Jodoh Pengganti

Jodoh Pengganti
sensitif seperti testpack


__ADS_3

Kesibukan terlihat di rumah keluarga Chandra Jaya. Rumah itu telah penuh dengan dekorasi yang indah. Ameera dan ibu mertuanya yang terlibat langsung dalam acara pernikahan itu sangat antusias menghias rumahnya.


Pernikahan yang akan di gelar beberapa hari lagi itu membuat seisi rumah menjadi sangat sibuk. Kebahagiaan para penghuni rumah tergambar jelas dari raut wajah masing-masing. Tentunya, kecuali satu orang yang merasa langit sedang runtuh menimpanya.


Rangga yang terbalut dengan patah hatinya memilih menyibukkan diri dengan bekerja. Perusahaan yang di bangunnya sendiri sudah mengalami kemajuan pesat.


"Aduh, kenapa mereka berisik sekali di luar?" gumam Rangga yang sedang sibuk dengan laptop di depannya.


Rangga pun hendak keluar kamar. Saat menatap sekeliling rumah mewah itu dari lantai dua, matanya terbelalak melihat betapa indahnya rumah itu, yang telah di dekorasi sedemikian rupa.


Ameera yang berada di dekat tangga terlihat sedang menghias pegangan tangga dengan lilitan kain dan bunga.


"Hai..." sapa Ameera seraya melambaikan tangannya pada Rangga, membuat Rangga mencebikkan bibirnya.


Akhir-akhir ini, Ameera sangat menyebalkan baginya. Sahabatnya itu seolah terus sengaja membakar emosinya.


"Awas saja, aku balas nanti," gumam Rangga. Pria itupun menuruni tangga dengan santai lalu menghampiri kakak iparnya itu.


"Ameera, acaranya tidak di rumah Bang Ramon saja? kenapa di rumah kita?" tanya Rangga yang kemudian ikut duduk di tangga.


"Memang di rumah Kak Ramon ada siapa? Kan tidak ada siapa-siapa, Karena Kak Ramon sudah di anggap anak sendiri oleh mama dan papa, jadi kita buat acara di sini." sahut Ameera dengan melempar senyum jahat.


"Kan resepsinya di hotel..."


"Mama sama papa maunya rumah ini di dekorasi seindah mungkin. Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Ameera dengan lirikan matanya.


Rangga diam mematung mendengar ucapan Ameera yang selalu tepat menghujam jantungnya. Ingin rasanya menggigit kakak ipar yang usil itu. Belum lagi Elmira yang sudah mulai ketularan sindrom kejahilan sang ibu.


"Kamu sengaja kan? Kamu sengaja membuat aku kesal," kata Rangga seraya menuding bahu Ameera.


"Apa? Kamu itu terlalu sensitif seperti testpack, tahu..."


"Ah, iya... Testpack..." ucap Rangga sambil manggut-manggut, "Sana beli testpack! Aku yakin kamu hamil lagi, makanya kamu sangat menyebalkan akhir-akhir ini!" kata Rangga seraya menunjuk ke arah pintu.


Ameera kesal langsung melempar Rangga dengan kembang yang dipakainya untuk menghias ruangan. Sehingga kembang-kembang itu berhamburan di tangga.


Hasan dan Hendri yang sedang mengobrol di ruang keluarga hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan perdebatan Ameera dan Rangga.


"Apa mereka setiap hari seperti itu?" tanya Hendri seraya terkekeh.


"Jangan tanya... Kalau mereka sudah berdebat, akan sulit menentukan mana yang menang," balas Hasan.

__ADS_1


"Benarkah? Sepertinya sangat seru."


"Ozan bagaimana dengan hotel tempat resepsinya? Sudah siap kan?" tanya Hasan pada Ozan yang sedang bermain dengan anak-anaknya.


"Sudah beres, Papa... Aku sudah atur dengan baik," sahut Ozan.


"Ini akan jadi kejutan besar, yang tidak terlupakan," kata Hendri kemudian.


Ameera yang akan memunguti kembang-kembang yang berjatuhan itu mendadak pusing. Ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Lalu kemudian, ia pingsan. Rangga yang berada di belakangnya dengan sigap menangkap tubuhnya.


"Abang, cepat Ameera pingsan!" teriak Rangga.


Ozan yang terkejut mendengar teriakan Rangga langsung berlari menuju tangga, lalu meraih tubuh Ameera dan memeluknya.


"Yank... Bangun! Kamu kenapa?" ucap Ozan seraya menepuk pipinya. Ozan kembali di hinggapi kepanikan.


Hasan dan Hendri pun ikut panik, lalu bergegas menghampiri Ameera.


"Rangga, Ameera kenapa bisa pingsan?" tanya Hasan.


"Tidak tahu, Pah... Tadi mau pungut bunga tiba-tiba pingsan," sahut Rangga yang ikut panik.


Zarima yang sedang sibuk di dapur ikut panik mendengar menantu kesayangannya pingsan. Wanita paruh baya itu pun segera menuju kamar tamu.


"Ini pasti Ameera terlalu lelah karena menyiapkan acara pernikahan." kata Zarima seraya membelai puncak kepala Ameera.


Tidak lama kemudian, seorang dokter wanita pun tiba di rumah itu. Dengan sigap, dokter itu masuk ke dalam kamar dan langsung memeriksa Ameera.


Ozan yang berada di ruangan itu menemani Ameera terlihat begitu khawatir. Tidak henti-hentinya berusaha membangunkan istrinya itu.


Sementara Zarima, Hasan dan Hendri yang berada di luar ruangan masih di selimuti kekhawatiran.


"Dokter, ada apa dengan istriku? Kenapa dia tiba-tiba pingsan?" tanya Ozan pada dokter yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri itu.


Dokter itupun hanya menyunggingkan senyum, lalu kembali memeriksa Ameera untuk meyakinkan diagnosanya.


Dokter wanita paruh baya itu menyibakkan baju yang dipakai Ameera, lalu menggeser stetoskop di atas perutnya.


Sesaat kemudian dokter itu kembali tersenyum seraya melepas stetoskop yang berada di lubang telinganya.


"Dia tidak apa-apa. Ini normal untuk kehamilan di minggu-minggu pertama," ungkap dokter itu.

__ADS_1


Ozan membulatkan matanya mendengar penjelasan dokter itu,"Apa Dokter? Hamil?" tanya Ozan.


"Iya... Selamat ya, Ozan... Istrimu sedang Hamil," kata dokter itu seraya tersenyum, "besok datang lah ke rumah sakit, aku akan memeriksanya lebih lanjut."


"Ba-baik, Dokter...!" sahut Ozan dengan nada terbata-bata.


Ozan pun tidak dapat berkata-kata lagi, raut kebahagiaan terlihat jelas di matanya.


"Oleskan minyak angin ini di hidungnya, itu akan membantunya untuk segera sadar," ucap dokter itu seraya menyerahkan botol minyak angin pada Ozan.


Terima kasih, Dokter," ucap Ozan lalu meraih minyak angin itu dan langsung mengoleskan di hidung dan pelipis Ameera.


Baiklah, aku permisi," Kata dokter itu seraya keluar dari kamar.


Tidak lama kemudian, Ameera tersadar dari pingsannya. Ozan menatapnya dengan senyuman penuh arti.


"Mas, aku kenapa?" tanya Ameera yang heran karena dirinya tiba-tiba ada di kamar.


"Kamu pingsan, Sayang..."


"Pingsan?" Ameera berusaha bangkit dari tidurnya sehingga kini ia duduk selonjoran, "Kepalaku juga masih terasa pusing." ucapnya seraya memijat pelipisnya.


"Yank... Dokter bilang, kamu hamil lagi," kata Ozan dengan mata berbinar.


Ameera menganga tak percaya dengan ucapan suaminya itu, "Mas serius? Jangan bercanda..."


"Orang dokter yang bilang, katanya besok kita ke rumah sakit. Supaya bisa di periksa lebih lanjut," Laki-laki itu tidak dapat menyembunyikan raut wajah bahagianya.


Berarti benar tebakan Rangga. Aku hamil lagi... batin Ameera.


Ozan dan Ameera keluar kamar setelah Ameera merasa lebih baik. Di luar, ia di sambut bahagia oleh mertua dan ayahnya yang terlihat begitu bahagia mendengar berita yang di sampaikan dokter.


"Selamat ya, Nak... Kamu hamil lagi. Itu berita yang sangat membahagiakan," ucap Zarima seraya memeluk Ameera.


***


BeERSAMBUNG


EDISI GABUT. ASAL NULIS.


WKWKWKWK

__ADS_1


__ADS_2