karena sudah mengirim Papa ke tempat ini." kata Rangga seraya menyeka air matanya. "Ayo, Zal..." ajaknya kemudian.


Rizal pun mendorong kursi roda yang di duduki Rangga meninggalkan Hendri yang masih menangis, memandangi kepergian anak lelakinya yang kini tidak berdaya di atas kursi roda. Ia kemudian menatap sebuah amplop yang di tinggalkan Rangga di atas meja. Dengan tangan bergetar, ia meraih amplop itu.


Beberapa petugas kemudian datang dan mengantarnya kembali ke sel-nya. Ia duduk di sudut ruangan sempit itu, memberanikan diri membuka amplop di tangannya. Dan, butiran air mata kembali berjatuhan membaca sepucuk surat dari sahabat lamanya.


Hendri sahabatku... Jika suratku ini telah sampai ke tanganmu suatu hari nanti, artinya aku sudah tidak ada di dunia. Maafkan aku telah mengingkari janjiku padamu. Akulah yang telah mengkhianati persahabatan kita dengan menikahi Ratna. Aku melakukannya untuk melindunginya dari orang tuamu dan Maya yang ingin mencelakakannya. Maaf, aku tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menjelaskannya padamu. Aku tahu, kau dan Ratna saling mencintai sejak lama. Tapi, aku tidak punya pilihan lain untuk melindunginya selain menikahinya dan membawanya bersamaku. Kau tahu, aku dan Ratna bersahabat sejak kecil, sama seperti Rangga dan Ameera. Dan satu hal yang harus kau tahu, aku tidak pernah membencimu, bagiku kau adalah sahabat terbaikku...


***


Rangga baru tiba di rumahnya saat hari mulai gelap. Setelah mengunjungi ayahnya di penjara, ia menyambangi Naura di rumah sakit jiwa.


Sesampainya di rumah, ia di sambut dengan kejutan menyenangkan. Betapa tidak, orang-orang paling berarti dalam hidupnya sedang berkumpul menunggunya. Ibunya dan Dina, di tambah kehadiran Ameera, Ozan dan Ramon. Kesedihan yang tadinya menguasai hatinya seketika luntur dengan kehadiran mereka.


Acara makan malam dengan menu barbeque di taman belakang rumah itu pun di penuhi tawa. Ameera yang perutnya yang semakin membesar itu harus menahan kekesalan karena menjadi bahan ledekan mereka semua. Seketika aura bar-bar nya keluar, ia baru saja melempar Rangga dengan bantalan kursi yang menjadi sandarannya.


"Nah.. kan? Ini baru bantal loh... gue udah kenyang di pukuli dengan berbagai macam benda." ucap Rangga seraya tertawa. "Gimana cara lu jinakin si bar-bar ini, Bang?" tanya Rangga pada Ozan.


"Gue kasih yang enak-enak..." sahut Ozan dengan santainya sambil membakar daging. Dia seperti tidak memikirkan perasaan Ameera yang wajahnya sudah merona malu dengan jawabannya.

__ADS_1


"Alaahh... kayak nggak biasa kena gaplok aja lu." ledek Ramon, "Lu kan..." Ramon menggantung ucapannya karena langsung mendapat pelototan dari Ozan.


"Gue jadiin barbeque juga lu..." Ozan mengancam Ramon yang hendak mengeluarkan kalimat ejekannya lagi, membuat Rangga tertawa terbahak-bahak.


"Yank... bukan aku loh yang ledekin kamu, mereka tuh..." ucap Ozan seraya menunjuk satu persatu tiga pria yang sedang duduk di sana.


"Gue nggak ngomong loh dari tadi... Ameera, gue nggak bilang loh, kalau lu pernah mukulin gue waktu lu kira gue copet di mall." ucap Rizal yang malah semakin membakar emosi Ameera.


ia teringat suatu ketika Ameera dan Rangga sedang pergi ke mall. Karena Rizal terus membuntuti Ameera, gadis itu mengira Rizal adalah copet. Ia lalu memukuli Rizal sampai babak belur.


"Nah, itu barusan ngomong. Syukurin!" ucap Ameera.


"Gue ingat, waktu itu gue ke toilet kan? Gue balik dari toilet, Rizal udah bonyok, haha..." Rangga memegangi perutnya yang terasa sakit karena terus tertawa.


Untuk pertama kalinya, Dina melihat sisi lain dari Rangga yang tertawa lepas seperti tanpa beban. Rangga yang selama ini di kenalnya adalah seseorang yang dingin dan serius. Dan malam itu, Rangga menjelma menjadi seseorang yang sangat usil.


Rangga yang menyadari tatapan dari Dina itupun meraih tangan Dina dan menggenggamnya di bawah meja.


Pesta kecil-kecilan mereka pun berlalu dengan menyenangkan.


Ameera dan Ozan sudah pulang. Sementara Dina di antar pulang oleh Ramon. Tinggallah Rangga sendirian di sebuah ruangan kecil tempatnya sering menghabiskan waktunya. Ia tersenyum tipis menatap blackboard di ruangan itu, dimana ada tulisan tangan Ameera di sana.


Kamu adalah makhluk Tuhan paling menyebalkan di dunia.


"Ameera, kamu benar-benar telah melihat seisi kamarku." gumam Rangga.


****

__ADS_1


__ADS_2